Langit di atas Gunung Qingcheng berwarna kelabu, seperti muka seseorang yang sedang dirundung duka. Awan-awan tebal bergulung lambat, seolah enggan meninggalkan puncak-puncak yang selama ini mereka naungi. Tianji berjalan di depan, langkahnya mantap meskipun hatinya bergolak tak karuan. Di belakangnya, Yue'er dan Xiao Yu'er saling berpandangan, sama-sama merasakan ketegangan yang menggantung di udara.
"Tianji," panggil Yue'er, suaranya berusaha ceria meskipun jelas ada keprihatinan di dalamnya. "Kau yakin gurumu ada di sini? Maksudku, bukankah sudah berminggu-minggu sejak kabar terakhir?"
Tianji tidak menjawab. Matanya terpaku pada jalan setapak yang menanjak, setiap batu dan setiap pohon terasa begitu akrab. Ia telah berjalan di jalan ini ribuan kali sejak kecil, namun hari ini semuanya terasa berbeda. Ada firasat buruk yang menggelayuti pikirannya, seperti kabut yang tak kunjung sirna.
"Kau ini," Yue'er mendesah, berlari kecil untuk mendampingi Tianji. "Bicara dong. Diam melulu bikin orang tambah khawatir. Aku tahu kau kuat, tapi kan tidak salah kalau sesekali kau mengeluarkan isi hatimu. Aku ini bukan musuhmu, lho. Aku ini temanmu! Atau setidaknya, begitulah aku menganggap diriku."
Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibir Tianji. Yue'er memang selalu begitu — berbicara tanpa henti, mengisi setiap keheningan dengan celotehnya yang kadang mengganggu, kadang menghibur. Tapi Tianji tahu, di balik semua itu, Yue'er adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar peduli padanya.
"Aku baik-baik saja," kata Tianji akhirnya, suaranya dalam dan tenang.
"Baik-baik saja? Ha! Kalau kau baik-baik saja, aku ini putri bidadari," Yue'er menyahut cepat. "Kau berjalan seperti orang kerasukan. Matamu kosong. Dan kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Jadi, kumohon, jangan bilang kau baik-baik saja."
Xiao Yu'er tertawa kecil dari belakang. "Yue'er, kau ini benar-benar tidak kenal lelah. Beri dia waktu."
"Beri dia waktu?" Yue'er berbalik, tangannya bertolak pinggang. "Kau pikir kita punya banyak waktu? Gurunya hilang. Markas Mawar Hitam mengincar kita. Dan kau bilang beri dia waktu? Waktu adalah barang mewah yang tidak kita punya, Xiao Yu'er."
"Aku tahu," kata Xiao Yu'er, suaranya tenang. "Tapi kadang, diam juga bisa menjadi cara untuk… mengumpulkan kekuatan."
Yue'er membuka mulut hendak membalas, tapi kemudian menutupnya kembali. Ia menghela napas panjang. "Baiklah. Kalian berdua memang pasangan yang cocok. Sama-sama pendiam. Tapi ingat, aku tidak akan diam saja. Aku akan terus bicara sampai salah satu dari kalian bosan mendengarku."
"Kami sudah bosan," kata Tianji datar.
"Heh!" Yue'er memukul lengan Tianji dengan gemas. "Kau ini! Setidaknya berpura-puralah kau menikmati percakapanka."
"Lebih mudah berpura-pura kalah dalam pertarungan," gumam Tianji.
Yue'er tertawa terbahak-bahak. "Nah, ini dia Tianji yang kukenal! Mulai bercanda lagi. Berarti kau memang tidak seburuk yang kukira."
Mereka terus mendaki. Semakin tinggi mereka naik, semakin dingin udara yang menyapa. Kabut tipis mulai menyelimuti pepohonan, membuat segalanya tampak seperti lukisan tinta hitam putih. Tianji mengingat masa-masa ketika ia masih kecil, berlarian di antara pepohonan ini, berlatih ilmu pedang di bawah pengawasan ketat Xuan Qingzi.
Gurunya itu keras. Tidak pernah memuji. Selalu menuntut lebih. Tapi Tianji tahu, di balik kekerasan itu ada cinta yang tak terucapkan. Xuan Qingzi bukan tipe orang yang menunjukkan perasaan dengan kata-kata. Cintanya adalah cinta yang diam, yang terlihat dari setiap tetes keringat yang ia korbankan, setiap malam tanpa tidur yang ia lewati untuk menjaga muridnya.
"Guru…" bisik Tianji dalam hati.
