Istana Ning di sisi timur Kota Lintas Angin tidak pernah seramai hari ini. Sejak pagi, para pejabat, panglima, dan utusan dari berbagai daerah berdatangan. Gerbang istana terbuka lebarโsuatu pertanda bahwa sesuatu yang besar telah terjadi.
Tianji dan Yue'er tiba tepat saat matahari berada di puncak. Mereka diantar oleh pengawal istana melewati lorong-lorong marmer yang megah. Dinding-dinding dihiasi lukisan naga dan burung hongโsimbol kebesaran Kesultanan Ning.
"Gugup?" bisik Yue'er.
Tianji menggeleng. "Aneh. Dulu aku takut masuk ke istana. Sekarang… rasanya biasa saja."
"Itu karena kau sudah menghadapi Lord Hitam. Istana tentu tidak ada apa-apanya."
Tianji tersenyum kecil. "Mungkin."
Mereka memasuki ruang utama. Di atas singgasana, duduk seorang pria paruh baya dengan jubah sutra biru gelapโPangeran Ning. Wajahnya yang dulu pucat dan kurus kini mulai berisi kembali. Matanya yang redup kini bersinar dengan semangat baru.
"Tianji!" sapa Pangeran Ning dengan suara lantang. Ia turun dari singgasana dan berjalan mendekat. "Aku sudah mendengar semuanya. Kau telah melakukan hal yang luar biasa."
Tianji membungkuk. "Yang Mulia, saya hanya melakukan kewajiban."
"Kewajiban?" Pangeran Ning tertawa. "Kau mengalahkan Lord Hitam yang telah mengancam kesultanan kita selama bertahun-tahun, dan kau bilang itu hanya kewajiban?" Ia meletakkan tangan di bahu Tianji. "Kau pahlawan, Tianji. Berhentilah merendah."
Yue'er menyembul dari belakang Tianji. "Dia memang suka begitu, Yang Mulia. Kadang menyebalkan."
Pangeran Ning menoleh dan tersenyum lebar. "Yue'er. Liu Dahan tidak sabar menunggu kau. Ia sudah bertanya tentangmu setiap hari."
Mata Yue'er berbinar. "Ayah ada di sini?"
"Di taman belakang. Ayo, aku antar."
Mereka berjalan melewati taman istana yang indahโkolam ikan koi, pohon sakura yang mulai berbunga, dan jembatan kecil melengkung merah. Di ujung taman, di bawah pohon beringin, duduk seorang pria tua berjubah putihโLiu Dahan, ayah Yue'er.
Liu Dahan menoleh saat mendengar langkah kaki. Begitu melihat Yue'er, tongkat di tangannya hampir terjatuh. "Yue'er? Yue'er!"
"Ayah!" Yue'er berlari dan memeluk ayahnya erat. Keduanya menangis haru.
"Ayah kira Ayah tidak akan pernah melihatmu lagi," isak Liu Dahan. "Setelah kau pergi dengan Tianji, Ayah terus berdoa setiap malam agar kau selamat."
"Yue'er juga rindu Ayah," jawab Yue'er sambil terisak. "Maafkan Yue'er yang pergi tanpa pamit."
"Sudah, sudah. Tidak perlu minta maaf. Yang penting kau pulang dengan selamat."
Tianji berdiri di kejauhan, tersenyum melihat pertemuan itu. Ada kehangatan yang mengalir di dadanyaโsesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.
Pangeran Ning mendekatinya. "Biarkan mereka berdua dulu. Ada yang perlu kita bicarakan."
Mereka berjalan ke ruang kerja pangeran. Ruangan itu dipenuhi peta dan gulungan dokumen. Sebuah meja kayu mahoni besar berdiri di tengah, ditutupi peta Kesultanan Ning.
"Duduklah," kata Pangeran Ning sambil mengambil tempat duduk.
Tianji duduk di kursi seberang.
"Keadaan politik kita masih rapuh," mulai Pangeran Ning. "Lord Hitam memang sudah kalah, tetapi pengaruhnya masih tersisa. Beberapa pejabat yang dulu setia kepadanya kini ketakutan dan mencoba melarikan diri. Aku butuh bantuanmu."
"Apa yang bisa saya lakukan, Yang Mulia?"
"Bantu aku membersihkan sisa-sisa pengaruh Lord Hitam. Ada beberapa nama yang kucurigai sebagai kaki tangannya. Tapi aku tidak punya bukti yang cukup."
