Benteng Hitam menjulang di atas tebing curam, sebuah monumen kegelapan yang telah lama menjadi momok bagi seluruh persilatan dunia persilatan. Namun tidak ada seorang pun di luar yang tahu apa yang tersembunyi di bawah benteng ituโsebuah penjara bawah tanah yang digali jauh ke dalam perut bumi, tempat di mana harapan mati perlahan-lahan, seperti lilin yang kehabisan sumbu.
Tianji terbaring di sudut sel yang lembap. Tubuhnya terasa begitu ringan, begitu kosong. Untuk pertama kalinya sejak ia memahami tenaga dalam, ia tidak bisa merasakan aliran energi yang biasanya berdenyut di setiap urat nadi dan pembuluh darahnya. Seperti sungai yang tiba-tiba mengering, seperti lautan yang kehilangan ombaknya.
"Kosong," bisiknya, suaranya bergema di dinding batu yang berjamur.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, dan rasa sakit yang tumpul menjalar dari pergelanganโbukan dari luka fisik, melainkan dari kekosongan di dalam. Belenggu besi yang melingkar di pergelangan tangan dan kakinya bukanlah belenggu biasa. Tianji sudah cukup lama bergelut dengan dunia persilatan untuk tahu bahwa besi itu ditempa di dalam tungku khusus, dicampur dengan semacam larutan yang menekan peredaran tenaga dalam siapa pun yang menyentuhnya.
"Belenggu pemutus urat," gumamnya. "Aku pernah mendengar cerita tentang ini dari Guru Li… tapi tidak pernah kusangka aku akan merasakannya sendiri."
Beberapa hari telah berlalu sejak Lady Hong datang ke Benteng Hitam. Tianji tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Ia ingat ledakan kekuatan Lady Hong, kilatan cahaya yang membutakan, dan kemudianโkegelapan. Ketika ia terbangun, ia sudah berada di sini, di dalam sel yang lembap dan gelap, dengan belenggu yang mengikat erat.
Langkah kaki bergema di koridor batu. Tianji mendongak, matanya yang sudah terbiasa dengan gelap melihat sesosok bayangan mendekat. Sosok itu tinggi, dengan jubah hitam yang menjuntai hingga ke lantai. Wajahnya tidak terlihatโtersembunyi di balik topeng besi yang menyeramkan.
Lord Hitam.
"Anak muda," suara itu dalam dan bergema, seperti suara yang datang dari dasar sumur. "Kau sudah sadar."
Tianji tidak menjawab. Ia hanya menatap Lord Hitam dengan mata yang tidak menunjukkan rasa takut, meskipun di dalam hatinya, ombak kekhawatiran menggunung.
Lord Hitam tertawa kecil. "Aku suka keberanianmu. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanyalah kebodohan."
Lord Hitam melangkah mendekat, dan Tianji bisa merasakan kehadiran tenaga dalam yang luar biasaโseperti gunung yang menjulang, seperti lautan yang tak bertepi. Lord Hitam mengulurkan tangannya, dan telapak tangan itu mengeluarkan cahaya kehitaman yang berdenyut.
Dan kemudian Tianji merasakannya.
Seperti ada ribuan jarum yang menusuk setiap pori-pori tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang ditarik keluar dari inti terdalam keberadaannya. Tenaga dalam yang tersisa di tubuhnyaโyang meskipun sedikit, masih adaโmulai mengalir keluar, ditarik oleh kekuatan Lord Hitam.
"Tidak…" Tianji menggeram, giginya bergemeretak menahan sakit.
"Aku akan mengambilnya sedikit demi sedikit," kata Lord Hitam dengan nada yang hampir lembut. "Setiap hari, aku akan menyedot tenaga dalammu. Tidak cukup untuk membunuhmu, tidak cukup untuk membuatmu kehilangan akal. Hanya cukup untuk membuatmu lemah. Lemah dan putus asa."
Proses itu berlangsung beberapa saat, dan ketika Lord Hitam menarik tangannya, Tianji merasa seperti mangsanya habis dikerok habis. Ia terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal.
"Selamat datang di rumah barumu, Penyerap Lautan," kata Lord Hitam sambil berbalik. "Besok aku akan kembali."
