Matahari belum sepenuhnya menyingsing ketika Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er meninggalkan perkampungan kecil di kaki Pegunungan Naga Timur. Kabut pagi masih menggantung rendah, membasahi rerumputan dengan butiran embun yang berkilauan seperti mutiara.
"Kakak Tianji, kau yakin makam itu ada di arah ini?" Yue'er menyela kesunyian dengan suara nyaringnya. Gadis berusia delapan belas tahun itu berjalan di samping Tianji, rambutnya diikat ekor kuda sederhana. Wajahnya yang cerah penuh dengan kehangatan โ sangat berbeda dengan dulu saat ia masih tertutup karena trauma.
"Ini sesuai peta fragmen keempat," jawab Tianji tenang. Ia mengeluarkan secarik kain sutra tua dari balik jubahnya. Peta itu bersinar redup ketika disentuh oleh Qi-nya. "Guru Xuan Qingzi pernah berkata, Makam Naga Laut adalah tempat persemayaman Naga Laut Tertua โ leluhur semua penyerap lautan."
"Ooh, Naga Laut Tertua!" Yue'er melompat kegirangan. "Berarti di sana ada harta karun? Mungkin ada kitab suci? Atau senjata sakti? Atauโ"
"Yue'er," Xiao Yu'er memotong dari belakang. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berjalan dengan langkah ringan, hampir tidak meninggalkan jejak di tanah becek. Wajahnya yang tampan tidak menunjukkan ekspresi. "Kita pergi untuk mencari fragmen kelima Kitab Suci Lautan, bukan harta karun."
"Ah, kau ini!" Yue'er mendengus. "Selalu serius! Iya, iya, fragmen kelima. Tapi apa salahnya kalau sekalian mencari harta karun? Bukankah Naga Laut Tertua pasti punya banyak barang berharga? Bayangkan โ sisik naga, mutiara laut, pedang pusaka…"
"Aku hanya mengingatkan," Xiao Yu'er tetap tenang. "Jangan sampai kau terlalu bersemangat hingga menginjak perangkap."
"Aku bukan anak kecil!" Yue'er menjulurkan lidah. "Aku sudah delapan belas tahun! Lebih tua setahun dari kau, Xiao Yu'er!"
"Tapi kau bertingkah seperti anak berusia delapan tahun."
"Apa?! Awas kau!"
Tianji tersenyum kecil mendengar pertengkaran mereka. Dua bulan telah berlalu sejak kehancuran Benteng Hitam. Lord Hitam masih hidup โ ia tahu itu. Tapi sekarang, dengan dua fragmen tambahan di tangannya, Tianji merasa ada secercah harapan.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok di antara pepohonan raksasa. Hutan Timur terkenal sebagai tempat angker โ konon banyak pemburu yang tersesat dan tidak pernah kembali. Namun bagi Tianji, hutan ini terasa akrab. Ini adalah tanah air leluhurnya.
"Kakak Tianji," Yue'er mendekat lagi. Kali ini suaranya lebih pelan. "Apa yang akan kau lakukan setelah kita mendapatkan fragmen kelima?"
Tianji merenung sejenak. "MP-ku sudah mencapai level tiga. Dengan fragmen kelima, mungkin aku bisa memahami cara mencapai level empat."
"MP Lv4?" Yue'er membelalak. "Ayahku dulu pernah bilang, hanya tiga orang dalam sejarah yang berhasil mencapai MP Lv4. Dua di antaranya gila โ mereka tidak bisa mengendalikan Qi yang terlalu kuat."
"Ya, aku tahu."
"Tapi kau tetap mau mencoba?"
"Mau tidak mau." Tianji menatap langit timur yang mulai terang. "Lord Hitam tidak akan berhenti. Selama Kitab Suci Lautan utuh, ia akan terus mengejar. Aku harus bisa mengalahkannya sebelum ia mengumpulkan semua fragmen."
"Kalau begitu," Yue'er memegang lengan Tianji, "aku akan menjagamu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkan kakak Tianji lagi."
"Jangan bicara seperti adegan drama," Xiao Yu'er bergumam dari belakang. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Hush kau! Aku serius!"
Hari pertama perjalanan berjalan lancar. Mereka melewati lembah yang dipenuhi bunga liar, menyusuri sungai kecil yang airnya sejernih kristal, dan mendaki bukit-bukit rendah. Saat senja tiba, mereka mendirikan tenda di lereng bukit yang menghadap ke timur.
Malam itu, Tianji duduk bersila di luar tenda. Ia mengeluarkan tiga fragmen Kitab Suci Lautan yang sudah ia kumpulkan. Di bawah sinar rembulan, tulisan-tulisan kuno pada fragmen itu bersinar samar.
"Penyerap Lautan," bisiknya membaca kalimat pertama di fragmen ketiga. "Bukan untuk menguasai, tapi untuk menyatu. Lautan tidak bisa ditaklukkan โ lautan hanya bisa dipahami."
