Di hadapan mereka, Lautan Kabut membuka rahasianya yang paling dalam.
Sebuah pusaran air raksasa berputar lambat di tengah lautan, diameternya tak terkira—mungkin selebar satu desa, mungkin lebih. Air laut berputar ke dalam, menuju lubang hitam di pusatnya, seperti mulut raksasa yang terus menelan lautan. Kabut di sekitar pusaran berputar mengikuti arah yang sama, membentuk dinding spiral yang menakutkan sekaligus memesona.
"Astaga," Yue'er berbisik. "Ini… ini seperti lukisan yang kulihat di kuil tua. Pusaran Takdir, begitu mereka menyebutnya."
"Pusaran Takdir?" Tianji mengulang, matanya tidak bisa lepas dari pemandangan di depan.
"Konon, di pusat pusaran ini, takdir seseorang bisa diubah. Tapi hanya mereka yang memiliki keberanian luar biasa yang berani mendekat." Yue'er menatap Tianji. "Sepertinya kita termasuk orang-orang bodoh yang punya keberanian itu."
"Atau hanya orang bodoh yang tidak tahu harus mundur."
"Keduanya, kurasa."
Perahu kecil mereka berhenti di tepi pusaran. Dari dekat, suara pusaran itu sangat keras—gemuruh air yang terus berputar, seperti suara ribuan guntur yang bergemuruh bersamaan. Angin kencang bertiup dari pusaran, membuat layar perahu mereka berkibar liar.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Yue'er.
Tianji menutup matanya, merasakan MP di dalam dadanya. Ia bisa merasakan tarikan yang kuat dari pusaran itu—tarikan yang bukan menarik tubuhnya, tapi menarik MP di dalam dirinya. Seperti pusaran itu adalah magnet raksasa yang memanggil MP untuk kembali.
"Kita harus masuk ke pusatnya," kata Tianji, membuka matanya. "Di situlah ritual harus dilakukan."
"Masuk ke pusaran itu? Kau gila?" Yue'er tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Perahu kita akan hancur berkeping-keping!"
"Bukan dengan perahu. Dengan tubuh kita." Tianji menatap Yue'er dengan serius. "Kita harus berenang ke pusatnya. Hanya dengan cara itu ritual akan berhasil."
Yue'er terdiam, memproses informasi itu. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa. "Tentu. Tentu saja. Kenapa tidak kita coba hal yang paling gila di dunia ini? Berenang ke pusaran air raksasa. Ide yang bagus. Ide yang brilian. Mengapa tidak kita lakukan sambil menyanyi?"
"Kau takut?" tanya Tianji.
"Aku ketakutan setengah mati!" Yue'er menjawab dengan jujur. "Tapi apa yang bisa kulakukan? Kalau aku bilang tidak, kau akan tetap melakukannya sendirian. Dan itu lebih buruk daripada mati bersama."
Tianji meraih kedua tangan Yue'er. "Dengar, Yue'er. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam pusaran itu. Lady Hong bilang kau harus menjadi 'kunci'—mengikat Qi-mu dengan Qi-ku agar aku tidak hancur saat MP dilepaskan. Tapi ia tidak bilang bagaimana caranya, atau apa yang akan terjadi padamu."
"Kita akan mencari tahu," kata Yue'er santai. "Bukankah hidup ini tentang petualangan? Dan ini adalah petualangan terbesar yang pernah kita lakukan."
"Kau bisa mati."
"Aku tahu."
"Kau tidak takut?"
Yue'er tersenyum, senyum yang sama yang selalu ia tunjukkan saat menghadapi bahaya. "Tentu aku takut. Tapi aku lebih takut kehilanganmu. Jadi, ayolah. Jangan buang waktu dengan kekhawatiran. Kita lakukan ini bersama."
Tanpa menunggu jawaban Tianji, Yue'er melepaskan tangannya dan mulai melepas jubah luarnya. Ia kini hanya mengenakan pakaian dalam yang tipis, basah oleh embun kabut.
"Ayo cepat, sebelum aku berubah pikiran!" serunya.
Tianji mengangguk. Ia melepas jubahnya juga, menyisakan pakaian yang tidak akan memberatkan saat berenang. Tangannya meraih tangan Yue'er, dan mereka berdiri di tepi perahu, menghadap pusaran raksasa.
"Kita lompat bersama," kata Tianji.
"Tiga… dua… satu…"
Mereka melompat.
