Tianji membuka matanya perlahan, dan untuk sesaat ia tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati.
Langit-langit di atasnya terbuat dari anyaman bambu yang diikat dengan rotan. Cahaya temaram menembus celah-celahnya, menciptakan pola-pola geometris yang menari-nari di dinding tanah. Udara di sekelilingnya terasa sejuk, khas pegunungan, bercampur aroma dupa yang menenangkan. Tidak ada bau asin laut, tidak ada teriakan burung camar. Hanya kesunyian hutan dan suara jangkrik di kejauhan.
"Kau sudah sadar."
Suara itu datang dari sudut ruangan. Tianji menoleh โ dan merasakan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya. Ia meringis, berusaha duduk.
"Jangan memaksakan diri dulu."
Lelaki tua berjubah abu-abu itu duduk bersila di atas bantal bambu, sebuah cangkir teh di tangannya. Wajahnya teduh, mata elangnya menatap Tianji dengan tenang. Di belakangnya, rak buku dari kayu jati penuh dengan gulungan kitab kuno. Beberapa di antaranya tampak lebih tua dari usia manusia mana pun.
"Aku…" Tianji mengerang. "Di mana aku?"
"Gubukku. Di Gunung Qingcheng."
Gunung Qingcheng. Tianji samar-samar pernah mendengar nama itu โ dari cerita para nelayan yang pernah berlayar jauh. Sebuah gunung suci yang konon menjadi tempat pertapaan para pendekar besar. Tapi ia tidak pernah menyangka akan berada di sini.
"Berapa lama aku tidak sadar?"
"Tiga hari."
Tianji terkesiap. "Tiga hari? Tapiโ" Ia mencoba bangkit lagi, dan kali ini berhasil, meski tubuhnya terasa seperti habis dipukuli. "Aku harus kembali ke desa. Paman Liu dan Yue'er pastiโ"
"Tenanglah. Aku sudah mengirim kabar. Liu Dahan dan keponakannya tahu kau di sini."
Tianji menatap lelaki tua itu. "Siapa Tuan?"
Lelaki tua itu meneguk tehnya perlahan. "Namaku Xuan Qingzi. Mungkin kau belum pernah mendengarnya, dan itu tidak masalah." Ia meletakkan cangkirnya. "Yang penting sekarang adalah kondisimu."
"Kondisiku?"
"Rasakan tubuhmu." Xuan Qingzi mengangguk. "Katakan apa yang kau rasakan."
Tianji menutup matanya. Ia berkonsentrasi pada tubuhnya sendiri. Awalnya ia hanya merasakan sakit yang tumpang tindih โ otot-otot yang tegang, tulang yang pegal. Tapi kemudian…
Di balik semua rasa sakit itu, ada sesuatu yang lain.
Seperti sungai kecil yang mengalir di bawah permukaan kulitnya. Arus hangat yang bergerak perlahan di dalam urat-uratnya, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Tapi sungai itu terasa… penuh. Terlalu penuh. Seperti saluran yang dipaksa menampung air bah.
"Ada… sesuatu yang bergerak di dalam diriku," kata Tianji perlahan. "Seperti cairan. Tapi… terlalu banyak. Tubuhku terasa sesak."
"Tepat sekali." Xuan Qingzi bangkit, berjalan ke rak buku, mengambil sebuah gulungan kitab tua yang sampulnya sudah menguning. Ia membuka gulungan itu, memperlihatkan tulisan aksara kuno yang tidak bisa dibaca Tianji.
"Kau memiliki sesuatu yang disebut Meridian Penelan," kata Xuan Qingzi. "Dalam dunia persilatan, kondisi ini sangat langka โ mungkin hanya satu dari seratus juta orang yang memilikinya."
"Meridian Penelan?" ulang Tianji. "Apa itu?"
Xuan Qingzi tidak langsung menjawab. Ia duduk kembali, menuang teh untuk dirinya sendiri, lalu menuang satu cangkir lagi untuk Tianji.
"Minumlah. Teh ini akan membantumu."
Tianji menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. Tehnya hangat, sedikit pahit, tapi meninggalkan rasa manis di tenggorokan. Ia merasa sedikit lebih baik setelah meminumnya.
"Meridian adalah saluran Qi dalam tubuh manusia," Xuan Qingzi memulai. "Setiap orang memilikinya. Dalam ilmu persilatan, para praktisi melatih Qi mereka โ kekuatan hidup โ mengalirkannya melalui meridian untuk memperkuat tubuh, mempercepat gerakan, atau melancarkan jurus pamungkas."
"Tapi Meridian Penelan…" Ia menjeda, menatap Tianji dengan tajam. "Meridian Penelan adalah kelainan. Saat meridianmu bersentuhan dengan Qi orang lain โ melalui kontak fisik โ ia secara otomatis menyerap Qi itu ke dalam tubuhmu sendiri."
Tianji terdiam. Kata-kata itu menggema di kepalanya.
Menyerap Qi orang lain.
