Tianji tidak tahu sudah berapa hari ia berada di dalam penjara. Waktu terasa cair di tempat di mana tidak ada siang dan malam, di mana yang ada hanyalah kegelapan abadi dan kunjungan rutin Lord Hitam yang menyedot tenaga dalamnya setiap hari.
Ia sudah kehilangan hitungan. Mungkin lima hari. Mungkin seminggu. Mungkin lebih.
Yang ia tahu, tubuhnya semakin lemah. Setiap hari Lord Hitam datang, setiap hari ia merasakan sebagian dari dirinya terkoyak dan diambil. Ia sudah tidak punya tenaga untuk duduk bersila lagiโia hanya bisa berbaring di lantai batu, bernapas pendek-pendek, berusaha bertahan.
"Besok mungkin aku tidak akan bisa bangun lagi," pikirnya, setengah sadar. "Mungkin besok adalah hari terakhirku."
Tapi kemudian, di tengah keputusasaan itu, ia mendengar sesuatu.
Suara.
Bukan suara langkah kaki Lord Hitam yang berat dan teratur. Bukan suara derit pintu sel yang berkarat. Melainkan suara yang lebih halusโseperti cakaran tikus di dinding batu.
Pikirannya yang setengah sadar mengabaikannya. Tikus-tikus kecil itu sering berkeliaran di penjara. Tapi suara itu tidak berhenti. Bahkan semakin keras. Dan semakin teratur.
Itu bukan suara tikus. Itu suara seseorang yang menggali.
Tianji membuka matanya dengan susah payah. Matanya kabur, tapi ia bisa melihat dinding di sudut selnyaโdinding batu yang selama ini ia kira kokoh dan tak tertembusโbergetar sedikit.
"Apa…?" bisiknya, suaranya serak karena jarang digunakan.
Dan kemudian, dengan suara gemuruh yang pelan, beberapa batu di dinding itu runtuh, menciptakan lubang kecil yang cukup untuk dilewati seseorang. Dari lubang itu, sebuah kepala munculโwajah yang ia kenal, dengan rambut kusut dan mata yang berbinar meskipun redup oleh debu.
"Yue'er?" Tianji hampir tidak percaya.
"Ya, ya, ini aku," kata Yue'er, suaranya setengah berbisik tapi tetap terdengar cerewet seperti biasanya. "Kau kira siapa lagi? Hantu? Atau mungkin peri yang turun dari kayangan untuk menyelamatkanmu? Sayang sekali, hanya akuโgadis kampung biasa yang kau tinggalkan di penginapan sementara kau pergi bermain pahlawan."
"Yue'er, kau…" Tianji mencoba duduk, tapi tubuhnya terlalu lemah.
"Jangan bergerak dulu!" Yue'er merangkak masuk lewat lubang itu, bajunya penuh debu dan kotoran. "Astaga, lihat dirimu! Kau kelihatan seperti mayat hidup! Aku sudah bilang, kan? Jangan pernah percaya sama Lord Hitam. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menyerahkan diri seperti domba yang digiring ke pembantaian. Dasar anak kecil!"
Yue'er berjongkok di samping Tianji, tangannya yang kasar namun hangat menyentuh dahinya.
"Panas," gumamnya. "Kau demam. Dan lihat iniโbelenggu pemutus urat! Kau tahu berapa lama aku harus menggali lorong bawah tanah untuk sampai ke sini? Tiga hari, Tianji! Tiga hari aku menggali dengan tangan sendiri! Kau tahu betapa sakitnya tanganku?"
Ia menunjukkan kedua telapak tangannya yang lecet dan berdarah. Tapi di balik keluhannya, Tianji bisa melihat kekhawatiran yang tulus di matanya.
"Maaf," bisik Tianji. "Aku…"
"Sudah, sudah, jangan banyak bicara," potong Yue'er. "Kau perlu minum. Ini, aku bawa air."
Yue'er mengeluarkan kantong air dari balik bajunya dan mendekatkannya ke bibir Tianji. Air dingin mengalir di tenggorokannya yang kering, dan Tianji merasa sedikit tenaganya kembali.
"Kau… bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Tianji setelah minum.
"Ah, itu cerita panjang," kata Yue'er sambil duduk di lantai batu, tidak peduli dengan kotoran. "Setelah Lady Hong datang dan terjadi keributan besarโaku tidak tahu persis apa yang terjadi, yang jelas kau menghilang. Xiao Yu'er dan aku mencari ke mana-mana. Akhirnya kami menemukan bahwa Lord Hitam membawamu ke penjara bawah tanah."
