๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 53: RAHASIA TERAKHIR

← BAB 52: MAKAM NAGA LAUT BAB 54: LATIHAN TERAKHIR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Altar naga di tengah ruangan itu memancarkan sinar hangat, seolah menyetujui keputusan Tianji. Yue'er duduk bersila di sudut ruangan, matanya tidak lepas dari fragmen kelima yang masih dipegang Tianji. Xiao Yu'er berkeliling memeriksa dinding-dinding altar, memastikan tidak ada ancaman lain yang mengintai.

"Fragmen ini," Tianji memulai, suaranya bergema di ruangan yang sunyi, "berisi lebih dari sekadar cara mencapai MP Lv4. Ada sejarah yang tertulis di sini โ€” sejarah MP itu sendiri."

Yue'er mengangkat kepala. "Ceritakan, Kakak Tianji. Aku ingin tahu."

Tianji duduk bersila di depan altar. Ia meletakkan fragmen di pangkuannya, membiarkan sinarnya menerangi wajahnya. "Menurut Naga Laut Tertua, MP โ€” atau Mana Pemurnian โ€” bukan teknik yang diciptakan manusia. MP adalah bahasa alam semesta itu sendiri."

"Bahasa alam semesta?" Yue'er mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Segala sesuatu di dunia ini memiliki Qi. Batu, air, angin, api, bahkan udara yang kita hirup. MP adalah kemampuan untuk 'membaca' Qi itu, dan kemudian 'menyatu' dengannya. Bukan menguasai โ€” menyatu." Tianji menekankan kata terakhir. "Ini seperti… kau tidak melawan arus sungai, tapi kau menjadi bagian dari sungai itu."

Xiao Yu'er berhenti memeriksa dinding. "Kalau begitu, apa yang membedakan MP Lv1 dengan Lv4?"

"Tingkat pemahaman," jawab Tianji. "MP Lv1 adalah kemampuan membaca Qi dasar โ€” merasakan kehadirannya. Lv2 adalah kemampuan menarik Qi dari lingkungan. Lv3 adalah kemampuan menyerap Qi dari makhluk hidup lain โ€” teknik yang selama ini kugunakan."

"Yang membuat semua orang takut padamu," Yue'er menambahkan pelan.

"Ya." Tianji mengangguk sedih. "Banyak yang menganggap Penyerap Lautan sebagai aliran jahat karena bisa menyerap Qi orang lain. Tapi mereka tidak mengerti โ€” penyerapan bukan tujuan akhir. Penyerapan hanyalah jalan menuju pemahaman yang lebih dalam."

"Lalu Lv4?" Xiao Yu'er mendekat, duduk di seberang Tianji.

"Lv4 adalah pemurnian total." Tianji menatap fragmen di tangannya. "Tubuhku saat ini penuh dengan Qi asing โ€” Qi yang kuserap dari Lord Hitam, dari antek-anteknya, dari berbagai pertarungan. Qi-qi itu tercampur aduk, tidak murni. Seperti air sungai yang keruh karena lumpur."

"Dan pemurnian total?" Yue'er bertanya dengan napas tertahan.

"Melepaskan semua Qi asing itu. Sekaligus."

Suasana hening. Bahkan dengung cahaya dari altar seolah berhenti.

"Itu… bunuh diri namanya!" Yue'er berdiri, wajahnya pucat. "Semua Qi? Kalau kakak Tianji melepaskan semua Qi, tubuh kakak Tianji akan kosong! Kalau ada musuh menyerang saat ituโ€”"

"Itulah risikonya." Tianji tetap tenang. "Tapi kalau berhasil, tubuhku akan terisi kembali dengan Qi murni โ€” Qi yang tidak ternoda oleh kebencian atau keinginan jahat. Qi yang murni dari alam semesta. Dengan Qi murni itu, aku bisa mencapai Lv4."

"Tapi dari sepuluh orang yang mencoba, hanya satu yang selamat," Xiao Yu'er mengingatkan.

"Satu dari sepuluh. Aku suka peluang itu."

"Kakak Tianji!" Yue'er hampir menangis. "Ini tidak lucu!"

"Aku tidak bercanda." Tianji menatap Yue'er dengan serius. "Aku tahu risikonya. Tapi kalau aku tidak mencoba, peluangku melawan Lord Hitam sama dengan nol. Setidaknya dengan mencoba, ada sepuluh persen harapan."

