Matahari belum muncul ketika Xuan Qingzi sudah duduk bersila di atas batu besar di tepi tebing. Kabut pagi masih menggantung di antara pepohonan pinus yang menjulang di lereng Gunung Qingcheng, menciptakan pemandangan yang terasa seperti lukisan tinta China — hitam, putih, dan segala nuansa abu-abu di antaranya.
Tianji berdiri di belakangnya, tubuhnya masih terasa kaku. Pagi ini ia bangun lebih awal, sulit tidur karena ribuan pikiran berkecamuk di kepalanya. Kabar tentang ibunya — tentang siapa ia sebenarnya — masih terasa seperti mimpi. Atau mungkin mimpi buruk.
"Kau datang tepat waktu," kata Xuan Qingzi tanpa membuka mata. "Itu bagus. Disiplin adalah langkah pertama di jalan persilatan."
"Aku tidak bisa tidur," jawab Tianji jujur.
"Karena kebenaran yang kau dengar tadi malam?"
"Karena terlalu banyak kebenaran yang ditumpuk dalam satu malam."
Xuan Qingzi membuka matanya. Di bawah sinar matahari yang baru mulai menyembul di ufuk timur, wajah lelaki tua itu tampak lebih berkerut — dan lebih bijaksana — dari sebelumnya.
"Duduklah."
Tianji duduk di atas tanah di depan Xuan Qingzi. Tanahnya lembap, berbau rumput basah dan dedaunan busuk. Udara pegunungan terasa dingin menusuk, membuatnya sedikit menggigil.
"Pelajaran pertama kita hari ini bukanlah tentang cara menyerap," kata Xuan Qingzi. "Tapi tentang cara merasakan."
"Rasakan apa?"
"Segalanya."
Xuan Qingzi mengangkat tangannya, menunjuk ke arah barisan pepohonan pinus di kejauhan. "Apa yang kau lihat?"
"Pohon."
"Lebih dari itu."
Tianji mengerutkan kening. Ia menatap pepohonan itu lebih lama. "Pohon pinus. Tinggi, beberapa sudah tua. Batangnya lurus. Daunnya hijau gelap."
"Masih."
"Ada… kabut di antara ranting-rantingnya."
"Hm." Xuan Qingzi mengangguk kecil. "Sekarang, tutup matamu."
Tianji menurut.
"Apa yang kau dengar?"
"Dengar?" Tianji berkonsentrasi pada pendengarannya. "Angin. Daun-daun yang bergesekan. Burung di kejauhan. Air — mungkin sungai kecil di bawah tebing."
"Lanjutkan."
"Jangkrik. Atau mungkin belalang." Tianji menjeda. "Napasku sendiri."
"Dan?"
Tianji terdiam. Ia mendengar lebih dalam. Semakin ia berkonsentrasi, semakin banyak suara yang ia tangkap — suara-suara yang biasanya tenggelam dalam kebisingan kesadaran sehari-hari. Kicau burung yang lebih jauh. Derit ranting yang tertiup angin. Getaran halus di tanah di bawah lututnya.
"Ada… getaran. Sangat halus. Seperti… bumi bernapas."
"Bagus." Suara Xuan Qingzi terdengar puas. "Sekarang, buka matamu dan lihat lagi pepohonan itu."
Tianji membuka matanya. Anehnya, pepohonan itu tampak berbeda. Bukan secara fisik — mereka masih pohon pinus yang sama. Tapi Tianji bisa merasakan mereka dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar melihat, tapi… merasakan kehadiran mereka.
"Setiap benda di dunia ini memiliki Qi," kata Xuan Qingzi. "Pohon memiliki Qi kehidupan. Batu memiliki Qi keheningan. Air memiliki Qi aliran. Dan manusia — manusia memiliki Qi yang paling kompleks, karena Qi manusia dipengaruhi oleh pikiran, emosi, dan kehendak."
Ia memungut sehelai daun pinus yang jatuh di pangkuannya. "Lihat daun ini. Ia dulunya hidup, menempel di pohon, menyerap sinar matahari. Sekarang ia mati, layu, kehilangan Qi-nya. Tapi ia masih meninggalkan jejak."
Xuan Qingzi menjentikkan daun itu. Daun itu melayang, berputar-putar di udara, lalu jatuh ke tanah.