"Apa?" Yue'er tiba-tiba menyeringai. "Kau memanggil gurumu? Aku dengar, lho."
"Kau punya pendengaran yang terlalu tajam," kata Tianji.
"Bukan pendengaran yang tajam, tapi aku memang selalu memperhatikanmu," kata Yue'er, dan untuk sesaat nada bicaranya berubah menjadi serius. Kemudian ia cepat-cepat tersenyum lagi. "Aku ini pengawal pribadimu, ingat? Tugasku adalah menjagamu. Dan bagian dari menjagamu adalah memastikan kau tidak terlalu larut dalam kesedihanmu sendiri."
"Aku tidak sedang bersedih."
"Tidak. Kau hanya berjalan seperti mayat hidup. Itu lebih buruk dari sedih." Yue'er menggeleng-geleng. "Tapi sudahlah, kita sudah dekat dengan gubuk gurumu, kan? Aku sudah bisa melihat atapnya dari sini."
Tianji menengadah. Benar saja, di antara pepohonan pinus yang menjulang, tampak atap jerami gubuk Xuan Qingzi. Hatinya berdegup kencang. Berbagai kemungkinan melintas di benaknya — mungkin gurunya sedang duduk di dalam, membuat teh, seperti biasa. Atau mungkin… tidak. Ia tidak berani memikirkan kemungkinan yang lain.
Mereka mempercepat langkah. Ketika akhirnya sampai di halaman gubuk, Tianji berhenti. Segalanya tampak normal. Terlalu normal. Pintu gubuk tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda perkelahian. Tidak ada bau darah. Tapi ketenangan ini justru membuatnya semakin curiga.
"Guru!" panggil Tianji.
Tidak ada jawaban.
"Guru Xuan Qingzi!" Yueer ikut memanggil. "Kami datang! Tianji cemas sekali sama Guru! Kalau Guru di dalam, tolong bukakan pintu!"
Suara Yue'er bergema di antara pepohonan, tapi yang kembali hanyalah gema kosong. Tianji melangkah maju, tangannya gemetar saat mendorong pintu. Pintu itu terbuka dengan suara berderit.
Di dalam, gubuk itu kosong.
Tidak ada perabotan yang rusak. Tidak ada tanda perkelahian. Semua barang tersusun rapi — cangkir teh di atas meja, tempat tidur yang sudah dirapikan, dan beberapa buku tersusun di rak. Seolah-olah penghuninya baru saja pergi sebentar. Tapi Tianji tahu, ini tidak wajar. Gurunya tidak pernah pergi tanpa meninggalkan pesan.
"Lihat," kata Xiao Yu'er, menunjuk ke arah meja. "Ada sesuatu di sana."
Tianji berjalan ke meja dengan langkah cepat. Di atas meja, diletakkan sebuah amplop putih yang sudah menguning, seolah sudah ada di sana selama berminggu-minggu. Di atas amplop itu tertulis: "UNTUK TIANJI — ANAKKU."
Tangan Tianji bergetar saat mengambil amplop itu. Ia mengenali tulisan tangan gurunya — tegas, kuat, dengan ciri khas goresan kuas yang dalam. Gurunya selalu bilang, tulisan mencerminkan jiwa seseorang, dan goresan yang dalam berarti hati yang kuat.
"Kau tidak akan membacanya?" Yue'er bertanya pelan.
Tianji menggeleng. "Aku akan membacanya. Tapi… tidak di sini. Tidak sekarang."
"Kenapa?" Yue'er mendekat, matanya penuh perhatian. "Tianji, apapun isinya, aku akan ada di sampingmu. Ingat itu."
"Aku tahu." Tianji menekan amplop itu ke dadanya. "Tapi aku perlu waktu sebentar. Untuk… mempersiapkan diri."
Ia berjalan keluar dari gubuk, duduk di batu besar di halaman — tempat yang sama di mana ia biasa duduk saat masih kecil, menatap langit dan bermimpi tentang menjadi pendekar besar. Kini mimpi itu sudah tidak lagi penting. Yang penting hanyalah menemukan gurunya.
Yue'er dan Xiao Yu'er tidak mengikutinya. Mereka berdiri di ambang pintu, saling berpandangan dengan penuh arti.
"Biarkan dia sendiri sebentar," bisik Xiao Yu'er.
"Aku tahu," kata Yue'er, suaranya tidak seceria biasanya. "Tapi sulit melihatnya seperti ini. Dia selalu tampak begitu kuat. Begitu tak terkalahkan. Tapi sekarang… dia terlihat seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya."
