Udara pagi di kaki Gunung Dewa Langit tidak hanya dingin, tetapi juga terasa berat oleh konsentrasi Qi yang sangat padat. Bagi banyak orang, ini adalah tempat suci, namun bagi Li Feng, setiap embusan napas di sini terasa seperti menghirup udara di dalam kandang harimau. Ia berdiri di tengah lautan manusia, ribuan pemuda dari berbagai penjuru benua yang berharap bisa mengubah nasib mereka.
Di tengah alun-alun yang dilapisi giok putih, berdiri sebuah artefak raksasa setinggi lima meter. Itulah Cermin Pencari Jiwa, sebuah pusaka tingkat tinggi yang telah diberkati oleh para leluhur Sekte Dewa Langit. Permukaannya tidak terbuat dari kaca, melainkan dari perunggu kuno yang memancarkan cahaya keemasan yang berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri.
Li Feng menarik caping bambunya lebih rendah. Di balik jubah abu-abu kusamnya, tangannya menggenggam erat liontin giok pemberian Yue Er. Ia bisa merasakan pedang hitam di punggungnya bergetar gelisah. Pedang itu membenci cahaya suci dari cermin tersebut, sebuah insting purba antara kegelapan dan cahaya yang saling menolak.
“Tenanglah…” bisik Li Feng dalam batin, menyalurkan sedikit kesadarannya untuk menekan gejolak pedangnya. “Jika kau meledak sekarang, kita tidak akan pernah bisa membalas rasa sakit yang mereka berikan pada Lembah Persik.”
“Selanjutnya! Tang Long dari Klan Tang!” teriak seorang penguji berpakaian biru dengan sulaman awan perak.
Seorang pemuda sombong maju ke depan. Saat ia berdiri di hadapan cermin, permukaan perunggu itu bersinar terang, menampilkan siluet seekor harimau api yang mengaum.
“Bakat: Kelas Bumi Tingkat Rendah! Ranah: Aliran Qi Tingkat 9! Lulus sebagai Murid Dalam!”
Sorak-sorai pecah. Tang Long berjalan dengan dada membusung, melirik remeh ke arah peserta lain. Di Benua Pusat, bakat dikategorikan menjadi kelas Manusia, Bumi, Langit, dan Surgawi. Kelas Bumi sudah dianggap sebagai jenius di kota-kota besar.
Antrean perlahan menyusut hingga akhirnya suara penguji meneriakkan nama samarannya.
“Nomor 483! Feng! Dari Wilayah Selatan!”
Nama “Wilayah Selatan” memancing tawa kecil dan bisik-bisik dari kerumunan. Bagi orang-orang Benua Pusat, Wilayah Selatan adalah tempat terbelakang yang hanya menghasilkan pendekar kelas dua.
Li Feng melangkah maju dengan tenang. Setiap langkahnya terukur, tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun. Saat ia berdiri tepat di hadapan Cermin Pencari Jiwa, ia merasakan sebuah gelombang energi tak kasat mata menyapu seluruh tubuhnya, mencoba menembus ke dalam Dantiannya untuk melihat apa yang tersembunyi di sana.
Sekarang!
Li Feng segera mengaktifkan teknik Penyegelan Kehampaan yang telah ia latih selama perjalanan. Ia tidak mencoba melawan energi cermin tersebut, melainkan ia membayangkan Dantiannya sebagai sebuah kolam air yang sangat jernih dan dangkal. Di dasar kolam itu, ia mengubur Inti Bumi-nya yang berwarna ungu-hitam di dalam lapisan Qi transparan yang sangat tipis. Ia menekan seluruh aura Seni Menelan Semesta hingga menjadi sekecil debu.
Cermin Pencari Jiwa mulai bergetar. Permukaannya berubah dari keemasan menjadi abu-abu kusam, lalu kembali keemasan. Para penguji mengernyitkan dahi. Biasanya, cermin itu akan segera menunjukkan hasil. Namun, pada Li Feng, cermin itu seolah-olah sedang kebingungan mencari sesuatu yang tidak ada.
Deg. Deg. Deg.
