Malam di Gunung Dewa Langit tidak pernah benar-benar sunyi. Di antara desis angin yang melewati celah-celah paviliun megah, terdengar dengungan formasi sihir yang terus berputar, menjaga kesucian sekte penguasa benua ini. Li Feng berdiri di ambang jendela asramanya, menatap medali emas pemberian Putri Su yang berkilau dingin di bawah cahaya bulan. Medali itu terasa berat, bukan karena logamnya, melainkan karena konsekuensi yang dibawanya.
Li Feng melirik ke arah tempat tidur rekan-rekan sekamarnya. Gao dan yang lainnya sudah tertidur lelap, nafas mereka teratur, menunjukkan bahwa tekanan mental yang ia berikan tempo hari masih membekas dalam bentuk kepatuhan yang bisu. Dengan gerakan seringan kucing, Li Feng melompat keluar jendela, menyatu dengan bayang-bayang pepohonan pinus.
Perjalanan menuju Perpustakaan Terlarang adalah tarian di atas mata pedang. Li Feng harus melewati tiga lapis pos penjagaan murid inti dan serangkaian sensor energi yang sangat sensitif. Namun, bagi seseorang yang memiliki Seni Menelan Semesta, energi bukanlah penghalang, melainkan sesuatu yang bisa dimanipulasi.
“Seni Menelan: Aura Kehampaan,” bisik Li Feng.
Seketika, ia menyerap semua suara dan cahaya di sekitar tubuhnya dalam radius sepuluh sentimeter. Di mata para penjaga yang lewat, Li Feng hanyalah distorsi udara yang tak terlihat, sebuah lubang kecil di dalam realitas yang terlewatkan oleh mata manusia.
Bangunan perpustakaan itu berdiri di atas tebing curam, sebuah menara berbentuk segi delapan yang dikelilingi oleh air terjun yang mengalir ke atas—sebuah keajaiban gravitasi yang diciptakan oleh para ahli Ranah Keabadian di masa lalu. Li Feng menggunakan medali emas Putri Su pada segel gerbang samping.
Klik.
Pintu batu berat itu terbuka dengan suara gesekan halus. Di dalamnya, udara terasa sangat kering dan dipenuhi aroma kertas tua serta tinta sihir yang menyengat. Ribuan rak buku menjulang hingga ke langit-langit yang gelap, menyimpan rahasia dari ribuan tahun sejarah persilatan.
Li Feng segera bergerak menuju lantai kedua, area yang dikhususkan untuk sejarah sekte dan catatan faksi-faksi yang telah dimusnahkan. Indranya yang tajam menuntunnya ke sebuah rak yang tersembunyi di balik tirai debu yang sangat tebal.
Ia menarik sebuah gulungan sutra berwarna hitam yang sudah mulai lapuk. Judulnya tertulis dalam tinta emas yang pudar: “Tragedi Lembah Persik: Pembersihan Internal dan Pengkhianatan Permaisuri Mu.”
Jantung Li Feng berdegup kencang. Ia segera membuka gulungan itu.
Isinya menceritakan tentang lima puluh tahun yang lalu, ketika Sekte Dewa Langit dipimpin oleh seorang pemimpin yang bijaksana, dan di sampingnya adalah Permaisuri Mu (Guru Yue Er), seorang tabib jenius yang memegang rahasia Pil Kehidupan Abadi. Namun, seorang Tetua Agung yang haus kekuasaan—Tetua Cang, orang yang sama yang disebutkan Putri Su—merancang konspirasi besar. Ia memfitnah Permaisuri Mu telah meracuni suaminya sendiri demi menguasai sekte.
Dalam semalam, Lembah Persik yang asli di pusat benua dibantai habis. Permaisuri Mu berhasil melarikan diri ke Wilayah Selatan yang terpencil dengan membawa seorang bayi perempuan yang baru lahir… bayi itu adalah Yue Er.
Li Feng mengepalkan tinjunya hingga darah merembes dari sela-sela jarinya. “Jadi selama ini… Yue Er adalah putri dari pemimpin sah sekte ini? Dan mereka memburunya hanya untuk mematikan garis keturunannya serta mencuri resep pil gurunya?”
