Udara pagi di Distrik Timur asrama murid luar terasa lembap oleh embun yang membeku di atap-atap kayu. Li Feng bangun sebelum bel perunggu sekte berbunyi. Ia duduk bersila, menyelesaikan siklus terakhir dari Seni Menelan Semesta versi penyamaran. Di sekelilingnya, murid-murid lain mulai menggeliat bangun, namun suasana di kamar 109 masih sangat canggung. Gao, yang semalam dibuat tidak berdaya, tidak berani menatap mata Li Feng saat mereka bersiap.
Di lapangan utama, seorang instruktur berpakaian abu-abu tua dengan wajah sekaku batu menunggu mereka. Namanya adalah Instruktur Han, seorang pendekar Ranah Inti Bumi Tingkat 9 yang dikenal karena ketegasannya.
“Hari ini adalah ujian pertama bagi kalian para sampah baru!” suara Han menggelegar. “Kalian akan dikirim ke Hutan Kabut Hitam di kaki gunung untuk mengumpulkan Tanaman Embun Beracun. Setiap orang harus membawa minimal sepuluh batang. Jika kurang, jatah makan kalian akan dipotong selama sebulan. Dan ingat, hutan itu dihuni oleh monster peringkat 4. Bekerja samalah, atau kalian akan pulang hanya tinggal nama.”
Li Feng dimasukkan ke dalam kelompok yang sama dengan Gao dan tiga murid lainnya: seorang pemuda licik bernama Wu, serta dua saudara kembar, Chen dan Lin. Mereka semua menatap Li Feng dengan campuran rasa takut dan dendam yang tersembunyi.
“Dengar, Feng,” kata Wu saat mereka mulai memasuki hutan yang tertutup kabut tebal itu. “Mungkin semalam kau beruntung melawan Gao, tapi di hutan ini, kekuatan fisik tidak berguna jika kau tidak tahu medannya. Kau tetaplah ‘Si Rumput Liar’. Tetaplah di belakang dan bawa tas kami.”
Li Feng hanya diam, berjalan paling belakang dengan caping yang menutupi wajahnya. Ia tidak peduli dengan hinaan mereka. Indra penciumannya jauh lebih tajam dari siapa pun di kelompok itu. Ia bisa merasakan energi kehidupan yang bergejolak di balik pepohonan—monster-monster itu sedang mengawasi mereka.
Semakin dalam mereka masuk, kabut semakin pekat, berubah dari putih menjadi kelabu tua yang berbau belerang.
“Aku menemukannya!” seru Chen sambil menunjuk ke arah sekumpulan tanaman bercahaya ungu di bawah sebuah akar pohon besar.
Saat mereka bergegas mendekat, Li Feng tiba-tiba berhenti. Ia merasakan getaran aneh di bawah tanah. Pedang hitam di punggungnya berdenyut panas, memberikan peringatan.
“Berhenti!” teriak Li Feng.
“Apa lagi, sampah? Kau hanya ingin mencuri tanaman ini?” ejek Gao, mencoba menunjukkan keberaniannya kembali.
Namun, sebelum Gao bisa menyentuh tanaman itu, tanah di bawah mereka meledak. Seekor Klipan Tanah Raksasa sepanjang sepuluh meter melesat keluar. Kulitnya yang bersisik keras berwarna hitam legam memancarkan aroma busuk, dan ribuan kakinya tajam seperti pedang baja.
SHRIIIIEEEKKK!
Monster peringkat 4 itu mengibaskan ekornya, menghantam Chen dan Lin hingga terpental menabrak pohon. Wu berteriak ketakutan dan segera melarikan diri, sementara Gao mematung, kakinya gemetar melihat rahang monster itu yang siap melahapnya.
“Sial!” Li Feng menggerutu. Ia tahu jika ia menggunakan kekuatan aslinya, instruktur yang mengawasi dari kejauhan mungkin akan menyadarinya. Namun, jika ia diam saja, Gao akan hancur menjadi bubur.
Li Feng melesat maju. Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menggunakan sebuah ranting pohon yang ia temukan di tanah. Ia menyalurkan Qi ungu yang sangat tipis ke ranting itu agar terlihat seperti teknik pedang biasa.
TAK!