Air terasa sangat dingin saat tubuh mereka menyentuhnya. Bukan dingin biasa—dingin ini menusuk hingga ke sumsum tulang, dingin yang seolah berasal dari kedalaman laut yang tidak pernah tersentuh matahari. Tapi tangan mereka tetap saling menggenggam erat.
Arus pusaran langsung menarik mereka masuk. Tianji dan Yue'er berjuang untuk tetap bersama, tubuh mereka berputar mengikuti arus. Dunia di sekitar mereka menjadi kacau—air, kabut, suara gemuruh, semuanya bercampur menjadi satu.
"Aku tidak bisa melihat apa-apa!" teriak Yue'er berusaha mengatasi gemuruh air.
"Pegang tanganku! Jangan lepaskan!" Tianji berteriak balik.
Mereka terus terseret arus, semakin dalam, semakin dekat ke pusat pusaran. Tianji merasakan MP di dalam dadanya bergerak semakin liar, seperti burung yang ingin terbang bebas dari sangkar. Ia merasakan sakit, sakit yang luar biasa, seolah ada sesuatu yang mencabik-cabik isi dadanya.
Tiba-tiba, arus berhenti.
Mereka jatuh. Bukan ke dalam air, tapi ke dalam ruang kosong.
Tianji membuka matanya dan mendapati dirinya dan Yue'er berada di dalam sebuah rongga raksasa di bawah pusaran. Dinding air berputar di sekitar mereka, membentuk silinder raksasa yang tembus pandang—seperti berada di dalam tornado air. Di atas mereka, langit kabut terlihat berbentuk lingkaran kecil. Di bawah mereka… tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan yang menggantung.
"Aneh," bisik Yue'er, suaranya bergema di rongga itu. "Kita tidak tenggelam. Kita seperti… melayang."
Tianji melihat ke bawah. Tubuh mereka memang melayang di udara, beberapa meter di atas permukaan air yang berputar di dasar rongga. Seperti hukum gravitasi tidak berlaku di sini.
"Kita sudah sampai," kata Tianji. "Ini pusatnya."
"Lalu? Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Sebelum Tianji bisa menjawab, cahaya mulai muncul dari dasar rongga. Cahaya biru pucat yang menyebar di permukaan air, membentuk pola melingkar yang rumit. Pola itu perlahan naik, membentuk formasi yang mirip dengan array ritual kuno.
"Ini dia," bisik Tianji. "Ritual pelepasan."
Cahaya itu semakin terang, memenuhi seluruh rongga. Tianji merasakan MP di dalam dadanya bergetar hebat, seperti ingin meledak. Ia merasakan sakit yang tak tertahankan—seperti ada ribuan jarum yang menusuk dari dalam tubuhnya.
"Tianji!" Yue'er meraih wajahnya. "Kau pucat! Apa yang terjadi?"
"MP-nya… ia melawan. Ia tidak ingin dilepaskan."
"Apa yang harus kulakukan?"
"Kita harus menyatukan Qi. Kau harus menjadi kunciku, seperti yang dikatakan Lady Hong."
Tapi bagaimana caranya? Tianji tidak tahu persis apa yang harus dilakukan. Lady Hong hanya memberi mereka petunjuk samar—bahwa Yue'er harus mengikat Qi-nya dengan Tianji. Tapi tidak ada instruksi spesifik.
Yue'er, dengan kecerdasannya, sepertinya mengerti. "Tarik napas, Tianji. Tenangkan pikiranmu. Biarkan aku yang memandu."
Ia meraih kedua tangan Tianji, meletakkannya di dadanya sendiri—tepat di atas jantungnya. "Rasakan detak jantungku," katanya lembut. "Rasakan Qi-ku mengalir. Biarkan tubuhmu menyerapnya."
Tianji menutup matanya. Ia merasakan detak jantung Yue'er—stabil, kuat, berani. Ia merasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya. Dan perlahan, ia merasakan sesuatu yang lain—seperti aliran energi hangat yang memasuki tubuhnya dari tangan Yue'er.
"Ya, seperti itu," bisik Yue'er. "Biarkan masuk. Biarkan aku masuk."
Qi mereka mulai menyatu. Tianji bisa merasakan kehadiran Yue'er di dalam dirinya—bukan secara fisik, tapi secara spiritual. Seperti jiwa Yue'er memasuki tubuhnya, menyatu dengan jiwanya.