Makna kalimat itu selalu membuatnya merenung. Selama ini, semua pemburu Kitab Suci Lautan hanya ingin menguasai kekuatan yang terkandung di dalamnya. Tapi kitab itu sendiri mengajarkan kerendahan hati.
"Kakak Tianji, belum tidur?" Yue'er keluar dari tenda, menyelimuti bahu dengan jubah tipis.
"Belum. Kau juga?"
Yue'er duduk di sampingnya. "Aku memikirkan sesuatu." Ia diam sejenak. "Tentang kenapa kakak Tianji begitu teguh."
Tianji menatap fragmen di tangannya. "Karena aku tidak punya pilihan lain."
"Semua orang punya pilihan."
"Benar." Tianji menghela napas. "Tapi pilihan yang benar tidak selalu yang paling mudah. Aku bisa saja lari, bersembunyi, meninggalkan semua ini. Tapi Lord Hitam tidak akan berhenti. Ia akan terus mencari kitab ini, terus menyakiti orang-orang yang kusayangi. Kalau aku lari, berarti aku mengkhianati semua yang sudah diperjuangkan Guru Xuan Qingzi dan Li Qingfeng."
Yue'er menggigit bibir bawah. "Kakak Tianji… maafkan aku karena dulu tidak bisa bicara saat kau sangat membutuhkan dukunganโ"
"Ayolah." Tianji tersenyum dan mengusap rambut Yue'er. "Kau sudah banyak berubah. Dulu kau hanya bisa diam. Sekarang mulutmu tidak pernah berhenti."
"Heeey! Aku serius!"
"Maaf, maaf." Tianji tertawa kecil. "Tapi sungguh, Yue'er. Melihatmu bisa bicara, tertawa, bahkan marah-marah… itu sudah membuatku bahagia."
Yue'er memeluk lututnya. "Aku juga bahagia. Setelah bertahun-tahun terperangkap dalam ketakutan… akhirnya aku bisa bicara lagi. Semua karena kakak Tianji."
Angin malam bertiup lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Di kejauhan, suara burung hantu terdengar sayup-sayup.
"Besok kita akan memasuki daerah berbahaya," Xiao Yu'er tiba-tiba muncul dari balik tenda. Pemuda itu tidak pernah tidur nyenyak โ kebiasaan yang ia bawa sejak masa lalunya yang kelam.
"Kau tidak bisa bergerak lebih tenang?" Yue'er mengeluh.
"Aku bergerak dengan tenang. Telingamu saja yang tidak peka." Xiao Yu'er duduk di seberang mereka. "Menurut informasi yang kudapat, makam Naga Laut dijaga oleh enam lapis perangkap kuno. Masing-masing lebih mematikan dari sebelumnya."
"Kau tahu dari mana?" Tianji bertanya.
Xiao Yu'er menunjukkan lengan kirinya. Ada tato kecil berbentuk naga laut โ identitas rahasia. "Dari catatan klan bayangan. Leluhur kami pernah diminta menjaga makam itu selama seratus tahun, sebelum akhirnyaโ" Ia berhenti. "Sebelum akhirnya semuanya musnah."
Yue'er mengerutkan kening. "Klammu juga terkait dengan Makam Naga Laut?"
"Itu cerita panjang." Xiao Yu'er mengalihkan pandangan. "Intinya, perangkap pertama adalah Kabut Pengabur Arah โ siapa pun yang masuk akan kehilangan arah. Perangkap kedua adalah [patung penjaga] yang terbuat dari batu giok hitam, bisa bergerak kalau mendeteksi Qi asing."
"Mengerikan," gumam Yue'er.
"Perangkap ketiga adalah Ruang Bayangan โ di sana, musuh terbesar bukan monster atau patung, melainkan diri sendiri." Xiao Yu'er menatap Tianji. "Konon ruangan itu akan menampilkan ketakutan terdalam seseorang."
Tianji merasakan dadanya sesak. Ketakutan terdalamnya… ia sudah mengalaminya. Melihat gurunya tewas, orang tuanya pergi, teman-temannya terluka.
"Perangkap keempat," lanjut Xiao Yu'er, "adalah Air Mata Naga โ danau kecil berisi cairan yang bisa melarutkan daging dalam hitungan detik. Perangkap kelima, Lembah Gema โ satu suara salah bisa menyebabkan longsor. Dan perangkap keenam…"
"Keenam?"
Xiao Yu'er menggeleng. "Tidak ada catatan yang tersisa. Mungkin hanya Naga Laut Tertua yang tahu."
Malam itu menjadi malam tanpa tidur bagi mereka bertiga. Setiap orang memikirkan perangkap-perangkap mematikan yang menanti esok hari.
