Perjalanan pulang terasa lebih berat daripada perjalanan pergi. Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er berjalan perlahan di tengah hutan pagi, tubuh mereka masih penuh luka dan kelelahan. Tianji berjalan paling depan, peta di tangannya, tapi pikirannya melayang ke tempat lain.
"Apa yang kau pikirkan, Tianji-gege?" tanya Yue'er, suaranya serak karena kelelahan.
"Aku memikirkan guruku. Xuan Qingzi. Jika Lord Hitam sudah memiliki tiga fragmen, mungkin ia sudah menculik guruku untuk memaksanya menyerahkan fragmen-fragmen lain."
Xiao Yu'er, yang masih berjalan dengan pincang, menggeleng. "Xuan Qingzi bukan tipe orang yang mudah menyerah. Aku sudah mendengar cerita tentang dia. Bahkan di bawah siksaan, ia tidak akan mengkhianati muridnya."
"Aku tahu. Tapi itulah yang membuatku semakin khawatir. Lord Hitam tidak segan-segan menyiksa atau membunuh."
Yue'er meraih lengan Tianji. "Kita akan menemukannya. Bersama-sama."
Tianji menatap Yue'er, lalu Xiao Yu'er. Dua orang yang beberapa minggu lalu masih asing baginya, sekarang telah menjadi teman seperjuangan yang setia. "Terima kasih, kalian berdua."
"Ah, sudahlah," Yue'er melambaikan tangannya. "Kita sudah seperti saudara. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi Lord Hitam."
"Aku juga," kata Xiao Yu'er pelan. "Aku punya hutang nyawa padamu."
"Hutang nyawa tidak perlu dibayar dengan nyawa lagi," Tianji tersenyum tipis. "Cukup kau hidup dengan baik."
Mereka terus berjalan, dan setelah dua hari perjalanan, akhirnya tembok kota Istana Pangeran Ning terlihat di kejauhan.
Pangeran Ning sudah menunggu mereka di pintu gerbang utama. Wajahnya tegang saat melihat kedatangan mereka — tiga orang yang babak belur, dengan luka di sekujur tubuh.
"Tianji! Yue'er! Xiao Yu'er!" Pangeran Ning segera mendekat. "Kau terluka! Apa yang terjadi?"
"Lord Hitam," jawab Tianji singkat. "Dia mengikuti kami. Fragmen ketiga direbut."
Wajah Pangeran Ning berubah muram. "Masuklah. Kita bicara di dalam."
Di ruang pertemuan istana, Tianji menceritakan semuanya — perjalanan ke Lembah Naga Tidur, perangkap-perangkap di reruntuhan, pertarungan dengan Lord Hitam, pengorbanan Xiao Yu'er, dan kegagalannya menyelamatkan fragmen.
Pangeran Ning mendengarkan dengan saksama, tangannya terkepal. "Jadi Lord Hitam sekarang memiliki tiga fragmen. Dari tujuh. Ini berita buruk."
"Aku tahu. Aku gagal."
"Kau tidak gagal," kata Liu Dahan yang sejak tadi diam di sudut ruangan. "Kau masih hidup. Dan kau berhasil membawa Xiao Yu'er kembali. Itu kemenangan tersendiri."
Tapi Tianji menggeleng. "Guruku… Xuan Qingzi… apakah ada kabar tentang dia?"
Pangeran Ning dan Liu Dahan saling bertukar pandang. Keheningan yang tidak mengenakkan.
"Apa?" Tianji bangkit dari tempat duduknya. "Apa yang terjadi pada guruku?"
"Tidak ada kabar," jawab Pangeran Ning akhirnya. "Setelah kau pergi, aku mengirim beberapa pengintai untuk mencari Xuan Qingzi. Tapi mereka tidak menemukan jejaknya. Beberapa hari yang lalu, ada laporan bahwa seorang pendekar tua dengan jubah putih terlihat di sekitar Pelabuhan Naga, di ujung timur."
"Pelabuhan Naga?" Tianji mengerutkan kening. "Apa yang dilakukan guruku di sana?"
"Mungkin ia mengejar sesuatu," kata Liu Dahan. "Atau mungkin ia diculik dan dibawa ke sana."
"Atau," Xiao Yu'er bersuara, suaranya masih lemah, "mungkin itu jebakan Lord Hitam untuk menarik Tianji ke sana."
Semua orang menatap Xiao Yu'er. Ada kebenaran dalam kata-katanya — Lord Hitam pasti tahu bahwa cara terbaik untuk mengendalikan Tianji adalah melalui gurunya.
"Apa pun itu, aku harus pergi," kata Tianji.
"Tunggu, Tianji," Pangeran Ning mengangkat tangannya. "Kau baru saja kembali. Tubuhmu masih lemah. Tenaga dalammu belum pulih. Jika kau pergi sekarang, kau hanya akan menjadi mangsa empuk bagi Lord Hitam."
