Tiga minggu telah berlalu sejak Tianji memulai latihannya di Gunung Qingcheng. Setiap pagi ia bangun sebelum fajar, duduk bersila di tepi tebing, dan bermeditasi selama dua jam. Setiap siang ia berlatih gerakan dasar — kuda-kuda, pukulan, tendangan — di bawah pengawasan ketat Xuan Qingzi. Setiap malam ia membaca — atau lebih tepatnya, belajar membaca — kitab-kitab kuno yang ada di gubuk gurunya.
Perubahan mulai terlihat. Tubuhnya yang kurus kini mulai berisi, meski masih jauh dari kekar. Matanya yang tadinya tajam menjadi lebih tajam lagi — seperti elang yang belajar mengincar mangsa dari kejauhan. Tapi yang paling penting: ia sudah bisa merasakan Qi dengan konsisten.
Tapi satu masalah masih mengganggunya.
Qi asing dari si Cambang.
Setiap kali Tianji duduk bermeditasi, Qi asing itu bergerak gelisah di dalam tubuhnya seperti ular yang terperangkap. Ia tidak bisa mengendalikannya, tidak bisa mengeluarkannya, tidak bisa menyatu dengan Qi miliknya sendiri. Qi itu mengambang di suatu tempat di antara meridiannya, menyebabkan kadang-kadang tubuhnya terasa panas dingin tanpa sebab.
"Kau masih menyimpan Qi si Cambang?" tanya Xuan Qingzi suatu pagi.
Mereka sedang berjalan di sebuah jalan setapak di antara pepohonan bambu yang menjulang tinggi. Batang-batang bambu itu berwarna hijau segar, sebagian sudah menguning karena usia. Angin berbisik di antara celah-celahnya, menciptakan suara desiran yang menenangkan.
"Tidak bisa hilang," jawab Tianji. "Setiap kali kucoba melepaskannya, rasanya seperti… seperti menarik sesuatu yang tidak mau lepas."
"Karena kau belum mengerti konsep melepas."
"Melepas?"
"Kekuatan sejati dari Meridian Penelan bukanlah menyerap, tapi melepas." Xuan Qingzi berhenti, memetik sehelai daun bambu. "Lihat daun ini."
Tianji menatap daun hijau berbentuk pedang itu.
"Apa yang akan terjadi jika kau memegangnya terlalu erat?"
"Akan hancur."
"Tepat." Xuan Qingzi meletakkan daun itu di telapak tangannya. "Tapi jika kau melepaskannya — membiarkan ia pergi sesuai keinginannya — ia akan tetap utuh. Begitu pula dengan Qi. Jika kau mencoba memegangnya erat-erat, ia akan melawan. Tapi jika kau melepaskan…"
Ia meniup daun itu. Daun itu terbang, melayang-layang di udara, lalu hinggap perlahan di tanah.
"Daun itu tidak melawan angin. Ia mengikuti. Ia melepas kendali. Dan karena itu, ia tetap utuh."
Tianji merenung. "Tuan menyuruhku melepas Qi asing itu?"
"Bukan menyuruh. Mengingatkan." Xuan Qingzi melanjutkan perjalanannya. "Kau harus belajar melepas Qi asing yang tidak bisa kau kendalikan. Jika tidak, Qi itu akan terus mengganggumu — dan semakin banyak yang kau serap, semakin besar risikonya."
"Bagaimana caranya?"
"Aku akan menunjukkanmu."
Mereka berjalan lebih dalam ke dalam hutan bambu. Semakin jauh mereka melangkah, semakin terdengar suara gemuruh air. Tianji bisa merasakan getaran di tanah — air terjun, dan tidak kecil.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, mereka sampai di sebuah lembah kecil yang tersembunyi di antara tebing-tebing curam. Di tengah lembah itu, air terjun setinggi lima puluh meter jatuh dengan derasnya, menciptakan kolam besar dengan air yang sebening kristal. Semprotan air membasahi wajah Tianji, memberikan rasa dingin yang menyegarkan.
"Ini adalah Air Terjun Qinglong," kata Xuan Qingzi. "Airnya berasal dari mata air suci di puncak Gunung Qingcheng. Konon, air ini memiliki khasiat menyembuhkan — dan membantu melepaskan hal-hal yang tidak diinginkan."
"Tuan ingin aku berendam di sini?"
"Bukan berendam." Xuan Qingzi menunjuk ke bawah air terjun. "Kau akan duduk di bawah air terjun itu."
Tianji menatap air terjun yang menggelegar. Air jatuh dengan kekuatan yang luar biasa — cukup untuk menghancurkan tulang manusia jika jatuh di posisi yang salah.
"Itu… berbahaya."
"Tentu saja berbahaya. Semua hal berharga dalam hidup ini berbahaya." Xuan Qingzi tersenyum. "Tapi kau tidak akan mati. Aku akan mengawasimu."