"Tugas pertamamu adalah merasakan Qi di sekitarmu. Bukan hanya di dalam tubuhmu, tapi di setiap sudut alam ini."
"Bagaimana caranya?"
"Seperti yang baru kau lakukan. Tapi lebih dalam." Xuan Qingzi menatapnya. "Tutup matamu lagi. Jangan gunakan telinga atau hidung. Gunakan kulitmu. Rasakan udara yang menyentuh wajahmu. Rasakan kehangatan matahari yang mulai naik. Rasakan perbedaan suhu di tempat yang terkena sinar dan yang tidak."
Tianji menutup matanya. Ia mengikuti instruksi, merasakan sensasi di kulitnya. Udara dingin di sisi kirinya — bagian yang masih terhalang bayangan bebatuan. Kehangatan samar di sisi kanan — tempat matahari mulai menyinari. Tiupan angin yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Bagus. Sekarang, hirup napas dalam-dalam. Saat kau menghela, rasakan bagaimana udara mengalir ke paru-parumu. Bukan hanya udara — tapi juga Qi di dalamnya."
Tianji menarik napas panjang. Udara pegunungan memenuhi paru-parunya — segar, bersih. Tapi ia mencoba merasakan lebih dari sekadar udara. Ia membayangkan Qi memasuki tubuhnya bersama setiap tarikan napas.
"Aku… tidak merasakan apa-apa."
"Bersabarlah. Qi bukanlah sesuatu yang bisa dirasakan dalam satu tarikan napas. Butuh waktu. Butuh latihan."
Satu jam berlalu. Dua jam.
Tianji duduk diam, matanya terpejam, berusaha merasakan sesuatu yang tidak bisa ia lihat atau sentuh. Semakin ia berusaha, semakin frustrasi ia merasa. Tubuhnya mulai pegal. Pikiran-pikirannya mulai mengembara — ke Desa Muara, ke Yue'er, ke perahu yang menunggu, ke Mawar Hitam yang mungkin sedang merencanakan balas dendam.
"Pikiranmu kacau," kata Xuan Qingzi tiba-tiba. "Kau memikirkan seribu hal sekaligus."
"Aku tidak bisa." Tianji membuka matanya, frustrasi. "Aku tidak merasakan apa-apa. Mungkin aku tidak punya bakat."
Xuan Qingzi tertawa kecil. "Bakat? Hah. Setiap murid yang datang kepadaku selalu berkata hal yang sama setelah satu jam pertama. Mereka pikir ilmu persilatan bisa dikuasai dalam sekejap, seperti memukul genderang atau meniup seruling."
Ia berdiri, berjalan ke tepi tebing. "Lihat ke bawah. Apa yang kau lihat?"
Tianji menghampiri dan menunduk. Di bawah tebing, sekitar seratus meter di bawah, sungai kecil mengalir perlahan. Airnya jernih, bebatuan di dasarnya terlihat jelas.
"Sungai."
"Dan apa yang dilakukan air?"
"Mengalir."
"Ke mana?"
"Ke laut."
"Bagaimana caranya?"
Tianji bingung. "Apa maksud Tuan?"
"Air tidak memaksa dirinya sendiri. Ia tidak melawan bebatuan. Ia tidak melawan aliran. Ia hanya mengalir — mengikuti jalan yang paling alami, paling sedikit perlawanan. Jika ada batu, ia mengalir di sekitarnya. Jika ada jurang, ia jatuh. Jika ada dataran rendah, ia menggenang. Dan perlahan — setetes demi setetes — ia tetap mencapai lautnya."
Xuan Qingzi menatap Tianji. "Qi adalah seperti air. Kau tidak perlu memaksanya. Kau tidak perlu mencarinya dengan susah payah. Ia sudah ada di sana, mengalir di dalam dirimu dan di sekitarmu. Yang perlu kau lakukan adalah… berhenti melawannya."
Tianji merenungkan kata-kata itu. Berhenti melawan. Selama ini ia selalu berusaha — berusaha merasakan, berusaha mencari, berusaha memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Mungkin… mungkin ia perlu membiarkan Qi itu datang sendiri.
Ia duduk kembali, menutup matanya. Kali ini, ia tidak berusaha. Ia hanya duduk, bernapas, dan membiarkan segalanya berjalan apa adanya.
Pikiran-pikirannya masih mengembara. Tiba-tiba ia teringat Yue'er, yang pasti sedang khawatir. Tiba-tiba ia memikirkan bubur ikan yang tidak sempat ia makan. Tiba-tiba ia memikirkan suara ombak di malam hari.
