๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 20: PULAU TERBANG

← BAB 19: KEJARAN DI LAUT BAB 21 โ€” GURU KEDUA →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Keheningan menyelimuti kuil batu putih itu. Tianji berdiri terpaku, lututnya terasa lemas, pikirannya berputar seperti pusaran air. Lelaki di hadapannya โ€” guru dari gurunya. Itu berarti…

"Kau… kakek adalah… Guru Besar Xuan Qingzi?" Tianji akhirnya berhasil mengucapkan kalimat itu, suaranya serak.

Pertapa itu tersenyum โ€” senyum yang membuat ribuan keriput di wajahnya bergerak seperti ombak di lautan pasir. "Benar. Aku adalah gurunya. Tapi panggil aku saja… Kakek Tua. Nama asliku sudah lama kutinggalkan bersama dunia di luar sana."

Yue'er, yang sedari tadi diam โ€” sebuah kejadian langka โ€” akhirnya angkat bicara, "Tapi… Kakek Nelayan di pulau sebelumnya bilang Xuan Qingzi adalah murid-murid… yang menciptakan MP sendiri…"

"Dan dia benar. Xuan Qingzi menciptakan MP-nya sendiri. Tapi dari siapa dia belajar dasar-dasarnya?" Kakek Tua menatap Tianji. "Dari aku."

Tianji merasakan dadanya berdebar kencang. Ini terlalu banyak informasi dalam waktu singkat. "Kakek… maksudnya… Kakek adalah orang yang pertama kali mengembangkan Metode Penyerapan?"

"Bukan," kata Kakek Tua. "Aku hanya orang yang pertama kali menemukan jejaknya. Kitab Suci Lautan sudah ada jauh sebelum aku lahir. Aku hanya… menggalinya dari reruntuhan peradaban kuno, mempelajarinya, lalu mewariskannya pada Xuan Qingzi."

"Lalu kenapa Kakek di sini? Di pulau ini? Selama bertahun-tahun?" Yue'er bertanya lagi, rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.

Kakek Tua menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya, ekspresi sedih terlihat di wajahnya yang keriput.

"Karena aku gagal."

"Gagal?" Tianji mengulangi.

"Aku mempelajari Kitab Suci Lautan selama dua puluh tahun. Aku menguasai setiap kata, setiap simbol, setiap rahasia di dalamnya. Tapi aku tidak bisa mengendalikan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Aku terlalu serakah. Terlalu terobsesi. Hingga pada suatu titik, tubuhku mulai… tercabik-cabik oleh Qi yang kuserap. Aku hampir mati."

"Xuan Qingzi menyelamatkanku. Muridku sendiri โ€” yang waktu itu masih muda โ€” mengorbankan sebagian Qi-nya untuk menstabilkan tubuhku. Tapi setelah itu, aku tidak bisa kembali ke dunia luar. Karena sisa Qi yang kuserap masih terlalu besar, terlalu berbahaya." Kakek Tua tertawa pahit. "Jadi aku memilih mengasingkan diri di pulau ini. Menjadi penjaga fragmen ketiga โ€” halaman terakhir Kitab Suci Lautan."

Xiao Yu'er, yang selama ini diam di sudut, akhirnya bersuara, "Kakek bilang Kakek sudah menunggu kami. Berarti Kakek tahu kami akan datang?"

"Aku tahu Xuan Qingzi akan mengirim muridnya. Dia bilang padaku, sebelum dia pergi โ€” 'Guru, aku akan menemukan anak yang tepat. Anak yang hatinya murni. Dan aku akan mengirimnya padamu.'"

Tianji terharu. Xuan Qingzi โ€” gurunya yang pendiam, yang jarang bicara, yang selalu terlihat dingin โ€” ternyata sudah merencanakan semua ini sejak awal.

"Tapi kenapa dia tidak memberitahuku langsung?"

"Karena jika kau tahu semuanya dari awal, kau tidak akan tumbuh. Kau harus menemukan jalannya sendiri โ€” itulah pelajaran yang paling berharga." Kakek Tua menatap Tianji dengan tatapan penuh makna. "Xuan Qingzi tahu bahwa perjalanan lebih penting daripada tujuan. Bahwa setiap pertemuan, setiap pertarungan, setiap teman yang kau temui di jalan โ€” semua itu adalah bagian dari pembelajaran."

Mendengar kata 'teman', Yue'er menyengir lebar. "Hehe, Kakek benar. Aku ini teman terbaik Tianji. Sudah enam tahun kami bersama."

"Enam tahun?" Kakek Tua menoleh ke Yue'er. "Kau bukan orang biasa, gadis kecil. Ada aura keluarga Ning di tubuhmu."