Tianji ragu-ragu. Tapi ia ingat pesan Xuan Qingzi tentang melepas. Mungkin di situlah jawabannya — di dalam air.
Ia melepas bajunya dan melangkah ke kolam. Airnya sangat dingin, membuat kulitnya merinding. Ia terus berjalan hingga air mencapai dadanya.
Deru air terjun memekakkan telinga. Semprotan air membasahi wajah dan rambutnya. Ia bisa merasakan tekanan dari jarak ini — dan ia belum sampai di posisi yang dituju.
Xuan Qingzi memberi isyarat dengan tangannya — menunjuk ke pusat air terjun.
Tianji menarik napas dalam-dalam dan menyelam. Ia berenang di bawah permukaan kolam hingga sampai di bawah air terjun, lalu muncul.
Deburan air menghantam tubuhnya dengan kekuatan luar biasa. Tianji hampir jatuh — punggungnya membentur bebatuan di dasar kolam. Ia merasakan sakit yang menusuk.
Tapi ia tidak menyerah. Ia mengatur napas, menstabilkan tubuhnya, dan duduk bersila di bawah air terjun.
Air jatuh di atas kepalanya, bahunya, punggungnya. Tekanannya luar biasa — seperti ditumbuk oleh ribuan palu kecil setiap detik. Tubuhnya bergetar, giginya bergemeretak.
"Dengarkan suara air!" teriak Xuan Qingzi dari tepi. Suaranya nyaris tidak terdengar di atas gemuruh air terjun. "Jangan lawan! Ikuti alirannya!"
Tianji menutup matanya. Air menghantam wajahnya, memaksanya untuk terus fokus pada napas. Ia berkonsentrasi pada Qi di dalam tubuhnya — Qi-nya sendiri, dan Qi asing yang masih mengambang di meridiannya.
Ia mencoba melepas Qi asing itu. Tapi seperti sebelumnya, Qi itu menolak.
Tidak.
Bukan menolak.
Tianji menyadari sesuatu. Qi asing itu tidak menolak untuk pergi. Ia yang tidak tahu cara melepaskannya. Ia memegangnya terlalu erat, bahkan tanpa sadar.
"Kekuatan sejati adalah kemampuan MELEPASKAN," gumamnya, mengulangi kata-kata Xuan Qingzi.
Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan air menerjang tubuhnya. Ia membuka pikirannya, membiarkan segala sesuatu mengalir — termasuk Qi asing itu.
Bayangkan sungai, pikirnya. Qi asing adalah air yang tidak sengaja terminum. Dan air terjun ini adalah jalan keluarnya.
Setiap tetes air yang menghantam tubuhnya, Tianji bayangkan sebagai dorongan yang membantu mengeluarkan Qi asing. Pundaknya rileks. Tangannya terbuka di pangkuannya. Hatinya tenang.
Dan perlahan-lahan, ia merasakan Qi asing itu mulai bergerak.
Bukan menolak, bukan melawan — tapi mengalir. Seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan jalan ke laut.
Qi asing mengalir dari perutnya, naik ke dadanya, melewati tenggorokannya, dan keluar melalui pori-pori kulitnya yang terkena air terjun.
Dan saat ia keluar, sesuatu yang mencengangkan terjadi.
Air di sekeliling Tianji mulai mendidih.
Gelembung-gelembung udara muncul di permukaan kolam, seperti air yang dipanaskan hingga titik didih. Uap air mengepul. Riak-riak aneh — konsentris, sempurna — mulai menyebar dari tubuh Tianji. Tapi riak itu tidak biasa. Di beberapa tempat, air berputar seperti pusaran kecil. Di tempat lain, air menyembur ke atas setinggi satu meter sebelum jatuh kembali.
Dari tepi, Xuan Qingzi menatap pemandangan itu dengan mata yang serius. Ia sudah menyaksikan fenomena serupa sebelumnya — tiga dekade yang lalu, saat Xiao Yurou melepas Qi asing yang ia serap dalam latihan.
Air mendidih saat bersentuhan dengan Qi yang dilepaskan — itu adalah tanda bahwa Meridian Penelan bekerja dengan benar.
Tianji tidak melihat kejadian di sekitarnya. Matanya masih terpejam, pikirannya terfokus pada aliran Qi yang meninggalkan tubuhnya. Ia merasakan beban yang mengganjal selama berminggu-minggu mulai terangkat. Tubuhnya terasa ringan — sangat ringan, seperti kapas yang terapung di udara.
Ia merasakan kelegaan yang begitu besar hingga air mata hampir mengalir.
Akhirnya.
Akhirnya ia bebas.
Satu jam berlalu. Perlahan, air di sekeliling Tianji mulai tenang. Gelembung-gelembung berhenti. Riak aneh menghilang. Air terjun kembali menjadi air terjun biasa, tanpa efek misterius.
Tianji membuka matanya.
