๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 73: PULANG KE DESA

← BAB 72: PANGERAN NING BANGKIT BAB 74: HIDUP DAMAI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Perjalanan dari Kota Lintas Angin ke Desa Muara memakan waktu tiga hari dengan berjalan kaki. Tianji dan Yue'er memilih jalan setapak yang memutari perbukitan, menghindari jalan raya yang ramai. Mereka tidak terburu-buru. Untuk pertama kalinya dalam hidup Tianji, ia merasa memiliki waktuโ€”waktu untuk menikmati perjalanan, waktu untuk bernapas.

Hari pertama, mereka melewati hutan bambu yang rimbun. Batang-batang bambu menjulang tinggi, membentuk terowongan hijau yang meneduhkan. Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di tanah.

"Nanti kita akan melewati Air Terjun Tiga Warna," kata Yue'er sambil melompat-lompat di atas batu. "Aku dengar airnya berwarna-warni saat terkena sinar matahari sore."

"Kau sudah pernah ke sana?" tanya Tianji.

"Belum. Tapi Ayah pernah cerita. Katanya, dulu ia dan Ibu sering ke sana."

Tianji tersenyum. "Cerita orang tua kita selalu indah."

"Suatu hari nanti, kita juga akan punya cerita untuk diceritakan ke anak cucu kita," kata Yue'er tanpa berpikir.

Begitu kata-kata itu keluar, ia langsung tersipu. Tianji ikut salah tingkah.

"Maksudku…" Yue'er tertawa gugup. "Maksudku, ya, cerita… tentang petualangan kita…"

"Aku tahu maksudmu," kata Tianji pelan. Wajahnya merah.

Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam yang canggung tapi manis.

Saat sore tiba, mereka tiba di Air Terjun Tiga Warna. Air terjun itu setinggi tiga puluh meter, jatuh dari tebing batu kapur yang ditumbuhi lumut hijau. Saat sinar matahari sore menyinari percikan air, muncullah tiga warnaโ€”merah, kuning, dan biruโ€”berkilauan seperti pelangi cair.

"Indah sekali…" bisik Yue'er.

Tianji duduk di batu besar di tepi sungai. Air sungai jernih, dasarnya penuh kerikil berwarna-warni. Ia mencelupkan kakinya ke air dingin.

"Ini yang aku rindukan," katanya. "Keheningan. Keindahan. Alam."

Yue'er duduk di sampingnya. "Kita bisa tinggal di sini selamanya."

"Apa tidak bosan?"

"Bosan dengan pemandangan seperti ini? Tidak mungkin." Yue'er menyandarkan kepala di bahu Tianji. "Aku bisa menghabiskan sisa hidupku di tempat-tempat seperti ini. Bersamamu."

Tianji merangkulnya. "Kalau begitu, kita akan cari tempat yang lebih indah dari ini. Setiap hari."

"Janji?"

"Janji."

Mereka bermalam di tepi air terjun. Tianji menyalakan api unggun kecil, Yue'er memasak nasi dan ikan kering yang mereka bawa dari Kota Lintas Angin. Makan malam sederhana, tapi terasa lebih nikmat dari jamuan istana.

Hari kedua, mereka memasuki daerah perbukitan kapur. Tebing-tebing curam di kiri kanan, jalan setapak berkelok-kelok. Sesekali mereka berpapasan dengan petani yang membawa hasil bumi ke pasar.

"Tianji, lihat!" Yue'er menunjuk ke langit. Seekor elang terbang melingkar di atas mereka. "Burung itu…"

"Elang laut," kata Tianji. "Berarti kita sudah dekat dengan laut."

Yue'er tersenyum lebar. "Aku rindu bau laut. Rindu suara ombak. Rindu desa."

"Masih satu hari lagi," kata Tianji. "Besok sore kita sampai."

Mereka beristirahat di sebuah pos peristirahatan di puncak bukit. Dari sana, mereka bisa melihat hamparan biru di kejauhanโ€”Laut Selatan, tempat di mana Desa Muara berada. Angin bertiup kencang, membawa aroma garam yang khas.

Tianji menatap laut itu lama. Matanya menerawang. "Di sanalah aku dibesarkan. Di sanalah Guru Xuan Qingzi mengajariku segalanya. Setiap ombak yang kudengar, setiap ikan yang kutangkap, setiap bintang yang kutatapโ€”semua mengajarkan sesuatu."

"Kau benar-benar mencintai laut," kata Yue'er.

