BAB 15: CAKRAWALA BENUA PUSAT

16
Pengaturan Tampilan
A− A+
Ukuran:

Matahari terbit di Kota Langit Tiada Tara tidak lagi membawa ketakutan, melainkan harapan yang bersemi di atas reruntuhan. Namun, bagi Li Feng, ketenangan ini adalah ilusi yang berbahaya. Setelah menghancurkan Aliansi Sembilan Sungai, ia menyadari satu kebenaran pahit: selama ia hanya bertahan di sini, musuh-musuh yang lebih besar akan terus datang seperti ombak yang tak kunjung surut.

Di aula pertemuan yang kini telah direnovasi dengan marmer putih dan ukiran naga hitam, Li Feng berdiri membelakangi pintu, menatap peta besar Benua Pusat yang terbentang di dinding. Peta itu menunjukkan wilayah yang sepuluh kali lebih luas dari Provinsi Selatan, dipenuhi dengan gunung-gunung yang menembus awan dan sekte-sekte yang telah berdiri selama ribuan tahun.

“Kau benar-benar akan pergi ke sana sendirian?” suara Yue Er memecah kesunyian. Ia masuk dengan langkah ringan, membawa jubah perjalanan baru yang ia tenun dengan benang sutra pelindung Qi.

Li Feng berbalik, matanya yang tajam melunak saat melihat wajah wanita yang menjadi jangkar jiwanya. “Bukan sendirian, Yue Er. Aku membawa janji kita. Tapi ya, aku harus pergi ke jantung Sekte Dewa Langit. Jika aku tidak memotong akarnya, mereka akan terus mengirimkan racun dan pengkhianatan ke rumah kita.”

Yue Er mendekat, merapikan kerah baju Li Feng. “Aku telah menyiapkan Pil Nafas Tersembunyi. Di Benua Pusat, pendekar Ranah Manifestasi Roh tersebar seperti bintang di langit. Jika kau menggunakan Seni Menelan secara terang-terangan, kau akan diburu sebagai kultivator iblis oleh seluruh aliansi sekte benar.”

Li Feng menggenggam tangan Yue Er, merasakan cincin giok yang ia berikan masih bersinar hangat. “Aku akan menggunakan identitas baru. Seorang pendekar pengembara tanpa nama. Dan kau… kau akan menjaga kota ini bersama Si Kaki Besi dan Tabib Mu. Aku telah meninggalkan sebagian energi pedangku di formasi pusat. Jika ada bahaya besar, pedang itu akan memberitahuku secara instan.”

Perpisahan kali ini terasa lebih berat. Li Feng mencium kening Yue Er lama, menghirup aroma bunga persik yang ia tahu akan sangat ia rindukan di tanah asing nanti. Tanpa pesta pelepasan yang meriah, sang Penguasa Kehampaan itu melesat keluar dari gerbang kota saat fajar masih remang-remang, menuju arah Utara yang legendaris.


Perjalanan Melintasi Pegunungan Naga Tidur

Untuk mencapai Benua Pusat, Li Feng harus melewati Pegunungan Naga Tidur, sebuah rintangan alam yang memisahkan wilayah Selatan yang terbelakang dengan wilayah Pusat yang makmur. Pegunungan ini bukan hanya tentang tebing curam dan suhu di bawah nol derajat, tetapi juga tentang monster-monster peringkat tinggi yang energinya sangat masif.

Selama dua minggu perjalanan, Li Feng tidak lagi menahan diri. Setiap monster yang menyerangnya—mulai dari Beruang Es Kristal hingga Elang Petir Biru—semuanya berakhir menjadi nutrisi bagi Dantiannya.

“Seni Menelan: Pemurnian Alam!”

Di tengah badai salju, Li Feng duduk bersila di atas bangkai seekor Naga Tanah Peringkat 6 yang baru saja ia kalahkan. Ia tidak memakan dagingnya, melainkan menghisap inti energinya secara langsung. Energi bumi yang padat mengalir masuk ke dalam meridiannya, memperkuat struktur tulang dan ototnya hingga ke tingkat yang mustahil bagi manusia biasa.

[Status: Ranah Inti Bumi Tingkat 7 Tercapai!]

Namun, semakin kuat fisiknya, semakin berat pula beban mental yang harus ia tanggung. Pedang hitam di punggungnya mulai sering berbisik, memintanya untuk berhenti peduli pada Yue Er dan fokus pada kekuasaan mutlak.

