Bulan ketiga. Tiga bulan sejak Tianji meninggalkan Desa Muara dan memulai pelatihannya bersama Xuan Qingzi di puncak Gunung Qingcheng. Tiga bulan yang mengubah segalanya.
Tianji berdiri di tepi tebing, memandangi panorama di bawahnya. Desa Muara terbentang di kejauhan โ kumpulan atap-atap rumah yang tampak seperti biji wijen yang ditabur di pinggir laut. Dari sini, segalanya terlihat damai.
"Kau sudah siap?" suara Xuan Qingzi terdengar di belakangnya.
"Siap atau tidak, aku harus kembali," jawab Tianji.
"Tiga bulan memang waktu yang singkat untuk belajar ilmu persilatan. Tapi untuk seorang pemilik Meridian Penelan, tiga bulan sudah cukup untuk merasakan dasar-dasarnya." Xuan Qingzi berdiri di sampingnya. "Kau sudah bisa merasakan Qi dengan jelas. Kau sudah belajar melepas. Kau sudah mengerti dasar-dasar meditasi. Itu lebih dari cukup untuk menghadapi preman-preman Mawar Hitam."
"Tapi belum cukup untuk melawan kepala mereka."
"Benar. Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk tidak mencari masalah." Xuan Qingzi menatapnya. "Pergilah ke desa. Temui Liu Dahan dan Yue'er. Jaga dirimu. Dan jika ada bahaya yang terlalu besar โ larilah."
"Lari?" Tianji mengerutkan kening. "Bukankah pendekar sejati tidak boleh lari?"
Xuan Qingzi tertawa. "Siapa yang bilang pendekar sejati tidak boleh lari? Pendekar sejati adalah orang yang masih hidup untuk bertarung di hari lain. Orang mati tidak bisa menjadi pendekar apa-apa."
"Aku mengerti."
"Dan satu hal lagi." Xuan Qingzi merogoh jubahnya, mengeluarkan sebuah gulungan kecil โ kitab usang dengan sampul kulit yang sudah hampir hancur. "Ini adalah catatan pribadiku tentang Qi. Bacalah setiap malam. Latihlah. Dan jika kau menemui jalan buntu โ datang kembali ke sini."
Tianji menerima gulungan itu dengan kedua tangan, membungkuk hormat. "Terima kasih, Guru."
"Sudah, sudah. Tidak perlu formalitas." Xuan Qingzi melambai-lambaikan tangannya. "Kau bukan murid resmiku. Aku hanya seorang lelaki tua yang membantumu karena kau anak dari mantan muridku."
"Tapi Tuan tetap guruku."
Xuan Qingzi diam. Lalu ia tersenyum โ senyum yang hangat, langka, dan tulus. "Baiklah. Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan memaksamu tinggal lebih lama."
—
Perjalanan turun dari Gunung Qingcheng memakan waktu setengah hari. Tianji berjalan dengan langkah yang mantap, tidak tergesa-gesa. Ia menikmati pemandangan yang berubah โ dari hutan bambu yang rimbun menjadi ladang-ladang hijau, lalu perkampungan kecil, dan akhirnya… laut.
Laut.
Bau asinnya menusuk hidung Tianji, dan untuk sesaat ia merasa seolah baru pulang ke rumah setelah bertahun-tahun. Bukan tiga bulan โ bertahun-tahun.
Ia berdiri di bukit kecil yang menghadap ke Desa Muara. Dari sini, ia bisa melihat dermaga, perahu-perahu yang berlabuh, dan orang-orang yang sibuk dengan aktivitas sehari-hari.
Dan ia melihat seorang gadis dengan rambut diikat ekor kuda, duduk di ujung dermaga, melempar-lempar kerikil ke air.
Yue'er.
Tianji tersenyum. Ia mulai berjalan menuruni bukit.
—
"KAU!"
Teriakan Yue'er bisa didengar dari ujung desa ke ujung lainnya.
Gadis itu melompat berdiri, matanya membelalak. Kerikil di tangannya berjatuhan ke air. Ia berlari ke arah Tianji โ dan tanpa peringatan, memukul bahu bocah itu dengan keras.
"Dasar bocah tidak tahu diri! Tiga bulan! TIGA BULAN! Kau pergi tanpa pamit yang benar, menghilang entah ke mana, dan sekarang kau muncul lagi sepertiโsepertiโ" Ia terdiam, mencari kata-kata. "Seperti tidak terjadi apa-apa!"
