Tiga hari telah berlalu sejak Tianji mencapai MP Lv3 di Altar Pemurnian. Tiga hari yang ia gunakan untuk memulihkan tenaga dalamnya dan membiasakan diri dengan kemampuan barunya.
Selama tiga hari itu pula, Yue'er dan Xiao Yu'er bergantian menjaga dan mencari informasi. Mereka menyusup ke desa-desa terdekat, mendengar kabar tentang Benteng Hitam.
"Lord Hitam mengira kita sudah mati," kata Xiao Yu'er ketika mereka berkumpul di altar pada malam ketiga. "Mereka menemukan jejak di saluran pembuangan yang mengarah ke sungai. Mereka mengira kita tenggelam."
"Biarkan mereka percaya itu," kata Tianji. "Itu akan membuat kita lebih mudah bergerak."
"Tapi ada berita lain," lanjut Xiao Yu'er, wajahnya serius. "Lady Hong sudah kembali. Ia mengumpulkan pasukan. Konon ia akan menyerang Benteng Hitam."
Mendengar nama Lady Hong, jantung Tianji berdegup kencang. Wanita misterius yang menyelamatkannya dari Lord Hitam pada pertemuan pertama merekaโwanita yang ia yakini memiliki hubungan misterius dengan ayahnya.
"Kapan?" tanya Tianji.
"Besok malam, kata orang-orang. Saat bulan purnama."
Tianji terdiam berpikir. Jika Lady Hong menyerang besok malam, itu adalah kesempatan yang sempurna. Kekacauan yang ditimbulkan oleh serangan itu akan menjadi pengalih perhatian yang sempurna.
"Kita akan bergerak besok malam juga," putus Tianji. "Saat Lady Hong menyerang dari luar, kita akan masuk dari dalam."
"Masuk dari dalam?" Yue'er mengerutkan kening. "Kau mau kembali ke benteng? Kita baru saja keluar dari sana!"
"Ada barang yang harus kuambil," jawab Tianji. "Fragmen 3 dan 4. Lord Hitam memilikinya. Dan selama ia memiliki fragmen itu…"
"Ia akan terus mengejar kita," Yue'er menyelesaikan kalimatnya. "Aku mengerti. Tapi bagaimana caranya? Benteng itu pasti sudah dijaga super ketat setelah pelarian kita."
"Aku punya rencana."
—
Malam berikutnya, bulan purnama bersinar terang di atas Benteng Hitam. Cahaya keperakan menyinari dinding-dinding batu yang menjulang, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari di halaman benteng.
Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er bersembunyi di balik semak-semak di lereng bukit yang menghadap ke benteng. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh aktivitas di dalam.
"Lihat," bisik Xiao Yu'er, menunjuk ke arah gerbang utama. "Pasukan Lady Hong."
Dari kejauhan, mereka bisa melihat barisan obor yang bergerak mendekati benteng. Puluhan, mungkin ratusan oborโseperti sungai api yang mengalir di kegelapan.
"Mereka banyak sekali," kata Yue'er, matanya membelalak.
"Lady Hong adalah pemimpin Persaudaraan Bunga Merah," kata Tianji. "Konon ia memiliki ribuan pengikut setia di seluruh penjuru negeri."
"Mengapa ia mau membantumu?" tanya Xiao Yu'er. "Kau bahkan bukan anggota persaudaraannya."
"Aku juga tidak tahu," Tianji menggeleng. "Tapi aku yakin ada hubungan antara ia dengan ayahku."
Perbincangan mereka terpotong oleh suara ledakan keras dari arah benteng. Pasukan Lady Hong telah mulai menyerang. Dari atas tembok benteng, anak panah berhamburan, tapi pasukan penyerang berlindung di balik perisai besar yang terbuat dari kulit kerbau.
"Sekarang," kata Tianji. "Kita bergerak."
Mereka bertiga meluncur turun dari lereng bukit, memanfaatkan semak-semak dan bebatuan sebagai pelindung. Kekacauan pertempuran di gerbang utama menjadi pengalih perhatian yang sempurnaโpara penjaga yang biasanya berpatroli di sekitar benteng kini semuanya berkumpul di gerbang untuk menghadapi serangan.
Tianji memimpin mereka ke dinding samping benteng, tempat di mana terdapat celah yang ia ingat dari masa kecilnya. Sayangnya, celah itu telah ditutup dengan batu baru.
