๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 52: MAKAM NAGA LAUT

← BAB 51: PERJALANAN TIMUR BAB 53: RAHASIA TERAKHIR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Makam Naga Laut ternyata jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan. Setelah melewati Kabut Pengabur Arah, mereka tiba di sebuah lorong panjang dengan langit-langit setinggi dua puluh meter. Dinding-dindingnya terbuat dari batu giok hitam yang dipoles hingga mengkilap, memantulkan cahaya obor dengan cara yang aneh โ€” seolah cahaya itu hidup dan bergerak sendiri.

"Awas," Xiao Yu'er mengangkat tangan. Matanya yang tajam memindai lorong di depan. "Ada sesuatu."

Tianji juga merasakannya. Qi di udara berubah โ€” dari yang tadinya mengalir tenang menjadi kacau. Seperti ada ribuan arus kecil yang bergerak tak beraturan.

Dari kegelapan lorong, muncul suara gemeretak batu. Perlahan, empat patung giok hitam setinggi tiga meter melangkah keluar. Tubuh mereka seperti prajurit zaman kuno โ€” mengenakan zirah lengkap, memegang pedang panjang dari batu. Mata mereka bersinar merah darah.

"Patung penjaga," bisik Yue'er. Tangannya meraih pedang kecil di pinggang.

"Jangan menyerang dulu," Tianji memperingatkan. "Mereka mendeteksi Qi asing. Kalau kita menggunakan Qi, mereka akan semakin agresif."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Yue'er bertanya cemas. "Diam saja? Mereka akan menebas kita!"

"Tidak." Tianji mengamati patung-patung itu dengan saksama. "Perhatikan โ€” mereka bergerak seperti marionet. Pasti ada sumber Qi yang mengendalikan mereka."

Xiao Yu'er tiba-tiba melompat ke dinding. Dengan gerakan lincah seperti kucing, ia memanjat vertikal, mencari-cari sesuatu di langit-langit lorong. "Di sini!" serunya. Di langit-langit, tepat di atas patung-patung itu, ada ukiran formasi melingkar โ€” pusat aliran Qi pengendali.

"Kalau aku hancurkan formasi ituโ€”"

"Tunggu!" Tianji menghentikannya. "Formasi itu pasti juga berfungsi sebagai perangkap. Kalau kau hancurkan secara paksa, mungkin seluruh lorong ini runtuh."

Yue'er mengerutkan kening. "Jadi bagaimana? Kita tidak bisa maju, tidak bisa mundurโ€”"

Tianji mendekati patung-patung itu dengan langkah pelan. Ia mengulurkan tangan kirinya โ€” telapak tangan terbuka, tidak mengandung Qi sama sekali. Salah satu patung menoleh ke arahnya, mata merahnya menyala lebih terang.

"Saudara-saudara penjaga makam," Tianji berkata dengan suara tenang. "Kami datang bukan untuk menodai tempat suci ini. Kami mencari fragmen kelima Kitab Suci Lautan โ€” untuk menyelamatkan dunia dari kegelapan yang mengancam."

Patung-patung itu berhenti bergerak.

Yue'er dan Xiao Yu'er saling pandang dengan heran.

"Kau… bicara dengan patung?" bisik Yue'er.

"Diam," Tianji menjawab pelan.

Patung di tengah melangkah maju. Rahang batunya bergerak, mengeluarkan suara seperti batu digesek. "Siapa… kau… yang berani… memasuki makam… suci?"

Tianji membuka jubahnya, memperlihatkan liontin naga laut yang tergantung di lehernya โ€” peninggalan dari Xuan Qingzi. "Aku Tianji, murid terakhir dari aliran Penyerap Lautan. Guruku telah gugur. Sekarang, beban untuk melanjutkan warisan ini ada di pundakku."

Mata merah patung itu berkedip. "Penyerap… Lautan… Aliran itu… sudah lama… punah."

"Tidak punah," Tianji menjawab tegas. "Selama masih ada yang percaya pada keseimbangan alam semesta, aliran ini akan terus hidup. Aku adalah buktinya."

