Hari-hari di Desa Muara berjalan lambat, seperti air sungai yang mengalir tenang. Tianji bangun setiap pagi saat ayam jantan berkokok. Ia mencuci muka di sumur belakang, lalu duduk di beranda rumah sambil menikmati secangkir teh pahit. Yue'er biasanya masih tidurโia tidak pernah bisa bangun pagi.
"Ini dia, kehidupan yang dulu kumimpikan," kata Tianji pada dirinya sendiri.
Pekan pertama, Tianji menghabiskan waktu dengan berkeliling desa. Ia membantu para nelayan memperbaiki jaring yang robek, mengajak anak-anak desa belajar membaca di bawah pohon beringin, dan kadang-kadang duduk di dermaga sambil memandangi laut. Ia bahkan belajar membuat keranjang bambu dari Pak Wiryo, Kepala Desa, meskipun hasilnya masih jauh dari rapi.
"Tanganmu lebih cocok memegang pedang daripada anyaman bambu," goda Pak Wiryo suatu sore. Keranjang Tianji selalu kusut dan miring.
"Tapi saya tidak mau melawan musuh lagi, Pak," jawab Tianji. "Saya ingin belajar hidup normal."
"Normal?" Pak Wiryo tertawa. "Nak, kau adalah Penyerap Lautan. Tidak ada yang normal dari dirimu. Tapi itu bukan hal buruk. Yang penting kau gunakan kemampuanmu untuk kebaikan."
Tianji merenung. Kata-kata Pak Wiryo mengena di hati. Mungkin ia tidak perlu membuang semua kemampuan Penyerap Lautannya. Mungkin ia hanya perlu menggunakannya dengan bijak.
Ada satu hal yang terus mengganggunya. MP-nya. Setiap malam, saat ia duduk bersila bermeditasi, ia bisa merasakan energi itu mengalir seperti sungai bawah tanahโderas, tak terbendung, terus bertambah. Ia sudah mencoba berbagai teknik pernapasan yang diajarkan Xuan Qingzi, tapi tidak ada yang bisa mengendalikan arus itu.
"Seperti air bah," gumamnya suatu malam. "Semakin kubendung, semakin kuat dorongannya."
Yue'er, yang sedang menjemur pakaian di halaman, mendengar gumamannya. Ia menghampiri. "Masih memikirkan MP-mu?"
"Setiap saat."
"Kau tidak bisa terus-menerus cemas," kata Yue'er. "Itu hanya akan memperburuk keadaan."
Para penduduk desa memanggilnya "Tianji Penyerap" dengan penuh hormat. Tapi Tianji selalu tersenyum dan berkata, "Panggil saja Tianji. Saya masih Tianji yang dulu."
"Kau berubah," kata Yue'er suatu sore. Mereka duduk di dermaga, kaki menjuntai di atas air. Matahari terbenam di ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga dan ungu.
"Berubah menjadi apa?"
"Lebih tenang. Dulu kau selalu tegang, seperti busur yang siap dilepaskan. Sekarang…" Yue'er menatapnya. "Kau terlihat damai."
"Karena aku sudah menemukan kedamaian," jawab Tianji. "Di sini. Bersamamu."
Yue'er tersenyum. Tapi senyumnya pudar saat ia melihat kerutan di dahi Tianji. "Tapi ada sesuatu yang masih mengganggumu, kan?"
Tianji tidak menjawab. Ia hanya menatap laut.
"Aku tahu," lanjut Yue'er. "MP-mu."
"Setiap malam, saat aku tidur, aku merasakannya," kata Tianji pelan. "Seperti ombak yang terus naik, naik, dan naik. Tidak pernah surut. Kadang aku takut… tidurku akan menjadi yang terakhir."
"Jangan bicara seperti itu." Yue'er meraih tangannya. "Lady Hong pasti punya solusi. Kita bisa kembali ke Kota Lintas Angin kapan saja."
"Nanti. Untuk sekarang, aku ingin menikmati ini." Tianji menatap Yue'er. "Hidup damai bersamamu."
Yue'er mengangguk, meskipun hatinya risau.
Keesokan harinya, Tianji ikut melaut dengan para nelayan. Ini pertama kalinya ia melaut sejak sebelum semua kekacauan terjadi. Perahu kayu kecil itu berayun-ayun di atas ombak. Aroma asin dan kebebasan memenuhi hidungnya.
"Tianji, kau yakin kuat?" tanya Pak Joko, nelayan yang memiliki perahu itu. "Melaut itu berat."
