๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 48: MP Lv3 โ€” PEMURNIAN

← BAB 47: CAHAYA DI KEGELAPAN BAB 49: PERTARUNGAN DALAM BENTโ€ฆ →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Saluran pembuangan di belakang dapur Benteng Hitam adalah tempat yang tidak pernah diimpikan siapa pun untuk dikunjungi. Bau busuk bercampur dengan sisa-sisa makanan busuk, air kotor menggenang setinggi lutut, dan tikus-tikus besar berkeliaran seolah mereka adalah penguasa sejati di tempat itu.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er merangkak di dalam kegelapan, menahan napas setiap kali bau yang terlalu menyengat menerpa hidung mereka.

"Aku tidak percaya ini," gerutu Yue'er, suaranya teredam karena ia menutup hidung dengan kain yang ia robek dari bajunya. "Setelah semua perjuanganku menggali lorong, berkelahi dengan penjaga, akhirnya kita harus merangkak di tempat pembuangan sampah?"

"Kau lebih suka kembali ke penjara?" Xiao Yu'er balas bertanya.

"Diam kau! Aku hanya… mengeluh sedikit. Apa salahnya mengeluh?"

Tianji tidak menjawab. Ia merangkak di belakang mereka, tubuhnya yang lemah terasa semakin berat setiap langkah. Tapi pikirannya tidak berhenti bekerja. Fragmen 1 dan 2 yang ia sembunyikanโ€”apakah masih aman? Apakah Lord Hitam sudah menemukannya?

"Tianji, kau diam saja," kata Yue'er, berbalik untuk melihatnya. "Apa yang kau pikirkan?"

"Fragmen," jawab Tianji singkat. "Aku menyembunyikannya di suatu tempat. Tapi aku tidak yakin apakah Lord Hitam…"

"Ah, soal itu," potong Xiao Yu'er. "Waktu aku menyusup ke benteng, aku mendengar Lord Hitam berbicara dengan anak buahnya. Ia masih mencari fragmen 1 dan 2. Katanya, 'Anak itu pasti menyembunyikannya, tapi aku akan menemukannya cepat atau lambat.'"

Berarti Fragmen itu masih aman. Tianji menghela napas lega. Tapi pertanyaan berikutnya muncul di pikirannya: di mana ia menyembunyikannya?

Seperti menjawab pikirannya, Yue'er berkata, "Aku mengambilnya."

"Apa?" Tianji hampir berhenti merangkak.

"Fragmen itu. Ketika Lady Hong datang dan terjadi keributan, aku sempat masuk ke kamarmu. Fragmen 1 dan 2 ada di bawah bantal, kan? Aku mengambilnya sebelum penjaga Lord Hitam bisa menyentuhnya."

"Dasar perempuan kurang ajar!" Tianji marah, meskipun sebenarnya ia lega. "Apa kau tidak tahu itu barang berharga?"

"Tentu saja aku tahu! Itu sebabnya aku mengambilnya, dasar bodoh!" Yue'er membalas. "Sekarang fragmen itu ada di dalam kantong kulit yang kuikat di pinggangku. Aman."

Tianji menghela napas panjang. "Kalau begitu… setelah kita keluar dari sini, aku harus segera memulihkan tenaga dalamku."

"Berapa lama?" tanya Xiao Yu'er.

"Kalau dengan metode biasa, mungkin berminggu-minggu. Tapi kalau aku menggunakan Fragmen Naga Laut…" Tianji berhenti, matanya menerawang. "Mungkin lebih cepat."

Setelah merangkak selama hampir satu jam, mereka akhirnya sampai di ujung saluran pembuangan. Sebuah jeruji besi menutupi lubang keluar, dan di luar sana, mereka bisa melihat langit malam yang dipenuhi bintang-bintang.

"Kebebasan," bisik Yue'er.

"Belum," kata Xiao Yu'er. "Jeruji ini masih harus dibuka. Dan di luar sana, kita tidak tahu apakah ada penjaga."

"Aku bisa membukanya," kata Tianji pelan.