Yue'er menggigit bibirnya. Air matanya mulai mengalir. "Kalau kakak Tianji pergi… apa yang harus kulakukan?"

"Kau akan terus hidup." Tianji tersenyum lembut. "Kau akan menjaga desa, menjaga orang-orang yang kita sayangi. Kau akan melanjutkan perjuangan kalau aku gagal."

"Aku tidak bisa! Aku hanya Yue'er yang cerewet! Apa yang bisa kulakukan sendiri?"

"Kau kuat, Yue'er. Kau tidak pernah menyerah. Itu sudah cukup."

Yue'er terisak. Xiao Yu'er menatap langit-langit โ€” ekspresinya tidak terbaca, tapi tangannya mengepal erat.

"Aku butuh waktu," Tianji melanjutkan. "Pemurnian total membutuhkan konsentrasi penuh. Aku tidak bisa diganggu โ€” kalau konsentrasiku pecah di tengah proses, Qi yang kulepaskan akan meledak dan menghancurkan segalanya dalam radius seratus meter."

"Berapa lama?" Xiao Yu'er bertanya.

"Tiga hari. Mungkin lebih."

"Aku akan menjagamu," Xiao Yu'er berkata tegas. "Tidak ada yang akan mengganggumu."

"Aku juga!" Yue'er menyeka air matanya. "Aku akan menjaga pintu masuk makam. Siapa pun yang mencoba masuk, harus melewati mayatku dulu!"

"Jangan bicara seperti itu." Tianji menggeleng. "Tugas kalian adalah menjaga. Kalau ada bahaya yang tidak bisa dihadapi, kalian harus lari. Jangan korbankan diri kalian sia-sia."

"Tapiโ€”"

"Itu perintah." Suara Tianji tiba-tiba berat โ€” seperti suara Xuan Qingzi dulu. Yue'er tertegun.

Malam itu, Tianji membaca fragmen kelima berulang kali. Setiap baris. Setiap kata. Ia harus memahami proses pemurnian total dengan sempurna โ€” satu kesalahan saja bisa berakibat fatal.

Prosesnya rumit. Pertama, ia harus memusatkan semua Qi di pusat tubuh โ€” titik di bawah pusar yang disebut Dantian. Kedua, ia harus memisahkan Qi murni miliknya sendiri dari Qi asing yang menempel. Ketiga, ia harus melepaskan Qi asing itu melalui pori-pori โ€” perlahan pada awalnya, lalu semakin cepat.

Keempat โ€” bagian paling berbahaya โ€” saat semua Qi asing hilang, tubuhnya akan kosong. Pada saat itu, ia harus menjaga agar organ-organnya tetap berfungsi hanya dengan Qi alami yang minimal. Kalau ia panik dan menarik Qi dari lingkungan secara paksa, Qi kotor akan masuk dan proses gagal.

Kelima, setelah tubuh benar-benar kosong, Qi murni dari alam semesta akan mulai mengalir masuk dengan sendirinya. Seperti air mengisi mangkuk kosong. Tapi proses ini tidak bisa dipaksakan โ€” harus dibiarkan alami.

"Sepuluh orang mencoba, hanya satu selamat," gumam Tianji. "Naga Laut Tertua… kau benar-benar menciptakan teknik yang kejam."

"Tapi kau tetap mau mencoba," suara Xiao Yu'er terdengar dari belakang.

Tianji menoleh. Xiao Yu'er berdiri di ambang altar, diterangi cahaya rembulan yang masuk dari celah langit-langit. Wajahnya yang biasanya datar kini menunjukkan kerutan โ€” sesuatu yang jarang terjadi.

"Aku tidak punya pilihan."

"Semua orang punya pilihan." Xiao Yu'er duduk di samping Tianji. "Aku dulu juga berpikir aku tidak punya pilihan โ€” sampai kau datang."

Tianji menatap pemuda di sampingnya. Xiao Yu'er โ€” anak yatim piatu yang direkrut klan bayangan sejak kecil, dilatih menjadi pembunuh tanpa hati. Tapi di bawah permukaan dinginnya, ada rasa sakit yang tak terucapkan.

"Aku tahu tentang masa lalumu," Tianji berkata pelan. "Tentang gurumu di klan bayangan yang memaksamu membunuh teman sendiri."

Xiao Yu'er diam. Tapi matanya berkilat โ€” campuran rasa sakit dan kemarahan.

