Ruangan bawah tanah itu terasa dingin seperti kuburan. Tianji berlutut di samping Xiao Yu'er, wajahnya tegang konsentrasi. Di hadapannya terbaring pemuda yang hampir mengorbankan nyawanya untuknya — napasnya tersengal-sengal, wajahnya pucat pasi, dan dari sudut mulutnya, darah masih mengalir pelan.
"Yue'er," kata Tianji dengan suara rendah namun mantap. "Aku butuh bantuanmu. Carilah kain bersih dan air. Dan jaga pintu masuk — jangan biarkan siapa pun mendekat."
Yue'er mengangguk, air matanya masih mengalir. "Tianji-gege… kau benar-benar bisa menyelamatkannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan mencoba."
Setelah Yue'er pergi, Tianji memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Di dalam tubuhnya, Keterampilan Penyatuan Laut mulai bergerak, gelombang Qi mengalir dari pusat tenaganya di bawah pusar. Ia harus mentransfer Qi-nya ke Xiao Yu'er — sebuah proses yang sangat berbahaya karena jika alirannya salah, Xiao Yu'er bisa langsung tewas, atau Tianji sendiri bisa kehabisan tenaga dan mengalami cedera permanen.
"Xiao Yu'er," bisik Tianji. "Kau bisa mendengarku?"
Tidak ada jawaban. Xiao Yu'er tidak sadarkan diri.
"Kau harus bertahan. Aku belum mengampuni dirimu atas semua kejahatan yang kau lakukan di Kota Lintas Angin. Jadi kau tidak boleh mati sebelum aku benar-benar memaafkanmu."
Tianji meletakkan telapak tangannya di dada Xiao Yu'er, tepat di atas pusat tenaganya. Ia bisa merasakan denyut nadi yang lemah, hampir tidak terasa. Seperti lilin yang hampir padam.
"Mulai sekarang, jangan bergerak. Biarkan Qi-ku masuk ke dalam tubuhmu."
Tianji menyalurkan Qi-nya perlahan-lahan. Ia memulainya dengan aliran yang sangat halus, seperti anak sungai kecil yang merembes ke celah-celah batu. Qi-nya memasuki tubuh Xiao Yu'er, mencari titik-titik meridian yang rusak, memperbaikinya satu per satu.
Tapi baru beberapa saat, Tianji merasakan perlawanan. Di dalam tubuh Xiao Yu'er, ada sisa-sisa Qi hitam Lord Hitam yang masih mengendap, seperti racun yang meracuni aliran darah. Qi hitam itu menyerang Qi Tianji, mencoba menghancurkannya.
"Tidak mudah, ya," gumam Tianji. "Tapi aku tidak akan menyerah."
Ia meningkatkan aliran Qi-nya. Sekarang bukan lagi anak sungai, tapi sungai yang deras. Qi putihnya bertabrakan dengan Qi hitam Lord Hitam dalam pertempuran diam-diam di dalam tubuh Xiao Yu'er. Keringat mulai mengalir di pelipis Tianji. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap mantap.
"Tianji-gege!" Yue'er kembali, membawa kain dan air. Saat melihat wajah Tianji yang pucat, ia hampir menjatuhkan semuanya. "Kau… kau baik-baik saja?"
"Tenang," kata Tianji, suaranya serak. "Aku masih kuat."
Tapi Yue'er bukan anak kecil yang mudah dibohongi. Ia bisa melihat bahwa Tianji memaksakan diri. Transfer Qi adalah proses yang melelahkan, dan Tianji melakukannya pada seseorang yang tubuhnya dipenuhi racun Qi hitam.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantu?" tanya Yue'er.
"Basahi kain itu dan letakkan di kening Xiao Yu'er. Tubuhnya panas karena Qi-ku dan Qi hitam bertarung di dalam."
Yue'er melakukan apa yang diperintahkan. Saat kain basah menyentuh kening Xiao Yu'er, pemuda itu tiba-tiba mengerang, matanya setengah terbuka.
"Xiao Yu'er!" Yue'er berteriak gembira. "Kau sadar!"
Xiao Yu'er menatap ke sekeliling dengan pandangan kosong. Matanya akhirnya fokus pada Tianji yang sedang duduk di sampingnya, telapak tangan di dadanya.
"Kau… kau menyia-nyiakan tenaga dalammu…" bisik Xiao Yu'er, suaranya hampir tidak terdengar. "Untuk menyelamatkan… pengkhianat sepertiku…"
"Diam," kata Tianji, suaranya tegas. "Jangan bicara. Biarkan Qi-ku bekerja."