"Yue'erโ"
"DIAM! Belum selesai!" Yue'er memukul bahu Tianji lagi. Kali ini, Tianji secara refleks menggerakkan tubuhnya โ sedikit menghindar, sedikit mengalihkan tenaga โ sehingga pukulan itu hanya terasa seperti tepukan ringan.
Yue'er menyipitkan matanya. "Kau… kau berbeda."
"Aku berlatih."
"Berlatih?" Yue'er mengerutkan kening. "Jadi kau benar-benar belajar ilmu silat dari kakek tua aneh itu?"
"Namanya Xuan Qingzi. Dan ya, aku belajar."
"Hmph." Yue'er melipat tangannya, tapi matanya โ matanya yang tajam โ memperlihatkan kelegaan yang tidak bisa disembunyikan. "Kau kurusan. Atau lebih tepatnya… lebih keras? Aku tidak tahu cara mengatakannya. Tapi kau tampak berbeda."
"Aku juga sehat." Tianji tersenyum. "Terima kasih sudah khawatir."
"SAYA TIDAK KHAWATIR!" Yue'er berteriak, tapi wajahnya memerah. "Aku hanyaโkau ini anak yatim yang merepotkan! Jika kau mati entah di mana, siapa yang akan mencarimu?"
"Kau."
Yue'er membeku. Lalu ia memukul Tianji lagi โ tapi kali ini lebih pelan. "Dasar kurang ajar."
Mereka tertawa bersama, suara mereka berpadu dengan debur ombak yang tenang.
"Paman Liu ada di rumah?" tanya Tianji.
"Ya. Beliau sudah menunggumu."
—
Rumah Liu Dahan terletak di tengah desa โ sebuah bangunan kayu dua lantai yang lebih besar dari rumah-rumah lainnya. Di depannya ada sebuah meja kayu bundar dengan beberapa kursi anyaman, tempat Liu Dahan biasa minum teh di sore hari.
Hari ini, Liu Dahan sedang duduk di sana, sebuah cangkir teh di tangannya. Wajahnya tampak lelah โ lebih lelah dari yang Tianji ingat โ tapi matanya langsung berbinar saat melihat Tianji.
"Bocah," katanya, suaranya serak. "Kau kembali."
"Aku kembali, Paman."
Liu Dahan berdiri, menghampiri Tianji. Ia menatap bocah itu lama, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu ia mengangguk puas.
"Guru Xuan Qingzi merawatmu dengan baik. Matamu lebih tajam. Tubuhmu lebih kokoh. Kau sudah mulai merasakan Qi?"
Tianji terkejut. "Paman tahu tentang Qi?"
Liu Dahan tersenyum pahit. "Aku sudah lama pensiun dari dunia persilatan, Tianji. Tapi aku tidak lupa segalanya."
"Paman… siapa sebenarnya Paman?"
Liu Dahan diam. Ia duduk kembali, menunjuk kursi di depannya. "Duduklah. Aku akan cerita."
Tianji duduk. Yue'er ikut duduk di sampingnya, matanya penasaran.
"Tiga puluh tahun yang lalu, aku adalah Kepala Pengawal Pangeran Ning," Liu Dahan memulai. "Aku bertanggung jawab atas keamanan Istana Ning di Nanjing. Ilmu silatku โ meski tidak seberapa โ cukup untuk membuatku disegani di kalangan prajurit istana."
"Tapi suatu hari, Pangeran Ning terlibat dalam konflik dengan organisasi bayangan yang saat itu sedang bangkit โ Mawar Hitam. Mereka mencoba membunuh Pangeran Ning, dan aku โ bersama beberapa pengawal setia โ berhasil menggagalkan usaha itu."
"Tapi kami membayar mahal. Tujuh pengawal tewas. Aku sendiri terluka parah. Dan Pangeran Ning โ ia memutuskan untuk pensiun, membubarkan istana, dan menyuruh kami semua pergi."
"Aku memilih ke sini. Desa Muara. Jauh dari hiruk-pikuk politik Nanjing. Aku mulai hidup sebagai nelayan, menikah โ istriku sudah meninggal sepuluh tahun lalu โ dan mengadopsi Yue'er, yang saat itu masih bayi ditinggal orang tuanya."
"Apa hubungannya denganku?" tanya Tianji.