Tapi ia tidak melawan pikiran-pikirannya. Ia membiarkannya datang dan pergi, seperti awan yang melintas di langit.
Dan di antara pikiran-pikiran yang berlalu-lalang itu, Tianji merasakan sesuatu.
Seperti kehangatan samar yang muncul dari dalam perutnya. Sangat halus, hampir tidak terasa — seperti embusan napas kupu-kupu. Tapi itu nyata.
Ia tidak bergerak. Tidak tergesa-gesa. Ia hanya memperhatikan, membiarkan kehangatan itu menyebar perlahan. Ia merasakannya mengalir ke dadanya, ke bahunya, ke lengannya, ke ujung jarinya.
Qi.
Ini adalah Qi-nya sendiri.
"Kau merasakannya, bukan?"
Suara Xuan Qingzi terdengar jauh, seperti dari ujung terowongan. Tapi kata-katanya jelas.
Tianji mengangguk, tidak berani membuka mata.
"Jangan memegangnya. Jangan mengendalikannya. Biarkan ia mengalir sendiri. Perhatikan bagaimana ia bergerak."
Qi dalam tubuh Tianji mengalir perlahan, seperti sungai kecil di pagi hari. Ia bergerak tanpa arah yang jelas, mengikuti irama napasnya yang tenang. Semakin lama Tianji duduk diam, semakin kuat aliran itu terasa.
"Aku merasakannya," bisik Tianji, matanya masih terpejam. "Aku merasakan Qi-ku."
"Bagus." Ada nada puas dalam suara Xuan Qingzi. "Ini adalah langkah pertama. Kau telah menyentuh Qi-mu. Besok, kau akan belajar menggerakkannya."
Tianji membuka matanya. Dunia di sekelilingnya tampak lebih cerah — bukan karena sinar matahari yang naik lebih tinggi, tapi karena matanya sendiri yang terasa lebih tajam. Ia bisa melihat butir-butir embun di ujung dedaunan dengan lebih jelas. Ia bisa mendengar kicau burung yang sebelumnya tidak ia sadari.
"Aku melihatnya. Segala sesuatu terlihat… berbeda."
"Karena kau telah merasakan Qi. Sekarang, mata dan telingamu mulai terbuka pada dimensi baru dunia ini." Xuan Qingzi duduk di sampingnya. "Tapi ingat — ini baru permulaan. Jalanmu masih panjang."
Tianji mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak ia sadar di gubuk Xuan Qingzi, ia merasa ada secercah harapan di dalam hatinya.
"Tuan," katanya setelah beberapa saat. "Tentang ibuku…"
Xuan Qingzi menghela napas. "Kau masih ingin membicarakannya?"
"Aku harus tahu. Siapa ibuku? Mengapa ia meninggalkanku? Bagaimana ia bisa memiliki Meridian Penelan seperti aku?"
Xuan Qingzi terdiam. Angin berhembus, membuat janggutnya yang putih bergerak lembut. Di matanya, Tianji bisa melihat pertarungan batin — antara keinginan untuk melindungi dan keharusan untuk berkata jujur.
"Nama ibumu adalah Xiao Yurou," kata Xuan Qingzi akhirnya. "Ia adalah murid terbaik yang pernah kumiliki."
Tianji tertegun. "Murid Tuan? Berarti…"
"Aku adalah gurunya. Bertahun-tahun sebelum kau lahir." Xuan Qingzi menatap ke kejauhan, matanya tampak kosong, seolah menatap masa lalu. "Xiao Yurou datang padaku saat ia berusia lima belas tahun — sama sepertimu. Seorang gadis dari desa nelayan di Fujian. Ia cerdas, berbakat, dan memiliki Meridian Penelan yang bahkan lebih kuat dari milikmu."
"Lebih kuat?"
"Jauh lebih kuat." Xuan Qingzi menggeleng. "Aku mengajarinya ilmu dasar, cara mengendalikan Qi, cara mengelola Meridian Penelannya. Ia belajar dengan cepat — terlalu cepat. Dalam tiga tahun ia sudah melampaui kemampuanku."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Ia ingin mencari Kitab Suci Lautan." Xuan Qingzi mengerutkan kening. "Ia percaya kitab itu adalah satu-satunya cara untuk menguasai Meridian Penelan sepenuhnya. Aku melarangnya — terlalu berbahaya, kataku. Tapi ia keras kepala."