Jantung Li Feng berdegup kencang. Jika cermin ini mendeteksi setitik saja energi dari Pedang Pemakan Jiwa, identitasnya sebagai buronan nomor satu akan terbongkar. Di saat kritis itu, ia menyentuh liontin gioknya melalui saku jubah. Rasa hangat dari Yue Er mengalir, memberikan ketenangan yang luar biasa.
Cahaya hijau pucat akhirnya terpancar dari permukaan cermin. Tidak ada siluet naga, tidak ada harimau. Hanya sebuah gambar samar berbentuk sebatang rumput liar yang tertiup angin.
“Hasil: Bakat Kelas Manusia Tingkat Rendah,” penguji itu mengumumkan dengan nada bosan. “Ranah: Inti Bumi Tingkat 1. Status: Lulus secara marginal sebagai Murid Luar.”
Gelak tawa meledak dari arah penonton.
“Hahaha! Bakat rumput liar? Dan dia sudah di Ranah Inti Bumi? Dia pasti menggunakan banyak obat-obatan murahan untuk memaksakan tingkatannya. Masa depannya sudah habis!” ejek seorang peserta.
Li Feng tidak menanggapi. Ia justru merasa lega. Menjadi “sampah” di mata mereka adalah perisai terbaiknya. Di tempat di mana semua orang haus akan pengakuan, menjadi seseorang yang tidak dianggap akan memberinya kebebasan untuk bergerak di dalam bayang-bayang.
Ia menerima lencana kayu tanda Murid Luar dan berjalan menuju gerbang samping. Namun, saat ia melangkah, indranya menangkap sebuah tatapan tajam dari atas balkon istana.
Di sana, berdiri seorang gadis muda mengenakan gaun sutra ungu yang sangat mewah, dengan mahkota kecil yang menandakan statusnya sebagai Putri Su, salah satu jenius paling berbakat dari Sekte Dewa Langit. Di sampingnya berdiri seorang Tetua yang auranya sangat kuat, mungkin sudah mencapai tahap menengah Ranah Manifestasi Roh.
“Tetua Lin, apakah kau melihat itu?” tanya Putri Su, suaranya jernih namun dingin.
“Melihat apa, Tuan Putri?”
“Cermin itu. Ia bergetar sesaat sebelum menunjukkan hasil ‘Bakat Manusia’. Itu sangat jarang terjadi. Pemuda itu… meskipun auranya lemah, tatapan matanya terlalu tenang untuk seseorang yang hanya memiliki bakat sebatang rumput,” Putri Su menyipitkan matanya, menatap punggung Li Feng yang menjauh.
“Mungkin dia hanya memiliki kemauan yang kuat, Tuan Putri. Dunia ini penuh dengan pendekar keras kepala yang tidak menyadari batas kemampuan mereka,” jawab Tetua Lin meremehkan.
“Mungkin. Tapi awasi dia. Masukkan dia ke asrama Distrik Timur, tempat para murid senior yang paling kasar berada. Jika dia memiliki rahasia, tekanan di sana akan memaksanya untuk menunjukkannya.”
Li Feng tiba di Distrik Timur asrama Murid Luar saat matahari mulai terbenam. Tempat ini jauh dari kemewahan yang ia lihat di alun-alun. Bangunan-bangunannya terbuat dari kayu tua yang sudah mulai lapuk, dan udara di sini berbau keringat serta minyak senjata.
Begitu ia melangkah masuk ke asrama nomor 109, ia disambut oleh lima orang pemuda yang sedang duduk melingkar sambil memoles pedang mereka. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh besar dengan bekas luka di dahinya bernama Gao, berdiri dan menghalangi jalan Li Feng.
“Jadi, kau adalah ‘Si Rumput Liar’ yang baru itu?” Gao tertawa, diikuti oleh rekan-rekannya. “Dengar, anak baru. Di Distrik Timur, ada aturan sederhana. Setiap Murid Luar yang baru masuk harus menyerahkan seluruh jatah batu energi mereka selama tiga bulan pertama kepada kami sebagai ‘biaya perlindungan’.”