"Dia memang kehilangan orang tuanya," kata Xiao Yu'er pelan. "Gurunya adalah satu-satunya keluarga yang tersisa. Dan sekarang gurunya juga hilang."
Yue'er menggigit bibir bawahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia kuat. Untuk Tianji, ia harus kuat.
Setelah beberapa saat, Tianji kembali masuk ke gubuk. Wajahnya tenang, tapi ada kilatan tekad di matanya.
"Aku akan membuka surat ini," katanya. "Dan apapun isinya, aku akan mengikutinya."
Ia duduk di kursi bambu, mengambil napas dalam-dalam, lalu membuka amplop itu dengan hati-hati, seolah-olah amplop itu terbuat dari emas yang paling rapuh.
Di dalamnya ada beberapa lembar kertas, ditulis dengan tinta hitam yang sudah mulai pudar. Tapi goresan kuas itu masih jelas terbaca, dan setiap kata terasa seperti pukulan di hati Tianji.
"Tianji, anakku.
Jika kau membaca surat ini, berarti aku sudah pergi ke tempat yang tidak bisa kau jangkau. Jangan marah. Jangan menangis. Aku sudah membuat keputusan ini dengan sadar, dan aku tidak menyesalinya.
Kau pasti bertanya, ke mana aku pergi? Jawabannya sederhana: aku pergi ke markas Mawar Hitam.
Jangan ikut. Aku serius. Apapun yang kau rasakan sekarang, apapun keinginanmu untuk membantuku, kumohon, dengarkan kata-kataku kali ini. Ini bukan pertarungan yang bisa kau menangkan dengan pedang. Ini pertarungan yang harus aku selesaikan sendiri.
Ada hal-hal dari masa laluku yang belum pernah kuceritakan padamu. Hal-hal yang seharusnya aku ceritakan sejak dulu, tapi aku terlalu pengecut untuk mengakuinya. Tapi jika aku tidak kembali — dan kemungkinan itu besar — maka kau berhak tahu kebenaran.
Kebenaran tentang orang tuamu."
Tianji berhenti membaca. Tangannya gemetar. Udara di sekelilingnya terasa tiba-tiba menipis.
"Tianji?" Yue'er mendekat, meletakkan tangannya di bahu Tianji. "Ada apa? Kenapa kau berhenti?"
"Surat ini… tentang orang tuaku," bisik Tianji.
Yue'er menarik napas tajam. Ia tahu betapa pentingnya topik ini bagi Tianji. Selama ini Tianji tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Xuan Qingzi hanya bilang bahwa ia menemukan Tianji saat masih bayi, ditinggalkan di depan pintu gubuknya. Tidak ada nama. Tidak ada petunjuk. Tidak ada apa-apa.
"Kau bisa membacanya nanti," kata Yue'er lembut. "Jika kau belum siap…"
"Aku siap," potong Tianji tegas. "Atau setidaknya… aku harus siap."
Ia melanjutkan membaca. Dan semakin jauh ia membaca, semakin hancur hatinya. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus membaca, kata demi kata, kalimat demi kalimat, sampai akhir.
"Xiao Zhan. Ayahmu adalah Xiao Zhan, Penjaga dari Markas Pusat. Ibumu adalah… seorang wanita yang sangat kucintai, seperti adikku sendiri."
"Xuan Qingzi tidak menulis namanya. Tapi ia bilang, ibuku dibunuh oleh Mawar Hitam. Dan ayahku… ayahku juga dibunuh."
"Oleh Lord Hitam."
Tianji menutup surat itu. Wajahnya pucat pasi. Tapi matanya — matanya menyala dengan api yang belum pernah terlihat sebelumnya.
"Jadi begitu," katanya, suaranya serak. "Jadi begini takdirku."
"Tianji…" Yue'er meraih tangannya. "Apapun yang terjadi, aku di sini. Kami di sini."
"Guruku bilang jangan ikut," kata Tianji, suaranya bergetar. "Tapi bagaimana aku bisa tidak ikut? Orang tuaku dibunuh oleh mereka. Guruku sekarang dalam bahaya. Dan kau bilang jangan ikut?"
Ia berdiri, tangan mengepal erat. Amplop surat itu jatuh ke lantai, berserakan.
"Aku akan ke markas Mawar Hitam," katanya, suaraya tegas. "Bukan untuk balas dendam. Tapi untuk menyelamatkan guruku. Untuk mengetahui kebenaran tentang orang tuaku. Untuk… untuk mengakhiri semua ini."
"Aku ikut," kata Yue'er tanpa ragu.
"Juga aku," kata Xiao Yu'er.