Patung-patung itu diam untuk waktu yang lama. Kemudian, patung di tengah melangkah mundur, membuka jalan. "Lewatlah… Tianji… Tapi temanmu… harus diuji."

"Apa maksudnya?" Yue'er bertanya curiga.

"Setiap orang… yang masuk… harus menghadapi… hati mereka sendiri… di Ruang Bayangan."

Xiao Yu'er mengangguk. "Sudah kuduga. Ruang Bayangan."

"Kami siap," Tianji berkata.

Patung-patung itu kembali ke posisi semula, tidak bergerak lagi seperti patung biasa. Lorong di depan terbuka lebar.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan. Lorong itu berkelok-kelok, turun semakin dalam ke perut gunung. Di dinding, ukiran-ukiran naga semakin banyak dan semakin rumit. Ada yang menggambarkan naga melawan iblis, naga melindungi manusia, naga mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya.

"Lihat ini!" Yue'er menunjuk ke ukiran besar di dinding kiri. Ukiran itu menunjukkan seorang manusia tua berjubah panjang, duduk bersila di atas ombak raksasa. Di sekelilingnya, puluhan naga laut memberi penghormatan.

"Itu Naga Laut Tertua," Tianji berkata pelan. "Guru Xuan Qingzi pernah menggambarkannya."

Ukiran itu memiliki tulisan di bawahnya: "Yang Menyatukan Lautan โ€” Guru Pertama Aliran Penyerap Lautan. Hidup Seribu Tiga Ratus Tahun. MP Lv8. Meninggal dalam Damai."

"MP Lv8," Xiao Yu'er bergumam. "Tidak ada yang pernah melampauinya."

"Karena tidak ada yang butuh level setinggi itu," Tianji menambahkan. "Semakin tinggi Qi seseorang, semakin besar tanggung jawabnya. Banyak yang gila karena tidak sanggup menanggung beban itu."

Mereka berjalan lebih dalam lagi. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan besar berbentuk lingkaran. Lantainya dari marmer putih dengan urat emas. Dindingnya penuh ukiran naga berputar โ€” seolah naga itu hidup dan terus bergerak. Di tengah ruangan, ada sebuah danau kecil โ€” airnya hitam pekat seperti tinta.

"Ini pasti Air Mata Naga," kata Xiao Yu'er. "Perangkap keempat. Air ini bisa melarutkan apa pun."

"Lalu kita tidak bisa menyeberang?" Yue'er bertanya.

"Ada jalan โ€” lihat!" Tianji menunjuk ke langit-langit. Dari atap, tergantung rantai-rantai besi yang membentuk jembatan gantung. Tapi rantai itu tampak rapuh โ€” berkarat dan dimakan usia.

"Kau yakin rantai itu kuat?" Yue'er ragu.

"Tidak," Tianji mengakui. "Tapi kita tidak punya pilihan lain."

Tianji melangkah lebih dulu. Ia memegang rantai pertama โ€” dingin dan berkarat โ€” lalu mengayunkan tubuhnya ke rantai berikutnya. Gerakannya anggun seperti burung terbang. Ini adalah teknik yang ia pelajari dari Xiao Yu'er โ€” Gerakan Bayangan Terbang.

"Hebat!" Yue'er berseru. "Giliranku!"

Yue'er mengikuti jejak Tianji. Gerakannya tidak sehalus Tianji โ€” ia masih kaku โ€” tapi cukup untuk berpindah dari satu rantai ke rantai lain tanpa jatuh.

Xiao Yu'er menjadi yang terakhir. Pemuda itu bergerak paling lincah โ€” seolah ia sudah melakukan ini ribuan kali. Dalam hitungan detik, ia sudah menyusul Yue'er.

"Kau curang!" Yue'er menggerutu. "Kau kan dulunya pembunuh bayaran!"

"Pembunuh bayaran juga perlu menyeberangi danau kadang-kadang," Xiao Yu'er menjawab dingin, tapi ada sedikit nada bercanda.

Mereka berhasil menyeberangi Air Mata Naga tanpa insiden. Tapi perjalanan mereka belum berakhir.

Di ujung lorong berikutnya, mereka menemukan Ruang Bayangan.