Li Feng menatap Gao dengan datar. “Aku tidak punya batu energi. Dan jika aku punya, aku tidak berniat memberikannya pada orang yang bahkan tidak bisa menjaga kebersihan kamarnya sendiri.”
Suasana kamar seketika menjadi sunyi. Empat murid lainnya berdiri, wajah mereka dipenuhi amarah.
“Kau punya nyali, hah?!” Gao mencengkeram kerah baju Li Feng. “Kau pikir karena kau sudah mencapai Ranah Inti Bumi, kau bisa bersikap sombong? Kami semua di sini adalah Tingkat 3 dan 4! Kami akan menghancurkan tulang-tulangmu!”
Gao melayangkan tinjunya yang dilapisi energi api ke arah wajah Li Feng.
Li Feng tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menggerakkan kepalanya sedikit untuk menghindari tinju itu, lalu dengan gerakan yang sangat halus, ia menyentuh pergelangan tangan Gao.
“Seni Menelan: Sentuhan Hening.”
Dalam sekejap, api di tangan Gao padam. Gao merasakan sebuah tarikan vakum yang mengerikan dari titik nadinya. Seluruh energi di lengannya seolah-olah disedot masuk ke dalam lubang hitam. Ia mencoba berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan karena rasa lemas yang tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya.
Li Feng melepaskan cengkeramannya sebelum seluruh Qi Gao habisβia tidak ingin menarik perhatian Tetua patroli di malam pertama. Gao jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar hebat.
“Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak murid lainnya yang hendak menyerang.
Li Feng melirik mereka dengan mata hitamnya yang kini sedikit memancarkan aura ungu. “Aku hanya menyarankan agar kalian kembali ke tempat tidur masing-masing. Aku sedang lelah, dan kesabaranku jauh lebih tipis daripada jubah yang kupakai.”
Ketakutan yang tak dapat dijelaskan menyelimuti mereka semua. Mereka melihat Gao, yang merupakan yang terkuat di antara mereka, kini tampak seperti ayam yang ketakutan. Tanpa bicara lagi, mereka semua kembali ke tempat tidur mereka masing-masing dalam keheningan yang mencekam.
Li Feng berjalan menuju tempat tidur paling pojok yang berdebu. Ia membersihkannya sebentar, lalu duduk bersila. Ia mengeluarkan liontin gioknya, menggenggamnya erat. Di dalam kepalanya, ia membayangkan Yue Er sedang tersenyum padanya di bawah pohon persik.
“Malam pertama berhasil dilewati, Yue Er,” bisik Li Feng dalam hati. “Sekte ini sangat busuk dari akarnya. Semakin aku melihat ke dalam, semakin aku merasa bahwa keputusanku untuk menghancurkannya adalah hal yang benar.”
Ia memejamkan matanya, mulai menyerap energi murni yang melimpah di Gunung Dewa Langit. Meskipun ia menggunakan teknik penyegelan, pori-pori tubuhnya tetap bekerja seperti ribuan mulut kecil yang menghisap Qi dari udara.
[Status: Ranah Inti Bumi Tingkat 8 – Stabil]
Ia menyadari bahwa di Benua Pusat, ia bisa meningkatkan kekuatannya jauh lebih cepat. Namun, tantangan sesungguhnya bukanlah murid-murid luar ini, melainkan intrik yang dimainkan oleh orang-orang seperti Putri Su dan para Tetua yang mengawasi dari atas.
Li Feng tersenyum dingin. Biarkan mereka mengawasi. Biarkan mereka meremehkan sebatang rumput liar. Karena mereka tidak tahu, bahwa rumput liar inilah yang akan tumbuh menembus jantung istana mereka dan meruntuhkan segalanya demi cinta yang takkan pernah bisa mereka pahami.
Malam itu, Li Feng tertidur dengan pedang hitam di sampingnya. Ia siap untuk hari esok, hari di mana ia akan memulai langkah pertamanya untuk menyusup ke perpustakaan rahasia dan mencari tahu kebenaran tentang asal-usul kekuatannya dan hubungan gelap sekte ini dengan tragedi di masa lalu keluarganya.