๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 50: KEBEBASAN

← BAB 49: PERTARUNGAN DALAM BENTโ€ฆ BAB 51: PERJALANAN TIMUR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Fajar menyingsing di atas reruntuhan Benteng Hitam. Asap masih mengepul dari puing-puing yang terbakar, dan sesekali terdengar suara kayu yang retak dan runtuh. Burung-burung gagak berputar-putar di langit, menunggu kesempatan untuk menyambar sisa-sisa.

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er duduk di lereng bukit yang menghadap ke benteng yang hancur. Mereka kelelahan, baju mereka robek dan kotor, tubuh mereka penuh luka dan memar. Tapi mereka masih hidup. Mereka bebas.

"Aku tidak percaya kita berhasil," kata Xiao Yu'er, matanya masih menatap reruntuhan dengan ekspresi tidak percaya. "Kita benar-benar berhasil keluar dari Benteng Hitam."

"Jangan sombong dulu," kata Yue'er, meskipun suaranya juga lega. "Kita lolos, tapi Lord Hitam juga lolos. Dan kau lupa, Lady Hong belum kembali."

Sebutan nama Lady Hong membuat suasana menjadi tegang. Tianji berdiri, matanya mengamati reruntuhan di bawah, mencari tanda-tanda kehidupan.

"Lady Hong wanita yang kuat," katanya, lebih meyakinkan dirinya sendiri daripada teman-temannya. "Ia pasti selamat."

Tapi di dalam hatinya, Tianji tidak yakin. Pertarungan antara Lady Hong dan Lord Hitam adalah salah satu pertarungan tenaga dalam paling dahsyat yang pernah ia saksikan. Energi dari ledakan itu cukup untuk meruntuhkan seluruh benteng.

Tiba-tiba, dari arah reruntuhan, mereka melihat sesosok bayangan bergerak. Sosok itu berjalan perlahan, pincang, tapi masih tegak.

"Lady Hong?" bisik Yue'er.

Sosok itu semakin mendekat, dan Tianji bisa melihat bahwa itu memang Lady Hong. Bajunya robek, rambutnya berantakan, dan darah mengalir dari luka di bahunya. Tapi ia masih hidup. Matanya masih bersinar dengan cahaya yang samaโ€”cahaya seorang pejuang yang tidak pernah menyerah.

"Lady Hong!" Tianji berlari menemuinya, Yue'er dan Xiao Yu'er mengikuti.

Lady Hong tersenyum ketika melihat mereka. "Kau berhasil. Fragmennya?"

Tianji mengeluarkan keempat fragmen dari kantongnya. Fragmen 1, 2, 3, dan 4 bersinar redup di tangannya, memancarkan energi misterius yang membuat udara di sekeliling mereka terasa bergetar.

"Lengkap," kata Lady Hong, matanya berbinar. "Hampir lengkap. Hanya satu yang tersisa."

"Fragmen 5," kata Tianji. "Di mana aku bisa menemukannya?"

Lady Hong terdiam. Ia menatap Tianji dengan mata yang penuh arti, seolah mempertimbangkan sesuatu.

"Kau harus tahu," katanya akhirnya, suaranya lemah. "Fragmen 5 bukan fragmen biasa. Ia adalah fragmen utama, inti dari Fragmen Naga Laut. Tanpanya, keempat fragmen ini hanyalah batu biasa."

"Aku sudah menduga," kata Tianji. "Di mana ia?"

Lady Hong menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian.

"Makam Naga Laut."

Udara terasa tiba-tiba dingin. Bahkan Yue'er, yang biasanya banyak bicara, terdiam mendengar kata-kata itu.

"Makam Naga Laut?" ulang Tianji pelan. "Aku pernah mendengar cerita tentang itu dari Guru Li. Konon itu adalah tempat di mana Naga Terakhir dimakamkan, di dasar lautan, dijaga oleh monster dan kutukan kuno."

"Itu bukan sekadar cerita," kata Lady Hong. "Makam Naga Laut benar-benar ada, di dasar Palung Kegelapan, di ujung timur lautan. Dan di dalamnya, tersimpan Fragmen 5."

"Bagaimana kau tahu?"

Lady Hong tersenyum. "Karena aku adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah ke sana. Dan selamat untuk menceritakannya."

Ia menarik lengan bajunya, memperlihatkan lengan kirinya. Di sana, terukir tato aneh berbentuk sisik naga, yang melingkar dari pergelangan tangan hingga ke siku.

"Ini adalah tanda Markah Naga," kata Lady Hong. "Setiap orang yang memasuki Makam Naga Laut dan keluar hidup-hidup akan mendapat tanda ini. Sebagai pengingat bahwa mereka pernah menginjakkan kaki di tempat suci itu."