Ruangan itu kosong โ€” tidak ada ukiran, tidak ada patung, tidak ada apa pun. Hanya dinding putih bersih di semua sisi, lantai putih, langit-langit putih. Tidak ada sumber cahaya, tapi ruangan itu terang benderang.

"Aneh," Yue'er bergumam. "Kenapa ruangan ini tidak… memiliki apa-apa?"

Cahaya putih di ruangan itu tiba-tiba berdenyut. Seperti detak jantung raksasa. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Dan tiba-tiba, Tianji tidak lagi berdiri di ruangan itu.

Ia berdiri di tengah reruntuhan Benteng Hitam.

"Yue'er? Xiao Yu'er?" Ia berteriak, tapi suaranya hilang ditelan angin.

Di depannya, Lord Hitam berdiri dengan fragmen Kitab Suci Lautan di tangannya. Tapi bukan itu yang membuat jantung Tianji berhenti โ€” di samping Lord Hitam, berdiri dua sosok yang sangat ia kenal.

Xuan Qingzi. Li Qingfeng.

Mereka hidup.

"Guru!" Tianji berlari ke arah mereka. Tapi Xuan Qingzi tidak menatapnya. Mata tua itu kosong โ€” seperti boneka.

"Tianji," suara Lord Hitam bergema. "Kau pikir dengan mengumpulkan fragmen, kau bisa mengalahkanku? Lihat โ€” guru-gurumu sendiri telah menjadi pengikutku. Mereka memilih untuk bergabung denganku."

"Bohong!" Tianji berteriak.

Xuan Qingzi melangkah maju. "Anakku," katanya dengan suara yang asing โ€” suara Lord Hitam keluar dari mulutnya. "Menyerahlah. Bergabunglah dengan kami. Kekuatan sejati ada di sini."

"Tidak! Kalian sudah mati! Kalian bukan guru yang kukenal!"

Ruang Bayangan mulai bergetar. Sosok Xuan Qingzi dan Li Qingfeng meleleh seperti lilin terbakar, lalu berubah menjadi bayangan hitam yang menyerang Tianji.

Tianji mengelak, tapi bayangan itu terus mengejar. Setiap bayangan yang terkena tubuhnya menimbulkan rasa sakit yang luar biasa โ€” bukan fisik, tapi emosional. Rasa kehilangan. Rasa bersalah. Rasa takut.

"Kau gagal melindungi mereka," bisik suara di telinganya.

"Itu bukan salahmu," suara lain membalas. "Tapi kau terus menyalahkan dirimu sendiri."

"Kau lemah."

"Kau tidak berguna."

"Kauโ€”"

"Diam!"

Tianji berteriak dengan sekuat tenaga. Qi-nya meledak โ€” gelombang energi biru kehijauan menyebar ke segala arah. Bayangan-bayangan itu hancur berkeping-keping.

"Guru Xuan Qingzi mengajariku," Tianji berkata, napasnya terengah-engah, "bahwa penyesalan tidak bisa mengubah masa lalu. Yang bisa kuubah adalah masa depan. Guruku gugur dengan tenang karena mereka tahu aku akan melanjutkan perjuangan mereka. Aku tidak akan mengecewakan mereka."

Cahaya putih di ruangan itu mulai memudar. Perlahan, dinding-dinding putih berubah โ€” muncul ukiran-ukiran indah, lantai marmer, dan di tengah ruangan, sebuah altar naga yang megah.

Altar itu terbuat dari emas murni, diukir menyerupai naga laut yang sedang melingkar. Di mulut naga, bersinar samar โ€” fragmen kelima Kitab Suci Lautan.

"Fragmen itu!" Yue'er berseru. "Kakak Tianji! Xiao Yu'er! Lihat!"

Tianji berjalan mendekati altar. Tubuhnya masih gemetar โ€” efek dari Ruang Bayangan โ€” tapi langkahnya mantap. Ia mengulurkan tangan dan mengambil fragmen itu.

