Mereka menemukan kabut pada hari ketiga perjalanan.
Awalnya, Tianji mengira itu hanya kabut biasaโyang sering muncul di laut saat pagi hari. Tapi saat perahu mereka terus melaju, kabut itu tidak kunjung menghilang. Sebaliknya, ia semakin tebal, semakin pekat, seperti dinding putih raksasa yang membentang dari permukaan laut hingga langit.
"Ini dia," bisik Tianji, suaranya bergetar.
Yue'er berdiri di sampingnya, matanya melebar mencoba menembus kabut. "Aku tidak bisa melihat apa-apa. Seperti buta."
"Pegang tanganku," kata Tianji, mengulurkan tangannya.
Yue'er meraih tangan Tianji tanpa ragu. Jari-jari mereka bertaut erat. "Kalau kau bilang begitu, pasti serius."
"Ini berbahaya. Kita tidak tahu apa yang ada di dalam kabut ini. Jangan lepaskan tanganku apa pun yang terjadi."
"Janji," kata Yue'er. "Pokoknya kau tidak bisa kabur dariku semudah itu."
Perahu mereka memasuki kabut perlahan. Suasana berubah drastis. Udara yang semula hangat berubah menjadi dingin, dingin yang menusuk tulang, dingin yang tidak seperti suhu biasa. Suara ombak yang tadinya jelas terdengar kini terdengar teredam, seolah kabut menelan semua suara.
"Lihat," Yue'er menunjuk ke kanan.
Di dalam kabut, samar-samar, mereka bisa melihat sesuatu. Bentuk-bentuk aneh yang bergerak lambat. Mungkin batu karang, mungkin sesuatu yang lain. Dalam kabut ini, tidak ada yang bisa dipastikan.
"Ini seperti dunia lain," komentar Yue'er, suaranya berbisik tanpa sengaja. "Seperti kita memasuki gerbang ke alam yang berbeda."
"Karena memang begitu," kata Tianji. "Lady Hong bilang Lautan Kabut bukan bagian dari dunia ini. Ia adalah tempat di mana dunia manusia bertemu dengan dunia lain. Batas antara realitas dan mimpi."
"Mimpi… atau mimpi buruk."
Tiba-tiba, Tianji merasakan sesuatu. Sesuatu yang aneh di dalam dadanya. MP itu bergerak, tidak seperti biasa. Ia meronta, seperti binatang yang terbangun dari tidur panjang, mencium aroma kebebasan.
"Kau merasakannya?" tanya Tianji.
Yue'er menggeleng. "Tidak. Apa yang kau rasakan?"
"MP ini… ia bersemangat. Seperti ia pulang ke rumah." Tianji mengerutkan kening. "Dan sekaligus… takut. Ia takut pada sesuatu di dalam kabut ini."
"Kalau MP saja takut, mungkin kita harus lebih takut lagi," kata Yue'er, tapi nadanya tidak menunjukkan ketakutan. "Atau mungkin sebaliknya. Kalau MP takut, berarti di sini ada sesuatu yang bisa mengalahkannya. Baik untuk kita."
"Atau buruk. Bergantung pada apa yang ada di sini."
Perahu mereka terus melaju. Kabut semakin pekat. Suhu semakin turun. Napas mereka kini membentuk uap putih tipis setiap kali mereka menghembuskan udara.
Lalu, mereka mendengarnya.
Suara itu datang dari segala arah, tidak jelas dari mana asalnya. Seperti suara angin, tapi lebih dalam. Seperti suara air, tapi lebih berirama. Suara yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seperti getaran langsung ke jiwa.
"Itu suara apa?" Yue'er merapatkan tubuhnya ke Tianji.
"Aku tidak tahu."
Tapi Tianji tahu. Atau setidaknya, bagian terdalam dari dirinya tahu. Itu adalah panggilan. Panggilan dari sesuatu yang sudah lama menunggu.