"Saya kuat, Pak. Saya lahir dari laut."
Benar saja, Tianji dengan cepat menguasai lagi gerakan-gerakan melaut. Ia melempar jala dengan tepat, menariknya kembali dengan kekuatan yang stabil. Ikan-ikan berkilauan di dalam jalaโikan tongkol, ikan kembung, dan beberapa ekor ikan kakap merah.
"Hebat!" puji Pak Joko. "Kau masih seperti dulu! Tidak kehilangan sentuhan."
Tianji tersenyum. Di tengah laut, jauh dari daratan, ia merasa bebas. Ia bisa merasakan MP-nya berdenyut seirama dengan ombak. Seolah laut itu sendiri berbicara dengannya.
Tapi tiba-tiba, sesuatu terjadi. Ombak di sekitar perahu mulai berputarโperlahan pada awalnya, lalu semakin cepat. Pusaran air mulai terbentuk. Para nelayan panik.
"Apa ini?!" teriak Pak Joko.
Tianji merasakan MP-nya melonjak. Pusaran itu… berasal dari tubuhnya! Tanpa sadar, ia telah menyerap energi laut di sekitarnya.
"Tidak!" Tianji memejamkan mata dan mencoba mengendalikan MP-nya. Ia bernapas dalam-dalam, menenangkan pikirannya, membayangkan Lautan Kabut yang damai. Perlahan, pusaran itu mulai mereda. Laut kembali tenang.
"Maaf, maaf," kata Tianji tergesa-gesa. "Itu… itu tidak sengaja."
Para nelayan saling pandang. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi mereka tahuโTianji bukan orang biasa. Dan apa yang baru saja terjadi bukanlah hal biasa.
Tianji tidak bisa melaut lagi setelah itu. Ia kembali ke desa dengan perasaan bersalah dan cemas. Insiden itu menunjukkan bahwa ia tidak bisa hidup tenang. MP-nya akan selalu menjadi ancaman.
Sore harinya, Tianji duduk di bawah pohon cemara di makam Xuan Qingzi. Ia memandangi nisan itu dengan tatapan kosong.
"Apa yang harus kulakukan, Guru?" bisiknya. "Aku ingin hidup normal. Tapi tubuhku… tidak membiarkanku."
"Tianji."
Ia menoleh. Yue'er berdiri di belakangnya, membawa dua mangkuk bakso ikan panas.
"Aku tahu kau akan ada di sini," kata Yue'er sambil duduk di sampingnya. "Ini, makan dulu. Perutmu pasti keroncongan."
Tianji menerima mangkuk itu meskipun ia tidak lapar. "Terima kasih."
"Tentang insiden tadi…" Yue'er memulai.
"Aku tidak bisa mengendalikannya," potong Tianji. "Semakin keras aku mencoba, semakin besar kekuatan yang bocor. Seperti air yang mencari celah."
"Kau tidak bisa terus-menerus memendamnya," kata Yue'er. "Kau harus bicara dengan Lady Hong."
"Aku tahu. Tapi aku ingin menunda. Aku takut apa yang akan terjadi jika aku melepaskan MP-ku. Mungkin aku akan kehilangan segalanya."
"Kehilangan apa?" Yue'er meletakkan mangkuknya. "Kekuatan? Biarkan saja. Itu bukan segalanya."
"Aku tidak takut kehilangan kekuatan," kata Tianji. "Aku takut kehilangan… identitasku. Selama ini, aku dikenal sebagai Penyerap Lautan. Tanpa MP itu, siapa aku?"
"Kau adalah Tianji," jawab Yue'er. "Kau adalah pemuda yang peduli pada orang lain. Kau adalah orang yang rela berkorban demi desa ini. Kau adalah orang yang kucintai. Itu identitasmuโbukan MP-mu."
Yue'er meraih tangan Tianji. "Kau tetap Tianji, dengan atau tanpa MP. Aku mencintaimu bukan karena kekuatanmu. Tapi karena hatimu."
"Apa yang membuatmu begitu yakin?" tanya Tianji. "Bagaimana jika setelah MP-ku hilang, aku berubah menjadi orang yang berbeda?"
"Tidak mungkin," jawab Yue'er tegas. "Aku sudah melihatmu saat kau tidak punya kekuatan sama sekaliโsaat kau masih menjadi murid Xuan Qingzi yang pemalu. Dan aku sudah melihatmu saat kau menjadi Penyerap Lautan yang paling kuat. Kau tetap orang yang sama. Sedikit lebih percaya diri, mungkin. Tapi pada intinya, kau tetap Tianji yang dulu kukenal."