Tulisan-tulisan kuno bersinar saat tersentuh. Tianji membaca:

"Fragmen Kelima: Pemurnian Total. Untuk mencapai MP Lv4, seorang penyerap lautan harus melakukan pemurnian total โ€” melepaskan semua Qi asing yang pernah diserap. Ini adalah proses yang paling berbahaya. Tubuh manusia hanya bisa menampung Qi murni dalam jumlah terbatas. Melepaskan Qi asing berarti mengosongkan diri, membiarkan Qi murni alami mengisi kekosongan. Tapi jika gagal, Qi yang dilepaskan akan merusak tubuh dari dalam. Tidak ada jalan kembali. Peringatan Naga Laut Tertua: MP Lv4 adalah pedang bermata dua. Kekuatan besar, tapi juga kehancuran besar. Hanya mereka yang hati dan pikirannya murni yang bisa bertahan."

Tianji merasakan dadanya sesak. Pemurnian total. Melepaskan semua Qi asing. Itu berarti ia harus kehilangan semua Qi yang selama ini ia kumpulkan โ€” termasuk Qi yang ia serap dari para musuh.

"Apa maksudnya?" Yue'er bertanya cemas. "MP Lv4? Pemurnian total? Itu berbahaya?"

"Sangat berbahaya," Tianji menjawab pelan. "Tapi tidak ada pilihan lain."

"Tentu ada pilihan!" Yue'er meraih lengan Tianji. "Kita bisa cari cara lain! Mungkin ada jalanโ€”"

"Tidak ada jalan lain, Yue'er." Tianji menatap fragmen di tangannya. "Untuk mengalahkan Lord Hitam, aku harus mencapai MP Lv4. Dan satu-satunya cara adalah melakukan pemurnian total."

Xiao Yu'er yang sejak tadi diam mendekat. "Aku pernah dengar tentang proses ini. Dari catatan klan bayangan. Dari sepuluh orang yang mencoba, hanya satu yang selamat."

"Siapa?" Tianji bertanya.

"Naga Laut Tertua sendiri."

Suasana hening. Bahkan Yue'er tidak bisa berkata-kata.

Tianji memandangi fragmen di tangannya. Tulisan-tulisan itu seolah hidup โ€” memanggilnya, menggodanya. Kekuatan besar menanti. Tapi juga kehancuran total.

"Aku harus melakukannya," katanya akhirnya.

"Kakak Tianjiโ€”"

"Dengar, Yue'er." Tianji berbalik menghadapnya. Wajahnya yang masih muda tiba-tiba terlihat lebih tua โ€” lelah tapi teguh. "Sudah terlalu banyak orang yang kukorbankan untukku. Guru Xuan Qingzi, Li Qingfeng, teman-teman di desa… Aku tidak bisa membiarkan pengorbanan mereka sia-sia. Kalau aku gagal, setidaknya aku sudah mencoba."

"Tapiโ€”"

"Kalau Lord Hitam berhasil mengumpulkan semua fragmen," potong Tianji, "tidak hanya kita yang celaka. Seluruh dunia akan hancur. Jadi biarkan aku mengambil risiko ini."

Yue'er menunduk. Bahunya bergetar โ€” menahan tangis. "Aku… aku tidak ingin kehilangan kakak Tianji lagi."

"Kau tidak akan kehilangan aku." Tianji tersenyum โ€” senyum hangat yang jarang ia tunjukkan. "Aku janji."

"Kau sungguh?" Yue'er mendongak, matanya berkaca-kaca.

"Aku bersumpah."

Di altar naga, ukiran naga laut itu seolah tersenyum. Seperti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya โ€” pemurnian total, MP Lv4, pertarungan terakhir melawan Lord Hitam.

Tianji menempelkan dahi ke altar naga. "Naga Laut Tertua," bisiknya. "Kalau kau mendengarku, berkatilah perjalananku. Aku akan melakukan pemurnian total di sini, di makammu. Kalau aku gagal, jasadku akan menjadi bagian dari makam ini selamanya. Tapi kalau aku berhasil… aku akan menggunakan kekuatan ini untuk melindungi apa yang kau cintai โ€” keseimbangan alam semesta."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 51: PERJALANAN TIMUR BAB 53: RAHASIA TERAKHIR →