"Dia benar," Yue'er menambahkan. "Kau harus memulihkan tenagamu dulu, Tianji-gege. Mungkin beberapa hari."
"Aku tidak punya beberapa hari! Setiap hari yang terbuang adalah kesempatan bagi Lord Hitam untuk mendapatkan lebih banyak fragmen!"
"Dan jika kau mati di perjalanan?" Xiao Yu'er berkata dingin. "Apa gunanya? Lord Hitam akan mendapatkan semua fragmen tanpa perlawanan."
Tianji terdiam. Ia tahu mereka benar. Tapi kegelisahan di dadanya tidak bisa diredam. Ia membayangkan gurunya — Xuan Qingzi, yang telah merawatnya sejak kecil, yang telah mengajarinya segala hal — sekarang dalam bahaya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tiga hari," kata Tianji akhirnya. "Aku akan beristirahat tiga hari. Lalu aku pergi."
"Tiga hari cukup," Pangeran Ning mengangguk. "Aku akan mempersiapkan bekal dan perlengkapan untukmu. Juga peta Pelabuhan Naga."
"Aku ikut," kata Yue'er.
"Jangan," Tianji menggeleng. "Ini terlalu berbahaya."
"Dan kau pikir aku akan diam saja di sini sementara kau berjuang sendirian?" Yue'er menatapnya dengan mata tajam. "Sudah kubilang, kita saudara. Saudara tidak meninggalkan saudaranya."
"Aku juga ikut," kata Xiao Yu'er.
"Kau baru saja hampir mati! Tubuhmu—"
"Tubuhku sudah cukup pulih. Dan aku masih bisa menggunakan pedang."
Tianji menatap mereka berdua. Ada ketegasan di mata mereka yang tidak bisa ia bantah. Ia menghela napas panjang. "Baik. Kita pergi bersama. Tapi dengarkan — jika situasi menjadi terlalu berbahaya, kau harus pergi. Aku tidak mau kehilangan kalian lagi."
"Setuju," kata Yue'er dan Xiao Yu'er bersamaan.
Malam itu, Tianji duduk di taman istana, menatap bulan purnama di langit. Pikirannya melayang ke masa lalu — saat-saat bahagia bersama Xuan Qingzi di desa nelayan, saat ia masih anak-anak yang tidak mengerti apa-apa tentang dunia persilatan.
"Guru," bisiknya. "Di mana kau? Apa kau masih hidup?"
"Kau tidak bisa tidur juga?" Suara Yue'er terdengar dari belakang.
Tianji tidak menoleh. "Pikiran terlalu penuh."
Yue'er duduk di sampingnya. "Bagaimana kalau aku menemanimu?"
"Kau tidak perlu…"
"Aku tahu. Tapi aku mau."
Mereka duduk diam, menikmati keheningan malam. Bulan bersinar terang di atas mereka, bintang-bintang bertaburan di langit.
"Tianji-gege," Yue'er memecah keheningan. "Apa kau percaya takdir?"
"Takdir?" Tianji merenung sejenak. "Aku tidak tahu. Aku dulu tidak percaya. Tapi setelah semua yang terjadi — bertemu denganmu, Xiao Yu'er, Li Qingfeng — mungkin memang ada sesuatu yang mengatur jalan hidup kita."
"Kalau begitu, mungkin takdir sudah menentukan bahwa kau akan berhasil menyelamatkan gurumu."
"Kau percaya itu?"
"Aku percaya," kata Yue'er dengan mantap. "Karena aku percaya padamu."
Tianji menatap Yue'er, dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajahnya. "Terima kasih, Yue'er."
"Untuk apa?"
"Untuk selalu ada."
Yue'er tersenyum lebar. "Itu tugas seorang adik."
Keesokan harinya, Tianji menghabiskan waktu dengan memulihkan tenaga dalamnya. Ia duduk bersila di kamarnya, bermeditasi, mengalirkan Qi ke seluruh tubuhnya. Keterampilan Penyatuan Laut level 2 membantunya pulih lebih cepat dari biasanya, tapi luka di tubuhnya — terutama di urat nadinya yang sempat terpapar Qi hitam Lord Hitam — masih meninggalkan bekas.
Liu Dahan datang menemuinya di sore hari.
"Tianji," panggil Liu Dahan. "Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil, dihiasi ukiran naga dan ombak. Tianji membukanya, dan di dalamnya ada sebuah liontin giok hijau dengan ukiran karakter kuno di permukaannya.
"Apa ini?"
"Ini adalah jimat pelindung yang diberikan oleh guruku dulu. Katanya, jimat ini bisa melindungi pemakainya dari satu serangan maut. Aku sudah menyimpannya selama tiga puluh tahun. Sekarang, aku memberikannya padamu."