"Enam belas tahun yang lalu, saat aku sedang melaut di malam hari, aku melihat sesuatu yang aneh." Mata Liu Dahan tampak kosong, mengenang. "Laut bersinar. Cahaya biru kehijauan โ seperti ribuan kunang-kunang di bawah air. Aku mendekat, dan di tengah lingkaran cahaya itu… aku melihat bayimu, mengambang di atas sebilah papan kayu, terbungkus kain sutra putih."
"Kain sutra putih?" Tianji mengerutkan kening.
"Itu bukan kain biasa." Liu Dahan menghela napas. "Itu adalah kain yang ditenun dengan benang Qi murni. Hanya pendekar tingkat atas yang bisa membuatnya. Dan di dalam kain itu, ada selembar surat โ satu kalimat saja."
"Apa isinya?"
"Jagalah anak ini. Namanya Xiao Tianji. Lautan akan memanggilnya suatu hari nanti."
Tianji merasa hawa dingin menjalari punggungnya. Surat itu โ dari ibunya. Pasti dari ibunya.
"Mengapa Paman tidak pernah memberitahuku?"
"Karena kau terlalu muda. Karena Mawar Hitam masih mencari orang dengan Meridian Penelan." Liu Dahan menatapnya. "Dan karena aku berjanji pada Xiao Yurou."
"Paman bertemu ibuku?"
Liu Dahan mengangguk. "Suatu malam, beberapa bulan sebelum kau ditemukan, Xiao Yurou datang ke desa ini. Ia terluka parah โ sekujur tubuhnya berlumuran darah. Aku merawatnya selama tiga hari. Dalam masa itu, ia bercerita tentang Mawar Hitam, tentang Meridian Penelan, tentang musuh-musuhnya."
"Ia bilang akan ada bayi yang perlu dilindungi. Dan ia memintaku โ sebagai mantan Kepala Pengawal Pangeran Ning โ untuk menjaga anak itu jika sesuatu terjadi padanya."
"Aku bilang ya." Liu Dahan tersenyum sedih. "Tapi aku tidak tahu bahwa anak itu adalah kau โ sampai malam aku menemukanmu di laut."
Tianji menunduk. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Dia… di mana ibuku sekarang?"
"Aku tidak tahu." Liu Dahan menggeleng. "Setelah malam itu, ia pergi. Aku tidak pernah melihatnya lagi. Tapi aku yakin โ ia tidak mati. Wanita seperti Xiao Yurou tidak mati semudah itu."
—
Malam harinya, Liu Dahan mengadakan jamuan makan malam. Ikan bakar yang besar, sayur-sayuran segar dari kebun, dan arak beras buatan sendiri. Suasana hangat penuh tawa โ Yue'er yang bercerita tentang kelakuan konyol penduduk desa, Liu Dahan yang sesekali menimpali dengan cerita-cerita lucu dari masa lalunya.
Tianji duduk di antara mereka, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Untuk sesaat, ia bisa melupakan Mawar Hitam, melupakan Meridian Penelan, melupakan segalanya.
Tapi ketenangan tidak pernah bertahan lama.
Tepat saat Yue'er hendak menuang arak untuk Tianji, suara langkah kaki terdengar dari luar. Bukan satu atau dua langkah โ tapi banyak. Berat. Teratur. Langkah-langkah seorang yang terbiasa berjalan di medan perang.
Liu Dahan mengerutkan kening. Tangannya bergerak perlahan ke pinggang โ tempat ia dulu menyimpan pedang.
"Tianji," bisiknya. "Bersiaplah."
Dan kemudianโ
BRAK!
Pintu rumah terbuka dengan keras, terhempas ke dinding. Serpihan kayu beterbangan.
Di ambang pintu berdiri seorang pria bertubuh tinggi kurus dengan wajah yang mengerikan โ setengah dari wajahnya adalah jaringan luka bakar yang mengerut, membuatnya tampak seperti setengah manusia, setengah iblis. Di tangannya, ia memegang pedang hitam โ hitam pekat, seolah ia terbuat dari kegelapan itu sendiri.
Di belakangnya, empat orang pria bertubuh kekar dengan seragam hitam โ Mawar Hitam โ berdiri dengan tangan di gagang senjata.
Liu Dahan berdiri, tubuhnya tegang. "Rahang Maut."
Pria itu โ Rahang Maut โ tersenyum. Senyuman yang mengerikan, memperlihatkan gigi-gigi yang kuning.
"Liu Dahan. Sudah lama."
"Apa urusanmu di sini?"
