Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti puncak Pulau Terbang. Udara dingin menusuk tulang, namun Tianji sudah duduk bersila di depan gua sejak matahari belum muncul. Napasnya perlahan, matanya terpejam, mencoba merasakan aliran aneh di dalam tubuhnya — aliran yang sejak kecil ia anggap sebagai kutukan.
Di dalam gua, Li Qingfeng duduk di atas batu pipih yang telah dihaluskan oleh waktu. Rambut putihnya panjang tergerai, janggut tipis menjuntai hingga ke dada. Meski usianya telah melewati tujuh puluh musim dingin, matanya masih menyimpan cahaya tajam — cahaya yang hanya dimiliki oleh mereka yang pernah mencapai puncak persilatan.
"Masuklah," kata Li Qingfeng tanpa menoleh. Suaranya dalam, bergema di dinding gua.
Tianji membuka mata, lalu bangkit dan melangkah masuk. Ia memberi hormat dengan kedua tangan terkepal di depan dada. "Kakek Li, murid datang seperti yang kakek perintahkan."
Li Qingfeng menatap pemuda di depannya. Enam belas tahun, tubuh masih kurus, namun di matanya ada api yang tidak bisa dipadamkan. Api yang sama pernah ia lihat pada sahabatnya, Xuan Qingzi, tiga puluh tahun lalu.
"Duduklah," kata Li Qingfeng. Ia menghela napas panjang. "Xuan Qingzi pernah bercerita tentangmu. Katanya kau memiliki kelainan aneh — bisa menyerap tenaga dalam orang lain."
Tianji mengangguk pelan. "Benar, Kakek. Sejak kecil, aku… aku berbeda. Setiap kali ada yang menyentuhku dengan tenaga dalam, tenaga itu masuk ke dalam tubuhku dan tidak bisa aku keluarkan. Aku seperti… sumur tanpa dasar."
"Kau pikir itu kutukan?"
Tianji terdiam. Kata-kata itu menusuk tepat di hati. Seumur hidupnya, ia selalu merasa menjadi monster. Pendekar-pendekar di daratan memandangnya dengan curiga. Beberapa bahkan ingin membunuhnya karena takut dengan kemampuannya.
"Aku… tidak tahu," jawab Tianji akhirnya.
Li Qingfeng tertawa kecil. Tawanya parau, seperti suara batu bergesekan. "Bodoh. Sungguh bodoh. Xuan Qingzi mencari selama dua puluh tahun — dua puluh tahun! — untuk menemukan orang dengan kemampuan sepertimu. Dan kau pikir itu kutukan?"
Tianji mengerutkan kening. "Maksud Kakek?"
"Coba tebak," kata Li Qingfeng, matanya menyipit. "Mengapa Dinasti Tang bisa bertahan selama tiga ratus tahun? Mengapa Kaisar Taizong bisa mengalahkan musuh-musuhnya tanpa pernah kalah dalam pertempuran? Mengapa tidak ada yang bisa membunuh para kaisar Tang?"
Tianji berpikir keras. Ia ingat dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya — tentang Kaisar Taizong yang perkasa, tentang Jenderal Li Jing yang tak terkalahkan, tentang pasukan Tang yang seperti naga mengamuk di medan perang.
"Karena… mereka memiliki ahli persilatan yang kuat?" tebak Tianji.
"Ahli persilatan?" Li Qingfeng tertawa lagi. "Anak muda, para kaisar Tang tidak membutuhkan ahli persilatan. Mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga — WARISAN MISTIS."
Tianji menegakkan punggung. "Warisan mistis?"
"Keluargamu," kata Li Qingfeng perlahan, setiap kata seperti diukir di batu, "adalah penjaga warisan itu. Kemampuan menyerap — kau menyebutnya MP — sebenarnya adalah teknik rahasia yang diciptakan oleh pendeta Tao di istana Kaisar Taizong. Teknik ini diwariskan turun-temurun dalam keluargamu. Tapi sesuatu terjadi tiga generasi lalu — kakek buyutmu membawa teknik ini kabur dari istana, dan ia dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Sejak itu, pengetahuan tentang teknik ini hilang. Yang tersisa hanya naluri alami — kemampuan menyerap tanpa bisa mengendalikannya."
Dunia Tianji seperti berputar. Selama ini ia mengira dirinya aneh, kelainan, monster. Tapi ternyata… ternyata ini adalah warisan keluarga. Warisan yang telah ada sejak Dinasti Tang.
"Aku… aku tidak tahu," bisik Tianji.
