๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 76: PERJALANAN KE LAUTAN KABUT

← BAB 75: KONSULTASI DENGAN LADYโ€ฆ BAB 77: LAUTAN KABUT →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Matahari pagi menyinari perairan Pelabuhan Utara ketika sebuah perahu kecil berwarna cokelat tua mulai melepaskan tali tambatnya. Tianji berdiri di haluan, wajahnya tegang, matanya menatap horizon yang membentang luas di hadapannya. Angin laut pagi membelai rambutnya yang tidak lagi diikat rapiโ€”sebuah tanda betapa kacau pikirannya sejak keputusan nekat ini diambil.

Di belakangnya, Yue'er duduk di buritan, tangannya cekatan mengatur layar perahu. Gadis berusia delapan belas tahun itu mengenakan jubah biru muda yang berkibar-kibar diterpa angin. Wajahnya teduh, tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun meskipun ia tahu bahwa perjalanan ini bisa berarti akhir dari hidupnya.

"Mengapa kau diam saja?" Yue'er bertanya, suaranya memecah kesunyian yang sudah berlangsung sejak mereka meninggalkan dermaga. "Aku sudah menghitung, kau belum bicara sama sekali sejak tiga puluh tujuh langkah terakhir."

Tianji menoleh, alisnya berkerut. "Kau menghitung langkahku?"

"Tentu saja." Yue'er tersenyum lebar. "Apa lagi yang bisa kulakukan selain menghitung langkah-langkah diam seorang pemuda yang sedang bersedih? Lebih menarik daripada menghitung ombak, karena ombak itu tak terhitung jumlahnya."

"Aku tidak bersedih," jawab Tianji cepat, terlalu cepat.

"Ah, tentu saja tidak." Yue'er mengangguk-angguk, nada bicaranya penuh ejekan lembut. "Kau hanya diam membatu seperti patung batu di kuil tua yang sudah seribu tahun tidak tersenyum. Itu bukan kesedihan, itu… gaya baru yang sedang populer di kalangan pendekar muda, kurasa."

Tianji tidak bisa menahan desahan. Gadis ini benar-benar tahu cara membuatnya kesal sekaligus terhibur dalam satu waktu. "Kau selalu bicara tanpa henti, Yue'er. Bahkan saat kita akan menghadapi kematian."

"Mengapa kau pikir kematian membuatku harus diam?" Yue'er bangkit, berjalan mendekat dengan hati-hati di atas perahu yang bergoyang. Ia berdiri di samping Tianji, menatap laut yang sama. "Justru karena kita akan mati, maka aku ingin bicara sebanyak-banyaknya. Setiap kata adalah harta yang tidak bisa dibawa mati. Setiap suara adalah bukti bahwa kita masih hidup."

Tianji menunduk. "Kau tidak takut?"

"Takut?" Yue'er tertawa kecil. "Tentu saja aku takut. Aku manusia, bukan dewa. Tapi ketakutan tidak boleh menghentikan mulutku dari bicara. Kalau aku diam karena takut, maka ketakutan sudah menang."

"Ini tidak adil bagimu," kata Tianji, suaranya hampir berbisah. "Kau tidak seharusnya ikut dalam perjalanan ini. Aku yang memiliki MP ini. Aku yang harus menanggung akibatnya. Tapi kau… kau masih muda, kau memiliki seluruh hidup di depanmu."

"Aku juga memiliki kau di depanku," jawab Yue'er tanpa ragu. "Dan itu lebih penting."

Tianji tertegun. Ia menatap Yue'er, mencari-cari tanda kebohongan atau keraguan di wajah gadis itu. Tapi yang ia lihat hanyalah ketulusan yang begitu murni, begitu polos, hingga hatinya terasa diremas.

"Kau bodoh," bisiknya.

"Sangat bodoh," Yue'er setuju. "Tapi kebodohan ini adalah pilihanku sendiri. Ingat itu, Tianji. Apapun yang terjadi di Lautan Kabut nanti, aku ada di sana karena aku mau. Bukan karena kau memaksaku. Bukan karena hutang budi. Bukan karena kewajiban. Tapi karena aku memilih untuk berada di sisimu."