"Itu sebabnya kau selalu menjaga jarak dari orang lain," Tianji melanjutkan. "Kau takut kehilangan mereka. Tapi kau tahu, Xiao Yu'er? Kadang kita harus mengambil risiko kehilangan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga."

"Seperti kau sekarang."

"Ya. Seperti aku sekarang."

Mereka duduk diam, menikmati keheningan yang nyaman. Di altar naga, ukiran naga laut itu seolah mengawasi mereka dengan mata bijak.

"Kalau kau gagal," Xiao Yu'er akhirnya berkata, "aku akan mencari Lord Hitam dan membunuhnya. Dengan atau tanpa MP."

"Aku percaya kau bisa."

"Tapi lebih baik kau berhasil."

Tianji tersenyum. "Setuju."

Keesokan paginya, Tianji memulai persiapan. Ia mandi di mata air kecil di sudut makam โ€” menyucikan diri secara fisik dan spiritual. Ia mengganti pakaiannya dengan jubah putih polos yang ia temukan di peti batu dekat altar. Jubah itu mungkin milik seorang biksu kuno yang menjaga makam ini.

Kemudian, ia duduk bersila di depan altar naga. Di depannya, ia meletakkan keempat fragmen lain yang sudah ia kumpulkan โ€” semuanya bersinar samar, seolah menyambut fragmen kelima di tengah.

"Yue'er," panggil Tianji.

"Iya, Kakak Tianji?" Yue'er berlari mendekat.

"Kalau aku gagal…" Tianji meraih liontin naga laut di lehernya. "Tolong berikan ini pada ibu dan ayahku. Kalau mereka masih hidup."

"Aku tidak mau!" Yue'er menolak. "Kakak Tianji tidak akan gagal!"

"Terima saja. Untuk jaga-jaga."

Yue'er menerima liontin itu dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir lagi.

"Xiao Yu'er." Tianji berpaling ke pemuda yang berdiri di pintu. "Kalau aku gagal, kau yang harus memimpin. Bawa Yue'er pergi dari sini. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh."

"Aku tidak akan membiarkannya melakukan hal bodoh," Xiao Yu'er menjawab. "Tapi aku juga tidak akan meninggalkan makam ini kalau kau belum selesai."

"Baik. Terserah kalian."

Tianji menutup mata. Ia mengatur napas โ€” menarik, menahan, melepaskan. Perlahan, Qi dalam tubuhnya mulai bergerak. Ia merasakan setiap titik Qi asing yang menempel โ€” ada ribuan, dari berbagai pertarungan selama setahun terakhir.

"Mulai," bisiknya.

Proses pemurnian total telah dimulai.

Qi asing pertama mulai terlepas dari pori-pori tangannya. Bentuknya seperti kabut hitam โ€” kental dan beracun. Kabut itu naik ke udara, lalu lenyap.

"Itu… Qi Lord Hitam," kata Yue'er pelan. Ia bisa merasakan tekanan jahat dari kabut itu.

"Jangan bicara," Xiao Yu'er memperingatkan. "Jangan ganggu konsentrasinya."

Mereka berdua mundur ke sudut ruangan, mengawasi Tianji dari kejauhan. Kabut hitam terus keluar dari tubuh Tianji โ€” semakin lama semakin banyak. Wajah Tianji pucat, keringat mengucur deras.

Proses ini berlangsung berjam-jam. Saat siang berganti sore, kabut hitam yang keluar mulai berkurang. Tapi Tianji belum selesai โ€” masih ada Qi asing yang lebih dalam, yang menempel di organ-organ dalamnya.

Tiba-tiba, Tianji terbatuk. Darah hitam keluar dari mulutnya.

"Kakak Tianji!" Yue'er hampir berlari ke arahnya, tapi Xiao Yu'er menahannya.

"Jangan! Kalau kau mengganggunya sekarang, semua akan sia-sia!"

Tapi Tianji terus terbatuk โ€” semakin keras. Tubuhnya gemetar hebat. Qi yang lepas tidak lagi berupa kabut hitam, tapi sudah mulai bercampur dengan Qi murni miliknya sendiri.

"Ada yang salah," Xiao Yu'er bergumam. Ia bisa merasakan Qi di ruangan itu menjadi kacau โ€” seperti badai yang siap meledak.

Tianji membuka matanya. Matanya merah โ€” penuh pembuluh darah. "Xiao Yu'er… Yue'er… lari…"

"Apa?"