"Kau? Dengan tenaga dalam yang hampir habis?" Yue'er mencibir.

"Bukan dengan tenaga dalam. Tapi dengan logika. Lihat, jeruji ini sudah tua. Karat di mana-mana. Bagian yang terhubung dengan dinding pasti sudah rapuh."

Tianji meraba-raba di sekitar jeruji, mencari titik lemah. Tangannya yang gemetar karena kelemahan tapi pikirannya masih tajam.

"Di sini," katanya, menunjuk ke bagian bawah jeruji. "Batu di sekitar sini sudah longgar. Kalau kita bisa menggali sedikit…"

Mereka bertiga bekerja sama, menggali dengan tangan kosong di tanah yang lembap. Tanah itu bercampur air kotor, tapi mereka tidak peduli. Kebebasan ada di depan mata.

Akhirnya, setelah bekerja keras, jeruji itu longgar. Dengan dorongan terakhir, mereka berhasil membukanya dan merangkak keluar ke udara segar.

Malam begitu indah. Angin berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma laut yang menyegarkan. Tianji menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ia ingin mengisi paru-parunya dengan sebanyak mungkin udara segar.

"Oh, betapa aku merindukan ini," kata Yue'er, duduk di tanah sambil menikmati angin malam. "Bau laut. Bau kebebasan."

"Kita harus mencari tempat persembunyian," kata Xiao Yu'er, yang meskipun masih muda, berpikir jauh lebih praktis daripada kedua temannya. "Para penjaga pasti akan segera menyadari bahwa kita sudah keluar dari benteng. Mereka akan mencari ke segala penjuru."

"Di utara ada hutan bambu," kata Tianji, ingatannya tentang peta yang pernah ia lihat. "Tempat itu cukup lebat untuk bersembunyi. Tapi…"

"Tapi apa?"

"Di dalam hutan itu, konon ada altar kuno. Altar Pemurnian, namanya. Aku pernah mendengar Guru Li membicarakannya."

"Altar Pemurnian?" Yue'er mengerutkan kening. "Apa itu?"

"Tempat yang konon memiliki energi alam yang kuat. Cocok untuk meditasi dan pemulihan tenaga dalam. Tapi juga berbahayaโ€”energi di sana terlalu liar, tidak stabil. Kalau tidak hati-hati, bukannya pulih, tenaga dalam kita malah kacau."

"Tapi kau tetap ingin pergi ke sana?"

Tianji mengangguk. "Aku butuh tempat yang tenang untuk memulihkan tenaga dalamku. Dan Altar Pemurnian mungkin adalah satu-satunya tempat di sekitar sini yang memungkinkan."

Xiao Yu'er dan Yue'er saling bertukar pandang.

"Baiklah," kata Xiao Yu'er akhirnya. "Tapi aku akan menjaga perimeter. Kalau ada penjaga, aku akan memberi tanda."

"Itu ide yang bagus," kata Yue'er. "Dan aku akan menjagamu di altar. Kalau kau butuh sesuatu, aku di sini."

"Diam," Tianji tersenyum tipis. "Itu bukan gayamu."

"Ya, aku tahu. Tapi kadang-kadang, aku bisa menjadi serius."

Mereka bertiga bergerak menuju hutan bambu di utara. Malam semakin larut, dan bintang-bintang di langit semakin terang. Hutan bambu itu tampak sunyi, hanya suara angin yang berdesir di antara dedaunan.

Di tengah hutan, mereka menemukan altar itu. Altar Pemurnian terdiri dari batu hitam yang disusun melingkar, dengan sebuah batu besar di tengahnya yang berfungsi sebagai tempat duduk. Lingkaran batu itu diukir dengan simbol-simbol kuno yang tidak dikenal Tianji.

"Aku bisa merasakannya," bisik Tianji. "Energi di sini. Kuat. Liar. Tapi murni."

"Aku tidak merasakan apa-apa," kata Yue'er, mengerutkan kening. "Hanya angin dingin."

"Itu karena kau tidak memiliki tenaga dalam. Tapi bagi seorang kultivator seperti aku, energi ini terasa seperti… seperti lautan yang mengamuk."

