Dua hari perjalanan dari Desa Muara ke Kota Lintas Angin terasa lebih singkat kali ini. Tianji dan Yue'er berjalan dengan langkah pasti. Tidak ada keraguan di hati Tianjiโia sudah mengambil keputusan. Ia harus bertemu Lady Hong dan mendapatkan jawaban tentang MP-nya.
Kota Lintas Angin menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang biasa. Para pedagang berteriak menawarkan dagangan. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa. Seorang pemain sulap menghibur kerumunan di alun-alun.
Tianji tidak berhenti untuk menikmati pemandangan itu. Ia langsung menuju Kedai Seribu Rasa.
Lady Hong sedang duduk di meja belakang, menghitung buku catatan keuangan. Saat melihat Tianji dan Yue'er masuk, ia meletakkan pena dan tersenyum.
"Aku sudah menduga kau akan datang," kata Lady Hong tanpa basa-basi. "Duduklah."
Mereka duduk. Seorang pelayan membawakan teh melati yang harum.
"Jadi," Lady Hong memulai, "MP-mu semakin tidak terkendali?"
Tianji mengangguk. "Beberapa hari yang lalu, hampir terjadi bencana. Aku hampir menenggelamkan perahu nelayan."
Lady Hong menghela napas. "Aku sudah memperingatkanmu. Semakin lama kau menunda, semakin besar risikonya."
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Tianji. Wajahnya serius. "Aku siap."
Lady Hong menatapnya lama. Matanya tajam, mencari keraguan di hati Tianji. Tapi ia tidak menemukannya.
"Ada satu cara," kata Lady Hong. "Tapi ini bukan cara yang mudah. Dan setelah kau melakukannya, kau mungkin tidak akan sama lagi."
"Apa maksud Nenek?"
Lady Hong berdiri dan berjalan ke rak buku di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah gulungan kuno yang tersembunyi di balik buku-buku lain. Gulungan itu sudah menguning, diikat dengan tali sutra merah.
"Ini adalah catatan dari pendiri aliran Penyerap Lautan yang pertama," kata Lady Hong sambil membuka gulungan itu. "Ia adalah nenek moyang dari gurumu, Xuan Qingzi. Di dalamnya tercatat rahasia terbesar dari aliran kita."
Tianji menatap tulisan kuno di gulungan itu. Aksaranya sudah usang, hampir tidak terbaca. Tapi ia bisa merasakan energi yang terpancar dari gulungan ituโenergi purba, penuh misteri.
"Apa isinya?"
"Tentang cara melepaskan MP Penyerap Lautan," jawab Lady Hong. "Caranya adalah dengan mengembalikan energi itu ke asalnyaโLautan Kabut. Kau harus memasuki dimensi itu lagi, mencari pusat Fragmen, dan melepaskan semua MP yang telah kau serap."
Yue'er terkejut. "Kembali ke Lautan Kabut? Tapi itu berbahaya!"
"Semua hal besar selalu berbahaya," kata Lady Hong. "Tapi ini satu-satunya cara."
"Mengapa harus Lautan Kabut?" tanya Tianji. "Mengapa tidak bisa di sini?"
"Karena Lautan Kabut adalah sumber dari semua MP Penyerap Lautan," jelas Lady Hong. "Di sanalah Fragmen-fragmen itu pertama kali terbentuk. Energi di tubuhmu adalah cabang dari energi Lautan Kabut. Satu-satunya cara untuk melepaskannya dengan aman adalah dengan mengembalikannya ke akar."
"Bagaimana dengan Fragmen-fragmen itu?" tanya Tianji. "Apa yang akan terjadi padanya?"
"Fragmen-fragmen itu sudah aman. Yang perlu kau lakukan hanyalah membuang kelebihan energi yang ada di tubuhmu. Kau tidak perlu menyentuh Fragmen-fragmen itu."
Tianji diam. Ia menimbang-nimbang. Kembali ke Lautan Kabut berarti menghadapi ketakutannya lagi. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Ada risikonya," lanjut Lady Hong. "Setelah kau melepaskan MP-mu, kau bisa kehilangan sebagian atau seluruh kemampuan Penyerap Lautanmu. Termasuk kemampuanmu untuk menyerap energi dan indra keenammu terhadap Fragmen."
Tianji menarik napas dalam. "Aku sudah siap menerima itu."
"Tapi ada satu hal lagi." Lady Hong menatap Tianji dengan serius. "Untuk masuk ke Lautan Kabut, kau butuh kunci. Dan kunci itu adalah seseorang yang memiliki hubungan langsung dengan Fragmen."
"Apa maksud Nenek?"
"Yue'er."
Yue'er terkejut. "Aku?!"