"Sial," gumam Yue'er. "Mereka sudah menambalnya."
"Mundur," kata Tianji, matanya mengamati dinding. "Ada cara lain."
Ia mengangkat tangannya, dan energi murni dari MP Lv3 mulai berkumpul di telapak tangannya. Pisau Pemurnianโteknik yang ia kuasai di Altar Pemurnian.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Xiao Yu'er, matanya membelalak. "Itu akan membuat suara!"
"Mereka terlalu sibuk dengan pertempuran. Tidak akan ada yang mendengar."
Tianji menggerakkan tangannya, dan Pisau Pemurnian menebas dinding batu itu. Tidak ada suara ledakan, hanya suara mendesis pelan seperti air yang mengenai batu panas. Batu itu terpotong rapi, dan Tianji mendorongnya hingga jatuh ke dalam.
"Masuk," bisiknya.
Mereka bertiga melompat masuk ke dalam benteng melalui lubang itu. Mereka berada di halaman belakang, dekat dengan barak para prajurit. Tapi barak itu kosongโsemua prajurit telah dikerahkan ke gerbang depan.
"Sekarang ke mana?" tanya Yue'er.
"Kamar Lord Hitam," kata Tianji. "Di menara pusat."
Mereka bergerak cepat, melewati koridor-koridor yang gelap. Dari kejauhan, suara pertempuran semakin kerasโbenturan senjata, teriakan, dan sesekali ledakan tenaga dalam yang dahsyat.
"Lady Hong benar-benar kuat," kata Xiao Yu'er, setengah kagum, setengah takut. "Aku bisa merasakan getaran tenaga dalamnya dari sini."
"Sama kuatnya dengan Lord Hitam, kurasa," sahut Tianji. "Tapi bukan itu tugas kita. Tugas kita adalah mengambil fragmen dan keluar."
Mereka tiba di kaki menara pusat. Tangga spiral batu menuju ke atas, dan di setiap lantai, ada beberapa penjaga. Tapi dengan kemampuan barunya, Tianji bisa melewati mereka tanpa pertumpahan darahโcukup dengan mengirimkan gelombang energi yang membuat mereka pingsan.
"Efisien," komentar Yue'er ketika melihat tiga penjaga tergeletak tak sadar di lantai. "Sejak kapan kau menjadi begitu pandai?"
"Sejak aku mencapai MP Lv3," jawab Tianji singkat. "Ayo."
Di lantai paling atas, mereka menemukan pintu besar dari kayu hitam yang diukir dengan naga berkepala tiga. Ini pasti kamar Lord Hitam.
Tianji mendorong pintu itu, danโtanpa didugaโpintu itu terbuka dengan mudah.
"Jebakan?" bisik Yue'er.
"Mungkin," kata Tianji. "Tapi kita tetap harus masuk."
Mereka melangkah masuk ke dalam kamar. Ruangan itu luas, dipenuhi dengan rak-rak buku dan berbagai benda anehโtengkorak binatang, guci-guci kuno, dan lukisan-lukisan misterius. Di ujung ruangan, sebuah meja besar dengan kursi tinggiโsinggasana Lord Hitam.
Dan di atas meja itu, dua fragmen giok bersinar redup.
Fragmen 3 dan 4.
"Ada," bisik Tianji, jantungnya berdegup kencang.
Ia melangkah mendekati meja itu. Tapi baru beberapa langkah, sebuah suara dingin terdengar dari belakangnya.
"Aku sudah menunggumu."
Tianji berbalik dengan cepat. Lord Hitam berdiri di ambang pintu, jubah hitamnya berkibar meskipun tidak ada angin. Di belakangnya, beberapa pengawal bersenjata lengkap.
"Kau sudah bangkit kembali," kata Lord Hitam, suaranya mengandung kekaguman yang dipaksakan. "MP Lv3. Cepat juga pemulihanmu."
"Kau tidak akan bisa mengurungku selamanya," kata Tianji, suaranya tenang.
"Ah, bicara besar. Tapi sayang, kau datang ke sarang laba-laba dengan sukarela. Aku tadinya harus bersusah payah mencarimu. Tapi kau malah datang sendiri."