Kemarahan Li Feng mulai bergejolak, memicu pedang hitam di punggungnya untuk bergetar hebat. Aura ungu mulai merembes keluar dari tubuhnya, hampir saja menghancurkan teknik penyamarannya.
“Berhenti, bocah. Jika kau meledak sekarang, kau akan mati sebelum bisa membalaskan dendamnya,” sebuah suara dingin terdengar dari balik deretan rak buku.
Li Feng segera berputar, pedang hitamnya sudah terhunus setengah jalan. Namun, ia berhenti saat melihat siapa yang berdiri di sana. Bukan Putri Su, melainkan seorang pria tua yang sangat bungkuk dengan sapu di tangannya. Pria itu tampak sangat lemah, namun mata kirinya yang buta memancarkan aura yang membuat Li Feng merasa seolah-olah seluruh kekuatannya sedang ditimbang.
“Siapa kau?” tanya Li Feng, suaranya mengandung ancaman yang nyata.
“Hanya seorang tua yang sudah terlalu lama membersihkan debu di tempat ini,” jawab pria tua itu. Ia mendekat, jalannya pincang. “Kau memiliki teknik yang sangat mirip dengan pria yang dulu mendirikan perpustakaan ini. Pria yang dibunuh oleh Tetua Cang lima puluh tahun yang lalu.”
Li Feng menyipitkan mata. “Kau tahu tentang teknikku?”
“Seni Menelan Semesta… ia bukan ilmu hitam seperti yang dikatakan dunia. Ia adalah teknik pembersihan yang diciptakan untuk menjaga keseimbangan. Tapi di tangan yang salah, ia bisa menjadi bencana. Sama seperti cintamu pada gadis itu… ia bisa menjadi sumber kekuatanmu, atau ia bisa menjadi lubang kematianmu.”
Pria tua itu mengulurkan tangannya yang keriput, menyentuh gulungan hitam di tangan Li Feng. “Jika kau ingin menghancurkan Tetua Cang, kau tidak bisa hanya mengandalkan kekerasan. Dia telah mencapai Ranah Manifestasi Roh Tahap Puncak. Dengan Ranah Inti Bumi-mu saat ini, kau hanyalah seekor lalat yang mencoba menabrak gunung.”
Li Feng merasakan martabatnya tertantang, namun ia tahu pria tua ini benar. “Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak punya waktu bertahun-tahun untuk berlatih secara normal.”
Pria tua itu menunjuk ke arah bagian terdalam perpustakaan, di mana sebuah pintu besi kecil yang digembok dengan sembilan rantai berdiri. “Di balik sana ada Ruang Meditasi Kehampaan. Di dalamnya, satu hari setara dengan satu bulan di dunia luar. Namun, ruangan itu akan mencoba menelan jiwamu setiap detiknya. Jika kau gagal, kau akan menjadi bagian dari kegelapan itu selamanya.”
Li Feng menatap pintu itu. Pilihan yang sangat berat. Namun, saat ia mengingat wajah Yue Er dan ketidakadilan yang dideritanya sejak lahir, ketakutannya menguap.
“Aku akan masuk,” kata Li Feng tegas.
“Bahkan jika kau harus kehilangan ingatanmu tentang gadis itu?” pancing pria tua itu.
Li Feng tersenyum dingin. “Jika kehampaan itu bisa menghapus ingatan tentang Yue Er, maka kehampaan itu sendiri yang akan aku telan hingga habis. Cintaku tidak berada di dalam otakku untuk dihapus, ia berada di dalam jiwaku yang tidak bisa disentuh oleh teknik mana pun.”
Pria tua itu tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun yang terbakar. “Sangat sombong. Aku suka itu. Pergilah. Tapi ingat, Putri Su tidak memberimu akses ini secara cuma-cuma. Dia ingin kau menjadi pemicu kekacauan agar dia bisa naik tahta. Jangan biarkan dirimu menjadi pion selamanya.”
Dengan bantuan kunci misterius dari pria tua itu, sembilan rantai di pintu besi tersebut terbuka tanpa suara. Li Feng melangkah masuk ke dalam kegelapan total Ruang Meditasi Kehampaan. Begitu ia masuk, pintu tertutup rapat di belakangnya.