"Siapa saja mereka, Yang Mulia?"
Pangeran Ning mengambil sebuah gulungan dari laci mejanya. Ia membukanya, memperlihatkan daftar namaโpejabat istana, panglima militer, dan beberapa pedagang kaya. "Ini semua orang yang pernah berhubungan dekat dengan Lord Hitam. Beberapa di antaranya mungkin tidak bersalah. Tapi beberapa pasti terlibat."
Tianji mempelajari daftar itu. Matanya yang tajam membaca setiap nama. "Yang Mulia ingin saya menyelidiki mereka satu per satu?"
"Tepat sekali. Kau memiliki kemampuan yang luar biasaโMP-mu bisa mendeteksi energi gelap yang ditinggalkan Lord Hitam. Siapa pun yang pernah menerima kekuatan darinya pasti meninggalkan jejak. Aku butuh kau untuk mencari tahu siapa yang benar-benar terlibat dan siapa yang hanya korban keadaan."
"Bagaimana dengan mereka yang terbukti bersalah?"
Pangeran Ning menghela napas. "Hukum akan berbicara. Aku tidak akan sewenang-wenang, Tianji. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan pengkhianat berkeliaran bebas. Kau mengerti?"
Tianji mengangguk. "Saya akan membantu."
Pangeran Ning tersenyum lega. "Terima kasih, Tianji. Aku tahu kau lelah. Tapi kau adalah satu-satunya yang bisa kupercaya untuk tugas ini."
"Ada satu syarat, Yang Mulia."
"Apa?"
"Setelah ini selesai… saya ingin kembali ke desa. Saya ingin hidup tenang."
Pangeran Ning diam sejenak. "Aku mengerti. Jika itu yang kau inginkan, aku tidak akan menahanmu."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Tapi sebelum kau pergi," Pangeran Ning membuka sebuah kotak kayu di sudut meja, "aku punya sesuatu untukmu." Ia mengeluarkan sebuah jimat giok hijau berbentuk ikan. "Ini adalah jimat keluarga Ning. Aku memberikannya sebagai tanda persahabatan. Jika kau butuh bantuan, tunjukkan jimat ini ke pejabat istana mana pun."
Tianji menerima jimat itu dengan hormat. "Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Kau tidak perlu berkata apa-apa." Pangeran Ning tersenyum. "Kau sudah melakukan lebih dari cukup untukku dan kesultanan ini."
Di luar, Yue'er masih bergandengan tangan dengan ayahnya. Mereka berjalan di sepanjang tepi kolam, bicara tentang banyak hal.
"Ayah, bagaimana keadaan di desa?" tanya Yue'er.
"Desa Muara baik-baik saja," jawab Liu Dahan. "Setelah Lord Hitam kalah, laut menjadi tenang. Ikan-ikan kembali banyak. Para nelayan bisa melaut tanpa takut."
"Syukurlah."
"Tapi…" Liu Dahan ragu-ragu. "Ada yang ingin Ayah tanyakan."
"Apa, Ayah?"
"Kau dan Tianji…" Liu Dahan menatap anaknya dengan lembut. "Apa… apa ada hubungan khusus di antara kalian?"
Yue'er tersipu. "Ayahlah…"
"Ayah hanya ingin tahu. Ayah lihat cara kau memandangnya… seperti dulu Ibu memandang Ayah."
Yue'er diam sejenak. "Aku mencintainya, Ayah. Sangat."
Liu Dahan tersenyum. "Ayah tahu. Dan Ayah setuju. Tianji pemuda yang baik. Walaupun dia pendiam, tapi hatinya bersih."
"Tapi…"
"Tapi apa?"
"Dia tidak pernah mengatakan apa pun tentang perasaannya." Yue'er menunduk. "Kadang aku takut… aku hanya membayangkan."
Liu Dahan tertawa kecil. "Anakku, pria seperti Tianji tidak pandai mengungkapkan perasaan. Tapi lihatlah matanya saat ia memandangmuโsemua jawaban ada di sana."
Yue'er tersenyum. "Ayah benar."
Malam harinya, Pangeran Ning mengadakan jamuan makan malam. Hidangan lezat berjejer di meja panjangโbebek panggang madu, sup sirip hiu, ikan kukus jahe, dan aneka sayuran segar. Anggur buah mengalir bebas.
Tianji duduk di sebelah kiri Pangeran Ning. Yue'er di sampingnya. Liu Dahan di seberang meja.