"Urusan?" Rahang Maut tertawa โ suara yang parau dan menyeramkan. "Kepala Pembunuh Mawar Hitam tidak perlu urusan untuk pergi ke mana pun. Tapi kali ini… aku punya urusan."
Matanya โ satu-satunya mata yang masih utuh โ beralih ke Tianji.
"Xiao Tianji."
Bocah itu menatapnya tanpa rasa takut. Tiga bulan latihan di Gunung Qingcheng telah mengajarinya satu hal: rasa takut adalah musuh terbesar.
"Aku," jawab Tianji tenang.
"Kau pikir kau bisa bersembunyi?" Rahang Maut melangkah masuk, ujung pedang hitamnya menyeret di lantai kayu, meninggalkan bekas goresan. "Kau pikir kau bisa lari? Setelah apa yang kau lakukan pada anak buahku?"
"Aku hanya membela diri."
"Membela diri?" Rahang Maut tertawa lagi. "Kau menggunakan ilmu sesat โ menyerap Qi orang lain. Itu adalah pelanggaran terhadap hukum dunia persilatan. Dan Mawar Hitam adalah penegak hukum itu."
"Omong kosong," desis Yue'er, tangannya meraih busur.
"Yue'er, jangan," perintah Liu Dahan.
"Tapi Bapakโ"
"Aku bilang jangan."
Liu Dahan melangkah maju, berdiri di antara Tianji dan Rahang Maut. "Dengar, Rahang Maut. Aku tidak tahu apa yang kau inginkan dari bocah ini. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya."
"Kau?" Rahang Maut menyeringai. "Mantan Kepala Pengawal Pangeran Ning yang sudah pensiun? Apa yang bisa kau lakukan?"
"Masih cukup untuk membuatmu berlutut," jawab Liu Dahan dingin.
Untuk sesaat, terjadi keheningan yang menegangkan. Udara di dalam ruangan terasa berat. Tianji bisa merasakan Qi mereka semua โ Liu Dahan dengan Qi yang mantap namun terkendali, Rahang Maut dengan Qi yang gelap dan berbahaya, dan keempat anak buahnya dengan Qi yang kasar dan tidak terlatih.
"Ini tidak harus berakhir dengan pertumpahan darah," kata Rahang Maut akhirnya. "Serahkan Xiao Tianji padaku. Dan aku akan meninggalkan desa ini dengan tenang."
"TIDAK!" teriak Yue'er.
"Jangan," kata Tianji, berdiri. Ia melangkah maju, berdiri di samping Liu Dahan. "Jika kau mencari aku, aku di sini. Tapi biarkan Paman Liu dan Yue'er โ dan seluruh desa ini โ keluar dari urusan ini."
Rahang Maut menatapnya dengan penuh minat. "Berani. Tapi bodoh." Ia mengangguk pada anak buahnya. "Tangkap dia."
Keempat anak buahnya bergerak serentak.
Tapi Tianji sudah siap.
Tiga bulan latihan meditasi telah mengasah refleksnya. Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya sempat memerintah โ ia meluncur ke samping, menghindari dua anak buah yang menerjang dari depan. Tangannya โ yang telah dilatih setiap hari untuk merasakan Qi โ menyentuh lengan salah satu penyerang.
Kontak.
Dan Meridian Penelan aktif.
Qi lawan mengalir ke dalam tubuhnya โ panas, kasar, tidak murni. Tapi kali ini, Tianji tidak panik. Ia mengingat pelajaran Xuan Qingzi. Ia tidak menahan Qi itu. Ia membiarkannya mengalir masuk dan… langsung melepasnya kembali.
Seperti air yang melewati saringan.
Lawan itu terhuyung โ lemah, kehilangan kekuatan โ dan jatuh berlutut.
Dua lawan lainnya menyerang dari belakang.
"Hati-hati!" teriak Yue'er.
Tianji berputar, menggunakan momentum untuk menghindari tebasan pedang pendek salah satu lawan. Tapi ia tidak bisa menghindari yang lain โ sebuah tinju menghantam tulang rusuknya.
Rasa sakit menjalar. Tapi Tianji tidak berhenti. Ia menggunakan rasa sakit itu โ mengubahnya menjadi fokus. Tangannya meraih lengan lawan yang meninju, dan sekali lagi, kontak.
Serap. Lepas.
Lawan kedua jatuh.
Tapi saat Tianji berbalik untuk menghadapi lawan ketiga, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Rahang Maut sudah bergerak. Pedang hitamnya melesat โ bukan ke arah Tianji, tapi ke arah Liu Dahan.