"Itu yang terjadi saat si Cambang mendorongku," bisiknya. "Aku merasakan sesuatu mengalir dari tangannya ke dalam tubuhku."
"Benar." Xuan Qingzi mengangguk. "Kau telah menyerap sebagian dari Qi-nya. Hal itu yang membuatnya lemas dan ketakutan. Ia mengira kau menggunakan ilmu sesat โ dan sebenarnya, dalam pandangan dunia persilatan, teknik menyerap Qi orang lain memang dianggap terlarang."
"Tapi aku tidak sengaja!"
"Aku tahu. Itulah mengapa kau masih hidup. Jika kau melakukannya dengan sengaja, tubuhmu sudah hancur berkeping-keping sekarang."
Tianji merasakan hawa dingin merambati punggungnya. "Hancur?"
"Meridian Penelan bukanlah kekuatan yang sederhana." Xuan Qingzi mengelus janggutnya. "Bayangkan tubuhmu seperti sebuah wadah. Setiap manusia memiliki kapasitas Qi tertentu โ seperti ukuran wadah yang ditentukan sejak lahir. Dengan latihan, seseorang bisa memperbesar wadahnya, menampung lebih banyak Qi. Tapi Meridian Penelan… ia memungkinkanmu menyerap Qi dari luar tanpa batas."
"Bukankah itu bagus?" tanya Tianji. "Memiliki lebih banyak kekuatan?"
Xuan Qingzi tertawa โ tawa yang getir, tanpa sukacita. "Bocah naif. Kau pikir Qi adalah air yang bisa ditampung tanpa batas? Qi setiap orang berbeda. Ia membawa jejak kepribadian, emosi, bahkan dendam pemilik aslinya. Saat kau menyerap Qi orang lain, kau juga menyerap sisa-sisa dari jiwa mereka."
Ia mencondongkan tubuh ke depan. "Dan jika terlalu banyak Qi asing masuk ke dalam tubuhmu tanpa kendali… kau akan kehilangan dirimu sendiri. Tubuhmu akan menjadi medan pertempuran bagi ratusan Qi yang saling bertabrakan. Pikiranmu akan kacau. Dan akhirnya…"
Xuan Qingzi tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menuang teh lagi.
"Akhirnya apa?" desak Tianji.
"Akhirnya, tubuhmu akan meledak dari dalam. Atau kau menjadi gila. Atau kau berubah menjadi monster yang hanya bisa menyerap tanpa henti, seperti lubang hitam yang tidak pernah kenyang."
Tianji menunduk. Tangannya โ yang masih memegang cangkir teh โ mulai gemetar lagi.
"Aku… apakah ini penyakit? Apakah aku akan mati?"
"Ini bukan penyakit." Xuan Qingzi menggeleng. "Ini adalah takdir. Atau kutukan. Tergantung bagaimana kau memandangnya."
"Apa bedanya?"
"Takdir adalah sesuatu yang bisa kau kendalikan. Kutukan adalah sesuatu yang mengendalikanmu." Xuan Qingzi menatap Tianji. "Kau memiliki Meridian Penelan. Kau tidak bisa membuangnya, tidak bisa menghilangkannya. Tapi kau bisa belajar mengendalikannya. Atau kau bisa membiarkannya mengendalikanmu."
Ruangan itu hening. Tianji bisa mendengar detak jantungnya sendiri di telinganya.
"Tuan," katanya akhirnya. "Apa yang terjadi jika aku tidak belajar mengendalikannya?"
"Kau sudah melihat contoh kecilnya. Tubuhmu hampir runtuh karena menyerap Qi seorang preman rendahan. Jika kau bertemu dengan pendekar sejati dan secara tidak sengaja menyerap Qi mereka yang puluhan tahun terlatih โ kau akan mati seketika."
"Atau… kau bisa menjadi ancaman bagi semua orang di sekitarmu."
Tianji mengingat wajah Liu Dahan dan Yue'er. Ia ingat bagaimana Yue'er berteriak histeris saat ia pingsan. Ia ingat bagaimana Liu Dahan menangkapnya sebelum ia jatuh.
"Ilmu silat apa yang bisa mengendalikan Meridian Penelan?" tanya Tianji.
Xuan Qingzi tersenyum โ senyum yang sulit diartikan, campuran antara bangga dan sedih.
"Tidak ada ilmu silat khusus untuk itu. Karena Meridian Penelan adalah keunikan. Setiap pemiliknya harus menemukan jalannya sendiri." Ia menjeda. "Tapi ada petunjuk."
"Petunjuk apa?"
"Kitab Suci Lautan."
Tianji mengerutkan kening. "Kitab Suci Lautan?"
"Sebuah kitab legendaris yang konon ditulis oleh Pendekar Lautan โ seorang tokoh mistis yang hidup ribuan tahun lalu. Kitab itu berisi rahasia tentang Qi dan lautan. Tentang bagaimana air bisa menjadi lembut sekaligus menghancurkan. Tentang bagaimana ombak bisa menyerap dan melepaskan."