—
Hari kedua, mereka tiba di kaki gunung tempat Makam Naga Laut bersemayam. Gunung itu menjulang tinggi, puncaknya tertutup awan. Di lereng barat, terukir wajah naga raksasa โ matanya dari batu ruby, mulutnya menganga lebar membentuk pintu gua.
"Ini dia," bisik Yue'er. "Mulut Makam Naga Laut."
Pintu gua itu tidak seperti gua biasa. Dindingnya dipenuhi ukiran naga dalam berbagai pose โ naga terbang, naga berputar, naga menyemburkan api, naga melindungi mutiara. Setiap ukiran dibuat dengan detail yang mencengangkan.
Tianji melangkah maju. Saat kakinya menyentuh ambang pintu, ukiran naga di dinding tiba-tiba bersinar. Cahaya biru kehijauan memenuhi seluruh gua.
"Hebat," Yue'er berkata pelan. "Ini sungguhan makam kuno."
"Belum masuk saja sudah ada kejutan," Xiao Yu'er memeriksa dinding dengan jari-jarinya. "Batu giok yang diukir dengan Qi tingkat dewa. Leluhurku bilang, Naga Laut Tertua adalah manusia pertama yang mencapai MP Lv8 โ level tertinggi yang pernah tercatat."
"Lv8?" Tianji menelan ludah. "Aku masih berjuang untuk Lv4…"
"Jangan bandingkan dirimu dengannya," Yue'er menghibur. "Dia butuh waktu seribu tahun untuk mencapai itu. Kakak Tianji baru enam belas tahun!"
"Tapi Lord Hitam mungkin sudah di level lima atau enam."
"Kita hadapi satu per satu," Xiao Yu'er memotong. "Sekarang kita fokus masuk ke dalam makam. Perangkap pertama menanti."
Tianji mengangguk. Ia mengatur napas, memusatkan Qi di pusat tubuhnya. Kemudian, dengan langkah mantap, ia melangkah masuk ke dalam mulut naga.
Kabut putih menyambutnya.
"Kabut Pengabur Arah," gumam Tianji. Di belakangnya, suara langkah Yue'er dan Xiao Yu'er terdengar sayup. Tapi dalam sekejap, suara itu hilang โ digantikan keheningan total.
"Yue'er! Xiao Yu'er!" teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Tianji menutup mata. Ia ingat pelajaran Xuan Qingzi: "Kalau kau tersesat, jangan cari jalan dengan matamu โ carilah dengan hatimu. Qi adalah peta terbaik."
Sadarlah ia bahwa kabut itu bukan kabut biasa โ kabut itu mengandung Qi yang mengacaukan indra. Siapa pun yang mengandalkan mata dan telinga pasti akan tersesat selamanya.
Tianji menghela napas panjang. Ia menutup semua indranya, hanya menyisakan perasaan Qi murni. Perlahan, ia merasakan aliran Qi di sekelilingnya โ ada yang mengarah ke timur laut, ada yang mengarah ke barat daya. Tapi satu aliran Qi terasa lebih kuat dari yang lain โ seperti sungai bawah tanah yang deras.
Itu pasti jalan yang benar.
Tianji berjalan mengikuti aliran Qi itu. Langkahnya mantap, tidak ragu-ragu. Setelah berjalan sekitar seratus langkah, kabut mulai menipis. Dan di depannya, Yue'er dan Xiao Yu'er berdiri dengan ekspresi bingung.
"Kakak Tianji!" Yue'er berlari menghampiri. "Kau selamat! Aku tersesat, terus muter-muter, nyaris nabrak dindingโ"
"Aku pakai pancaindra," kata Xiao Yu'er. Tapi Tianji bisa melihat pemuda itu juga kelihatan lega.
"Kabut ini menggunakan Qi musuh sendiri untuk membuat ilusi," jelas Tianji. "Semakin kau panik, semakin rapat kabutnya. Yang harus kau lakukan adalah menenangkan Qi dalam tubuh."
Yue'er mengangguk-angguk. "Aku mengerti. Kalau begitu, lain kali aku akan bersikap tenang."
"Kau? Tenang?" Xiao Yu'er mendengus.
"Mau bertengkar kau?! Aku bisa tenang kalau mau!"
Tianji tersenyum melihat mereka. Meskipun dalam situasi berbahaya, kehadiran Yue'er dan Xiao Yu'er membuatnya merasa lengkap. Ia tidak sendirian lagi.
Mereka melanjutkan perjalanan ke dalam makam. Di belakang mereka, pintu gua perlahan tertutup โ seolah naga raksasa itu menelan mereka hidup-hidup.
"Selamat datang di Makam Naga Laut," bisik Tianji. "Perjalanan kita baru saja dimulai."
Di kedalaman gua, sesuatu bergerak. Mata merah menyala di kegelapan. Patung-patung giok hitam mulai menggerakkan anggota tubuh mereka โ bersiap menyambut tamu tak diundang.
Perangkap kedua telah aktif.