Bentakan logam memekakkan telinga. Liu Dahan telah mengambil sebuah dayung kayu dan menggunakannya untuk menangkis โ tapi pedang hitam itu terlalu tajam. Dayung itu terbelah dua.
Pedang hitam itu terus melaju.
"PAMAN!"
Tapi terlambat.
Pedang hitam itu menembus bahu Liu Dahan. Darah muncrat. Liu Dahan jatuh ke belakang, wajahnya pucat pasi.
"BAPAK!" Yue'er berteriak, melesatkan anak panah.
Anak panah itu melesat ke arah Rahang Maut โ tapi dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang, Rahang Maut menangkisnya dengan pedang. Anak panah itu terbelah dua, jatuh tak berguna.
"Menyedihkan," desis Rahang Maut. "Kalian semua menyedihkan."
Tianji merasakan sesuatu meletus di dalam dirinya. Bukan amarah โ tapi lebih dari itu. Sesuatu yang gelap, yang berputar di dalam dadanya seperti badai.
Qi di sekelilingnya mulai bergolak. Anehnya, api lilin di ruangan itu mulai berkedip-kedip, seolah ditiup angin yang tidak ada. Bayang-bayang di dinding menari-nari dengan liar.
"Tianji!" teriak Yue'er. "Apa yang kau lakukan?!"
Tianji tidak menjawab. Tubuhnya bergerak sendiri โ melesat ke arah Rahang Maut dengan kecepatan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Tangannya โ kelima jarinya โ terulur, siap menyentuh, siap menyerapโ
Tapi Rahang Maut lebih cepat.
Ia tidak menangkis. Ia bergerak ke samping, membiarkan Tianji melesat melewatinya. Dan saat Tianji kehilangan keseimbangan, ia mengayunkan kakinya, menyapu kaki Tianji.
Tianji jatuh. Wajahnya membentur lantai kayu. Darah mengalir dari bibirnya yang robek.
"Kau masih terlalu lemah, Xiao Tianji." Rahang Maut berjalan mendekat, pedang hitamnya terangkat. "Meridian Penelan milikmu memang menarik. Tapi tanpa latihan yang cukup, kau tidak lebih dari sekadar bocah yang berbahaya bagi dirimu sendiri."
Ia mengarahkan ujung pedangnya ke leher Tianji.
"Tapi aku tidak perlu membunuhmu. Pimpinan Mawar Hitam menginginkanmu hidup. Katanya, kau adalah kunci untuk menemukan sesuatu yang sangat berharga."
"Kitab Suci Lautan," bisik Tianji.
Rahang Maut tersenyum. "Kau tahu? Bagus. Jadi kau tidak perlu dijelaskan lagi."
Ia mengangguk pada anak buahnya yang masih tersisa. "Borgol dia. Bawa dia ke markas."
"BOCAH SIALAN!" teriakan itu datang dari Yue'er, yang tiba-tiba melompat ke arah Rahang Maut dengan sebilah pisau di tangannya.
"Yue'er, JANGAN!" teriak Liu Dahan.
Tapi sudah terlambat. Rahang Maut bergerak โ secepat kilat โ dan tinju tangannya yang bebas menghantam perut Yue'er dengan keras.
Gadis itu jatuh, terbatuk-batuk, pisau di tangannya terlepas.
"YUE'ER!" Tianji meronta, tapi dua anak buah Rahang Maut sudah menahannya, memasang borgol besi di kedua tangannya.
"Jangan khawatir," kata Rahang Maut. "Kami tidak akan membunuh mereka. Mereka terlalu tidak berharga untuk dibunuh."
Ia membalikkan badan, melangkah ke pintu. "Bawa dia."
Tianji diseret keluar dari rumah itu. Udara malam yang dingin menyentuh wajahnya yang memar. Ia menoleh ke belakang โ melihat Yue'er merangkak ke arah Liu Dahan yang berlumuran darah, melihat rumah yang hangat itu kini hancur berantakan, melihat kehidupan yang baru ia bangun kembali hancur dalam sekejap.
Dan di dalam dirinya, lautan Qi bergolak โ marah, frustrasi, dan lapar.
Aku akan kembali, sumpahnya dalam hati. Aku akan kembali untuk mereka.
Ancaman itu menggema di dalam batinnya, seperti deburan ombak yang tidak pernah padam.
— AKHIR BAB 5 —