Yue'er terkejut. "Kakek bisa melihatnya?"

"Aura darah bangsawan tidak bisa disembunyikan dari orang sepertiku." Kakek Tua tersenyum. "Tapi kau tidak perlu takut. Aku tidak peduli soal istana atau politik. Yang penting bagiku adalah hati orang itu sendiri."

Yue'er merasa lega. Untuk pertama kalinya, seseorang tahu identitas aslinya dan tidak mengubah sikap padanya.

"Kakek," Tianji memotong, "aku datang untuk fragmen ketiga. Aku sudah memiliki fragmen pertama di dalam tubuhku โ€” dari Xuan Qingzi โ€” dan fragmen kedua yang diberikan Lady Hong. Kini aku butuh yang terakhir."

Kakek Tua mengangguk. "Aku tahu. Tapi sebelum aku memberikannya padamu, kau harus menjawab satu pertanyaan."

"Silakan."

"Apa yang kau cari dari Kitab Suci Lautan?"

Pertanyaan sederhana, tapi Tianji merasa ia sedang diuji. Bukan dengan pedang atau Qi, tapi dengan kata-kata. Ia berpikir keras.

"Awalnya… aku ingin menjadi kuat. Untuk melindungi desaku. Untuk membalaskan dendam guruku. Tapi semakin aku berjalan, semakin aku sadar…" Tianji berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Aku mencari jati diriku. Siapa sebenarnya Xiao Tianji. Apakah aku hanya bocah desa yang kebetulan diberi kekuatan? Atau aku punya takdir yang lebih besar?"

Kakek Tua tersenyum. "Jawaban yang jujur. Tapi kurang tepat."

"Apa yang Kakek maksud?"

"Kitab Suci Lautan bukanlah alat untuk menemukan jati dirimu. Ia adalah alat untuk… melepaskan." Kakek Tua mengangkat tangannya. Di telapak tangannya, Qi murni berkumpul, membentuk bola cahaya kehijauan. "Lihat Qi ini. Aku tidak menyerapnya. Aku melepaskannya. Karena rahasia tertinggi MP bukanlah menyerap โ€” melainkan melepaskan."

Tianji tercengang. Selama ini ia belajar menyerap Qi. Tapi Kakek Tua mengatakan bahwa puncak dari MP adalah melepaskan?

"Aku tidak mengerti."

"Kau akan mengerti saat waktunya tiba." Kakek Tua menurunkan tangannya, dan bola Qi menghilang. "Tapi untuk saat ini, kau masih perlu mengumpulkan fragmen-fragmen itu. Karena hanya dengan kekuatan lengkap, kau bisa memilih โ€” untuk menyerap atau melepaskan."

Kakek Tua meraih ke belakang altarnya dan mengeluarkan sebuah benda. Bukan gulungan sutra, bukan buku โ€” melainkan sebuah batu kecil berbentuk tetesan air, berwarna biru laut, bercahaya samar.

"Inilah fragmen ketiga โ€” Jiwa dari Kitab Suci Lautan."

Udara di dalam kuil bergetar. Cahaya biru dari batu itu memancar, menyelimuti seluruh ruangan. Tianji bisa merasakan Qi di dalam tubuhnya bereaksi โ€” bergolak, seperti ingin menyatu dengan batu itu.

"Aku harus… menggabungkannya?" tanya Tianji.

"Kau bisa mencoba. Tapi hati-hati โ€” proses penggabungan tidak mudah. Jika kau gagal mengendalikan Qi yang dilepaskan, tubuhmu bisa hancur."

"Aku siap."

"Tianji!" Yue'er meraih lengannya. "Jangan gegabah! Kita baru sampai di sini. Istirahat dulu. Pelajari tempat ini. Jangan asalโ€”"

"Yue'er." Tianji menepuk tangan Yue'er lembut. "Aku sudah menunggu ini sejak Xuan Qingzi pergi. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."

"Tapiโ€”"

"Aku janji. Aku akan baik-baik saja."

Yue'er menghela nafas. "Kau selalu bilang begitu. Dan kau selalu membuatku khawatir."

"Karena itu tugasku."

"Bocah sombong." Tapi Yue'er tersenyum.

Kakek Tua menyerahkan batu itu pada Tianji. Begitu jari Tianji menyentuh permukaannya, batu itu langsung bersinar lebih terang โ€” dan Tianji merasakan ledakan Qi mengalir ke tubuhnya.

Ia tersentak. Qi di dalam tubuhnya โ€” yang selama ini tenang โ€” tiba-tiba bergolak seperti laut dalam badai. Fragmen pertama di tubuhnya bereaksi, fragmen kedua di balik jubahnya ikut bergetar. Ketiganya saling memanggil, seperti magnet yang saling tarik-menarik.