Suara itu semakin keras. Kini ia terdengar seperti bisikanโribuan bisikan yang berbicara bersamaan, tidak jelas apa yang mereka katakan. Tapi di antara semua bisikan itu, Tianji bisa mendengar satu suara yang jelas.
Namanya.
"Tianji…"
Darah Tianji membeku. Suara itu tidak asing. Suara itu adalah suaranya sendiri.
"Tianji… kemarilah… kami sudah menunggumu…"
"Jangan dengar!" Yue'er menjerit, menarik tangan Tianji. "Itu tipuan! Jangan dengar!"
Tapi Tianji tidak bisa mengalihkan perhatiannya. Suara itu begitu kuat, begitu menarik. Seperti pusaran yang menariknya masuk. Matanya mulai berkaca-kaca, tatapannya kosong menembus kabut.
"Ini panggilan dari MP itu sendiri," bisik Tianji. "Atau dari apa yang menciptakannya."
Yue'er mengguncang tubuh Tianji dengan keras. "Dengar, Tianji. Aku tidak peduli apa yang memanggilmu. Aku di sini. Yue'er di sini. Kau dengar aku?"
Tianji mengerjapkan mata, kesadarannya kembali. Ia menatap Yue'er, napasnya memburu. "Aku… aku dengar."
"Syukurlah." Yue'er menghela napas lega. "Jangan kau berani-berani menghilang seperti itu lagi. Kubuat kau menyesal."
"Aku tidak akan menghilang," janji Tianji. Tapi dalam hatinya, ia tidak yakin apakah janji itu bisa ditepati.
Mereka terus berlayar. Kini Tianji berpegangan pada kemudi perahu dengan satu tangan, sementara tangan yang lain masih menggenggam tangan Yue'er erat-erat. Kabut di sekitar mereka semakin anehโkadang-kadang ia tampak seperti kabut biasa, kadang-kadang ia tampak seperti ribuan wajah yang mengintip dari balik tabir putih.
"Menurutmu, berapa lama lagi?" tanya Yue'er.
"Aku tidak tahu. Waktu terasa aneh di sini. Seperti setiap detik terasa berjam-jam, tapi setiap jam terasa sedetik."
"Itu karena kita berada di tempat di mana waktu tidak berjalan normal," kata Yue'er. "Aku membaca tentang tempat-tempat seperti ini dalam kitab kuno. Konon, beberapa tempat di dunia ini adalah pertemuan antara dimensi. Di tempat-tempat itu, hukum fisika dan waktu tidak berlaku."
"Kau banyak membaca," kata Tianji.
"Tentu saja. Apa kau pikir aku hanya pandai bicara? Aku juga pandai membaca." Yue'er tersenyum bangga. "Di desa, aku dikenal sebagai gadis paling cerewet dan paling pintar. Kombinasi yang paling ditakuti para lelaki."
"Aku bisa bayangkan."
Tiba-tiba, kabut di depan mereka bergerak. Bukan seperti kabut yang ditiup angin, tapi seperti tirai yang ditarik oleh tangan tak terlihat. Sebuah celah terbuka di hadapan mereka, memperlihatkan sesuatu yang membuat mereka berdua tertegun.
Di depan mereka, beberapa meter dari perahu, berdiri sebuah pulau kecil. Tapi pulau itu bukan pulau biasa. Di tengah pulau itu, terdapat sebuah patung raksasaโpatung yang terbuat dari batu hitam, berbentuk seorang pria yang tangannya terentang ke langit. Patung itu begitu besar hingga mencapai kabut di atasnya, seolah ia menahan langit.
"Patung," bisik Yue'er. "Di tengah laut."
"Bukan patung," kata Tianji, matanya melebar. "Itu… itu adalah penyegel."
"Apa?"
"Penyegel. Orang yang pertama kali menciptakan MP. Menurut legenda yang diceritakan Lady Hong, Penyegel adalah seorang pendekar yang hidup ribuan tahun yang lalu. Ia menciptakan MPโMutiara Penghancurโdari kekacauan murni. Tapi kekuatan itu terlalu besar, dan akhirnya ia harus menyegelnya."