Langkah kaki itu menjauh, dan Tianji ditinggalkan sendirian dalam kegelapan.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang berulang. Setiap hari, Lord Hitam datang ke selnya. Setiap hari, ia menyedot tenaga dalam Tianji sedikit demi sedikit. Dan setiap hari, Tianji merasa semakin lemah, semakin kosong, semakin dekat dengan keputusasaan.
"Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" kata Lord Hitam pada suatu hari, ketika Tianji terkulai lemas di lantai batu yang dingin. "Bukan rasa sakit fisiknya. Tapi rasa kehilangan. Setiap hari kau kehilangan sesuatu yang telah kau kumpulkan dengan susah payah. Tenaga dalam yang kau latih bertahun-tahun, perlahan-lahan sirna."
Tianji tidak menjawab. Ia sudah tidak punya tenaga untuk bicara.
"Dan kau tidak bisa berbuat apa-apa," lanjut Lord Hitam. "Kau hanya bisa berbaring di sini dan merasakan dirimu sendiri menghilang. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari."
Ketika Lord Hitam pergi, Tianji berbaring diam, matanya terbuka lebar memandang langit-langit batu yang tidak bisa ia lihat. Pikirannya berputar, mencari jalan keluar yang tidak ada.
"Apa yang harus kulakukan?" bisiknya. "Guru Li… Guru Xuan… kalian mengajariku begitu banyak hal. Tapi tidak ada yang mengajariku bagaimana menghadapi iniโbagaimana menghadapi kehilangan segala sesuatu."
Ia mencoba merasakan tenaga dalamnya lagi. Masih ada sedikit yang tersisa, seperti tetes air terakhir di dasar sumur yang hampir kering. Tapi untuk apa? Apa yang bisa ia lakukan dengan sisa tenaga dalam yang begitu sedikit?
"Mungkin aku memang tidak akan pernah bisa keluar dari sini," pikirnya. "Mungkin ini sudah takdirku. Menghilang perlahan-lahan di dalam penjara ini, tidak ada yang tahu, tidak ada yang peduli."
Tiba-tiba, dari sudut pikirannya, ia mendengar suaraโbukan suara yang datang dari luar, tapi suara yang bergema di dalam ingatannya. Suara Xuan Qingzi, gurunya yang telah gugur.
"Tianji," suara itu berkata, lembut namun tegas. "Ingatlah selalu: tenaga dalam tidak hanya ada di tubuhmu. Tenaga dalam adalah cerminan dari jiwamu. Tubuh bisa dilemahkan, tapi jiwa tidak bisa dikalahkan selama kau tidak menyerah."
Tianji tersentak. Kata-kata itu… ia ingat saat Xuan Qingzi mengatakannya, di puncak gunung, ketika ia masih berusia lima belas tahun dan baru mulai belajar tenaga dalam.
"Guru," bisiknya. "Tapi tenaga dalamku hampir habis. Aku sudah tidak punya kekuatan lagi."
Dan seolah menjawab, kenangan lain munculโkenangan tentang bagaimana Xuan Qingzi mengajarinya meditasi pemulihan. Bukan untuk memulihkan tenaga dalam, tapi untuk memulihkan inti keberadaan. Untuk menemukan kedamaian di tengah kekacauan.
"Itu bukan tentang apa yang kau miliki," gumam Tianji, mengingat kata-kata gurunya. "Tapi tentang siapa dirimu."
Perlahan, dengan susah payah, Tianji duduk. Tubuhnya terasa berat, seperti terbuat dari timah. Kepalanya pusing. Tapi ia tetap duduk, menyilangkan kaki di lantai batu yang dingin.
Ia menutup matanya.
Bernapas.
Merasakan.
Awalnya, yang ia rasakan hanyalah kekosongan. Ketiadaan. Seperti jurang yang tidak berujung di dalam tubuhnya.
Tapi kemudian, jauh di dalam kekosongan itu, ia merasakan sesuatu. Satu titik kecil. Tidak lebih besar dari setitik debu. Tapi itu ada. Berdenyut lemah.
Itu adalah inti dari tenaga dalamnya. Yang tersisa. Yang tidak bisa diambil oleh Lord Hitam karena ia tidak tahu di mana mencarinya.
"Selama ini masih ada," pikir Tianji, "aku masih punya harapan."