Xiao Yu'er mengangguk mengerti. "Aku akan berpatroli. Beri tahu aku kalau kau selesai."

Setelah Xiao Yu'er pergi, Tianji duduk di batu besar di tengah altar. Ia mengeluarkan Fragmen 1 dan 2 dari kantong Yue'er. Kedua potongan giok itu bersinar redup di bawah sinar bulan, memancarkan energi misterius yang membuat bulu kuduk Tianji berdiri.

"Kau yakin akan menggunakan fragmen itu?" tanya Yue'er, suaranya tiba-tiba serius. "Aku tahu kalau fragmen itu memiliki kekuatan besar. Tapi aku juga dengar cerita tentang bahayanya."

"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Tianji. "Dalam kondisiku yang lemah ini, butuh waktu berbulan-bulan untuk memulihkan tenaga dalamku dengan metode biasa. Tapi Lord Hitam tidak akan menungguku. Fragmen 3 dan 4 ada padanya. Fragmen 5 masih hilang. Aku harus cepat."

"Tapi…"

"Yue'er," Tianji menatapnya. "Percayalah padaku."

Yue'er hendak membantah, tapi ia melihat tekad di mata Tianji. Ia menghela napas dan mengalah. "Baiklah, lakukanlah. Tapi kalau kau mati, aku tidak akan memaafkanmu."

Tianji tersenyum. "Kalau aku mati, aku tidak akan bisa mendengar makianmu lagi. Dan itu adalah hukuman yang lebih berat daripada neraka."

"Dasar!" Yue'er memukul lengannya pelan. "Ayo, mulai. Aku akan menjagamu."

Tianji menutup matanya. Ia memegang kedua fragmen itu di tangannya, dan perlahan, ia mulai merasakan aliran energi dari fragmen itu masuk ke tubuhnya.

Awalnya lembut, seperti anak sungai kecil yang mengalir. Tapi kemudian, seperti sungai yang bertemu dengan lautan, energi itu membesar, mengalir deras, membanjiri setiap urat nadi dan pembuluh darahnya.

Tianji menggertakkan gigi. Rasa sakitnya luar biasa. Tubuhnya yang kosong tiba-tiba dipenuhi energi yang meluap-luap, seperti gurun yang tiba-tiba dilanda banjir.

"Kendalikan," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan biarkan energi ini mengendalikanmu. Kamu yang harus mengendalikannya."

Ia ingat ajaran Xuan Qingzi tentang metode Pemurnian. Bukan sekadar menyerap tenaga dalam, tapi memurnikannya. Membuatnya menjadi bagian dari dirinya.

"MP Lv3," gumamnya. "Tingkat ketiga. Tingkat di mana seorang kultivator tidak lagi sekadar menyerap energi, tapi memilih apa yang akan diserap. Memisahkan yang murni dari yang kotor. Yang berguna dari yang berbahaya."

Tianji memfokuskan pikirannya. Energi dari fragmen itu bukan energi biasaโ€”ia mengandung kekuatan Fragmen Naga Laut, kekuatan yang konon bisa menghancurkan dunia. Tapi juga mengandung kekotoran, kegelapan yang telah menumpuk selama berabad-abad.

"Pisahkan," perintahnya pada dirinya sendiri. "Ambil yang murni. Buang yang kotor."

Proses itu berlangsung berjam-jam. Keringat mengucur dari dahi Tianji, membasahi bajunya. Kadang-kadang tubuhnya bergetar hebat, seolah disambar petir. Kadang-kadang ia diam tak bergerak, seperti patung.

Yue'er duduk di sampingnya, matanya tidak berkedip mengawasi. Tangan kanannya memegang belati, siap menghadapi bahaya apa pun.

"Kau pasti bisa," bisiknya, setengah berdoa. "Kau pasti bisa."

Dua jam berlalu. Kemudian tiga jam. Menjelang subuh, Tianji membuka matanya.