"Tapi… fragmen… Lord Hitam mengambilnya…"
"Aku tahu. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting kau hidup."
Xiao Yu'er menatap Tianji, dan untuk pertama kalinya, air mata mengalir di sudut matanya. Pemuda yang selalu dingin dan tanpa ekspresi itu akhirnya menunjukkan emosi — penyesalan, rasa terima kasih, dan kesedihan yang mendalam.
"Kenapa… kenapa kau menyelamatkanku? Aku sudah mengkhianatimu di Kota Lintas Angin. Aku hampir membunuhmu bersama Lady Hong. Aku…"
"Itu masa lalu," potong Tianji. "Kau sudah membayar kesalahanmu. Dan sekarang, kau hampir mati menyelamatkanku. Jadi kita berhutang budi satu sama lain. Dan hutang budi tidak akan lunas jika salah satu dari kita mati."
Xiao Yu'er tersenyum — senyum pertama yang pernah Tianji lihat di wajahnya. Senyum yang pahit, bercampur rasa sakit. "Kau… kau orang yang aneh, Tianji. Sangat aneh…"
"Aku tahu. Dan kau juga."
"Tianji-gege," Yue'er berkata dengan cemas. "Wajahmu semakin pucat. Mungkin kau harus berhenti sebentar."
"Tidak bisa. Jika aku berhenti sekarang, Qi hitam akan menyerang lagi dan menghancurkan apa yang sudah aku perbaiki."
Tianji memejamkan mata, memfokuskan seluruh konsentrasinya. Keterampilan Penyatuan Laut level 2 memungkinkannya untuk mengendalikan Qi dengan presisi yang luar biasa, tapi transfer Qi pada orang yang sekarat membutuhkan lebih dari sekadar presisi — ia membutuhkan pengorbanan.
Setiap tetes Qi yang ia transfer ke Xiao Yu'er adalah setetes tenaga hidupnya sendiri. Jika ia mentransfer terlalu banyak, ia bisa pingsan atau bahkan mengalami kerusakan permanen pada pusat tenaganya.
Tapi Tianji tidak peduli. Ia terus menyalurkan Qi-nya, memperbaiki meridian Xiao Yu'er yang rusak, membersihkan racun Qi hitam, memperkuat denyut nadinya yang lemah.
Satu jam berlalu. Dua jam. Keringat Tianji mengalir deras, jubahnya basah kuyup. Wajahnya putih seperti kertas. Tapi ia tidak berhenti.
"Tianji-gege, cukup!" Yue'er menangis. "Kau akan mati! Wajahmu sudah seperti mayat!"
"Belum… cukup…" Tianji terbatuk. "Masih ada… satu meridian lagi…"
"Aku tidak peduli! Hentikan!"
Tapi Tianji tidak mendengarkan. Dengan kekuatan terakhirnya, ia menyalurkan Qi ke meridian terakhir Xiao Yu'er — meridian jantung. Saat Qi itu menyentuh jantung Xiao Yu'er, tubuh pemuda itu berguncang hebat, lalu diam.
Yue'er menutup mulutnya dengan tangan, takut yang terburuk.
Tapi kemudian — napas Xiao Yu'er kembali. Lebih kuat, lebih teratur. Wajahnya yang tadinya pucat pasi mulai memerah sedikit. Dadanya naik turun dengan ritme yang normal.
"Dia… dia selamat?" bisik Yue'er.
Tianji tersenyum lemah. Tangannya lepas dari dada Xiao Yu'er, dan ia jatuh ke belakang, seluruh tubuhnya lemas.
"Tianji-gege!" Yue'er menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai batu. "Tianji-gege!"
"Aku… hanya lelah…" bisik Tianji. "Biarkan aku… tidur sebentar…"
"Jangan tidur! Tianji-gege, jangan tidur!"
Tapi Tianji sudah tidak mendengarnya. Matanya terpejam, tubuhnya lemas di pelukan Yue'er. Napasnya lemah tapi stabil — ia hanya pingsan karena kelelahan, bukan karena cedera serius.
Tapi bukan hanya kelelahan biasa yang Tianji rasakan. Ia telah mentransfer lebih dari setengah cadangan Qi-nya ke Xiao Yu'er, sesuatu yang dalam dunia persilatan dianggap sebagai tindakan nekat. Banyak pendekar yang mengalami kemunduran ilmu permanen setelah melakukan transfer Qi sebanyak itu. Tapi Tianji tidak menyesal.
"Dia masih hidup," bisik Yue'er, setelah memeriksa napas Xiao Yu'er untuk kesekian kalinya. "Tapi Tianji-gege…" Ia menatap Tianji yang pucat. "Kau hampir mati untuk menyelamatkannya."