Ia mulai bernapas, mengikuti irama yang diajarkan Xuan Qingzi. Perlahan, titik kecil itu mulai membesar. Tidak banyak. Tapi cukup untuk membuatnya merasa hidup kembali.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia dipenjara, Tianji tersenyum. Senyum tipis yang hampir tidak terlihat di kegelapan.
"Hari ini aku kehilangan banyak," bisiknya. "Tapi aku tidak kehilangan segalanya. Tidak selama aku masih ingat kata-kata Guruku."
Ia membuka matanya, dan untuk sesaat, ada kilatan cahaya di matanyaโcahaya yang tidak bisa dipadamkan oleh kegelapan penjara bawah tanah.
"Besok Lord Hitam akan datang lagi," pikirnya. "Ia akan menyedot tenaga dalamku lagi. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan berlindung di inti ini, di tempat yang tidak bisa ia sentuh."
Tianji mengepalkan tangannya, meskipun tangannya gemetar karena kelemahan.
"Aku adalah Penyerap Lautan. Aku tidak akan tenggelam."
Di luar, malam semakin larut. Benteng Hitam berdiri tegak di atas tebing, angin malam berhembus kencang membawa aroma laut dari kejauhan. Suara ombak terdengar samar-samar, seperti panggilan dari tanah air yang jauh.
Dan di dalam penjara bawah tanah, seorang pemuda berusia enam belas tahun duduk bersila, bermeditasi dengan sisa-sisa tenaga dalam yang ia miliki, bertekad untuk bertahanโtidak peduli berapa lama, tidak peduli seberapa berat.
Karena selama masih ada kehidupan, selama masih ada secercah harapan, perjuangan belum berakhir.
Tianji menarik napas panjang, merasakan udara lembap penjara memenuhi paru-parunya. Udara yang dingin dan pengap, tapi udaranya tetap udaraโdan udara adalah kehidupan.
"Aku akan bertahan," janjinya pada dirinya sendiri. "Untuk Yue'er. Untuk Xiao Yu'er. Untuk Guru Li dan Guru Xuan yang telah gugur. Untuk semua yang telah mempercayai aku."
Di suatu tempat di atas, di dalam kamar pribadi Lord Hitam, pemilik benteng itu duduk di singgasananya, tangannya memegang dua fragmen giok yang bersinar redup. Fragmen 3 dan 4 dari Fragmen Naga Laut.
"Ia memiliki fragmen 1 dan 2," gumam Lord Hitam. "Tersembunyi di suatu tempat yang tidak bisa kujangkau. Tapi tidak apa-apa. Selama ia di sini, selama aku bisa menyedot tenaga dalamnya sedikit demi sedikit, cepat atau lambat aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan."
Ia tertawa kecil, tawa yang dingin dan kejam.
"Dan ketika itu terjadi, tidak ada yang bisa menghentikanku."
Namun Lord Hitam tidak tahu bahwa di dalam sel yang lembap dan gelap itu, seorang pemuda yang ia anggap sudah hancur sedang menemukan kembali kekuatannya. Bukan kekuatan fisik, bukan tenaga dalamโtapi kekuatan yang jauh lebih berharga: kekuatan untuk tidak menyerah.
Dan dalam dunia persilatan, di mana pertarungan sering ditentukan oleh teknik dan kekuatan, kadang-kadang hal yang paling sederhanaโkeinginan untuk bertahan hidupโadalah senjata yang paling mematikan.
Tianji terus bermeditasi, sisa-sisa tenaga dalamnya mulai mengalir pelan, mengikuti sirkulasi yang diajarkan Xuan Qingzi. Tidak kuat, tidak seimbang dengan sebelumnya. Tapi cukup untuk membuat tubuhnya terasa ringan.
"Selama jantungku masih berdetak," pikirnya, "aku akan terus berjuang."
Dan dengan pikiran itu, ia melanjutkan meditasinya, tenggelam dalam keheningan yang dalam, sementara di luar selnya, para penjaga Benteng Hitam berpatroli tanpa tahu bahwa di dalam sel yang mereka jaga, lahir kembali seorang pejuang yang lebih kuat dari sebelumnya.
Bukan karena tenaga dalamnya pulihโtapi karena hatinya telah ditempa oleh api keputusasaan dan keluar sebagai baja yang tak tergoyahkan.
Babak baru perjuangan Tianji dimulai.