"Tapi itu hanya legenda."
"Semua legenda berawal dari kebenaran." Xuan Qingzi meletakkan cangkirnya. "Aku telah mencarinya selama dua puluh tahun. Tidak pernah kutemukan. Tapi mungkin โ mungkin โ kau adalah kunci untuk menemukannya."
"Aku? Tapi aku hanya seorang nelayan. Aku bahkan tidak bisa membaca."
"Kau bisa belajar." Xuan Qingzi berdiri. "Atau kau bisa pulang ke Desa Muara dan melanjutkan hidupmu sebagai nelayan, berdoa agar tidak bertemu dengan pendekar lain yang akan menghancurkanmu secara tidak sengaja."
Tianji menatap tangannya sendiri. Tangannya yang kurus, kapalan karena kerja keras. Tangan yang telah menyerap Qi orang lain tanpa sepengetahuannya.
Ia memikirkan Desa Muara. Perahu usang. Laut yang tenang. Yue'er yang cerewet. Liu Dahan yang seperti ayah baginya.
Dan ia memikirkan Mawar Hitam. Si Cambang yang sudah mengetahui kemampuannya. Organisasi bayangan yang pasti akan kembali, dengan kekuatan yang lebih besar.
"Tuan," kata Tianji akhirnya, menatap Xuan Qingzi. "Ajari aku. Aku mau belajar."
Xuan Qingzi menatapnya lama. Matanya โ mata elang yang tajam โ seolah membaca sesuatu di dalam jiwa Tianji, sesuatu yang bahkan bocah itu sendiri tidak sadari.
"Kau yakin?" tanya Xuan Qingzi. "Jalur ini tidak mudah. Kau akan menderita. Kau akan menghadapi bahaya yang tidak pernah kau bayangkan. Dan mungkin โ mungkin โ kau akan kehilangan orang-orang yang kau cintai."
"Aku sudah kehilangan orang tuaku. Aku tidak tahu siapa mereka, dari mana aku berasal." Suara Tianji bergetar tipis. "Yang aku tahu, aku ditemukan di pantai saat masih bayi. Laut membawaku ke Desa Muara. Dan sekarang laut itu โ atau sesuatu di dalamnya โ memanggilku."
Ia mengepalkan tinjunya. "Aku harus tahu. Aku harus mengerti apa aku ini."
Xuan Qingzi menghela napas panjang โ napas yang seolah membawa beban puluhan tahun pengalaman dan penyesalan.
"Baiklah." Ia berbalik, melangkah ke arah pintu. "Besok pagi, kita mulai. Sekarang, istirahatlah. Tubuhmu masih lemah."
"Tuan…"
Xuan Qingzi berhenti di ambang pintu, tidak menoleh.
"Ada yang ingin kutanyakan."
"Tanyalah."
"Bagaimana Tuan tahu tentang Meridian Penelan? Bagaimana Tuan tahu tentang Kitab Suci Lautan? Siapa sebenarnya Tuan?"
Xuan Qingzi diam untuk waktu yang lama. Angin malam berhembus masuk melalui pintu, membuat jubah abu-abunya berkibar-kibar.
"Tiga puluh tahun yang lalu," katanya perlahan, "aku mengenal seseorang yang juga memiliki Meridian Penelan. Seorang wanita. Ia adalah pendekar paling kuat yang pernah kulihat. Juga yang paling tragis."
"Apa yang terjadi padanya?"
"Dia hilang. Dilahap oleh lautan." Xuan Qingzi akhirnya menoleh, menatap Tianji dengan mata yang terlihat lelah untuk pertama kalinya. "Ia adalah ibumu."
Dan tanpa menunggu reaksi Tianji, Xuan Qingzi melangkah keluar, menutup pintu bambu di belakangnya, meninggalkan Tianji sendirian dalam keheningan malam yang dipenuhi seribu pertanyaan yang tak terjawab.
Tianji duduk terpaku di atas balai bambu, jantungnya berdetak kencang. Kata-kata Xuan Qingzi menggema di kepalanya seperti guntur di lembah sempit.
Ibunya memiliki Meridian Penelan. Ibunya adalah pendekar paling kuat. Ibunya… hilang ditelan lautan.
Ia memandang keluar jendela kecil gubuk itu. Di kejauhan samar, ia bisa melihat garis pantai di bawah sinar bulan โ samudra yang tak bertepi, gelap dan misterius. Laut yang sama yang telah membawanya ke Desa Muara enam belas tahun lalu. Laut yang sama yang memanggilnya dalam mimpi-mimpinya.
Di dalam dadanya, Qi asing yang ia serap dari si Cambang masih bergolak, seperti lautan yang menunggu untuk meledak. Tapi untuk pertama kalinya, Tianji tidak merasa takut.
Ia merasa penasaran.
Dan di suatu tempat, di kedalaman yang tak terjangkau, ia merasakan sesuatu beresonansi dalam dirinya โ seperti lautan yang menjawab panggilan lautan.
— AKHIR BAB 2 —