"Keluargamu sengaja merahasiakannya," kata Li Qingfeng. "Untuk melindungimu. Karena jika Mawar Hitam tahu apa yang sebenarnya kau miliki, mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan teknik ini."
"Mawar Hitam?" Tianji mengingat pertemuan mereka dengan organisasi misterius itu. "Mereka juga mengejar Yue'er."
"Liu Yue'er," gumam Li Qingfeng. Namanya disebut dengan nada yang sulit diartikan. "Cucu perempuan Pangeran Ning. Pangeran Ning adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu tentang warisan ini. Ia menyimpan jimat — jimat yang berisi peta menuju fragmen teknik penyerapan."
"Jadi Pangeran Ning sengaja menyembunyikannya?"
"Atau melindunginya," kata Li Qingfeng. "Tergantung dari sudut pandang mana kau melihat. Pangeran Ning adalah orang yang ambisius. Ia ingin menguasai teknik ini, tapi ia juga sadar bahwa teknik ini terlalu berbahaya di tangan yang salah."
Tianji merasakan dadanya sesak. Begitu banyak rahasia, begitu banyak kebohongan. Ia memandang Li Qingfeng dengan mata penuh pertanyaan. "Kakek Li, mengapa Kakek tahu semua ini?"
Li Qingfeng tersenyum pahit. "Karena aku adalah orang yang sama yang mengkhianati kakek buyutmu."
Udara di gua terasa membeku. Tianji terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Tiga puluh tahun lalu, aku dan Xuan Qingzi adalah sahabat karib," kata Li Qingfeng, matanya menerawang jauh. "Kami sama-sama murid dari Guru Besar Taiyi, seorang pendeta Tao yang tinggal di puncak Gunung Kunlun. Guru Besar Taiyi adalah keturunan langsung dari penjaga warisan Tang. Ia memiliki tiga fragmen teknik penyerapan — fragmen kedua, ketiga, dan keempat."
"Tapi kau mengkhianatinya?" suara Tianji bergetar.
"Bukan aku yang mengkhianatinya," kata Li Qingfeng pelan. "Tapi aku diam saat orang lain melakukannya. Mawar Hitam sudah ada sejak seratus tahun lalu. Mereka mengincar teknik ini. Ketika Guru Besar Taiyi menolak menyerahkan fragmen kedua, mereka membunuhnya. Aku… aku lemah. Aku takut. Aku lari."
Air mata mengalir di pipi tua Li Qingfeng. "Xuan Qingzi tidak pernah memaafkanku. Ia mencari fragmen-fragmen itu sendirian, bertahun-tahun, berharap bisa mengumpulkannya kembali sebelum Mawar Hitam berhasil. Ketika ia tahu bahwa kau memiliki kemampuan alami, ia bergembira. Ia pikir kau adalah harapan terakhir."
"Aku?" Tianji terkejut.
"Kau bisa menyerap tenaga dalam. Tapi kau belum bisa mengendalikannya. Kau seperti orang yang memiliki pedang pusaka tapi tidak tahu cara mengayunkan. Fragmen kedua, yang sekarang ada padaku, berisi metode penguasaan — cara membuka dan menutup penyerapan sesuka hati."
Li Qingfeng berdiri dengan susah payah. Lututnya berbunyi, punggungnya bungkuk. Ia berjalan ke dinding gua dan menekan batu tertentu. Terdengar suara gemuruh, dan sebuah lubang rahasia terbuka di dinding.
Di dalam lubang itu, tergeletak sebuah kotak kayu cendana. Li Qingfeng mengambilnya dengan tangan gemetar.
"Ini fragmen kedua," katanya, membuka kotak. Di dalamnya tergeletak selembar sutra tua berwarna kuning, dipenuhi tulisan aksara kuno. "Xuan Qingzi menitipkannya padaku sebelum ia pergi ke daratan. Ia bilang, jika suatu hari ada anak muda dengan kemampuan penyerapan datang ke Pulau Terbang, aku harus memberikannya."
Tianji menerima sutra itu dengan tangan gemetar. Bahannya halus, hampir transparan. Tulisan di atasnya menggunakan tinta emas, masih jelas terbaca meski telah berusia ratusan tahun.
"Bacalah," kata Li Qingfeng. "Hafalkan setiap kata. Lalu bakar sutra ini. Jangan biarkan siapa pun — termasuk teman-temanmu — tahu isinya."
Tianji menundukkan kepala. "Murid mengerti."
Ia membaca sutra itu dengan saksama. Kata-katanya ditulis dalam bentuk syair Tao, penuh metafora dan kiasan. Tapi di balik keindahan bahasanya, terkandung ilmu yang luar biasa dalam — tentang aliran Qi, tentang meridian tubuh, tentang cara mengendalikan arus tenaga dalam.