"Kau adalah penjaga Fragmen kelima, meskipun kau tidak menyadarinya. Energimu sudah terikat dengan Fragmen itu. Hanya dengan bantuanmu, Tianji bisa membuka pintu ke Lautan Kabut."
Yue'er menatap Tianji. Tangannya gemetar. "Apa maksudnya? Apa aku harus ikut masuk ke Lautan Kabut juga?"
"Tidak," jawab Lady Hong. "Kau hanya perlu menjadi jembatan. Tapi prosesnya akan menguras energimu. Ditambah lagi, ada kemungkinan… kau akan kehilangan ingatan tentang Fragmen."
Yue'er diam. Wajahnya pucat.
"Aku tidak mau kehilangan ingatan," bisiknya.
Tianji meraih tangannya. "Yue'er…"
"Ini satu-satunya cara," kata Lady Hong. "Jika Tianji tidak melepaskan MP-nya, dalam waktu satu bulan, tubuhnya akan hancur. Energi Lautan Purba terlalu besar untuk ditampung manusia biasa."
Yue'er menatap Tianji. Air matanya mengalir. "Aku tidak mau kehilanganmu. Tapi aku juga tidak mau kehilangan ingatanku tentangmu."
Tianji mendekat. Ia menyeka air mata Yue'er dengan ibu jarinya. "Dengar. Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan tetap mencarimu. Jika kau lupa, aku akan mengingatkanmu. Jika kau tersesat, aku akan menemukanmu. Ini bukan akhir, Yue'er. Ini awal yang baru."
"Tapiโ"
"Aku percaya padamu. Dan aku percaya pada kita." Tianji tersenyum. "Kau bilang kau akan ikut ke mana pun aku pergi. Ingat?"
Yue'er tersenyum getir. "Iya. Tapi bukan berarti aku harus membiarkanmu pergi sendirian."
"Kau tidak akan sendirian," kata Lady Hong. "Aku akan menemani kalian. Aku tahu jalan ke Lautan Kabut."
Tianji menatap Lady Hong. "Nenek akan ikut?"
"Aku sudah tua," kata Lady Hong. "Tapi aku masih punya kekuatan untuk membantu muridku." Ia tersenyum. "Lagipula, aku tidak ingin kehilangan murid kesayanganku."
Tianji tersentuh. "Terima kasih, Nenek."
"Kita akan berangkat tiga hari lagi," kata Lady Hong. "Selama waktu itu, istirahatlah yang cukup. Kau akan membutuhkan semua energi yang kau miliki."
Tianji mengangguk. Tapi pikirannya sudah melayang jauh. Lautan Kabut. Tempat di mana ia hampir kehilangan segalanya. Tempat di mana ia berhadapan dengan Lord Hitam untuk terakhir kalinya. Dan sekarang ia harus kembali ke sanaโbukan untuk bertarung, tapi untuk melepaskan.
"Ada yang ingin kutanyakan, Nenek," kata Tianji.
"Apa?"
"Setelah aku melepaskan MP-ku… apakah aku masih bisa merasakan laut? Masih bisa mendengar panggilannya?"
Lady Hong tersenyum lembut. "Kau tidak perlu MP untuk mencintai laut, Tianji. Laut itu ada di dalam dirimuโdi dalam darahmu, di dalam jiwamu. MP hanyalah alat. Cinta adalah yang sesungguhnya."
Tianji merenung. "Terima kasih, Nenek. Aku mengerti sekarang."
Setelah pertemuan itu, Tianji dan Yue'er berjalan-jalan di pasar malam Kota Lintas Angin. Lampu-lampu lentera berwarna-warni menghiasi setiap sudut. Bau rempah dan makanan panggang memenuhi udara.
"Kita tidak punya banyak waktu," kata Yue'er. "Apa yang ingin kau lakukan sebelum berangkat?"
"Aku ingin… makan." Tianji tersenyum canggung. "Aku lapar."
Yue'er tertawa. "Itu baru Tianji yang kukenal! Ayo, aku traktir."
Mereka duduk di kedai mi pinggir jalan. Mangkuk-mangkuk mi berkuah panas mengepul di depan mereka. Tianji makan dengan lahap, seperti anak kecil yang baru pulang bermain. Yue'er memandanginya dengan penuh kasih.
"Kau tahu," kata Yue'er sambil mengaduk mienya, "kadang aku lupa kalau kau masih enam belas tahun. Kau bertingkah seperti kakek-kakek."
"Aku merasa seperti kakek-kakek," jawab Tianji di antara suapan. "Setelah semua yang terjadi."
"Makanya, nikmatilah masa mudamu." Yue'er menyendok mi ke mangkuk Tianji. "Makanlah. Kau butuh energi."
"Kau juga," kata Tianji. Ia menyendok mi ke mangkuk Yue'er. "Kita sama-sama butuh energi."