"Bahkan jika itu berarti kematianmu?"

"Bahkan jika itu berarti kematianku," ulang Yue'er, nadanya tegas. "Tapi kumohon, jangan terlalu cepat berpikir tentang kematian. Kita belum sampai di sana. Sekarang, kita masih hidup. Laut masih biru. Angin masih bertiup. Dan aku masih bisa mendengar suara ombak yang indah ini. Bukankah itu cukup?"

Tianji tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya, yang sejak semalam kaku, akhirnya bergerak membentuk senyum tipis.

"Ah, akhirnya!" seru Yue'er. "Aku pikir senyummu sudah mati terkubur di suatu tempat. Syukurlah ia masih hidup. Biarkan ia keluar lebih sering, Tianji. Wajahmu lebih tampan saat tersenyum."

"Kau bilang begitu hanya karena kau tidak tahan melihat wajah cemberutku."

"Tentu saja! Kau pikir aku mau menghabiskan perjalanan berhari-hari dengan seseorang yang wajahnya seperti baru kehilangan seribu keping emas? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka menikmati pemandangan." Yue'er merentangkan tangannya lebar-lebar, menghirup udara laut dalam-dalam. "Lihatlah, Tianji. Laut ini begitu luas, begitu bebas. Ombak tidak pernah berhenti bergerak. Burung-burung camar terbang tanpa beban. Alam tidak pernah bersedih, karena alam tahu bahwa setiap akhir adalah awal yang baru."

"Kau sedang berfilsafat lagi," kata Tianji.

"Memangnya kenapa? Apakah hanya orang tua berjenggot putih yang boleh berfilsafat?" Yue'er menyandarkan punggungnya di tepi perahu, matanya menerawang. "Menurutku, setiap orang berhak merenungkan hidup. Terlebih lagi saat ia akan menghadapi kematian. Bukankah momen seperti ini justru saat yang tepat untuk bertanya: apa arti semua ini? Mengapa kita ada di sini? Apakah hidup ini hanya tentang bertahan hidup, atau ada sesuatu yang lebih?"

"Aku tidak tahu," jawab Tianji jujur. "Aku tidak pernah punya waktu untuk merenungkan hal-hal seperti itu. Sejak aku bisa ingat, satu-satunya hal yang kupikirkan adalah bagaimana bertahan hidup. Bagaimana mengendalikan MP ini. Bagaimana tidak menjadi monster."

"Dan sekarang?"

"Sekarang…" Tianji terdiam sejenak. "Sekarang aku harus belajar memikirkan hal lain. Bahwa ada hidup di luar MP ini. Bahwa ada dunia yang tidak perlu kuselamatkan atau kuhancurkan. Bahwa ada… seseorang yang peduli padaku."

Yue'er tersenyum, senyumnya hangat seperti mentari musim semi. "Itu kemajuan yang bagus, Tianji. Aku bangga padamu."

"Jangan bangga dulu," Tianji menggeleng. "Kita belum berhasil. MP ini mungkin akan menghancurkan kita berdua."

"Kalau begitu, kita akan hancur bersama." Yue'er berkata dengan enteng, seolah membicarakan cuaca. "Bukankah itu indah? Hancur bersama orang yang kau sayangi? Lebih baik daripada hancur sendirian, menurutku."

Tianji menatap Yue'er dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, ada rasa bersalah, ada cinta yang tak terucapkan. "Aku tidak pantas memiliki teman sepertimu."

"Itu bukan urusanmu untuk memutuskan," jawab Yue'er cepat. "Yang memutuskan aku mau berteman dengan siapa adalah aku sendiri. Dan aku sudah memutuskan: aku ingin berteman denganmu, Tianji. Bukan karena kau pantas atau tidak. Tapi karena aku melihat sesuatu yang berharga dalam dirimu, sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak sadari."