"Aku ingin mengusulkan sesuatu," kata Pangeran Ning setelah hidangan utama selesai. "Tianji, aku ingin mengangkatmu sebagai penasihat istana."
Semua mata tertuju pada Tianji. Liu Dahan mengerutkan dahi. Yue'er menahan napas.
"Penasihat?" Tianji mengernyit.
"Kau memiliki pengetahuan yang luas. Pengalamanmu melawan Lord Hitam tak ternilai. Aku butuh seseorang sepertimu di sisiku."
Tianji diam. Ia merasakan beban di pundaknya. Penasihat istana berarti tanggung jawab besarโberarti ia harus tinggal di kota, jauh dari Desa Muara, jauh dari laut yang ia cintai.
Yue'er meliriknya. Ia bisa membaca kegelisahan di mata Tianji. Ia tahu apa yang ada di hati pemuda ituโkerinduan pada laut, pada desa sederhana yang menjadi rumahnya.
"Yang Mulia," kata Tianji pelan. "Saya merasa terhormat. Tapi saya belum siap."
Pangeran Ning tidak terkejut. "Aku mengerti. Pikirkanlah. Tawaran ini selalu terbuka untukmu."
"Apa yang membuatmu ragu?" bisik Yue'er setelah jamuan, saat mereka berjalan ke taman. "Itu tawaran besar. Kau bisa menjadi orang penting."
"Aku tidak ingin menjadi orang penting," jawab Tianji. "Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri."
Setelah jamuan, Tianji berjalan sendirian di taman. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan kolam. Suara jangkrik mengisi malam.
"Tianji."
Ia menoleh. Yue'er berdiri di belakangnya, gaun putihnya berkibar ditiup angin malam.
"Mengapa kau menolak tawaran Pangeran Ning?" tanyanya.
"Karena… aku tidak yakin."
"Tidak yakin tentang apa?"
Tianji menatap bulan. "Aku tidak tahu apa yang aku inginkan. Hidup di istana? Menjadi pejabat? Itu bukan aku, Yue'er."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin…" Tianji berhenti. "Aku ingin pulang."
"Pulang ke mana?"
"Ke Desa Muara. Ke laut. Ke tempat di mana aku bisa mendengar ombak setiap hari." Ia menatap Yue'er. "Apakah itu konyol?"
Yue'er tersenyum lembut. "Tidak. Itu indah."
"Kau mau ikut?"
Yue'er mendekat. "Aku akan ikut kau ke mana pun, Tianji. Kau tahu itu."
Tianji meraih tangannya. "Kalau begitu, besok kita pulang."
Mereka berdiri di bawah sinar bulan, berpegangan tangan. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Hati mereka sudah berbicara.
Malam itu, sebelum tidur, Tianji duduk di ambang jendela kamarnya. Ia membuka telapak tangannya. Di telapak itu, samar-samar, terlihat garis-garis energi biru berkilauโtanda bahwa MP-nya masih aktif, masih tumbuh.
"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya.
Pintu kamar diketuk pelan. "Tianji?" suara Yue'er dari luar. "Kau belum tidur?"
"Masuklah."
Yue'er masuk dengan membawa dua cangkir teh jahe hangat. "Aku juga tidak bisa tidur. Pikiranku penuh." Ia duduk di samping Tianji. "Aku tidak sabar ingin pulang ke desa."
"Aku juga."
"Tapi aku juga takut." Yue'er menunduk. "Di desa, semuanya akan berbeda. Tidak ada petualangan. Tidak ada bahaya. Hanya… kehidupan biasa."
"Kau takut bosan?" tanya Tianji.
"Bukan bosan. Tapi… aku terbiasa bergerak. Sejak kecil, aku selalu berpindah-pindah bersama Ayah. Aku tidak pernah tinggal di satu tempat terlalu lama."
Tianji meraih tangannya. "Kalau begitu, kita akan membuat petualangan kita sendiri. Di desa. Di laut. Di mana pun."
Yue'er tersenyum. "Kedengarannya indah."
"Karena memang akan indah."
Mereka minum teh bersama dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Kehadiran satu sama lain sudah cukup.
Setelah Yue'er pergi, Tianji kembali menatap ke luar jendela. Bulan purnama bersinar terang, memantul di permukaan kolam ikan di taman istana. Udara malam terasa sejuk.
"Aku akan pulang," bisiknya pada dirinya sendiri. "Ke desa. Ke laut. Ke tempat di mana aku dilahirkan."