Di luar, suara pertempuran semakin keras. Lady Hong, seolah merasakan keberadaan Tianji, meningkatkan serangannya. Dinding benteng bergetar.
"Hanya ada satu tempat untuk fragmen itu," kata Tianji, tetap tenang. "Dan kau tahu itu."
"Berani kau!" Lord Hitam tertawa, tawa yang dalam dan bergema. "Baiklah, kalau kau ingin fragmen itu, rebutlah!"
Lord Hitam melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa. Tangannya yang bercahaya hitam menerjang ke arah Tianji.
Tianji tidak mundur. Ia mengangkat tangannya, dan energi biru berkumpul di telapak tangannyaโPisau Pemurnian.
Serangan Lord Hitam dan Tianji bertemu di udara.
Ledakan dahsyat mengguncang ruangan. Rak-rak buku tumbang, kertas-kertas beterbangan. Yue'er dan Xiao Yu'er terpental ke belakang, terlindung di balik meja besar.
Lord Hitam melangkah mundur setengah langkah, matanya melebar. "Apa? Tenaga dalammu… ini bukan tenaga dalam biasa."
"MP Lv3," kata Tianji. "Tingkat Pemurnian. Sekarang aku bisa memilih apa yang kuserap. Dan aku sudah memurnikan tenaga dalam dari fragmen yang kau curi."
"Mustahil! Butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai pemurnian sempurna!"
"Mungkin untuk orang biasa. Tapi aku adalah Penyerap Lautan."
Tianji menyerang lagi. Kali ini, ia menggunakan kombinasi gerakan yang diajarkan Xuan Qingzi dan energi murni dari fragmen. Serangannya cepat, tepat, dan kuat.
Lord Hitam, yang sebelumnya bisa mengalahkan Tianji dalam hitungan detik, kini harus bertahan. Impas. Untuk pertama kalinya, pertarungan mereka seimbang.
"Hei, Lord Hitam!" teriak Yue'er dari balik meja. "Kau kelihatan seperti ayam tua yang kehilangan bulu! Apa itu yang disebut Pendekar Kegelapan Agung? Pemalun!"
"DIAM!" Lord Hitam meraung, tangannya menyambar ke arah Yue'er. Tapi Tianji bergerak lebih cepat, memotong serangan itu dengan Pisau Pemurnian.
"Sekarang aku yang menyerang," desis Tianji.
Tianji mengeluarkan seluruh kemampuannya. MP Lv3 bukan hanya tentang pemurnianโini tentang kontrol total atas energi. Ia bisa menyerap tenaga dalam Lord Hitam, memurnikannya, dan menggunakannya kembali.
Setiap kali tinju mereka bertemu, setiap kali telapak tangan mereka bersentuhan, Tianji menyerap sedikit energi Lord Hitam. Tidak banyakโtapi cukup untuk membuat Lord Hitam semakin lemah, sementara Tianji semakin kuat.
"Apa yang kau lakukan?" Lord Hitam mundur selangkah, wajahnya di balik topeng besi menunjukkan keterkejutan.
"Ini adalah balasan untuk semua hari yang kau habiskan untuk menyedot tenaga dalamku," kata Tianji. "Sekarang giliranku."
Lord Hitam meraung marah. Ia mengeluarkan seluruh kekuatannya, energi hitam meledak dari tubuhnya, menghancurkan lantai di sekitarnya. Gelombang kejut itu melemparkan Yue'er dan Xiao Yu'er ke dinding.
Tianji terhuyung mundur, tapi tidak jatuh. Ia mengerahkan seluruh konsentrasinya, menggunakan teknik Pemurnian untuk menstabilkan energi di tubuhnya.
"Kau memang kuat," akui Lord Hitam, napasnya terengah-engah. "Tapi tidak cukup kuat untuk mengalahkanku."
"Tidak perlu mengalahkanmu," kata Tianji. "Aku hanya perlu mengambil ini."
Dengan gerakan yang amat cepat, Tianji melesat ke meja dan meraih Fragmen 3 dan 4. Begitu fragmen itu berada di tangannya, ia merasakan gelombang energi yang luar biasa mengalir ke tubuhnya.
Tapi kemudian, terdengar suara gemuruh yang dahsyat. Sebuah ledakan besar mengguncang benteng. Langit-langit mulai runtuh.
"Lady Hong berhasil masuk!" teriak Xiao Yu'er.