Tianji menatap mereka berdua. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia tersenyum — senyum yang penuh rasa syukur, tapi juga penuh kesedihan.
"Kalian tidak harus ikut," katanya. "Ini perjalanan berbahaya. Mungkin kita tidak akan kembali."
"Omong kosong," sahut Yue'er cepat. "Kau pikir aku akan tinggal di sini menunggu kabar buruk? Tidak, terima kasih. Aku lebih suka mati bersamamu daripada hidup dalam ketidaktahuan."
"Aku juga," kata Xiao Yu'er. "Aku sudah kehilangan banyak orang yang kucintai. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."
Tianji menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya, setetes air mata jatuh di pipinya.
"Terima kasih," bisiknya. "Terima kasih."
Malam itu, mereka beristirahat di gubuk Xuan Qingzi. Tianji membaca surat gurunya berkali-kali, menghafalkan setiap kata. Besok pagi, mereka akan berangkat ke markas Mawar Hitam. Tidak peduli betapa berbahayanya. Tidak peduli apakah mereka akan kembali.
Yang peduli, Tianji harus menemukan jawaban. Atau mati dalam pencarian itu.
Yue'er duduk di sampingnya, kepalanya bersandar di bahu Tianji. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan mereka, Yue'er tidak banyak bicara. Ia hanya diam, memberikan kehangatan yang lebih berarti dari seribu kata.
"Terima kasih," kata Tianji lagi.
"Kau sudah bilang itu," jawab Yue'er pelan.
"Aku tahu. Tapi aku akan terus mengatakannya. Sampai kau bosan mendengarnya."
Yue'er tertawa kecil. "Aku tidak akan pernah bosan mendengarnya. Tapi mungkin kau harus berhenti mengatakannya dan mulai membalas budiku dengan menjaga dirimu sendiri."
"Janji."
"Kau bilang janji, tapi aku tahu kau pembohong ulung," kata Yue'er, tertawa lagi. "Tapi tidak apa-apa. Aku akan menjagamu, meskipun kau tidak mau dijaga. Itu tugasku, kan?"
Tianji tidak menjawab. Ia hanya menatap bintang-bintang di langit, bertanya-tanya apakah di antara bintang-bintang itu, orang tuanya sedang melihatnya. Apakah mereka bangga? Apakah mereka sedih? Atau apakah mereka sudah lama melupakannya?
"Jangan khawatir," bisik Yue'er, seolah membaca pikirannya. "Mereka pasti bangga padamu. Aku yakin itu."
"Kau tidak tahu itu."
"Aku tahu. Karena aku bangga padamu. Dan jika aku, orang asing yang baru kau kenal beberapa bulan, sudah bangga padamu, bagaimana mungkin orang tuamu tidak?"
Tianji tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, senyumannya tulus.
"Kau benar," katanya. "Kau selalu benar."
"Tentu saja. Aku ini selalu benar." Yue'er mendongak, matanya berkilau. "Itu sebabnya kau harus selalu mendengarkan aku."
"Tapi kau bilang aku harus ikut ke markas Mawar Hitam."
"Itu… pengecualian."
Mereka berdua tertawa kecil. Di kejauhan, suara serigala melolong, tapi untuk pertama kalinya, lolongan itu tidak terdengar menakutkan. Mungkin karena Tianji tidak lagi sendirian.
Keesokan paginya, ketika matahari pertama muncul di ufuk timur, Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er sudah siap berangkat. Tianji membawa surat gurunya di dadanya, dekat dengan hatinya. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki. Dan itu sudah cukup.
"Kau siap?" tanya Yue'er.
Tianji menatap gubuk gurunya untuk terakhir kalinya. Kenangan demi kenangan melintas di benaknya — gurunya mengajarinya ilmu pedang, gurunya memarahinya saat ia malas, gurunya diam-diam memperbaiki bajunya yang robek. Semua kenangan itu indah, tapi sudah waktunya untuk maju.
"Aku siap," katanya.
Dan mereka pun berangkat, meninggalkan Gunung Qingcheng yang sunyi, menuju markas Mawar Hitam yang misterius. Perjalanan panjang telah dimulai.
Tapi Tianji tidak tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang menyelamatkan gurunya. Perjalanan ini adalah tentang mengungkap rahasia kelam yang selama ini tersembunyi. Rahasia tentang orang tuanya. Rahasia tentang gurunya. Dan rahasia tentang dirinya sendiri.
Semua rahasia itu menunggu di markas Mawar Hitam.
Dan Tianji siap — atau setidaknya, ia berusaha siap — untuk menghadapinya.