Tianji menatap matanya. Di dalam mata Yue'er, ia melihat kehangatan, keyakinan, dan cinta yang tak tergoyahkan.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanyanya.
"Karena aku tahu siapa dirimu," jawab Yue'er. "Kau bukan Penyerap Lautan karena kau memiliki MP. Kau adalah Penyerap Lautan karena kau memilih untuk melindungi, berkorban, dan mencintai. Dan itu tidak akan pernah berubah."
Tianji tersenyumโsenyum yang pertama kali ia rasakan sampai ke lubuk hatinya. "Kau benar. Aku terlalu khawatir."
"Makanya, dengar kata-kataku lebih sering," goda Yue'er.
"Kau sudah banyak bicara."
"Karena aku suka bicara!" Yue'er tertawa. "Dan kau harus belajar mendengarkan."
Malam itu, Tianji memutuskan. Besok ia akan kembali ke Kota Lintas Angin. Ia akan menemui Lady Hong dan meminta jawaban. Tidak peduli apa pun risikonya, ia harus menyelesaikan masalah MP-nya.
Tapi malam itu, ia akan menikmati kedamaian yang tersisa. Ia duduk di beranda rumah, Yue'er di pangkuannya, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit hitam.
"Yue'er."
"Hm?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk tidak pernah meninggalkanku."
Yue'er mendekapnya lebih erat. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Tianji. Sampai kapan pun."
"Bahkan jika aku kehilangan semua kekuatanku? Bahkan jika aku menjadi nelayan biasa yang tidak bisa melakukan apa-apa?"
"Terutama saat itu." Yue'er mencium pipinya. "Kau tahu kenapa? Karena saat kau tidak punya apa-apa, kau baru benar-benar menjadi dirimu sendiri. Bukan karena kekuatanmu, tapi karena hatimu."
Tianji tersenyum. "Kau memang luar biasa, Yue'er."
"Tentu. Itu sebabnya kau mencintaiku."
"Ya. Itu sebabnya aku mencintaimu."
Mereka terdiam, menikmati malam. Di kejauhan, ombak berdebur pelan. Angin malam membawa aroma laut yang asin. Dan untuk sesaat, Tianji merasa semuanya akan baik-baik saja.
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahuโperjalanannya belum berakhir. Sesuatu yang besar sedang menantinya di depan. Dan ia harus siap.
"Yue'er," katanya tiba-tiba.
"Hm?"
"Besok aku akan ke Kota Lintas Angin. Aku akan temui Lady Hong."
Yue'er mengangkat wajahnya. "Aku ikut."
"Kau tidak perluโ"
"Aku ikut." Suara Yue'er tegas. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Lagipula, siapa yang akan memastikan kau makan tepat waktu?"
Tianji tersenyum. "Baik. Kita berangkat bersama."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berpelukan erat. Malam semakin larut, tapi tidak ada yang ingin tidur. Mereka ingin menikmati setiap detik kedamaian iniโkarena mereka tahu, badai akan segera datang.
"Tianji," bisik Yue'er. "Aku sayang kamu."
Tianji merasakan dadanya menghangat. "Aku juga sayang kamu, Yue'er. Kamu adalah alasan aku terus bertahan."
"Kalau begitu, kita akan bertahan bersama." Yue'er tersenyum. "Sampai kapan pun."
Bintang-bintang di atas mereka berkelap-kelip, seolah turut menyaksikan janji yang terucap di malam itu. Tianji menatap langit. Ribuan bintang bertaburan di atas Desa Muara. Di kejauhan, suara ombak berdebur irama yang menenangkan.
"Lihat," kata Tianji sambil menunjuk ke langit. "Bintang jatuh."
Sebuah cahaya melesat di langit, meninggalkan jejak keemasan sebelum menghilang di ufuk.
"Aku punya permintaan," bisik Yue'er. "Semoga kita selalu bersama."
Tianji merangkulnya lebih erat. "Itu sudah pasti."
"Kau tahu, Tianji," Yue'er menatap langit. "Meskipun besok kita harus berpisah untuk sementara, aku tahu kau akan kembali. Karena kau selalu kembali."
Tianji mencium puncak kepalanya. "Aku akan selalu kembali padamu."
Besok, ia akan mencari jawaban.