"Aku tidak sepenuhnya mengerti," akui Tianji setelah selesai membaca.
"Tentu saja tidak," kata Li Qingfeng. "Syair ini samar-samar. Tapi aku akan mengajarkanmu cara mempraktikkannya. Mulai besok, kau akan berlatih di air terjun di belakang gua. Di sana, suara air yang deras akan membantumu berkonsentrasi."
Tianji mengangguk. "Terima kasih, Kakek Li. Murid tidak akan mengecewakan."
"Satu hal lagi," kata Li Qingfeng, matanya menatap tajam ke arah Tianji. "Kemampuan ini — MP yang kau sebut — bukanlah mainan. Bukan senjata untuk membunuh. Bukan alat untuk balas dendam. Ini adalah tanggung jawab. Keluargamu telah menjaganya selama berabad-abad. Jangan sia-siakan."
"Murid mengerti."
"Kau belum mengerti," kata Li Qingfeng dengan nada serius. "Tapi kau akan mengerti. Cepat atau lambat."
Ia berbalik, berjalan kembali ke batu pipihnya. "Sekarang pergilah. Istirahat. Besok pagi-pagi sekali, kau mulai latihan. Aku akan mengajarkanmu MP level dua — kendali penuh. Tapi ingat, anak muda: menguasai teknik ini bukanlah akhir dari perjalananmu. Ini baru awal."
Tianji berdiri, memberi hormat sekali lagi. Sebelum pergi, ia berhenti di mulut gua.
"Kakek Li… bisakah Kakek memberitahuku satu hal?"
"Katakan."
"Fragmen pertama — di mana?"
Li Qingfeng terdiam lama. Cahaya redup di gua membuat wajahnya setengah gelap.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Tapi Xuan Qingzi pernah bilang bahwa fragmen pertama adalah kuncinya. Tanpa fragmen pertama, teknik ini tidak akan pernah sempurna. Fragmen pertama berisi… metode penyegelan. Cara menyegel kekuatan musuh selamanya."
"Fragmen pertama juga menyebut sesuatu tentang 'Lautan' bukan?" Tianji bertanya, mengingat cerita Yue'er tentang jimat Pangeran Ning.
Mata Li Qingfeng membelalak. "Kau tahu tentang Lautan?"
"Hanya sepatah dua kata. Dari jimat Pangeran Ning."
Li Qingfeng tertawa — tawa pahit yang membuat Tianji merinding. "Pangeran Ning… Pangeran Ning… Kau tahu apa yang paling lucu, anak muda? Pangeran Ning memiliki fragmen pertama. Ia menyimpannya selama dua puluh tahun. Dan ia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ia miliki."
Dunia Tianji seperti disambar petir. "Pangeran Ning memiliki fragmen pertama?"
"Ya. Itu sebabnya ia menjadi begitu kuat. Itu sebabnya ia memiliki pengaruh sebesar itu di istana. Tapi ia hanya menggunakan sebagian kecil dari kekuatan fragmen itu. Bodoh. Sungguh bodoh."
Li Qingfeng menggeleng-geleng kepala. "Sekarang pergilah. Aku lelah. Besok kau mulai latihan. Jangan terlambat."
Tianji melangkah keluar dari gua dengan kepala penuh pertanyaan. Udara dingin pagi menyapu wajahnya, tapi ia tidak merasakannya. Pikirannya melayang jauh — pada fragmen-fragmen, pada warisan keluarganya, pada Pangeran Ning, pada Yue'er.
Di kejauhan, ia melihat Yue'er duduk di tepi tebing, rambutnya berkibar tertiup angin laut. Xiao Yu'er duduk di sampingnya, sedang mengupas buah-buahan yang mereka temukan di hutan.
Tianji tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak sendirian. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa kemampuannya — yang dulu ia anggap kutukan — mungkin adalah anugerah.
Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang bertanya: jika ini adalah anugerah, mengapa begitu banyak orang ingin mengambilnya? Mengapa begitu banyak darah telah tertumpah karenanya?
Ia tidak tahu jawabannya. Tapi ia tahu satu hal — besok, ia akan belajar mengendalikan kekuatannya. Dan suatu hari, ia akan menemukan fragmen pertama. Dan ia akan mengungkap rahasia di balik "Lautan" yang misterius itu.
Pagi itu, untuk pertama kalinya, Xiao Tianji merasa bahwa hidupnya memiliki tujuan.
[/AKHIR BAB 21]