"Dengan cara?" Yue'er bertanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Dengan mengorbankan dirinya sendiri. Tubuhnya menjadi patung, menjadi segel. Dan MP itu… ia mengembara, mencari inang baru. Menunggu saat yang tepat untuk kembali ke tempat asalnya."
Saat Tianji mengucapkan kata-kata itu, patung batu hitam itu seolah bergerak. Matanyaโmeskipun terbuat dari batuโtampak berkilau, memancarkan cahaya merah redup. Dan suara itu kembali, kali ini lebih keras, lebih jelas.
"Kembalikan apa yang kau ambil, Tianji."
Bukan suaranya lagi. Suara itu berbeda. Suara tua, dalam, berwibawa. Suara yang membuat tulang terasa bergetar.
"Siapa kau?" tanya Tianji, suaranya lantang meskipun hatinya gemetar.
"Aku adalah Pencipta. Aku adalah Penjaga. Aku adalah yang terikat di tempat ini selama ribuan tahun." Suara itu bergema di seluruh lautan, membuat kabut beriak. "Dan kau, Tianji, adalah anak yang membawa warisanku kembali."
"Warisanmu adalah kutukan!" Tianji berteriak. "Kutukan yang menghancurkan hidupku! Kutukan yang membuatku menjadi monster!"
"Monster?" Suara itu tertawa, tawanya seperti guntur. "Kau kira menjadi manusia biasa lebih baik? Manusia lemah, rapuh, mudah mati. Dengan MP, kau memiliki kekuatan yang tak terbayangkan. Kau bisa menghancurkan gunung, membelah lautan, menantang dewa-dewa!"
"Aku tidak ingin kekuatan itu!" Tianji menjerit. "Aku tidak ingin menghancurkan! Aku hanya ingin… hidup!"
"Hidup?" Suara itu mengejek. "Apa artinya hidup tanpa kekuatan? Hidup sebagai debu di antara butiran pasir? Hidup yang tidak berarti?"
Yue'er melangkah maju, menantang patung batu hitam itu. "Kau tidak tahu apa-apa tentang hidup! Hidup bukan tentang seberapa besar kekuatanmu! Hidup adalah tentang cinta, tentang persahabatan, tentang pilihan!"
"Seorang gadis bodoh yang berani berbicara di hadapanku," suara itu bergemuruh. "Kau tidak tahu siapa aku. Aku telah ada sebelum manusia pertama berjalan di bumi ini. Aku telah melihat lahir dan matinya ribuan peradaban. Dan kau, setitik debu di lautan waktu, berani menceramahiku?"
"Aku lebih tahu dari yang kau kira," balas Yue'er, tidak gentar. "Aku tahu bahwa kauโatau apa pun yang kau sebut dirimuโtelah menciptakan MP untuk melawan sesuatu. Tapi pada akhirnya, kau dikalahkan oleh ketakutanmu sendiri. Kau takut mati. Kau takut kehilangan kekuatan. Dan kekhawatiranmu itu yang membuatmu mengutuk dunia dengan keberadaan MP ini."
Patung batu hitam itu diam. Lautan kabut di sekitar mereka berhenti bergerak, seperti waktu berhenti.
"Kau berani sekali," kata suara itu, nadanya berubah. Kali ini tidak ada kemarahan, tapi ada sesuatu yang lain. Penghargaan? Atau mungkin, kekaguman?
"Aku bukan pendekar," kata Yue'er. "Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku tidak takut padamu. Karena takut tidak akan mengubah apa pun. Yang bisa mengubah sesuatu adalah tindakan. Dan aku memilih untuk bertindakโuntuk membantu Tianji melepaskan MP ini."
Suara itu tidak menjawab. Tapi kabut di sekitar mereka mulai bergerak lagi, dan patung batu hitam itu perlahan menghilang di balik kabut.