“Lihatlah kekuatan ini, Li Feng… kau bisa menjadi dewa… mengapa kau harus terikat pada seorang wanita fana?” suara purba itu tertawa di dalam kepalanya.

Li Feng membuka matanya yang berkilat ungu. Ia mengambil liontin giok dari lehernya, menciumnya, dan seketika suara jahat itu meredup. “Kekuatan tanpa cinta hanyalah kehampaan yang tak berarti. Kau hanyalah alat, jangan coba-coba menjadi tuan,” bisik Li Feng pada pedangnya.


Tiba di Kota Perbatasan: Gerbang Langit

Setelah menempuh perjalanan ribuan mil, Li Feng akhirnya melihat kemegahan yang sebenarnya. Kota Gerbang Langit, pintu masuk pertama menuju Benua Pusat. Tembok kotanya bukan lagi terbuat dari batu, melainkan dari blok-blok giok putih yang telah diisi dengan energi perlindungan kuno. Kapal-kapal terbang bertenaga Qi meluncur di atas langit, menurunkan barang-barang mewah dari berbagai belahan dunia.

Li Feng masuk ke kota dengan menyamar sebagai pendekar pedang biasa. Ia mengenakan caping bambu yang menutupi separuh wajahnya dan membungkus pedang hitamnya dengan kain kumuh agar tidak menarik perhatian para ahli.

Di sebuah kedai arak yang ramai, Li Feng mendengarkan informasi. Di sinilah ia menyadari betapa jauhnya perbedaan antara dunianya yang lama dengan dunia ini.

“Pernahkah kalian dengar? Sekte Dewa Langit akan mengadakan turnamen terbuka untuk mencari murid inti baru,” ujar seorang pendekar muda di meja sebelah. “Pemenangnya akan mendapatkan Pil Reborn yang bisa memperkuat fondasi Dantian secara permanen.”

“Bukan hanya itu,” tambah temannya. “Kabarnya, Putri Su dari Kerajaan Pusat juga akan hadir untuk mencari pengawal pribadi. Siapa pun yang terpilih akan mendapatkan akses ke perpustakaan teknik rahasia tingkat Manifestasi Roh!”

Li Feng menyipitkan mata di balik capingnya. Turnamen terbuka? Ini adalah kesempatan terbaik untuk masuk ke dalam jantung musuh tanpa dicurigai. Jika ia bisa menjadi murid inti, ia bisa mendekati Pemimpin Sekte mereka dan mencari tahu siapa sebenarnya dalang yang memerintahkan serangan ke Lembah Persik.

Tiba-tiba, keributan pecah di depan kedai.

“Minggir, kalian sampah! Tuan Muda Tang dari Sekte Pedang Kilat ingin lewat!” teriak sekelompok pengawal berpakaian mewah.

Seorang pemuda sombong dengan jubah kuning emas berjalan masuk. Ia sengaja menabrak meja orang-orang tua dan menjatuhkan minuman mereka. Saat ia melewati meja Li Feng, ia berhenti dan menatap pedang yang terbungkus kain itu dengan jijik.

“Hei, pendekar miskin,” panggil Tuan Muda Tang. “Pedang rongsokanmu itu merusak pemandangan di kedai ini. Berikan aku satu keping emas sebagai biaya ganti rugi karena mataku harus melihat sampah sepertimu.”

Li Feng tidak bergerak. Ia terus meminum araknya dengan tenang. “Dunia ini luas, Tuan Muda. Terkadang sampah yang kau lihat adalah gunung yang tidak bisa kau daki.”

Suasana kedai seketika menjadi sunyi. Semua orang menahan napas. Berani menentang Tuan Muda Tang di Kota Gerbang Langit adalah tindakan bunuh diri.

“Kau… berani bicara begitu padaku?!” Tuan Muda Tang mencabut pedang tipisnya yang berkilau petir. “Aku akan memotong lidahmu!”

Ia menyerang dengan kecepatan kilat—sebuah teknik tingkat tinggi dari sektenya. Namun, bagi Li Feng yang telah melewati neraka pertempuran di Ibukota Darah, gerakan itu seperti siput yang merangkak.

Li Feng tidak mencabut pedangnya. Ia hanya menggunakan dua jarinya untuk menjepit ujung pedang Tuan Muda Tang yang membara dengan petir.

TING!