Yue'er menghela napas. "Xiao Yu'er sekarang ada di luar, mengalihkan perhatian para penjaga. Ia menyusup ke benteng dengan menyamar sebagai pelayan dapur. Kau tahu, ia cukup pandai dalam hal penyamaran. Siapa sangka anak laki-laki yang kau temui di pasar itu punya bakat seperti itu?"
"Jadi kalian bekerja sama?" Tianji tersenyum lemah.
"Tentu saja! Kau kira aku akan tinggal diam saat kau dijebloskan ke penjara?" Yue'er mendengus. "Meskipun kau memang pantas dapat pelajaran karena bertindak bodoh. Tapi bagaimanapun juga, kau adalah… kau adalah teman seperjalananku. Aku tidak bisa membiarkanmu mati di sini."
Untuk sesaat, ada keheningan di antara mereka. Kemudian Yue'er berkata, suaranya lebih lembut sekarang.
"Tianji, aku tahu kau merasa bersalah. Atas kematian Guru Li dan Guru Xuan. Atas semua yang terjadi. Tapi kau harus bangkit. Kau tidak bisa menyerah sekarang."
"Aku sudah kehilangan hampir semua tenaga dalamku," kata Tianji, suaranya putus asa. "Lord Hitam menyedotnya setiap hari. Aku tidak punya kekuatan untuk melawan."
"Jadi?" Yue'er mencibir. "Tenaga dalam bisa dipulihkan. Tapi semangat? Jika kau kehilangan itu, kau sudah mati sebelum kau benar-benar mati."
"Aku tidak bisa…"
"Bisa!" Yue'er memotong keras, suaranya bergema di penjara. "Dengarkan aku, Tianji! Aku bukan murid perguruan besar. Aku bukan pendekar wanita dengan ilmu silat tinggi. Tapi satu hal yang aku tahuโdalam hidup ini, yang membedakan antara yang hidup dan yang mati bukanlah kekuatan, tapi kemauan!"
Yue'er meraih bahu Tianji dan mengguncangnya. "Kau memiliki bakat yang luar biasa! Kau Penyerap Lautan! Kau bisa menyerap tenaga dalam dari Fragmen Naga Laut! Apa kau lupa semua itu hanya karena beberapa hari di penjara?"
"Aku tidak lupa," kata Tianji pelan. "Tapi aku tidak bisa merasakan tenaga dalamku lagi. Rasanya seperti… seperti aku sudah kosong."
"Itu karena kau fokus pada apa yang hilang, bukan pada apa yang masih ada!" Yue'er berkata dengan semangat. "Coba rasakan lagi. Ada sedikit sisa yang tersisa, kan? Lord Hitam tidak bisa mengambil semuanya. Selalu ada yang tersisa."
Tianji terdiam. Ia menutup matanya, mencoba merasakan. Dan benarโjauh di dalam inti tubuhnya, ada denyutan lemah. Sangat lemah, tapi masih ada.
"Ada," bisiknya.
"Nah, itu!" Yue'er tersenyum lebar. "Sekarang dengar. Aku punya rencana. Tapi untuk itu, kau harus kuat dulu. Kau harus bisa berdiri, bisa bergerak. Aku tidak bisa membawamu keluar dari sini sendirian."
"Apa rencanamu?"
"Pertama, kita harus menyingkirkan belenggu itu. Kedua, kita harus menemukan jalan keluar. Ketiga, kita harus bertemu dengan Xiao Yu'er di tempat yang sudah ditentukan." Yue'er menghitung dengan jarinya. "Mudah, kan?"
"Mudah?" Tianji tertawa pahit. "Belenggu ini terbuat dari besi khusus. Tidak bisa dipatahkan dengan tenaga biasa."
"Kau pikir aku tidak tahu itu?" Yue'er menyeringai, dan dari balik bajunya ia mengeluarkan sebatang kawat tipis yang lentur. "Aku bukan pendekar ulung, tapi aku tahu sedikit tentang membuka kunci. Ayahku dulu pandai membuat kunci. Ia mengajariku beberapa trik sebelum ia meninggal."
"Kau bisa membukanya?"
"Coba dulu," kata Yue'er sambil mendekat ke belenggu Tianji. "Tapi jangan terlalu berharap. Aku belum pernah membuka belenggu pemutus urat sebelumnya."