Ranting itu menghantam mata monster tersebut dengan akurasi yang mustahil. Monster itu meraung kesakitan, memutar tubuhnya ke arah Li Feng.
“Gao! Bawa yang lain pergi dari sini!” perintah Li Feng tanpa menoleh.
“Tapi… kau hanya tingkat 1!” Gao tergagap.
“PERGI SEKARANG!” Li Feng melepaskan sedikit tekanan auranya, membuat Gao secara insting segera menyeret tubuh Chen dan Lin yang terluka menjauh dari area tersebut.
Setelah mereka cukup jauh, Li Feng akhirnya berdiri tegak. Ia melepaskan capingnya, memperlihatkan mata hitamnya yang kini telah berubah menjadi ungu gelap yang mengerikan. Kabut di sekelilingnya tiba-tiba tertarik masuk ke dalam tubuhnya, menciptakan area hampa udara yang jernih di sekitarnya.
“Ayo, serangga besar. Kau memiliki inti energi yang cukup manis untuk sarapanku,” bisik Li Feng.
Monster itu menyerang lagi dengan kecepatan tinggi. Li Feng melompat, kakinya menginjak kepala monster itu. Ia menempelkan telapak tangannya ke cangkang keras di punggung monster tersebut.
“SENI MENELAN SEMESTA: PENGHISAP SUMSUM!”
Tiba-tiba, monster itu berhenti bergerak. Ia mengeluarkan suara rintihan yang menyayat hati. Seluruh cairan tubuh, darah, dan energi intinya tersedot keluar melalui pori-pori kulitnya, mengalir langsung ke tangan Li Feng. Dalam hitungan detik, monster peringkat 4 yang ditakuti itu mulai mengerut, menyusut, hingga akhirnya hanya menjadi cangkang kering yang hancur menjadi debu saat tertiup angin.
Li Feng mendarat dengan anggun. Ia merasakan aliran energi segar mengalir di Dantiannya.
[Status: Ranah Inti Bumi Tingkat 8 – 90% Menuju Terobosan]
Ia segera merapikan penampilannya, memakai kembali capingnya, dan menyebarkan sisa-sisa tanaman Embun Beracun di sekitarnya agar terlihat seolah-olah pertempuran itu hanyalah keberuntungan.
Namun, di balik sebuah pohon besar, sesosok bayangan sedang mengamatinya. Itu adalah Putri Su, yang secara diam-diam mengikuti kelompok murid luar paling bermasalah. Ia menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir. Matanya yang indah membelalak tak percaya.
“Teknik itu… itu bukan teknik manusia,” bisik Putri Su pada dirinya sendiri. “Dia memakan monster hidup-hidup. Dan aura itu… sangat mirip dengan legenda Penguasa Kehampaan yang pernah diceritakan kakekku.”
Putri Su tidak segera muncul. Ia justru tersenyum licik. “Menarik. Jika aku melaporkannya sekarang, dia akan dibunuh oleh sekte. Tapi jika aku menjadikannya pionku… aku bisa menggunakannya untuk menggulingkan faksi ayahku yang korup.”
Li Feng kembali ke kelompoknya dengan sepuluh batang tanaman di tangan. Gao dan yang lainnya menatapnya dengan pandangan yang benar-benar berbeda. Ketakutan mereka kini telah berubah menjadi rasa hormat yang mendalam, meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Feng… kau… kau menyelamatkan kami,” kata Gao pelan saat mereka berjalan kembali ke gerbang sekte.
“Anggap saja kita impas untuk kejadian di asrama semalam,” jawab Li Feng dingin. “Dan ingat satu hal: jangan katakan sepatah kata pun tentang bagaimana monster itu mati. Katakan saja dia pergi setelah matanya terluka. Jika kalian bicara, aku akan memastikan lidah kalian adalah hal pertama yang kutelan.”
Mereka semua mengangguk serentak dengan wajah pucat.
Malam harinya di asrama, Li Feng duduk menyendiri di balkon. Ia mengeluarkan liontin gioknya. Kerinduan pada Yue Er semakin menusuk. Ia membayangkan Yue Er sedang meracik obat di Lembah Persik, menunggunya kembali.