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er memandangi tato itu dengan takjub.

"Mengerikan," bisik Xiao Yu'er.

"Tapi bagaimana dengan Lord Hitam?" tanya Yue'er, kembali ke topik yang lebih praktis. "Ia lolos dengan beberapa fragmen? Aku melihatnya melarikan diri ketika benteng runtuh."

Lady Hong mengangguk, wajahnya muram. "Ya, ia melarikan diri melalui lorong bawah tanah yang tidak kuketahui. Dan ia memiliki fragmen yang telah ia serap ke dalam tubuhnya. Fragmen itu sekarang menjadi bagian dari tenaga dalamnya."

"Maksudnya?" tanya Tianji.

"Lord Hitam telah menyerap energi dari Fragmen 3 dan 4โ€”sebagian, sebelum kau mengambilnya. Ia memiliki kekuatan fragmen di dalam tubuhnya. Dan jika ia mendapatkan Fragmen 5, ia akan menjadi…"

"Tidak terkalahkan," Tianji menyelesaikan kalimatnya. Ia mengepalkan tangannya. "Aku harus pergi ke Makam Naga Laut. Dan mengambil Fragmen 5 sebelum Lord Hitam."

"Itu berbahaya," kata Lady Hong. "Makam Naga Laut bukan tempat untuk orang yang setengah hati. Banyak pendekar hebat yang masuk dan tidak pernah kembali. Bahkan aku, yang selamat, hampir kehilangan akal di sana."

"Aku tidak punya pilihan," kata Tianji tegas. "Jika aku tidak menghentikan Lord Hitam sekarang, ia akan menjadi semakin kuat. Dan suatu hari nanti, tidak ada yang bisa menghentikannya."

Lady Hong menatap Tianji lama, matanya mencari keraguan di wajah pemuda itu. Tapi yang ia lihat hanyalah tekad.

"Kau sangat mirip dengan ayahmu," katanya tiba-tiba.

Mendengar itu, jantung Tianji berdegup kencang. "Ayahku? Kau mengenal ayahku?"

Lady Hong tersenyum sedih. "Ya, aku mengenalnya. Ia adalah salah satu pendekar terhebat yang pernah kukenal. Dan ia memiliki tekad yang sama sepertimu."

"Siapa ayahku?"

"Namanya adalah Tian Feng. Ia adalah Pemimpin Gerakan Naga, sebuah organisasi rahasia yang didirikan untuk melindungi Fragmen Naga Laut. Ketika Lord Hitam mengetahui hal itu, ia membunuh ayahmu untuk mendapatkan fragmen-fragmen itu."

"Tapi kenapa Lord Hitam tidak langsung mengambilnya?" tanya Tianji, suaranya bergetar.

"Karena ayahmu menyembunyikannya sebelum ia meninggal. Dan hanya kau, sebagai anaknya, yang bisa menemukan semuanya. Fragmen Naga Laut memiliki ikatan darahโ€”mereka hanya akan merespon kepadamu."

Mendengar cerita itu, Tianji merasa seperti ada potongan puzzle yang jatuh ke tempatnya. Semua yang ia alamiโ€”kematian orang tuanya, perjalanannya, pertemuannya dengan Xuan Qingzi, dan bahkan penjara di Benteng Hitamโ€”semua itu adalah bagian dari rencana yang lebih besar.

"Jadi aku harus pergi ke Makam Naga Laut," katanya.

"Aku akan pergi bersamamu," kata Yue'er tiba-tiba.

"Aku juga," tambah Xiao Yu'er.

Tianji menatap mereka berdua. "Kalian tidak harus ikut. Ini adalah perjalananku, tanggung jawabku."

"Omong kosong!" Yue'er membentak. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendirian? Siapa yang akan mencarikanmu makanan? Siapa yang akan membangunkanmu ketika kau terlalu asyik bermeditasi? Siapa yang akan memarahimu ketika kau melakukan hal bodoh?"

"Menurutku, yang terakhir itu yang paling penting," Xiao Yu'er menyela, tersenyum.

"Diam kau!"

Tianji tertawa. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia tertawa dengan bebas. "Baiklah, kalian boleh ikut. Tapi jangan menyesal."

"Menyesal? Aku sudah menyesal sejak pertama kali bertemu denganmu," gerutu Yue'er, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Lady Hong memandangi mereka bertiga, dan untuk sesaat, matanya tampak berkaca-kaca. "Aku senang ayahmu memiliki teman sepertimu," katanya pelan. "Pergilah ke timur. Ikuti garis pantai menuju ujung Tanjung Angin. Di sana, kau akan menemukan sebuah desa nelayan kecil. Cari seorang tua bernama Kakek Taiโ€”ia akan membawamu ke Makam Naga Laut."