Yue'er mulai bekerja, memasukkan kawat tipis itu ke dalam lubang kunci belenggu. Alisnya berkerut konsentrasi, lidahnya sedikit menjulur ke sampingโkebiasaan yang Tianji perhatikan sejak kecil.
"Sial, rumit juga," gumam Yue'er. "Tapi kalau dipikir-pikir… bagian dalam kunci ini…"
"Coba putar ke kiri dulu," kata Tianji pelan.
"Kau tahu cara membuka kunci?"
"Guru Li mengajariku sedikit tentang mekanisme. Untuk memahami tubuh manusia, katanya, kita juga harus memahami cara kerja benda mati."
"Gurumu memang aneh," kata Yue'er sambil mengikuti petunjuk Tianji. "Tapi berguna juga ternyata."
Setelah beberapa saat, terdengar bunyi klik yang memuaskan. Belenggu di tangan kanan Tianji terbuka.
"Berhasil!" Yue'er hampir berteriak kegirangan. "Satu selesai!"
"Sekarang tangan kiri dan kaki," kata Tianji, semangatnya mulai kembali.
Yue'er melanjutkan pekerjaannya. Satu per satu belenggu itu terbuka. Ketika yang terakhir terlepas, Tianji merasa seperti beban seberat gunung diangkat dari tubuhnya. Ia bisa bergerak lagi. Ia bisa merasakan aliran darah yang kembali normal.
"Coba berdiri," kata Yue'er, membantunya bangkit.
Tianji berdiri dengan gemetar, kakinya terasa seperti terbuat dari agar-agar. Tapi ia berdiri. Ia menarik napas panjang, merasakan udara penjara yang lembap.
"Terima kasih, Yue'er," katanya, suaranya bergetar.
"Jangan berterima kasih dulu," kata Yue'er. "Kita masih harus keluar dari sini. Dan itu bagian yang paling sulit."
Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki di koridor. Banyak langkah kaki. Dan suara-suara marah.
"Para penjaga," Yue'er berbisik panik. "Mereka pasti sudah tahu ada yang masuk!"
"Apa yang harus kita lakukan?"
Yue'er melihat sekeliling sel yang kosong. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Hanya satu pintuโdan di luar pintu itu, suara langkah kaki semakin mendekat.
"Sial," gumam Yue'er. "Sepertinya kita harus bertarung."
"Tapi aku tidak punya tenaga…"
"Kau pikir aku butuh tenaga dalammu?" Yue'er menyeringai, dan dari balik bajunya ia mengeluarkan sebilah belati pendek. "Aku sudah bersiap untuk yang terburuk sejak awal."
Pintu sel terbuka dengan suara berderit keras. Beberapa penjaga benteng berdiri di ambang pintu, pedang terhunus.
"Jadi kau benar, Jun," kata salah satu penjaga dengan suara mengejek. "Ada tikus yang masuk ke penjara."
"Mana mungkin aku salah," kata penjaga lain yang dipanggil Jun. "Aku melihat jejak kaki kecil di lorong rahasia. Pasti ada yang masuk."
Yue'er melangkah maju, berdiri di depan Tianji. "Hei, kalian! Kalian tahu siapa aku? Aku Yue'er, pendekar wanita dari Pegunungan Timur! Kalau kalian punya nyali, hadapi aku satu lawan satu!"
Para penjaga tertawa terbahak-bahak.
"Pendekar wanita? Kau kelihatan seperti gadis desa yang tersesat!"
"Kalian akan lihat nanti!" Yue'er mencemaskan, dan dengan gerakan yang lebih cepat dari yang diperkirakan para penjaga, ia melesat maju, belatinya menari di udara.
Pertarungan pecah di lorong penjara yang sempit. Yue'er bertarung dengan gaya yang aneh dan tidak lazimโkadang seperti tarian, kadang seperti gerakan kucing yang menghindari anjing. Ia tidak memiliki tenaga dalam yang kuat, tapi gerakannya lincah dan sulit ditebak.
Para penjaga, yang terbiasa melawan musuh dengan tenaga dalam yang besar, kewalahan menghadapi gaya bertarung Yue'er yang kacau namun efektif.
"Kena!" teriak Yue'er ketika belatinya mengenai bahu salah satu penjaga.
Tianji berdiri di ambang pintu sel, matanya mengikuti pertarungan. Ia tidak bisa bergerak banyakโtubuhnya terlalu lemahโtapi ia bisa melihat, bisa belajar.
Dan apa yang ia lihat membuatnya tercengang.