"Liu Dahan… ini terlalu berharga…"
"Kau lebih berharga dari jimat ini," kata Liu Dahan, menepuk bahu Tianji. "Kau adalah harapan terakhir dunia persilatan melawan Lord Hitam. Jadi kau harus hidup."
Tianji menerima jimat itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu."
"Sudah, sudah. Jangan membuatku malu."
Malam hari, saat Tianji bersiap-siap untuk pergi keesokan paginya, Xiao Yu'er menemuinya.
"Aku ingin bicara," kata Xiao Yu'er.
"Tentang apa?"
"Tentang Lady Hong."
Tianji menatap Xiao Yu'er dengan heran. "Lady Hong? Kenapa tiba-tiba?"
"Aku ingin kau tahu kebenaran tentangku," kata Xiao Yu'er. "Kenapa aku mengkhianatimu di Kota Lintas Angin."
"Aku sudah memaafkanmu. Kau tidak perlu menjelaskan."
"Tapi aku perlu. Agar kau mengerti."
Xiao Yu'er duduk, matanya menatap lantai. "Lady Hong menyelamatkanku tiga tahun lalu. Aku adalah anak jalanan yang kelaparan di pinggir kota. Ia memberiku makan, pakaian, dan pelatihan ilmu persilatan. Aku berhutang budi padanya."
"Tapi…"
"Tapi aku tidak pernah setuju dengan metodenya. Ia membunuh tanpa belas kasihan, menggunakan orang lain sebagai alat. Ketika ia menyuruhku untuk menyusup ke kelompokmu, aku menurut karena aku merasa berutang."
"Lalu kenapa kau berbalik?"
"Karena melihatmu," kata Xiao Yu'er, matanya bertemu dengan mata Tianji. "Kau memperlakukanku sebagai teman. Bukan alat. Bahkan setelah tahu aku mengkhianatimu, kau masih memberiku kesempatan. Itu… tidak pernah terjadi sebelumnya."
Tianji tersenyum. "Setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua."
"Mungkin. Tapi tidak semua orang mendapatkannya. Aku bersyukur mendapatkannya darimu."
Xiao Yu'er berdiri, lalu tanpa diduga, ia berlutut dan membungkukkan kepalanya. "Aku bersumpah, mulai hari ini, aku akan mengabdikan hidupku untukmu. Sampai mati."
"Xiao Yu'er! Bangun!" Tianji buru-buru membantunya berdiri. "Kau tidak perlu melakukan ini! Kita sederajat!"
"Ini adalah caraku menunjukkan kesetiaanku."
"Kalau begitu, tunjukkan dengan bertahan hidup. Jangan mati konyol di Pelabuhan Naga nanti."
Xiao Yu'er tertawa kecil. "Aku akan berusaha."
Paginya, saat fajar menyingsing, Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er sudah siap di pintu gerbang istana. Pangeran Ning, Liu Dahan, dan beberapa prajurit istana melepas kepergian mereka.
"Bawalah ini," kata Pangeran Ning, memberikan sebuah kantong kulit berisi uang perak dan peta. "Peta ini menunjukkan rute tercepat ke Pelabuhan Naga. Dan di sini ada surat pengenal dari istana — mungkin berguna jika kau bertemu dengan pejabat setempat."
"Terima kasih, Yang Mulia," Tianji menerima peta itu.
"Jaga dirimu baik-baik," kata Liu Dahan. "Dunia persilatan masih membutuhkanmu."
"Aku akan kembali," kata Tianji, matanya penuh tekad. "Dengan guruku."
Mereka berjalan meninggalkan istana, meninggalkan tembok kota yang megah di belakang mereka. Di depan, jalan terbentang menuju Pelabuhan Naga — tempat yang mungkin menyimpan kunci untuk menemukan Xuan Qingzi, atau mungkin jebakan maut yang dipersiapkan Lord Hitam.
"Guruku dalam bahaya. Aku harus pergi," kata Tianji, mengulangi sumpahnya. "Dan aku tidak akan kembali sebelum ia selamat."
Yue'er meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kita akan berhasil, Tianji-gege. Aku yakin."
Xiao Yu'er berjalan di sisi lain, tangannya di gagang pedang, matanya awas mengamati sekeliling. "Jika Lord Hitam menunggu di depan, ia akan menemukan perlawanan yang tidak terduga."
Mereka bertiga melangkah maju, memasuki hutan pagi yang masih diselimuti kabut. Perjalanan baru akan dimulai — perjalanan yang akan menguji persahabatan, kesetiaan, dan tekad mereka.
Tapi apa pun yang terjadi, Tianji tahu satu hal: ia tidak akan pernah sendirian lagi.
— TAMAT BATCH 7 —
(Lanjut ke Bab 36: Pelabuhan Naga)