"Apa itu?"

"Kebaikan," kata Yue'er. "Kebaikan yang kau sembunyikan di balik topeng ketangguhan. Aku pernah melihatmu memberi makan kucing liar di pasar. Aku pernah melihatmu menahan sakit agar tidak membuat orang lain khawatir. Aku pernah melihatmu berkorban untuk orang-orang yang tidak kau kenal. Itu bukan sifat monster, Tianji. Itu sifat manusia."

Perahu mereka terus melaju, meninggalkan garis pantai yang semakin mengecil. Pelabuhan Utara kini hanya berupa titik kecil di kejauhan. Di depan mereka, laut terbentang tanpa batas, menuju ke utara di mana Lautan Kabut berada.

Mereka berlayar selama beberapa jam tanpa banyak bicara. Yue'er sesekali menyanyikan lagu-lagu rakyat yang ceria, suaranya yang merdu menyatu dengan suara ombak. Tianji mendengarkan dalam diam, hatinya yang semula berat perlahan terasa lebih ringan.

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Yue'er tiba-tiba bertanya, "Tianji, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Setelah MP lepas dan kau menjadi manusia biasa?"

Tianji tertegun. Pertanyaan itu tidak pernah terpikirkan olehnya. "Aku… aku tidak tahu. Aku tidak pernah membayangkan hidup tanpa MP."

"Bayangkanlah sekarang," desak Yue'er. "Tutup matamu dan bayangkan. Kau bebas. Tidak ada kekuatan mengerikan yang mengalir dalam darahmu. Tidak ada suara-suara yang memanggilmu di malam hari. Kau hanya manusia biasa. Apa yang akan kau lakukan?"

Tianji menutup matanya. Ia mencoba membayangkan. Tapi pikirannya kosong. Kehidupannya selama ini begitu terikat dengan MPโ€”dengan kekuatan, dengan tanggung jawab, dengan ancaman yang terus membayangiโ€”hingga ia tidak bisa melihat dirinya tanpa semua itu.

"Aku akan menjadi petani," katanya akhirnya. "Bertani di desa yang tenang. Menanam padi. Memelihara ayam."

Yue'er terkikik. "Petani? Kau? Dengan tangan yang terbiasa memegang pedang dan mengendalikan energi spiritual?"

"Aku bisa belajar," kata Tianji dengan nada defensif. "Bukankah kau bilang aku harus membayangkan hal baru?"

"Baik, baik." Yue'er mengangkat tangannya, menyerah. "Kalau kau jadi petani, aku akan jadi tetanggamu. Aku akan menjual sayur di pasar. Kita bisa bertemu setiap pagi dan kau bisa membeli sayur dariku."

"Kenapa harus aku membeli sayur darimu? Bukankah aku juga petani? Aku bisa menanam sayur sendiri."

"Karena sayurku lebih segar," jawab Yue'er dengan yakin. "Aku punya resep rahasia untuk bercocok tanam. Lagipula, hidup akan membosankan kalau kau hanya bicara dengan padi sawahmu setiap hari. Kau butuh teman yang cerewet seperti aku untuk menghiburmu."

"Kau memang cerewet," Tianji setuju. "Tapi kurasa aku sudah terbiasa."

Yue'er tersenyum puas. "Itulah maksudku sejak awal. Membuatmu terbiasa dengan kehadiranku sehingga kau tidak bisa hidup tanpaku."

"Kau sungguh licik."

"Memang," Yue'er mengakui tanpa rasa malu. "Tapi itulah senjata seorang gadis. Bukan pedang, bukan tenaga dalam, tapi kelicikan."

Mereka tertawa bersama, tawa pertama yang benar-benar tulus sejak Tianji memutuskan untuk pergi ke Lautan Kabut. Untuk sesaat, beban berat di pundaknya terasa lebih ringan. Untuk sesaat, ia lupa bahwa kematian menunggu di ujung perjalanan ini.