"Laut adalah guruku yang kedua," jawab Tianji. "Setelah Xuan Qingzi. Laut tidak pernah berbohong. Ia selalu jujur. Kadang tenang, kadang ganas. Tapi ia selalu menjadi dirinya sendiri."

"Seperti kau," goda Yue'er.

Tianji tersenyum. "Mungkin."

"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Yue'er.

"Aku memikirkan guruku," jawab Tianji. "Xuan Qingzi. Beliau mengajariku banyak hal di desa itu."

"Kau ingin berziarah ke makamnya?"

Tianji mengangguk. "Aku belum pernah ke sana sejak… sejak semuanya terjadi. Aku merasa bersalah."

"Besok kita akan ke sana," kata Yue'er lembut. "Aku akan menemanimu."

Malam harinya, Tianji bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah lautan luas. Ombak setinggi gunung mengelilinginya, tapi ia tidak takut. Dari dalam air, muncul sosok Xuan Qingziโ€”wajahnya tenang, tersenyum.

"Guru…" Tianji berlari ke arahnya, tapi air terus menjauh.

"Tianji," suara Xuan Qingzi bergema. "Kau telah tumbuh menjadi murid yang lebih hebat dari yang Guru bayangkan. Tapi ingat… kekuatan sejati bukanlah untuk dikuasai, melainkan untuk dilepaskan."

"Apa maksud Guru?"

"Kau akan tahu saat waktunya tiba. Jangan takut melepaskan. Terkadang, kehilangan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar."

Tianji terbangun dengan keringat dingin. Mimpi itu terasa begitu nyata.

"Ada apa?" Yue'er terbangun karena gerakan Tianji.

"Aku… tidak apa-apa. Hanya mimpi."

Tapi kata-kata Xuan Qingzi terus bergema di kepalanya: "Kekuatan sejati bukanlah untuk dikuasai, melainkan untuk dilepaskan."

Hari ketiga, mereka memasuki wilayah Desa Muara. Segalanya terasa berbeda. Udara lebih asin. Suara ombak lebih terdengar. Rumah-rumah kayu yang sederhana mulai terlihat di kejauhan.

Tianji berhenti di pinggir desa. Ia memandangi desa kecil ituโ€”rumah-rumah panggung, jemuran ikan di halaman, perahu-perahu nelayan yang bersandar di dermaga.

"Aku pulang," bisiknya.

Seorang anak kecil berlari ke arah mereka. Ia berhenti dan menatap Tianji dengan mata membulat.

"Tianji?" tanya anak itu.

Tianji tersenyum. "Aku Tianji."

"Tianji pulang! Tianji pulang!" Anak itu berlari ke dalam desa sambil berteriak.

Dalam sekejap, seluruh desa gempar. Para nelayan meninggalkan perahu mereka. Ibu-ibu keluar dari dapur. Orang-orang tua berdiri di teras rumah. Semua tersenyum, semua melambai.

Seorang lelaki tua berjalan mendekatโ€”Kepala Desa Muara, Pak Wiryo. Ia memegang tangan Tianji dengan erat.

"Tianji, Nak. Kau pulang. Kami semua khawatir padamu."

"Maaf, Pak. Saya pergi lama."

"Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat." Pak Wiryo menepuk pundaknya. "Rumahmu sudah kami bersihkan. Setiap minggu, para ibu bergiliran menyapu dan mengepel. Kami tidak pernah lupa padamu."

Air mata Tianji menggenang. Ia tidak menyangka desa ini akan menerimanya dengan begitu hangat. Dulu ia pergi sebagai anak buangan yang dituduh melakukan kejahatan. Sekarang ia pulang sebagai bagian dari keluarga.

"Terima kasih, Pak. Terima kasih, semuanya."

Para penduduk desa bergantian menyambutnya. Seorang nenek memberinya kain sarung baru. Seorang petani memberinya sekarung beras. Seorang nelayan memberinya ikan segar. Tianji tidak bisa berkata-kata.

Seorang ibu muda menggendong bayinya mendekat. "Tianji, ini anakku. Aku beri nama Tianjiโ€”Tianji Kecil. Karena kau yang menyelamatkan desa kami dari Lord Hitam."

Tianji terharu. Ia menyentuh pipi bayi itu dengan lembut. "Dia akan tumbuh menjadi orang hebat."

Yue'er memegang tangannya. "Lihat, Tianji. Kau punya keluarga di sini. Bukan keluarga darah, tapi keluarga hati."

Mereka diundang makan malam bersama di rumah Pak Wiryo. Meja panjang penuh dengan hidanganโ€”ikan bakar, sup rumput laut, sayur lodeh, dan nasi hangat. Seluruh tetua desa hadir.