“Yue Er… dunia ini semakin gelap. Orang-orang di sini penuh dengan kepalsuan,” gumam Li Feng.
Tiba-tiba, sebuah suara halus terdengar dari atap di atasnya.
“Sangat manis melihat seorang monster merindukan kekasihnya.”
Li Feng segera mencabut pedang hitamnya setengah inci, menciptakan suara logam yang tajam. Ia menatap ke atas dan melihat Putri Su duduk dengan anggun di atas genteng, membiarkan rambut ungu panjangnya tergerai ditiup angin malam.
“Putri Su,” kata Li Feng, suaranya tetap tenang namun waspada. “Apa yang membawa seorang murid inti ke Distrik Timur yang kotor ini?”
Putri Su melompat turun, mendarat dengan ringan hanya dua langkah di depan Li Feng. Ia tidak memancarkan niat membunuh, melainkan sebuah pesona yang bisa melelehkan hati pria mana pun—kecuali Li Feng.
“Aku melihatmu di hutan tadi, ‘Feng’,” kata Putri Su sambil menekankan nama samarannya. “Atau haruskah aku memanggilmu Li Feng, sang penghancur Sekte Pedang Darah di Selatan?”
Li Feng menyipitkan mata. Tekanan di sekitarnya seketika menjadi berat. “Kau sangat berani datang sendirian setelah tahu siapa aku.”
“Aku tidak datang untuk bertarung,” Putri Su mengangkat tangannya dengan santai. “Aku datang untuk menawarimu kesepakatan. Aku tahu kau menyusup ke sini untuk mencari sesuatu di Perpustakaan Terlarang. Aku bisa memberimu akses ke sana. Sebagai imbalannya, kau harus membantuku membunuh salah satu Tetua Agung yang memegang kendali atas penjara bawah tanah.”
Li Feng menatap mata Putri Su, mencoba mencari kebohongan. “Mengapa kau ingin membunuh Tetuamu sendiri?”
“Karena dia memegang kunci rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Lembah Persik lima puluh tahun yang lalu. Kau pikir Yue Er dan gurunya berada di sana karena pilihan? Mereka adalah pelarian dari sekte ini, Li Feng. Gurunya adalah mantan permaisuri yang dikhianati.”
Jantung Li Feng berdegup kencang. Rahasia masa lalu Yue Er? Inilah yang ia cari. Selama ini Yue Er tidak pernah menceritakan asal-usul gurunya secara detail.
“Bagaimana aku bisa mempercayaimu?” tanya Li Feng.
Putri Su melemparkan sebuah medali emas padanya. “Itu adalah medali akses perpustakaan tingkat 2. Gunakan besok malam. Jika aku mengkhianatimu, kau bisa menggunakan teknik ‘menelan’ itu padaku. Aku tahu aku tidak akan bisa menahannya.”
Putri Su berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan aroma parfum mawar yang mahal.
Li Feng menggenggam medali itu erat-erat. Ia tahu ini adalah perangkap, atau setidaknya sebuah permainan politik yang sangat berbahaya. Namun, demi mendapatkan kebenaran untuk Yue Er, ia bersedia berjalan di atas mata pedang.
“Yue Er… sepertinya aku akan segera membawamu pulang dengan cara yang tidak pernah kau bayangkan,” bisik Li Feng.
Ia kembali duduk bermeditasi. Energi dari klipan tanah tadi mulai sepenuhnya menyatu dengan Inti Bumi-nya. Cahaya ungu di Dantiannya kini berputar sangat cepat, membentuk pusaran yang semakin padat.
[PROSES TEROBOSAN DIMULAI] [TARGET: RANAH INTI BUMI TINGKAT 9]
Li Feng membiarkan energinya meledak di dalam tubuhnya sendiri, menahan rasa sakitnya dalam diam. Di tengah kegelapan asrama murid luar, seorang raksasa sedang bersiap untuk membuka matanya dan menghancurkan kemunafikan yang telah berdiri selama berabad-abad.
Kesetiaannya adalah pedangnya, dan cintanya adalah perisainya. Di bab-bab mendatang, Li Feng tidak hanya akan menjadi murid luar, ia akan menjadi badai yang meruntuhkan Sekte Dewa Langit dari dalam.