"Kau tidak ikut dengan kami?" tanya Tianji.

"Lukaku masih berat," kata Lady Hong. "Aku perlu waktu untuk pulih. Tapi aku akan menyusul kalian setelah aku sembuh."

Lady Hong meraih tangan Tianji. Di tangannya, ia menaruh sebuah liontin kecil berbentuk naga, terbuat dari giok hitam.

"Ini adalah peninggalan ayahmu. Simpanlah. Mungkin berguna di Makam Naga Laut."

Tianji menerima liontin itu dengan tangan gemetar. Ia bisa merasakan energi hangat dari giok itu, seolah-olah liontin itu hidup.

"Terima kasih, Lady Hong."

"Panggil aku Bibi Hong," kata Lady Hong tersenyum. "Aku dan ayahmu dulu seperti saudara."

Mata Tianji berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki keluargaโ€”bukan keluarga darah, tapi keluarga yang dipilih oleh takdir.

"Aku akan pergi ke Makam Naga Laut," katanya, suaranya teguh. "Aku akan mengambil Fragmen 5. Dan aku akan menghentikan Lord Hitam."

"Aku yakin kau bisa," kata Lady Hong. "Sekarang pergilah. Sebelum Lord Hitam pulih dan mengejarmu."

Tianji mengangguk. Ia berbalik, dan bersama Yue'er dan Xiao Yu'er, ia mulai berjalan ke arah timur, mengikuti garis pantai yang berkilau di bawah sinar matahari pagi.

"Ini belum berakhir," katanya, lebih kepada dirinya sendiri. "Fragmen terakhir menentukan segalanya."

Yue'er berjalan di sampingnya, langkahnya ringan meskipun lelah. "Kau tahu, Tianji, ketika pertama kali aku bertemu denganmu, kau hanyalah anak nakal yang suka mencuri buah di kebun tetangga."

"Dan kau adalah gadis galak yang selalu memarahiku," balas Tianji.

"Lihat sekarang. Kau berubah menjadi Pendekar Penyerap Lautan yang hebat. Sungguh perjalanan yang panjang."

"Masih panjang," kata Tianji. "Perjalanan kita belum selesai."

"Aku tahu. Tapi setidaknya, kita tidak perlu khawatir tentang benteng yang runtuh menimpa kepala kita. Untuk saat ini."

Mereka bertiga tertawa, suara tawa mereka bergema di pantai yang sepi. Burung-burung camar berteriak di atas mereka, dan ombak berdebur lembut di tepi pasir.

"Tapi serius," lanjut Yue'er, matanya menatap horizon timur. "Makam Naga Laut. Kau benar-benar percaya itu ada? Tempat di mana naga terakhir dimakamkan?"

"Aku percaya," kata Tianji, tangannya meremas liontin giok hitam pemberian Lady Hong. "Setelah semua yang kualamiโ€”Fragmen Naga Laut, MP Lv3, kemampuan Pemurnianโ€”aku percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini memiliki penjelasan. Hanya saja kita yang belum mengetahuinya."

"Kau bicara seperti Guru Xuan Qingzi," sindir Yue'er.

"Mungkin aku memang muridnya," Tianji tersenyum.

"Tapi soal Makam Naga Laut," Xiao Yu'er menimpali, suaranya serius. "Apa kata Lady Hong tentang penjaga di sana?"

"Ia berkata ada monster dan kutukan kuno," jawab Tianji. "Tapi ia juga bilang bahwa ia berhasil selamat. Berarti ada cara untuk masuk dan keluar dengan selamat."

"Atau ia hanya beruntung," kata Yue'er skeptis. "Kau tahu, dalam cerita-cerita yang kudengar, Makam Naga Laut bukan tempat yang ramah bagi pengunjung. Konon, siapa pun yang masuk ke sana dan mencoba mengambil harta karunnya akan dikutuk menjadi abadiโ€”bukan abadi dalam arti hidup selamanya, tapi abadi menderita."

"Aku pernah mendengar versi lain," tambah Xiao Yu'er. "Ada yang bilang bahwa Makam Naga Laut dijaga oleh sembilan naga bayangan. Setiap naga mewakili satu tingkat kesulitan. Kalau kau bisa mengalahkan satu naga, kau bisa maju ke tingkat berikutnya. Tapi kalau kalah…"

"Kau akan menjadi santapan naga-naga itu," Yue'er menyelesaikan.

"Kalian tidak takut?" tanya Tianji, menatap mereka.