Di lantai bawah, Lady Hong telah menerobos gerbang utama. Pertempuran kini berkecamuk di halaman benteng.
Tianji melirik ke luar jendela. Lady Hong sedang bertarung melawan puluhan prajurit sendirian, pedangnya menari-nari seperti kilat.
"Sekarang!"
Tianji meraih Yue'er dan Xiao Yu'er, dan mereka bertiga berlari menuruni tangga. Dari belakang, Lord Hitam mengejar, sumpah serapahnya menggema di koridor.
"Kau tidak akan bisa kabur, Tianji!"
Tapi Tianji sudah siap. Begitu mereka sampai di lantai dasar, ia mengeluarkan seluruh energi yang ia kumpulkan dari Fragmen 3 dan 4, dan melepaskannya dalam satu ledakan besar.
BOOM!
Dinding benteng runtuh, menciptakan celah besar. Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er melompat keluar, tepat saat Lady Hong melihat mereka.
"Kau berhasil!" seru Lady Hong, matanya berbinar.
"Belum," kata Tianji. "Tapi aku mendapatkan fragmennya."
Lady Hong tersenyum, senyum yang misterius. "Kalian pergi duluan. Aku akan mengurus sisanya."
Tapi Lord Hitam sudah keluar dari reruntuhan, tubuhnya berlumuran debu, tapi matanya membara dengan kemarahan.
"Tidak ada yang pergi kemana-mana!" raungnya.
Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, dan energi hitam yang pekat mulai berkumpul di sekelilingnya. Langit menjadi gelap, angin berputar kencang.
"Aku akan menghancurkan kalian semua!"
Tianji bersiap untuk bertarung lagi, tapi Lady Hong melangkah maju, berdiri di depannya.
"Bawa mereka pergi," katanya lembut. "Benteng ini akan kukubur bersama Lord Hitam."
"Apa? Tapi…"
"Pergilah!" Lady Hong berteriak. "Ini bukan waktunya untuk bertanya!"
Tianji ragu. Tapi Yue'er menarik tangannya.
"Ayo! Ia tahu apa yang ia lakukan!"
Tianji menggertakkan giginya. "Baiklah! Tapi kita akan bertemu lagi, kan?"
Lady Hong tersenyum. "Pasti. Aku masih punya banyak cerita untuk diceritakan tentang ayahmu."
Serangan Lord Hitam meluncur deras. Lady Hong mengangkat pedangnya, dan pedang itu bersinar merah seperti api. Pertemuan antara energi hitam dan merah menciptakan ledakan yang dahsyat.
Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er berlari. Di belakang mereka, Benteng Hitam berguncang, dinding-dindingnya mulai runtuh satu per satu. Pertarungan antara Lady Hong dan Lord Hitam terus berlanjut di tengah reruntuhan.
Mereka berlari tanpa menoleh ke belakang, menembus hutan bambu, sampai suara ledakan itu mulai menjauh.
Akhirnya, ketika mereka sudah cukup jauh, Tianji berhenti dan menoleh.
Di kejauhan, Benteng Hitam terbakar. Api menjulang tinggi ke langit malam, seperti obor raksasa yang menerangi kegelapan.
"Apa Lady Hong baik-baik saja?" tanya Yue'er, suaranya cemas.
Tianji tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap api yang berkobar, berharap Lady Hong selamat.
"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Tapi aku yakin, ia wanita yang kuat."
"Tapi Lord Hitam?" tanya Xiao Yu'er.
"Lord Hitam tidak akan mati semudah itu," kata Tianji, matanya tiba-tiba tajam. "Ia pasti sudah melarikan diri. Dengan fragmen yang telah ia serap sebelumnya."
Yue'er menghela napas. "Jadi kita belum selesai."
"Belum," Tianji mengangguk. "Tapi sekarang kita memiliki Fragmen 1, 2, 3, dan 4. Hanya satu yang tersisa."
Udara malam terasa segar setelah pertempuran yang melelahkan. Bulan purnama bersinar di atas mereka, seolah memberkati jalan yang akan mereka tempuh.
Perjalanan masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya, Tianji merasa bahwa ia memiliki kendali atas takdirnya sendiri.
"Mulai sekarang," katanya, "aku yang akan menentukan arah perjalananku sendiri."