Dunia terlihat terang. Tidak — lebih dari terang. Bersih. Seperti debu yang telah dibersihkan dari kacamatanya, meskipun ia tidak memakai kacamata.
Ia menatap tangannya. Kulitnya masih kurus, masih legam. Tapi ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Energi mengalir di dalam tubuhnya dengan lancar — Qi-nya sendiri, murni dan tanpa gangguan.
"Kau berhasil."
Suara Xuan Qingzi terdengar dari belakangnya. Tianji menoleh. Gurunya berdiri di tepi kolam, tangan di belakang punggung, senyum puas di wajahnya.
"Aku melakukannya," kata Tianji, suaranya serak karena air terjun yang terus menerpa. "Aku melepasnya."
"Bukan hanya melepas," kata Xuan Qingzi. "Kau telah menguasai langkah pertama dari jalan Meridian Penelan. Melepas lebih sulit daripada menyerap. Dan kau telah melakukannya tanpa latihan sebelumnya."
Tianji berdiri, keluar dari bawah air terjun. Tubuhnya menggigil, tapi rasa dingin itu tidak mengganggunya lagi.
"Sekarang aku mengerti," katanya, berjalan ke tepi kolam. "Mengapa Tuan bilang kekuatan sejati adalah melepas. Menyerap itu mudah. Tapi melepas — itu yang membedakan antara manusia yang bisa mengendalikan kekuatan dan yang dikuasai kekuatan."
"Kau belajar dengan cepat." Xuan Qingzi mengangguk. "Sudah kusangka — kau memiliki bakat yang sama dengan ibumu."
"Tapi aku masih jauh dari sempurna."
"Tentu saja. Baru tiga minggu. Tapi untuk seorang pemula, pencapaianmu sudah di luar dugaan." Xuan Qingzi menepuk pundaknya. "Sekarang, kau sudah siap untuk pelajaran selanjutnya."
"Apa lagi yang perlu kupelajari?"
"Banyak." Xuan Qingzi berbalik, mulai berjalan. "Tapi untuk hari ini, kau istirahat. Kau telah melepas Qi asing yang mengganggumu selama berminggu-minggu. Tubuhmu butuh waktu untuk pulih."
"Tuan…"
"Hm?"
"Siapa sebenarnya orang tuaku?" Tianji bertanya. "Kau bilang ibuku adalah Xiao Yurou. Tapi siapa ayahku?"
Xuan Qingzi berhenti. Untuk beberapa saat ia diam, punggungnya yang tegap sedikit membungkuk.
"Aku tidak tahu siapa ayahmu," katanya akhirnya. "Xiao Yurou tidak pernah memberitahuku. Tapi aku yakin — ayahmu bukan orang biasa. Karena hanya pertemuan dua garis keturunan yang luar biasa yang bisa melahirkan Meridian Penelan murni seperti yang kau miliki."
"Apa Tuan punya petunjuk?"
"Aku punya tebakan. Tapi tebakan tidak berguna tanpa bukti." Xuan Qingzi menoleh. "Mungkin saat kau menemukan Kitab Suci Lautan, kau juga akan menemukan jawaban tentang asal-usulmu."
"Bagaimana cara menemukan kitab itu?"
"Hanya lautan yang tahu." Xuan Qingzi tersenyum misterius. "Kau adalah anak lautan. Laut akan memanggilmu saat waktunya tiba."
Dan ia melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Tianji di tepi kolam air terjun Qinglong, air masih menetes dari rambut dan tubuhnya. Tianji menatap tangannya, mengepal dan melepaskannya beberapa kali.
Qi di dalam tubuhnya mengalir dengan damai.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut pada apa yang ada di dalam dirinya.
—
Malam harinya, Tianji duduk di balkon kecil gubuk Xuan Qingzi, memandangi langit yang dipenuhi bintang. Jauh di bawah, lampu-lampu kecil Desa Muara berkelap-kelip seperti kunang-kunang di tepi laut.
Ia memikirkan Yue'er, Liu Dahan, dan semua orang di desa. Ia memikirkan Mawar Hitam yang mungkin masih mengincarnya. Ia memikirkan ibunya — Xiao Yurou — yang memiliki kemampuan sama sepertinya, dan yang kini hilang entah ke mana.
"Kekuatan sejati adalah kemampuan MELEPASKAN," bisiknya pada dirinya sendiri.
Mungkin itu kuncinya. Bukan hanya untuk mengendalikan Qi, tapi juga untuk menjalani hidup. Melepas rasa takut. Melepas dendam. Melepas keterikatan yang berlebihan.
Tapi ada satu hal yang tidak bisa ia lepaskan.
Keinginan untuk tahu siapa dirinya sebenarnya.
Dan keinginan untuk melindungi orang-orang yang ia cintai.
Itu — Tianji memutuskan — adalah pegangan yang layak ia pertahankan.
— AKHIR BAB 4 —