"Aaaarrrgh!"

Tianji jatuh berlutut. Tubuhnya terasa seperti terbakar. Qi dari batu itu mengalir deras, bercampur dengan Qi di tubuhnya, menciptakan pusaran yang dahsyat.

"Tianji!" Yue'er berlari ke arahnya, tapi Kakek Tua menghentikannya.

"Jangan sentuh dia! Jika kau ikut campur, Qi di tubuhnya akan kacau dan dia bisa mati!"

"Lalu apa yang harus kulakukan?! Diam melihatnya kesakitan?!"

"Percayalah padanya. Dia murid Xuan Qingzi. Dia pasti bisa."

Yue'er menangis, tapi ia menurut. Ia berdiri di samping, menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak berlari ke Tianji.

Xiao Yu'er juga mendekat, tangannya terkepal. "Aku bisa merasakan Qi-nya… sangat kacau… seperti seribu pisau berputar di dalam tubuhnya."

Tianji berteriak lagi. Qi hitam keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, menyelimuti tubuhnya seperti kabut. Di dalam pusaran Qi itu, batu biru terus bersinar, melebur, menyatu dengan fragmen-fragmen lainnya.

Proses itu berlangsung… entah berapa lama. Bisa beberapa menit. Bisa berjam-jam. Yang pasti, matahari sudah bergeser jauh di langit ketika pusaran Qi mulai mereda.

Tianji tergeletak di lantai kuil, napasnya tersengal-sengal, bajunya basah oleh keringat dan air mata. Tapi di matanya โ€” ada cahaya baru. Bukan cahaya fisik, melainkan kesadaran.

"Aku… mengerti sekarang," bisik Tianji.

"Apa yang kau mengerti?" Yue'er berlutut di sampingnya.

"MP bukanlah tentang menyerap. Bukan tentang mengendalikan. Tapi tentang… keseimbangan. Tentang memberi dan menerima. Tentang melepaskan dan mempertahankan."

Yue'er tidak mengerti sepenuhnya. Tapi ia melihat perubahan di Tianji โ€” sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Lebih tenang. Lebih mantap. Lebih… dewasa.

Kakek Tua mengangguk puas. "Kau sudah lulus ujian pertama. Fragmen-fragmen itu sudah menyatu dalam tubuhmu. Tapi ini baru awal."

"Awal?" Tianji bangkit berdiri. "Maksud Kakek?"

"Kitab Suci Lautan lengkap sudah ada di dalam dirimu. Tapi untuk menggunakannya sepenuhnya, kau harus menguasai tiga tahap: Menyerap, Menstabilkan, Melepaskan. Kau baru di tahap pertama."

"Berapa lama waktu yang kubutuhkan?"

"Tergantung dirimu. Bisa setahun. Bisa sepuluh tahun. Bisa seumur hidup." Kakek Tua berdiri โ€” untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tubuhnya yang ditutupi lumut bergerak lambat, seperti patung yang hidup kembali. "Tapi ada hal yang lebih mendesak."

"Apa itu?"

"Kedatangan Mawar Hitam."

Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er terkejut. "Mereka sudah sampai?"

"Belum. Tapi mereka akan segera tiba. Formasi Qi di sekeliling pulau mulai melemah sejak kau menggabungkan fragmen-fragmen itu. Karena inti dari formasi itu adalah fragmen ketiga โ€” yang sekarang sudah menyatu denganmu."

"Berarti… aku secara tidak sengaja membuka pintu bagi mereka?" Tianji merasa bersalah.

"Kau tidak punya pilihan. Itulah takdirnya." Kakek Tua melangkah ke pintu kuil. "Tapi selama aku masih hidup, mereka tidak akan bisa memasuki kuil ini."

"Kakekโ€”"

"Aku sudah terlalu lama duduk diam. Sudah waktunya aku bergerak lagi." Kakek Tua tersenyum โ€” senyum yang sama seperti yang Tianji lihat pada Kakek Nelayan. Senyum seorang pendekar yang siap mati.

"Tidak! Kakek tidak perluโ€”"

"Anak muda, dengarkan aku." Kakek Tua menatap Tianji dengan tatapan serius. "Tugasmu sekarang bukan bertarung melawan Mawar Hitam. Tugasmu adalah menguasai Kitab Suci Lautan. Karena hanya dengan itu, kau bisa menghentikan mereka untuk selamanya."