Dan ketika itu terjadi, MP di dadanya bereaksi.
MP itu mengamuk.
Seperti binatang buas yang terpojok, ia melawan dengan kekuatan penuh. Tianji menjerit, tubuhnya kejang. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya—rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seolah setiap sel dalam tubuhnya dibakar hidup-hidup.
"Tianji! Tetap bersamaku!" Yue'er berteriak, suaranya terdengar seperti dari kejauhan.
"Aku… tidak bisa…" Tianji merasakan kesadarannya mulai memudar.
"Kau bisa! Dengar aku!" Yue'er meraih wajah Tianji, memaksanya menatap matanya. "Lihat aku. Hanya aku. Jangan pikirkan rasa sakitnya. Pikirkan tentang aku."
Tianji berjuang untuk tetap sadar. Matanya bertemu dengan mata Yue'er—bola mata gelap yang penuh keteguhan, penuh cinta, penuh kehidupan.
"Ingat malam pertama kita bertemu?" Yue'er mulai bicara, cepat, nadanya penuh urgensi. "Kau datang ke desa dengan wajah kusut, pakaian compang-camping, dan bau seminggu tidak mandi. Aku pikir kau pengemis. Aku hampir memberimu uang!"
Tianji tersenyum tipis—senyum yang terlihat lebih seperti seringai kesakitan. "Aku ingat."
"Kau lihat? Kau bisa tersenyum bahkan saat sakitt. Itu artinya kau kuat." Yue'er meremas tangannya. "Kau yang terkuat yang pernah kukenal, Tianji. Jangan menyerah sekarang."
"Tapi sakitnya…"
"Aku tahu." Yue'er mendekatkan wajahnya, kening mereka bersentuhan. "Tapi aku di sini. Rasakan aku. Rasakan kehangatanku. Biarkan aku menahan sakit itu bersamamu."
Dan benar saja, keajaiban terjadi. Yue'er mulai merasakan sakit yang sama—MP itu, dalam perlawanannya, menyerang bukan hanya Tianji tapi juga Yue'er yang Qi-nya telah menyatu dengan Tianji.
Yue'er menggigit bibirnya, menahan rasa sakit. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap teguh.
"Kau lihat?" desisnya sambil tersenyum—senyum yang terlihat seperti seringai kesakitan. "Aku juga bisa merasakannya. Tapi lihat, aku masih tersenyum. Kalau aku bisa, kau juga bisa."
Tianji menatap Yue'er dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah, kagum, cinta, dan keberanian bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
"Aku tidak pantas mendapat teman sepertimu."
"Sudah kubilang, itu bukan urusanmu!" Yue'er tertawa, tapi tawanya terputus oleh rasa sakit. "Urusanmu adalah bertahan hidup. Urusanku adalah memastikan kau selamat. Ayo kita kerjakan urusan masing-masing."
Dengan tekad yang baru, Tianji mengangguk. Ia menutup matanya, fokus pada Qi yang mengalir di dalam tubuhnya. Ia merasakan Qi Yue'er—hangat, lembut, seperti sinar matahari pagi. Ia merasakan MP-nya—gelap, dingin, penuh amarah.
"Kau bukan aku," bisik Tianji pada MP itu. "Kau hanya tamu di tubuhku. Dan sudah waktunya kau pergi."
MP itu mengamuk lebih keras. Tapi kali ini, Tianji tidak goyah. Dengan Yue'er di sisinya—bukan secara fisik, tapi spiritual, menyatu dalam Qi—ia merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Cahaya biru di dasar rongga semakin terang. Kini ia naik, menyelimuti mereka, membungkus tubuh Tianji dan Yue'er dalam kokon cahaya.
"Apakah ini saatnya?" tanya Yue'er.
"Ini saatnya," jawab Tianji. "Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku."
"Tidak akan."
Tianji menarik napas dalam-dalam, lalu melepaskan semua perlawanannya. Ia membuka dirinya sepenuhnya—membiarkan MP keluar, membiarkan ritual berjalan, membiarkan takdir menentukan sisanya.
Dan MP itu—Mutiara Penghancur—mulai keluar dari tubuhnya.
Cahaya biru di sekitar mereka meledak, membutakan. Rongga pusaran bergetar hebat. Air di dinding pusaran mulai runtuh.
Dunia terasa berhenti.
Dan di tengah kekacauan itu, suara Yue'er terdengar, mantap dan tenang:
"Lepaskan. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."