Seluruh energi petir di pedang itu tiba-tiba tersedot habis ke dalam jari Li Feng. Tuan Muda Tang terbelalak. Ia merasa seolah-olah seluruh tenaganya masuk ke dalam lubang hitam yang tak berdasar.

“Seni Menelan: Sentuhan Hampa,” bisik Li Feng.

KRAK!

Pedang mahal itu hancur berkeping-keping. Li Feng kemudian memberikan sentuhan ringan di dada Tuan Muda Tang, mengirimkan gelombang kejutan yang melontarkannya keluar dari kedai hingga menabrak tembok seberang jalan.

“Pergilah sebelum aku memutuskan untuk benar-benar lapar,” kata Li Feng dingin.

Para pengawal yang ketakutan segera menggendong tuannya dan melarikan diri. Li Feng meletakkan beberapa keping perak di meja dan berjalan keluar, sadar bahwa penyamarannya mungkin tidak akan bertahan lama jika ia terus bersikap seperti ini. Namun, ia tidak peduli. Kesetiaannya pada diri sendiri dan Yue Er menuntutnya untuk tidak pernah menundukkan kepala pada penindas.


Pertemuan Misterius

Saat Li Feng berjalan di gang gelap menuju penginapannya, seorang wanita berpakaian serba hitam dengan cadar ungu muncul dari bayang-bayang. Ia tidak memancarkan niat membunuh, melainkan rasa ingin tahu yang besar.

“Teknik yang sangat menarik,” kata wanita itu. Suaranya dingin namun merdu. “Menyerap energi tanpa menggunakan segel tangan… kau bukan berasal dari Benua Pusat, bukan?”

Li Feng memegang gagang pedangnya, matanya menajam. “Siapa kau?”

“Aku adalah seseorang yang juga membenci Sekte Dewa Langit,” jawab wanita itu sambil membuka cadarnya sedikit, memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulan sabit di pipinya. “Namaku adalah Yin, dari faksi Bayangan Bulan yang telah dimusnahkan oleh mereka. Aku melihat apa yang kau lakukan di kedai tadi. Kau memiliki kekuatan untuk mengguncang sekte itu, tapi kau tidak memiliki informasi.”

Yin mendekat, memberikan sebuah gulungan sutra kecil. “Jika kau ingin ikut turnamen itu, kau butuh rekomendasi. Gunakan namaku di Aula Pendaftaran esok hari. Dan hati-hati… Sekte Dewa Langit memiliki cermin pendeteksi energi iblis di gerbang turnamen. Teknikmu itu… ia berbau sangat mirip dengan sesuatu yang sangat kuno dan terlarang.”

Li Feng menerima gulungan itu. “Mengapa kau membantuku?”

Yin tersenyum sedih. “Karena musuh dari musuhku adalah temanku. Dan aku melihat di lehermu… liontin giok itu. Itu adalah buatan dari Lembah Persik. Jika kau rela menempuh ribuan mil demi wanita dari lembah itu, maka kau adalah pria yang bisa dipercaya.”

Yin menghilang kembali ke dalam bayang-bayang seolah-olah ia tidak pernah ada di sana.

Li Feng menatap gulungan di tangannya. Benua Pusat ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ada intrik, dendam lama, dan sekutu-sekutu tersembunyi.

Malam itu, Li Feng berdiri di balkon penginapannya, menatap ke arah Selatan. Di sana, di kejauhan yang tak terlihat, Yue Er mungkin sedang menatap bulan yang sama. Ia mengeluarkan cincin giok cadangan yang ia bawa, menciumnya, dan bersumpah.

“Satu tahun, Yue Er. Beri aku waktu satu tahun, dan aku akan meratakan jalan ini agar kau bisa berjalan di Benua Pusat tanpa ada satu pun pedang yang berani terhunus padamu.”

Dengan dukungan tak terlihat dari Yin dan kekuatan yang terus tumbuh di dalam dirinya, Li Feng siap menghadapi ujian turnamen di hari esok. Ia bukan lagi hanya seorang pemuda yang ingin balas dendam; ia adalah badai yang sedang bersiap untuk menelan tirani.

[Status: Ranah Inti Bumi Tingkat 8 Tercapai – Melalui asimilasi energi petir Tuan Muda Tang]

Langkah kakinya di atas lantai kayu terdengar mantap. Babak baru di Benua Pusat baru saja dimulai, dan dunia belum tahu apa yang akan terjadi ketika Kehampaan memutuskan untuk beraksi.