Malam turun perlahan. Bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang gelap. Yue'er menyalakan lentera kecil di buritan, cahayanya yang redup menjadi satu-satunya penerang di tengah laut yang tak bertepi.

"Aku pernah mendengar cerita tentang Lautan Kabut," Yue'er memulai, suaranya pelan. "Konon, di tempat itu, batas antara hidup dan mati menjadi kabur. Ada orang yang masuk dan tidak pernah kembali. Ada juga yang kembali, tapi tidak lagi sama."

"Cerita itu benar," kata Tianji. "MP di dalam diriku berasal dari tempat itu. Lady Hong bilang bahwa seseorangโ€”atau sesuatuโ€”menciptakan MP di Lautan Kabut. Mungkin itu adalah tempat di mana hukum alam tidak berlaku."

"Menakutkan," Yue'er berkomentar. "Tapi juga menarik. Aku penasaran, seperti apa rasanya berada di tempat di mana kematian tidak berarti apa-apa?"

"Seharusnya kau tidak penasaran."

"Kenapa tidak? Rasa penasaran adalah yang membuat manusia terus maju. Tanpa rasa penasaran, kita masih tinggal di gua dan makan daging mentah." Yue'er menarik lututnya ke dada. "Tapi kau benar, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk penasaran. Aku harus fokus pada misi kita: menyelamatkanmu, bukan menjelajahi misteri lautan."

"Aku bisa melakukannya sendiri," tawar Tianji lagi. "Kau masih bisa kembali. Perahu ini masih cukup ringan untuk kau dayung sendiri ke pantai."

"Sudah kubilang, jangan mulai lagi." Yue'er menatap Tianji dengan tajam. "Aku tidak akan kembali. Bukan karena aku bodoh atau keras kepala, tapi karena aku peduli. Dan kepedulian tidak bisa dipaksakan pergi. Ia ada atau tidak ada. Dan ia ada di sini, di dalam hatiku, untukmu."

Tianji tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menatap Yue'er, gadis yang begitu ringan berkata-kata tapi begitu berat dalam ketulusan.

"Kalau kita mati besok," Yue'er melanjutkan, suaranya kini lebih lembut, "setidaknya aku mati dengan kebahagiaan karena telah melakukan sesuatu yang berarti. Aku tidak akan mati sebagai gadis desa yang tidak pernah meninggalkan kampung halamannya. Aku akan mati sebagai seseorang yang berani melawan takdir. Dan itu, menurutku, adalah kematian yang indah."

"Kau aneh," kata Tianji.

"Sudah tahu dari dulu."

Malam semakin larut. Mereka bergantian berjagaโ€”Yue'er mengambil giliran pertama sementara Tianji mencoba tidur. Tapi tidur tidak datang dengan mudah. Pikiran Tianji terus berputar, memikirkan apa yang akan mereka hadapi besok.

Saat ia berbaring di dasar perahu, memandangi bintang-bintang yang berkelap-kelip, ia merasakan sesuatu yang aneh. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kedamaian. Bukan kedamaian karena aman, karena ia tahu bahaya mengintai di depan. Tapi kedamaian karena ia tidak lagi sendirian.

"Yue'er," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Terima kasih."

Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Tapi kemudian, suara Yue'er terdengar, lembut seperti bisikan angin malam.

"Sama-sama, Tianji. Selamat tidur."

Tianji memejamkan mata. Di dalam dadanya, MP itu bergerak gelisah, seolah merasakan bahwa mereka semakin dekat ke tempat asalnya. Tapi untuk malam ini, Tianji memilih untuk tidak peduli. Ia membiarkan dirinya hanyut dalam kedamaian yang diberikan oleh kehadiran Yue'er di dekatnya.

Di luar, laut terus bergulung. Bintang-bintang terus bersinar. Dan perahu kecil itu terus melaju ke utara, menuju takdir yang tidak bisa mereka hindari.

Esok, Lautan Kabut akan menyambut mereka.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 75: KONSULTASI DENGAN LADYโ€ฆ BAB 77: LAUTAN KABUT →