Yue'er bukanlah seorang pendekar. Tapi ia bertarung dengan keberanian yang luar biasa. Ia tidak takut. Ia tidak ragu. Setiap gerakannya penuh keyakinan, seolah-olah ia sudah bertarung sepanjang hidupnya.
"Kalian pikir kalian bisa mengalahkan aku?" teriak Yue'er sambil menghindari tebasan pedang. "Aku sudah bertahan hidup di jalanan sejak aku berusia sepuluh tahun! Kalian para penjaga istana yang manja tidak akan bisa menyentuhku!"
Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Satu per satu, Yue'er mulai kewalahan. Napasnya terengah-engah, keringat bercucuran di dahinya.
"Tianji," bisiknya di antara pertarungan. "Kalau ada ide, sekarang saatnya!"
Tianji menutup matanya. Ia merasakan sisa-sisa tenaga dalam yang ada di tubuhnya. Sangat sedikit. Tidak cukup untuk pertarungan besar. Tapi cukup untuk… satu gerakan.
"Yue'er, minggir!" teriak Tianji.
Yue'er, tanpa bertanya, melompat ke samping. Tianji mengangkat tangannya, dan dengan seluruh konsentrasi yang ia miliki, ia mengeluarkan gelombang tenaga dalam yang lemahโhanya berupa hembusan anginโtapi cukup untuk membuat para penjaga terhuyung mundur.
"Lari!" teriak Tianji.
Yue'er meraih tangannya, dan bersama-sama mereka berlari menyusuri koridor penjara yang gelap. Di belakang mereka, para penjaga berteriak marah, mengejar.
"Mereka tidak akan berhenti mengejar!" kata Yue'er sambil berlari.
"Aku tahu. Tapi setidaknya kita sudah tidak di dalam sel."
"Ke mana kita harus pergi?"
Tianji melihat ke kanan dan kiri. Lorong penjara bawah tanah ini rumit, seperti labirin. Tapi ia ingat sesuatuโdenah yang sempat ia lihat ketika Lord Hitam membawanya masuk.
"Ke kiri!" katanya. "Di ujung lorong itu ada tangga menuju ke dapur."
"Kau yakin?"
"Tidak. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali."
Mereka berlari, menembus kegelapan. Suara langkah kaki penjaga semakin dekat. Dan kemudian, di depan mereka, muncul lebih banyak penjaga.
"Kita terjebak!" Yue'er hampir putus asa.
Tapi kemudian, dari arah yang berlawanan, seseorang muncul. Seorang pemuda dengan pakaian pelayan dapur, wajahnya setengah tertutup topi.
"Xiao Yu'er!" seru Yue'er lega.
"Kalian lambat sekali," kata Xiao Yu'er sambil tersenyum. "Aku sudah menunggu sejak tadi. Ayo, ikuti aku!"
Xiao Yu'er melemparkan sesuatu ke lantaiโsebuah bola asap yang langsung mengeluarkan kabut tebal. Dalam kekacauan itu, ia menarik Tianji dan Yue'er ke sebuah lorong samping yang sempit, lalu menutup pintu rapat-rapat.
"Kita aman untuk sementara," kata Xiao Yu'er, suaranya berbisik. "Tapi hanya sementara. Lord Hitam pasti sudah tahu tentang pelarian kita."
"Jadi apa rencananya sekarang?" tanya Yue'er.
"Ada satu tempat di benteng ini yang tidak pernah dijaga," kata Xiao Yu'er. "Tempat pembuangan sampah di belakang dapur. Dari sana, ada saluran air yang mengarah ke luar benteng. Tapi…"
"Tapi apa?"
"Tapi saluran itu sempit dan kotor. Kita harus merangkak di dalam kotoran dan lumpur."
Yue'er tersenyum lebar. "Kotoran? Lumpur? Kau pikir itu masalah bagiku? Aku sudah hidup di selokan sejak kecil. Ayo, tunjukkan jalannya!"
Tianji memandang Yue'er, dan untuk pertama kalinya sejak dipenjara, ia tersenyum sungguhan.
"Yue'er," katanya.
"Apa?"
"Terima kasih. Karena kau datang."
Yue'er merah, lalu memalingkan wajah. "Jangan merayuku! Kita masih belum selamat. Ayo, cepat!"
Dan dengan semangat baru, mereka bertiga melanjutkan perjalanan, menembus kegelapan Benteng Hitam, menuju kebebasan yang masih jauh di depan.