"Tapi aku tidak mati," Tianji tersenyum, meskipun senyumnya tampak dipaksakan. "Dan dia juga tidak mati. Itu yang penting."
Yue'er menggeleng-gelengkan kepala. "Kadang-kadang aku tidak mengerti kau, Tianji-gege. Kau terlalu baik untuk dunia ini."
"Atau mungkin terlalu bodoh," sahut Tianji, lalu tertawa kecil.
Yue'er duduk di lantai ruangan bawah tanah itu, memeluk Tianji, menangis dalam diam. Di sampingnya, Xiao Yu'er perlahan-lahan sadar. Ia membuka matanya dan melihat pemandangan itu — Tianji pingsan di pelukan Yue'er, dan Yue'er menangis.
Xiao Yu'er mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terlalu lemah. Ia hanya bisa berbaring, menatap langit-langit batu di atasnya.
"Aku… tidak pantas…" bisiknya.
Yue'er menoleh. Matanya merah. "Apa?"
"Aku tidak pantas diselamatkan. Aku sudah melakukan terlalu banyak kejahatan. Tapi dia…" Xiao Yu'er menatap Tianji. "Dia percaya padaku. Bahkan setelah aku mengkhianatinya."
"Itu karena Tianji-gege adalah orang yang baik," kata Yue'er, suaranya serak. "Dia melihat kebaikan dalam dirimu yang bahkan kau sendiri tidak lihat."
"Aku tidak punya kebaikan."
"Kau rela mati untuknya. Itu kebaikan."
Xiao Yu'er terdiam. Ia tidak bisa membantah.
Mereka bertiga tetap di ruangan itu selama beberapa jam. Yue'er menjaga api tetap menyala dengan kayu-kayu kering yang ia kumpulkan dari reruntuhan. Xiao Yu'er perlahan pulih, dan Tianji… Tianji masih tertidur lelap.
Saat malam tiba, Tianji akhirnya membuka matanya. Ia melihat Yue'er yang duduk di sampingnya, matanya setengah terpejam karena kantuk. Di seberang, Xiao Yu'er duduk bersila, mencoba memulihkan tenaga dalamnya.
"Hei," panggil Tianji lemah.
Yue'er tersentak kaget, lalu wajahnya berbinar. "Tianji-gege! Kau sadar! Syukurlah!"
"Aku kira aku akan tidur lebih lama," Tianji tertawa kecil, lalu meringis karena seluruh tubuhnya sakit. "Berapa lama aku pingsan?"
"Beberapa jam. Kau benar-benar bodoh, kau tahu? Hampir mati untuk menyelamatkan orang yang pernah mengkhianatimu."
"Bukan bodoh. Tapi setia pada prinsip."
Xiao Yu'er membuka matanya. "Terima kasih." Dua kata sederhana, tapi diucapkan dengan penuh perasaan. "Aku tidak akan melupakan ini."
"Kau tidak perlu berterima kasih," kata Tianji, mencoba duduk. "Kita kawan. Itu yang dilakukan kawan."
"Kawan…" Xiao Yu'er mengulangi kata itu seolah-olah baru pertama kali mendengarnya. "Aku tidak pernah punya kawan sebelumnya. Hanya atasan dan bawahan."
"Sekarang kau punya."
Keheningan mengisi ruangan itu, tapi bukan keheningan yang canggung. Ada kehangatan di dalamnya, persahabatan yang baru lahir dari api pertempuran dan pengorbanan.
Tapi saat Tianji meraba dadanya yang kosong — tempat fragmen ketiga seharusnya berada — ia kembali diingatkan pada kenyataan pahit. Lord Hitam telah mengambil fragmen itu. Dan Lord Hitam masih di luar sana, semakin kuat.
"Kita harus kembali ke Istana Pangeran Ning," kata Tianji akhirnya. "Lord Hitam sekarang memiliki tiga fragmen. Jika ia mendapatkan fragmen keempat…"
"Bagaimana dengan gurumu?" tanya Yue'er.
"Xuan Qingzi…" Tianji menggenggam tinjunya. "Lord Hitam mungkin sudah menculiknya. Atau mungkin Guruku masih bersembunyi. Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, kita tidak bisa tinggal diam."
Malam semakin larut. Di luar reruntuhan, angin malam berdesir membawa kabut dingin. Tapi di dalam hati Tianji, api tekad berkobar lebih terang dari sebelumnya. Ia telah kehilangan fragmen ketiga, tapi ia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga — persahabatan sejati dan pelajaran tentang pengorbanan.
Dan dengan itu, ia akan terus berjuang.
— BERSAMBUNG —