"Kau beruntung memiliki teman sepertinya," kata suara itu, kali ini lebih pelan. "Tapi ingat, Tianji. MP tidak akan dilepaskan dengan mudah. Ia adalah bagian dari dirimu sekarang. Melepaskannya berarti kehilangan sebagian dari jiwamu. Kau harus siap untuk itu."
"Aku siap," kata Tianji.
"Dan kau, gadis kecil." Suara itu kini ditujukan pada Yue'er. "Kau tahu bahwa peranmu dalam ritual ini bisa membunuhmu?"
"Aku tahu."
"Dan kau tetap mau melakukannya?"
Yue'er menatap Tianji, lalu tersenyum. "Untuknya, aku rela."
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Lalu, suara itu berkata, "Cinta… sudah ribuan tahun aku tidak merasakannya. Mungkin memang sudah waktunya. Ikuti arus, Tianji. Ikuti kabut. Ia akan membawamu ke pusat lautan. Di sana, ritual akan dimulai."
Kabut di sekitar mereka bergolak, lalu terbuka. Sebuah jalur air muncul di hadapan merekaโseperti sungai di tengah lautan, diapit oleh dinding kabut di kedua sisinya.
"Ayo," kata Tianji, mengarahkan perahu ke jalur itu.
Mereka pun bergerak maju. Suara itu tidak lagi terdengar, tapi kehadirannya masih terasa. Lautan Kabut hidup di sekitar mereka, mengawasi, menunggu.
Di dalam kabut, ada sesuatu yang lain. Wajah-wajah. Samar-samar. Seperti ribuan jiwa yang terperangkap, menatap mereka dari balik tabir putih.
"Mereka yang tidak bisa melepaskan diri," kata Yue'er, suaranya berbisik. "Jiwa-jiwa yang tersesat di dalam kabut."
"Mungkin," Tianji mengangguk. "Atau mungkin mereka adalah inang-inang sebelumnya. Mereka yang gagal."
"Kau tidak akan gagal," Yue'er meremas tangannya. "Aku tidak akan membiarkanmu gagal."
Perahu itu terus melaju, melintasi jalur kabut yang seolah tak berujung. Waktu terasa berhenti. Dunia terasa tidak nyata.
Tapi di antara semua keanehan dan ketidakpastian, satu hal yang pasti: tangan Yue'er tidak pernah lepas dari tangannya.
"Tianji," panggil Yue'er tiba-tiba.
"Ya?"
"Aku mencintaimu."
Tianji menoleh, matanya melebar. Di tengah kabut tebal, di tengah ketidakpastian hidup dan mati, Yue'er memilih saat itu untuk mengungkapkan perasaannya.
"Kau… kau tidak perlu mengatakan itu sekarang," kata Tianji, suaranya serak.
"Aku harus," kata Yue'er. "Karena aku tidak tahu apakah kita akan hidup besok. Dan aku tidak mau mati dengan perasaan ini terpendam di dalam dada."
Tianji terdiam. Di dalam hatinya, perasaan yang selama ini ia kubur mulai bangkit. Ia juga mencintai Yue'er. Tapi ia terlalu takut untuk mengakuinya. Takut karena ia adalah seorang yang terkutuk, seorang yang membawa MP di dalam dirinya.
Tapi di tempat iniโdi Lautan Kabut, di mana batas antara hidup dan mati, antara realitas dan mimpi, antara yang mungkin dan yang tidak mungkin menjadi kaburโmungkin saatnya untuk jujur.
"Aku juga," bisik Tianji. "Aku juga mencintaimu."
Yue'er tersenyum, senyum yang bersinar di tengah kabut yang gelap. Tanpa berkata-kata lagi, ia menyandarkan kepalanya di bahu Tianji.
Di depan mereka, jalur kabut mulai melebar. Dan di kejauhan, mereka bisa mendengar suara air yang berputar. Suara pusaran.
Mereka telah tiba.