"Sepertinya aku mewarisi sifat itu," gumam Tianji.
Xuan Qingzi tersenyum tipis. "Kau memang anaknya. Xiao Yurou pergi suatu malam, meninggalkan surat yang mengatakan ia akan mencari kitab itu sendirian. Aku tidak pernah melihatnya lagi."
"Apakah ia mati?"
"Aku tidak tahu." Xuan Qingzi menggeleng. "Tapi enam belas tahun yang lalu — sekitar waktu kau ditemukan di pantai — ada kabar tentang seorang wanita misterius yang bertarung melawan organisasi bayangan di pesisir selatan. Wanita itu konon memiliki kekuatan yang luar biasa — mampu membuat laut bergolak hanya dengan tangannya."
"Meridian Penelan," bisik Tianji.
"Mungkin. Tapi setelah pertarungan itu, ia menghilang. Dan beberapa bulan kemudian, seorang bayi ditemukan di pantai Desa Muara."
Tianji merasakan hawa dingin menjalari punggungnya. Enam belas tahun yang lalu. Persis saat ia ditemukan.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Mawar Hitam." Xuan Qingzi meludah ke tanah, gerakan yang tidak pantas bagi seorang pendekar tua sepertinya. "Organisasi bayangan itu sudah ada sejak lama. Mereka memiliki dendam pribadi terhadap Xiao Yurou. Aku tidak tahu detailnya, tapi aku yakin — siapapun yang membesarkanmu, menjagamu selama ini, pasti terkait dengan ibumu."
Liu Dahan.
Tiba-tiba, banyak hal mulai masuk akal. Cara Liu Dahan bergerak — yang tidak seperti nelayan biasa. Pengetahuannya tentang dunia persilatan. Keinginannya untuk melindungi Tianji dari Mawar Hitam.
"Paman Liu Dahan," kata Tianji perlahan. "Ia tahu tentang ibuku?"
"Mungkin." Xuan Qingzi mengangkat bahu. "Tapi itu adalah cerita yang harus kau gali sendiri. Aku hanya bisa memberimu petunjuk."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kau masih terlalu lemah untuk menghadapi Mawar Hitam." Xuan Qingzi berdiri. "Kau perlu latihan. Setidaknya beberapa bulan — atau beberapa tahun — sebelum kau bisa melawan organisasi seperti mereka."
"Tapi mereka akan menyerang Desa Muara!"
"Biarkan Liu Dahan yang mengurusnya. Ia bukan orang sembarangan." Xuan Qingzi menoleh. "Untuk saat ini, fokuslah pada latihanmu. Semakin cepat kau menguasai Meridian Penelanmu, semakin cepat kau bisa melindungi orang-orang yang kau sayangi."
Tianji mengepalkan tinjunya. Frustrasi, marah, tidak sabar — semuanya bercampur di dalam dadanya. Tapi ia tahu Xuan Qingzi benar.
Ia masih lemah.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan belajar."
"Kau sudah memulai." Xuan Qingzi tersenyum — senyum yang hangat, untuk pertama kalinya. "Dan untuk seorang pemula, kau melakukannya dengan cukup baik."
"Tuan…"
"Hm?"
"Aku tidak pernah punya guru sebelumnya. Mungkin kau bisa menjadi guruku?"
Xuan Qingzi menatapnya lama. Lalu ia tertawa — tawa yang dalam, bergema di antara pepohonan pinus.
"Bocah lancang. Baru sehari sudah minta menjadi muridku?" Tapi matanya berbinar-binar. "Baiklah. Tapi kau harus tahu — aku adalah guru yang keras. Jika kau menyerah, kau akan kuhajar sampai kau tidak bisa bangun."
Tianji tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Desa Muara. "Aku tidak akan menyerah."
Di kejauhan, Matahari kini sudah naik sepenuhnya, menyinari Gunung Qingcheng dengan cahaya keemasan. Udara pagi yang dingin mulai menghangat. Burung-burung berkicau riang, menyambut hari yang baru.
Dan di atas tebing, seorang lelaki tua dan seorang bocah nelayan duduk bersila di antara pepohonan pinus — seorang guru dan murid di persimpangan takdir yang baru.
— AKHIR BAB 3 —