"Aku tidak bisa meninggalkan Kakek sendirianโ€”"

"Kau tidak meninggalkanku. Kau melanjutkan perjuanganku." Kakek Tua meletakkan tangannya di pundak Tianji. "Xuan Qingzi percaya padamu. Aku juga percaya. Jangan sia-siakan kepercayaan itu."

Tianji merasakan dadanya sesak. Ini seperti mengulang perpisahan dengan Xuan Qingzi. Tapi ia tahu โ€” Kakek Tua benar. Ia harus pergi.

"Dari sini ke utara, ada gua rahasia. Gua itu akan membawamu keluar dari pulau tanpa terdeteksi." Kakek Tua menunjuk ke arah utara. "Pergilah. Dan jangan pernah menoleh ke belakang."

Yue'er menggenggam tangan Tianji. "Tianji… dia benar."

"Aku tahu." Tianji membungkuk dalam-dalam di hadapan Kakek Tua. "Terima kasih, Kakek. Aku tidak akan melupakan jasa Kakek."

"Ingat โ€” menyerap, menstabilkan, melepaskan. Itulah rahasia Kitab Suci Lautan."

Tianji mengangguk. Lalu ia berbalik, menggenggam tangan Yue'er, dan memberi isyarat pada Xiao Yu'er untuk mengikuti. Mereka berlari ke arah utara, meninggalkan kuil dan Kakek Tua yang berdiri di pintu.

Di belakang mereka, dari kejauhan, terdengar suara kapal mendekat. Mawar Hitam sudah sampai.

Tapi Tianji tidak menoleh.

Ia terus berlari, membawa fragmen-fragmen yang sudah menyatu di tubuhnya, membawa rahasia yang baru ia pahami, dan membawa keyakinan bahwa perjalanannya masih panjang.

Di dalam gua rahasia, mereka bertiga berjalan dalam diam. Suara langkah kaki mereka bergema di dinding batu. Yue'er memegang lengan Tianji erat-erat. Xiao Yu'er berjalan di belakang, sesekali menengok ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejar.

"Akhirnya," bisik Yue'er setelah mereka berjalan cukup jauh. "Kau sudah memiliki ketiga fragmen."

"Aku baru memiliki kuncinya," kata Tianji. "Perjalanan sebenarnya baru akan dimulai."

"Kedengarannya berat."

"Kita akan menjalaninya bersama."

Yue'er tersenyum. "Kau tahu, Tianji, saat pertama kali kau bilang akan mencari fragmen Kitab Suci Lautan, aku pikir kau gila. Tapi sekarang… sekarang aku mulai percaya."

"Percaya apa?"

"Bahwa kau benar-benar bisa melakukannya."

Tianji tidak menjawab. Tapi ia menggenggam tangan Yue'er lebih erat.

Di ujung gua, cahaya mulai terlihat. Samar-samar, tapi semakin terang. Cahaya matahari โ€” pertanda bahwa mereka akan segera keluar dari kegelapan.

"Seperti kehidupan," Xiao Yu'er bergumam, hampir pada dirinya sendiri. "Setelah kegelapan, selalu ada cahaya."

Mereka melangkah keluar dari gua โ€” dan di hadapan mereka, laut terbentang luas, diterangi oleh matahari sore yang keemasan. Pulau Terbang sudah jauh di belakang mereka, dan di depan… dunia menanti.

Tianji menatap cakrawala. Pikirannya melayang ke Kakek Nelayan yang berjuang melawan Mawar Hitam, ke Kakek Tua yang rela menjadi perisai, ke Xuan Qingzi yang meninggalkannya dengan sebuah misi.

Di tangannya, ia merasakan denyut Qi dari Kitab Suci Lautan yang lengkap. Kekuatan besar โ€” seperti lautan yang siap meledak.

Tapi ia juga merasakan kehangatan di sisi kanannya โ€” tangan Yue'er yang masih menggenggam erat. Dan di belakangnya, Xiao Yu'er yang setia mengikuti.

Di dunia persilatan, kekuatan sejati tidak pernah diukur dari ilmu silat semata.

Kekuatan sejati adalah ketika kau memiliki alasan untuk terus berjalan.

Dan Tianji, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa bahwa ia memiliki alasan itu.

Meskipun ia tidak tahu apa yang menanti di depan, dan meskipun bahaya seperti Mawar Hitam masih mengintai di setiap sudut, ia tidak takut.

Karena ia tidak lagi berjalan sendiri.

[— BERSAMBUNG —]

BATCH 4 SELESAI. BAB 16-20: Perjalanan Laut ke Pulau Terbang. Babak baru dimulai di Batch 5: Penguasaan Kitab Suci Lautan.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 19: KEJARAN DI LAUT BAB 21 โ€” GURU KEDUA →