Di Dalam Ruang Meditasi Kehampaan
Li Feng merasa seolah-olah ia sedang jatuh ke dalam jurang yang tak berujung. Tidak ada gravitasi, tidak ada cahaya, tidak ada suara. Hanya ada kesunyian yang begitu pekat hingga ia mulai mendengar suara aliran darahnya sendiri yang terdengar seperti air terjun yang menderu.
Tiba-tiba, ribuan bayangan hitam muncul dari kegelapan. Mereka berbentuk seperti monster-monster yang pernah dibunuh Li Feng, namun kali ini mereka membawa wajah orang-orang yang pernah ia serap energinya. Wei Jiao, Lu Chen, Lord Bloodless—semuanya muncul sebagai hantu yang meratap.
“Berikan kembali energi kami… Pencuri! Iblis! Kau tidak lebih baik dari mereka yang kau benci!” suara-suara itu menghantam pikiran Li Feng.
Rasa sakit yang luar biasa mulai menyerang Dantiannya. Teknik Menelan miliknya mulai berontak, mencoba berbalik menyerang tubuhnya sendiri karena tidak ada target luar untuk diserap. Li Feng muntah darah ungu yang melayang di udara tanpa gravitasi.
“Diam kalian semua!” raung Li Feng. “Kalian adalah makanan yang aku pilih untuk memperkuat langkahku! Jangan berani bicara tentang moralitas kepadaku!”
Ia duduk bersila, memaksakan meditasi di tengah siksaan mental tersebut. Ia mengeluarkan liontin gioknya. Cahaya hijaunya adalah satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu. Ia memusatkan seluruh pikirannya pada kenangannya bersama Yue Er—saat pertama mereka bertemu di hutan, saat Yue Er merawat lukanya, dan saat mereka berciuman di bawah sinar bulan.
Setiap kenangan itu menjadi perisai yang mementalkan serangan hantu-hantu kehampaan.
Li Feng mulai menarik energi murni dari kegelapan ruangan itu. Ternyata, “kehampaan” ini bukanlah kekosongan, melainkan konsentrasi Qi murni yang sangat tinggi sehingga ia menelan bentuk energi lain. Bagi orang biasa, ini adalah racun. Tapi bagi Li Feng, ini adalah pesta pora.
[PROSES TEROBOSAN DIMULAI] [MENEMBUS RANAH INTI BUMI TINGKAT 9…] [10%… 30%… 70%…]
Waktu mulai melengkung. Di luar, hanya beberapa jam berlalu, namun di dalam, Li Feng sudah menghabiskan waktu setahun dalam kesunyian yang menyiksa. Rambutnya tumbuh sedikit lebih panjang, dan tatapannya menjadi lebih dalam, seolah-olah ia telah melihat kelahiran dan kematian bintang-bintang.
BOOM!
Sebuah ledakan energi dari dalam tubuhnya mengguncang Ruang Meditasi. Inti Bumi di dalam Dantiannya yang tadinya hanya berukuran kelereng, kini telah memadat dan meledak menjadi bentuk yang baru: sebuah Inti Ungu yang dikelilingi oleh cincin emas.
[Status: Ranah Inti Bumi Puncak Tercapai!] [Setengah Langkah Menuju Ranah Manifestasi Roh!]
Li Feng berdiri. Tubuhnya terasa seringan bulu namun seberat gunung di saat yang sama. Ia bisa merasakan setiap pergerakan molekul udara di luar ruangan tersebut. Pendengarannya meluas, ia bisa mendengar bisikan para murid di asrama yang jaraknya ribuan meter.
Ia berjalan menuju pintu. Dengan satu sentuhan lembut, pintu besi yang tadinya tidak bisa dibuka oleh kekuatan fisik mana pun, hancur berkeping-keping menjadi debu.
Pria tua penyapu tadi masih berdiri di sana, seolah-olah ia tidak pernah bergeser sedikit pun. Ia menatap Li Feng dan sedikit membungkukkan badannya. “Satu tahun di dalam sana, dan kau tidak kehilangan sedikit pun kemanusiaanmu. Bahkan auramu sekarang terasa lebih murni. Luar biasa.”