"LARI! Aku tidak bisa mengendalikannya! Qi asing ini terlalu kuat! Lord Hitam pasti sudah sengaja menanamkan Qi jebakan di dalam tubuhku!"

Tubuh Tianji mulai membengkak โ€” Qi yang tidak stabil mengembang di dalam tubuhnya. Kalau meledak, seluruh makam akan hancur.

"Aku tidak akan lari!" Yue'er berteriak. "Aku bilang aku akan menjagamu! Kalau kau meledak, aku ikut meledak!"

"DASAR ANAK KERAS KEPALA!"

Xiao Yu'er bergerak cepat. Ia berlari ke arah Tianji, meletakkan kedua telapak tangannya di punggung Tianji. "Tenang. Fokus. Kau bisa mengendalikannya."

"Xiao Yu'er, kau akan ikut terserap!"

"Biarkan." Untuk pertama kalinya, Xiao Yu'er tersenyum โ€” senyum tulus. "Kau bilang, kadang kita harus mengambil risiko kehilangan. Ini risikoku."

Qi Tianji mulai menyerap Qi Xiao Yu'er โ€” bukan karena Tianji sengaja, tapi karena insting bertahan tubuhnya. Tapi Xiao Yu'er tidak melawan. Ia membiarkan Qi-nya terserap.

Dan perlahan, kelebihan Qi di tubuh Tianji mulai terdistribusi. Pembengkakan mereda. Wajah Tianji kembali normal.

"Kau gila," bisik Tianji.

"Mungkin," jawab Xiao Yu'er, suaranya lemah โ€” kehilangan banyak Qi. "Tapi teman memang harus gila untuk satu sama lain, kan?"

Tianji tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tersumbat.

Ia menutup mata lagi. Kali ini, proses pemurnian berjalan lebih lancar. Dengan bantuan Qi Xiao Yu'er yang murni โ€” karena Xiao Yu'er tidak pernah belajar menyerap Qi, Qi-nya masih alami โ€” Qi asing di tubuh Tianji lebih mudah terdeteksi dan dilepaskan.

Malam turun. Kabut hitam terakhir keluar dari tubuh Tianji dan lenyap. Tubuhnya kini kosong โ€” tidak ada Qi sama sekali.

"Ini saat paling berbahaya," bisik Tianji. "Tubuh kosong… kalau ada musuh datang sekarang…"

"Aku akan menjaga," Yue'er berkata tegas. Ia berdiri di pintu altar, pedang terhunus. "Tidak ada yang akan masuk."

Xiao Yu'er duduk lemas di sudut โ€” ia kehilangan hampir setengah Qi-nya. Tapi matanya tetap waspada.

Dan Tianji menunggu. Tubuhnya yang kosong mulai merasakan sesuatu โ€” aliran hangat dari bawah. Seperti mata air yang muncul dari tanah kering. Qi murni โ€” murni tanpa cela โ€” mulai mengalir masuk melalui telapak kakinya.

Ia tidak melawan. Ia membiarkan Qi itu mengalir โ€” melewati kaki, perut, dada, hingga ke kepalanya. Seluruh tubuhnya terasa hangat dan ringan. Seperti mandi di bawah sinar matahari setelah bermalam di gua gelap.

"MP Lv4…" gumam Tianji, air mata mengalir di pipinya. "Akhirnya… aku mengerti."

Yang ada di fragmen kelima bukan sekadar teknik โ€” itu adalah filosofi. Untuk mencapai MP Lv4, seseorang harus siap kehilangan segalanya. Harus rela menjadi kosong. Harus percaya bahwa alam semesta akan mengisinya kembali dengan sesuatu yang lebih baik.

Itulah rahasia terakhir.

"Aku harus sempurnakan MP-ku di sini," Tianji berkata, suaranya kini penuh kekuatan baru. "Tapi setelah ini… Xiao Yu'er, kau harus istirahat."

"Jangan khawatirkan aku." Xiao Yu'er tersenyum lemah. "Aku hanya perlu tidur sebentar."

Tianji menatap kedua temannya โ€” Yue'er yang berjaga di pintu, Xiao Yu'er yang kelelahan karena membantunya. Dadanya terasa hangat. Bukan karena Qi, tapi karena rasa syukur.

"Ia tidak sendirian," bisiknya. "Aku tidak sendirian."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 52: MAKAM NAGA LAUT BAB 54: LATIHAN TERAKHIR →