"Tentu saja takut!" Yue'er menjawab cepat. "Siapa yang tidak takut menghadapi naga bayangan? Tapi lebih takut lagi kalau aku tinggal diam dan membiarkan Lord Hitam menguasai semua fragmen. Kau lihat sendiri apa yang ia lakukan di Benteng Hitam. Bayangkan kalau ia memiliki kekuatan penuh dari Fragmen Naga Laut."

"Aku pernah mendengar dari para pedagang di pasar," kata Xiao Yu'er, "bahwa Lord Hitam dulunya adalah seorang pendekar biasa. Tidak terlalu kuat, tidak terlalu lemah. Tapi setelah ia mendapatkan Fragmen pertama, ia berubah. Kekuatannya meningkat drastis. Dan semakin banyak fragmen yang ia kumpulkan, semakin kuat ia, dan semakin kejam ia menjadi."

"Itu yang membuatku khawatir," kata Tianji. "Lord Hitam tidak akan berhenti. Ia akan terus mengejar fragmen yang tersisa. Dan jika ia mendapatkan Fragmen 5 sebelum kita…"

"Dunia persilatan akan berada dalam kegelapan," Yue'er menyelesaikan.

Mereka berjalan dalam diam untuk beberapa saat, hanya ditemani suara ombak dan kicauan burung camar. Di kejauhan, mereka bisa melihat garis pantai yang berkelok-kelok, dengan tebing-tebing curam yang menjulang di beberapa tempat.

"Begitu banyak yang telah terjadi," kata Tianji tiba-tiba. "Ketika aku meninggalkan desa, aku hanya seorang anak yang ingin mencari petualangan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa petualangan itu akan membawaku sejauh ini."

"Dan membawamu bertemu denganku," Yue'er menyeringai. "Bukankah itu hal yang paling beruntung?"

"Atau paling sial," goda Tianji.

"Dasar!" Yue'er memukul lengannya.

"Tapi serius," katanya kemudian. "Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini selesai? Setelah kau mengalahkan Lord Hitam dan mengumpulkan semua Fragmen Naga Laut?"

Tianji terdiam, memikirkan pertanyaan itu. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Mungkin aku akan kembali ke desa. Membangun kembali rumah yang hancur. Menjadi petani seperti dulu."

"Petani?" Yue'er tidak percaya. "Seorang Pendekar Penyerap Lautan menjadi petani? Jangan membuatku tertawa."

"Atau mungkin aku akan berkelana," lanjut Tianji. "Mengunjungi tempat-tempat yang selama ini hanya kudengar dari cerita Guru Li. Gunung Es di Utara. Lembah Seribu Bunga di Selatan. Danau Bulan di Barat."

"Kedengarannya indah," kata Xiao Yu'er, matanya berbinar. "Boleh aku ikut?"

"Aku juga!" Yue'er cepat-cepat menambahkan. "Kau tidak bisa pergi sendirian. Nanti kau tersesat atau dimakan binatang buas."

"Aku sudah enam belas tahun, Yue'er. Aku bukan anak kecil lagi."

"Untuk ukuran pendekar dunia persilatan, kau masih sangat muda," kata Yue'er. "Masih banyak yang perlu kau pelajari. Dan siapa lagi yang akan mengajarkanmu kalau bukan aku?"

"Kau? Apa yang bisa kau ajarkan?"

"Banyak! Misalnya… cara memasak nasi yang tidak gosong. Atau cara membedakan jamur beracun dan tidak. Atau cara bernegosiasi dengan pedagang nakal."

Tianji tertawa. "Baiklah, baiklah. Kau memang ahli dalam hal-hal praktis."

"Tentu saja! Dan kau, dengan semua tenaga dalam dan teknik silatmu, tidak bisa hidup tanpaku."

Di kejauhan, di ufuk timur, awan mulai berkumpul. Tanda bahwa badai akan datang.

Tapi Tianji tidak takut. Ia telah melewati badai yang lebih buruk. Dan dengan Fragmen 1, 2, 3, dan 4 di tangannya, dengan teman-teman yang setia di sampingnya, ia siap menghadapi apa pun yang akan datang.

"Makam Naga Laut," bisiknya. "Aku datang."

Matahari terbit sepenuhnya di ufuk timur, menyinari lautan dengan warna keemasan. Perjalanan baru dimulai. Petualangan baru menanti.

Dan di suatu tempat di ujung lautan, di dasar Palung Kegelapan, Fragmen 5 menungguโ€”fragmen terakhir yang akan menentukan nasib seluruh dunia persilatan.

KISAH PENYERAP LAUTAN Bersambung…

— TAMAT BATCH 10 (BAB 46-50) —

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 49: PERTARUNGAN DALAM BENTโ€ฆ BAB 51: PERJALANAN TIMUR →