“Berapa lama aku di dalam?” tanya Li Feng, suaranya kini memiliki nada wibawa yang membuat udara bergetar.
“Baru empat jam di dunia luar. Fajar belum juga tiba,” jawab si tua. “Tapi kau harus segera kembali. Putri Su sudah menunggumu di dekat danau. Sepertinya Tetua Cang telah mencium adanya penyusupan di perpustakaan.”
Li Feng mengangguk. Ia menyimpan gulungan sutra hitam itu di balik jubahnya. Pengetahuan ini adalah senjata yang lebih mematikan daripada pedangnya. Ia akan memberikan keadilan pada Permaisuri Mu, dan ia akan mengembalikan Yue Er ke tempat yang seharusnya ia miliki sebagai penguasa sah sekte ini.
“Siapa namamu, Pak Tua?” tanya Li Feng sebelum ia pergi.
Pria tua itu tersenyum mistis. “Panggil saja aku Debu. Karena pada akhirnya, kita semua akan kembali menjadi itu.”
Li Feng melesat keluar, gerakannya kini jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ia tidak lagi menjadi bayangan; ia adalah kehampaan itu sendiri yang bergerak tanpa suara.
Pertemuan di Tepi Danau
Di tepi Danau Cermin Langit, Putri Su berdiri dengan cemas. Ia tampak cantik namun tegang di bawah sinar rembulan yang mulai memudar. Saat ia melihat Li Feng muncul, ia terkejut merasakan tekanan aura yang memancar dari pemuda itu.
“Kau… kau berubah hanya dalam waktu empat jam?” bisik Putri Su, matanya membelalak. “Kekuatanmu… kau sudah mencapai puncak Inti Bumi?!”
Li Feng berhenti beberapa langkah di depannya. Tatapannya membuat Putri Su secara insting ingin berlutut. “Aku sudah mendapatkan apa yang kucari. Dan aku tahu siapa kau sebenarnya, Putri Su. Kau adalah keponakan dari Tetua Cang, namun kau membencinya karena dia membunuh ibumu yang merupakan pengikut setia Permaisuri Mu. Benar?”
Putri Su gemetar. Rahasia terdalamnya terbongkar begitu saja hanya dengan satu tatapan dari Li Feng. “Bagaimana kau… ah, si tua Debu itu pasti memberitahumu.”
“Itu tidak penting,” kata Li Feng. “Kesepakatan kita tetap berlaku. Aku akan membunuh Tetua Cang. Tapi bukan untuk membantumu naik tahta. Aku akan membunuhnya untuk membersihkan jalan bagi kepulangan Yue Er. Jika kau mencoba menghalanginya nanti, kau akan menjadi orang pertama yang aku telan.”
Putri Su menelan ludah. Ia menyadari bahwa ia telah memanggil naga yang tidak bisa ia kendalikan. “Baiklah. Besok adalah Turnamen Murid Inti. Tetua Cang akan menjadi juri utama. Itu adalah kesempatanmu. Tapi kau harus melewati babak penyisihan melawan murid-murid jenius lainnya tanpa membongkar identitasmu.”
“Aku tidak butuh identitas untuk menang,” jawab Li Feng dingin. “Aku hanya butuh pedangku.”
Li Feng berbalik dan berjalan kembali ke asrama, meninggalkan Putri Su yang masih terpaku dalam ketakutan. Kesetiaannya pada Yue Er kini telah berkembang menjadi sebuah misi suci. Ia tidak lagi hanya bertarung untuk bertahan hidup; ia bertarung untuk memulihkan kehormatan wanita yang ia cintai.
Li Feng yang duduk di tempat tidurnya, menatap fajar yang mulai menyingsing. Di tangannya, liontin giok itu bersinar lebih terang dari sebelumnya, seolah merayakan kebenaran yang baru saja ditemukan.
Turnamen besok akan menjadi panggung di mana “Si Rumput Liar” akan menunjukkan pada dunia bahwa kehampaan bisa menelan cahaya yang paling terang sekalipun.