Yue'er menarik napas kaget, hampir menjatuhkan belatinya. Mata Tianji bersinarโ€”bukan sinar biasa, tapi sinar kebiruan yang lembut, seperti cahaya bulan yang dipantulkan di permukaan laut.

"Tianji?" panggilnya ragu.

Tianji tersenyum. Senyum yang tenang, penuh keyakinan.

"MP Lv3, Yue'er. Aku berhasil."

"Benarkah?" Yue'er hampir melompat kegirangan. "Apa bedanya? Apa yang bisa kau lakukan sekarang yang sebelumnya tidak bisa?"

Tianji mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, ia mengumpulkan energiโ€”tapi bukan energi biasa. Energi itu berkilau, berubah warna dari biru ke hijau ke emas.

"Ini adalah Pemurnian," katanya. "Sebelumnya, aku bisa menyerap tenaga dalam dari fragmen. Tapi aku tidak bisa memilih. Semua masuk, yang baik maupun yang buruk. Sekarang, pada tingkat ketiga, aku bisa memurnikannya. Aku bisa memisahkan mana yang berguna dan mana yang berbahaya."

"Wah, terdengar hebat," kata Yue'er. "Tapi apa artinya secara praktis?"

"Artinya… aku bisa menyerap tenaga dalam lebih efisien. Dan aku bisa menggunakan teknik yang sebelumnya tidak bisa aku gunakan. Seperti…"

Tianji menggerakkan tangannya dengan cepat, dan energi di telapak tangannya berubah menjadi bentuk pisau yang tajam.

"Pisau Pemurnian," katanya. "Teknik yang menggunakan tenaga dalam murni untuk memotong apa pun."

"Bisa memotong belenggu pemutus urat?"

Tianji tersenyum. "Mari kita coba."

Ia mengumpulkan sedikit energinya dan mengarahkannya ke sepotong besi tua yang ada di dekat altar. Dengan suara desisan, besi itu terpotong menjadi dua, potongannya halus seperti kaca.

"Mantap!" Yue'er berseru. "Kalau begitu, kenapa kita tidak kembali ke benteng dan memotong Lord Hitam menjadi dua?"

"Karena aku masih lemah. Aku baru mencapai MP Lv3, tapi tenaga dalamku belum pulih sepenuhnya. Butuh waktu beberapa hari untuk stabil."

"Berapa hari?"

"Mungkin tiga hari. Atau seminggu. Tergantung pada seberapa cepat aku bisa mengendalikan energi ini."

Yue'er menghela napas. "Baiklah, kita akan menunggu. Tapi jangan terlalu lama, ya? Aku sudah mulai kangen dengan masakan di penginapan."

Tianji tertawa. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tertawa dengan tulus.

"Yue'er."

"Apa?"

"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku."

Yue'er memalingkan wajah, tapi Tianji bisa melihat pipinya yang memerah.

"Sudahlah. Jangan membuatku canggung. Ayo kita beri tahu Xiao Yu'er kabar baik ini."

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Tianji berdiri di Altar Pemurnian, tubuhnya masih lemah tapi semangatnya berkobar. Ia telah mencapai MP Lv3. Tenaga dalamnya belum pulih sepenuhnya, tapi sekarang ia memiliki kemampuan baruโ€”kemampuan untuk memurnikan, memilih, mengendalikan.

"Mulai sekarang," pikirnya, "aku tidak akan lagi menjadi budak dari fragmen. Aku yang akan mengendalikannya."

Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran energi murni yang mengalir di dalam tubuhnya. Kekuatan Fragmen Naga Laut kini ada di dalam dirinyaโ€”bukan sebagai beban, tapi sebagai senjata.

"Tunggu aku, Lord Hitam," bisiknya. "Sekarang giliranku."

Mataharinya terbit, menyinari hutan bambu dengan cahaya keemasan. Dan di Altar Pemurnian, seorang pemuda bersiap untuk memulai babak baru dalam pertarungannya melawan kegelapan.

"Sekarang giliranku."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 47: CAHAYA DI KEGELAPAN BAB 49: PERTARUNGAN DALAM BENTโ€ฆ →