Mereka makan dalam keheningan yang hangat. Sesekali mata mereka bertemu, dan mereka tersenyum. Di sekitar mereka, pasar malam tetap ramai. Orang-orang berlalu lalang, tidak tahu bahwa di tengah mereka duduk dua orang yang akan segera memulai perjalanan paling berbahaya dalam hidup mereka.
"Tianji," kata Yue'er setelah mereka selesai makan. "Aku ingin kau tahu sesuatu."
"Apa?"
"Aku tidak pernah menyesal. Tidak sedetik pun." Matanya tulus. "Mulai dari saat aku memutuskan ikutmu ke Lautan Kabut, sampai detik ini. Aku tidak pernah menyesal."
Tianji merasakan dadanya sesak. "Aku juga. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu."
Malam harinya, Tianji dan Yue'er duduk di taman belakang Kedai Seribu Rasa. Lampu lentera menerangi taman dengan cahaya kuning hangat. Yue'er diam saja, matanya menerawang.
"Kau takut?" tanya Tianji.
"Takut sekali," jawab Yue'er jujur. "Tapi lebih takut kehilanganmu. Jadi aku akan lakukan apa pun."
Tianji meraih tangan Yue'er. "Janjiku masih berlaku. Aku tidak akan pergi."
"Kau tidak bisa menjamin itu. Lautan Kabut berbahaya."
"Aku sudah pernah ke sana. Aku bisa lagi."
Yue'er menatapnya. "Kalau kau tidak kembali, aku akan menyusulmu. Sampai ke ujung dunia."
"Aku akan kembali. Aku berjanji." Tianji memegang kedua tangan Yue'er. "Kita masih punya banyak cerita yang harus kita tulis bersama. Ingat? Cerita untuk anak cucu kita."
Yue'er tersenyum. Air matanya kembali mengalir, tapi kali ini karena haru. "Dasar. Pandai sekali kau membalikkan keadaan."
"Aku belajar dari yang terbaik." Tianji tersenyum.
Mereka berpelukan di bawah sinar bulan. Tidak ada lagi ketakutan yang tersisa. Hanya keyakinanโbahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya bersama.
"Tianji," bisik Yue'er di pundaknya. "Aku punya satu permintaan."
"Apa?"
"Janjikan aku satu hal." Ia menarik diri dan menatap mata Tianji. "Jika kau merasa kewalahan di Lautan Kabut… jika kau merasa akan kehilangan dirimu sendiri… ingatlah aku. Ingatlah desa. Ingatlah ombak. Itu akan membawamu kembali."
"Aku janji."
"Dan satu lagi." Yue'er tersenyum nakal. "Kau harus pulang tepat waktu untuk makan malam. Aku akan memasakkan sup ikan favoritmu."
Tianji tertawaโtawa yang segar, yang sudah lama tidak ia keluarkan. "Itu janji yang paling mudah."
Tiga hari kemudian, pagi-pagi buta, mereka bertiga berkumpul di depan Kedai Seribu Rasa. Lady Hong membawa sebuah pedang kunoโpusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun. Yue'er membawa jimat pemberian ayahnya. Tianji hanya membawa dirinya sendiri.
"Siap?" tanya Lady Hong.
Tianji mengangguk. "Siap."
Yue'er menggenggam tangannya erat. "Aku di sini."
Mereka melangkah ke arah timur, menuju gerbang menuju Lautan Kabut. Matahari terbit di belakang mereka, menyinari jalan yang akan mereka tempuh.
Tianji berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Kota Lintas Angin masih tertidur dalam kabut pagi. Cerobong asap tipis mulai mengepul dari beberapa rumah. Kehidupan akan segera dimulai.
"Kau menyesal?" tanya Lady Hong.
"Tidak," jawab Tianji. "Aku hanya ingin mengingat." Ia menatap kota itu sekali lagi. "Untuk berjaga-jaga jika aku tidak kembali."
"Kau akan kembali," kata Yue'er tegas. "Aku sudah berjanji akan memasak sup ikan untukmu."
Tianji tersenyum. "Iya. Aku akan kembali."
Di kejauhan, Desa Muara masih tenang. Laut biru berkilauan. Kehidupan berjalan seperti biasa.
Tapi bagi Tianji, inilah awal dari pertempuran terbesarnyaโbukan melawan musuh dari luar, melainkan melawan kekuatan di dalam dirinya sendiri.
Dan ia tahu, dengan Yue'er di sisi kanannya dan Lady Hong di sisi kirinya, ia memiliki senjata terkuat yang bisa ia miliki: cinta dan persahabatan.
Lautan Kabut menanti. Takdir menanti.
Dan Tianji siap.
Bersambung…