"Jadi, ceritakanlah," pinta Pak Wiryo setelah mereka mulai makan. "Apa yang sebenarnya terjadi di Lautan Kabut?"

Tianji bercerita. Tentang Lord Hitam, tentang Fragmen, tentang pertempuran sengit. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Para tetua mendengarkan dengan takjub.

"Anak muda," kata Pak Wiryo di akhir cerita. "Kau telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seribu prajurit. Desa ini berhutang nyawa padamu."

"Saya bukan pahlawan, Pak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya."

"Pahlawan sejati tidak pernah menganggap dirinya pahlawan," jawab Pak Wiryo bijak. "Itulah yang membedakanmu dari orang lain."

Malam harinya, setelah semua keramaian mereda, Tianji berjalan sendirian ke bukit kecil di ujung desa. Di sana, di bawah pohon cemara yang menjulang, terdapat sebuah makam sederhanaโ€”makam Xuan Qingzi.

Bulan bersinar terang, menyinari nisan kayu yang sudah mulai lapuk. Tianji berjalan perlahan, setiap langkah terasa berat. Di tangannya ia membawa sebotol arak dan setangkai bunga kamboja putihโ€”persembahan sederhana untuk gurunya.

Ia berlutut di depan makam itu. Nisan kayu sudah sedikit lapuk, tapi tulisan di atasnya masih terbaca: "Xuan Qingzi โ€” Guru, Pelaut, Pelindung Desa Muara."

"Guru," bisik Tianji. Suaranya serak. "Muridmu pulang. Maafkan aku yang pergi begitu lama tanpa pamit. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga Fragmen dengan sempurna. Tapi aku sudah mencoba, Guru. Aku sudah mencoba yang terbaik."

Ia menuangkan arak ke tanah di depan nisan. "Ini arak kesukaan Guru. Aku ingat dulu Guru sering minum sambil mengajariku jurus-jurus dasar. 'Tianji,' katamu, 'arak mengajarkan kita tentang keseimbangan. Terlalu sedikit, kau kaku. Terlalu banyak, kau jatuh.' Aku tidak pernah mengerti saat itu. Sekarang aku mengerti."

Air matanya mulai mengalir. "Guru, aku sudah melihat Lautan Kabut. Aku sudah bertemu Lord Hitam. Aku sudah memegang Fragmen-fragmen itu. Tapi Guru tidak ada di sana untuk melihatku. Aku ingin Guru bangga padaku."

Ia meletakkan tangannya di atas nisan. "Guru, MP-ku terus bertumbuh. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Lady Hong bilang aku harus melepaskannya. Tapi bagaimana caranya? Aku takut… takut kehilangan satu-satunya warisan yang kau tinggalkan padaku."

Angin malam bertiup, membuat dedaunan berdesir. Seolah Xuan Qingzi sedang menjawab, tapi Tianji tidak bisa mendengar.

"Tapi aku tidak akan menyerah," lanjut Tianji. "Aku akan terus hidup. Aku akan menjaga desa ini. Aku akan menjaga Yue'er. Itu janjiku, Guru."

Ia menundukkan kepala, meneteskan air mata yang sudah lama ia tahan.

Di belakangnya, Yue'er berdiri diam, tidak berani mendekat. Ia membiarkan Tianji memiliki momennya sendiri.

Setelah beberapa lama, Tianji berdiri. Ia menoleh dan melihat Yue'er. Tanpa kata-kata, ia menghampiri dan meraih tangannya.

"Ayo pulang."

"Kita sudah pulang," kata Yue'er lembut.

Tianji tersenyum. "Iya. Kita sudah pulang."

Sebelum meninggalkan makam, Tianji menunduk sekali lagi. "Aku akan kembali, Guru. Akan kusenangi makammu setiap tahun. Dan akan kujaga desa ini seperti yang kau lakukan dulu. Itu janjiku."

Ia membungkuk dalam, menyentuh tanah di depan nisan dengan dahinya. Sebuah penghormatan terakhir. Angin bertiup pelan, membuat bunga kamboja yang ia bawa bergoyang.

Yue'er merangkul pinggang Tianji dari samping. "Ayah Xuan Qingzi pasti bangga padamu."

"Kau pikir begitu?"

"Aku tahu begitu." Yue'er menatap makam itu. "Karena aku juga bangga padamu."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 72: PANGERAN NING BANGKIT BAB 74: HIDUP DAMAI →