📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 22 — METODE PENGUASAAN

← BAB 21 — GURU KEDUA BAB 23 — KEHIDUPAN DI PULAU →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Air terjun di belakang gua bukanlah air terjun biasa. Tingginya hampir dua puluh zhang — sekitar enam puluh meter — dan debit airnya begitu deras sehingga suara gemuruhnya bisa terdengar dari setengah pulau. Cipratan air membentuk kabut tipis yang memantulkan cahaya matahari pagi menjadi pelangi kecil.

Di bawah air terjun itu, Tianji berdiri dengan tubuh setengah telanjang. Air dingin menghantam pundaknya dengan kekuatan luar biasa, membuat kulitnya memerah. Rambutnya basah kuyup, menempel di dahi dan pipi.

"HARUS LEBIH KUAT! BUKA PENYERAPAN!" teriak Li Qingfeng dari pinggir kolam. Ia duduk di atas batu besar, tongkat bambu di tangannya.

Tianji memejamkan mata. Ia mencoba mengingat kata-kata dalam sutra sutra — tentang aliran Qi, tentang titik akupuntur yang harus dibuka, tentang cara merasakan energi di sekitarnya. Tapi air yang deras terus mengganggu konsentrasinya. Suara gemuruh memenuhi telinganya. Dingin menyusup ke tulang.

"AKu TIDAK BISA!" teriak Tianji.

"KAU BISA!" bentak Li Qingfeng. "Jangan pikirkan airnya! Pikirkan Qi dalam tubuhmu! Rasakan denyutnya! Di mana titik LA — titik jebakan energi — di dadamu! BUKA!"

Tianji menarik napas dalam-dalam. Udara dingin memenuhi paru-parunya. Ia memusatkan seluruh konsentrasi pada dadanya, pada titik di antara tulang rusuk keempat dan kelima. Di sana, ia bisa merasakan sesuatu — sesuatu yang hangat, berdenyut seperti jantung kedua.

Titik LA.

Ia mencoba "membukanya" — mendorong Qi ke titik itu, seperti yang diajarkan dalam sutra. Tapi setiap kali Qi mencapai titik itu, ada dinding tak terlihat yang menahannya. Seperti pintu baja yang terkunci rapat.

"AARRGH!" Tianji memukul air dengan tangannya, membuat percikan besar. Tubuhnya gemetar — karena dingin, karena frustrasi.

"Ini hari kelima!" teriak Li Qingfeng. "Biasanya murid-muridku bisa melakukannya dalam tiga hari! Apa kau bodoh atau keras kepala?"

"Aku tidak tahu!" Tianji berteriak balik, marah pada dirinya sendiri.

Dari tepi hutan, Yue'er dan Xiao Yu'er menyaksikan. Yue'er duduk di bawah pohon, menyembunyikan senyum di balik tangannya. Xiao Yu'er diam saja, matanya penuh perhatian.

"Dia terlalu keras pada dirinya sendiri," bisik Yue'er.

"Memang seharusnya begitu," jawab Xiao Yu'er datar. "Latihan persilatan tidak pernah mudah."

Yue'er memutar bola matanya. "Kau ini, bicara seperti pendekar tua. Baru juga enam belas tahun."

"Aku lebih tua dari Tianji," kata Xiao Yu'er dingin.

Yue'er terkekeh. "Ya, kau lebih tua. Tapi kau bicara lebih tua lagi. Seperti kakek-kakek berumur seratus tahun."

Mata Xiao Yu'er berkilat. Tapi sebelum ia bisa menjawab, suara keras kembali terdengar dari air terjun.

Tianji jatuh berlutut di dalam air. Dadanya naik turun, napasnya terengah-engah. Seluruh tubuhnya terasa seperti diremas. Lima hari tanpa hasil. Lima hari gagal total.

"Sudah cukup," kata Li Qingfeng tiba-tiba. Suaranya tidak lagi berteriak. Lembut, hampir penuh simpati.

Tianji mendongak, terkejut.

"Ayo, naik ke sini," kata Li Qingfeng. "Kita bicara."

Tianji merangkak keluar dari kolam. Tubuhnya menggigil hebat. Yue'er segera berlari mendekat memberinya kain kering, tapi Tianji menolak dengan lembut.

"Aku baik-baik saja."

"Kau tidak baik-baik saja," kata Yue'er. Kekhawatiran jelas di matanya. "Kau akan sakit."

"Biarkan dia," kata Li Qingfeng. "Dia harus belajar dari kesalahannya."

Yue'er menatap Li Qingfeng dengan pandangan tidak suka. Tapi ia menahan diri. Ia hanya berjalan kembali ke pohon, mulutnya komat-kamit menggerutu.

"Menyebalkan sekali orang tua itu."

"Diam," kata Xiao Yu'er. "Dia guru Tianji."

"Hmph."

Di tepi kolam, Li Qingfeng duduk di samping Tianji. Untuk pertama kalinya, nada bicaranya tidak keras.

"Anak muda," kata Li Qingfeng, "apa yang kau rasakan saat mencoba membuka titik LA?"

Tianji berpikir keras. "Seperti… ada dinding. Dinding yang sangat tebal. Setiap kali Qi-ku menyentuhnya, Qi itu memantul kembali."

"Mantul?"

"Ya. Seperti bola karet yang dilempar ke tembok."

Li Qingfeng mengangguk pelan. "Itu berarti Qi dalam tubuhmu terlalu padat."

"Terlalu padat?"

"Kau sudah menyerap begitu banyak tenaga dalam dari musuh-musuhmu. Tenaga itu bercampur dengan Qi aslimu, menciptakan kekacauan. Tubuhmu mencoba melindungi dirimu sendiri dengan mengunci titik LA. Jika kau berhasil membukanya sekarang, semua Qi asing itu akan keluar sekaligus — dan tubuhmu mungkin tidak sanggup menahannya."

Tianji terbelalak. "Jadi… jadi selama ini aku gagal karena tubuhku sendiri?"

"Tubuhmu melindungimu," koreksi Li Qingfeng. "Tapi perlindungan itu kini menjadi penghalang. Kau harus melatih Qi asing itu agar menyatu dengan Qi aslimu. Baru setelah itu, titik LA bisa dibuka dengan aman."

Tangan Tianji gemetar. "Bagaimana caranya?"

"Duduk. Tutup mata. Jangan pikirkan membuka titik LA. Pikirkan tentang sungai."

"Sungai?"

"Bayangkan Qi dalam tubuhmu seperti sungai. Ada sungai besar — Qi aslimu. Ada sungai kecil — Qi yang kau serap dari orang lain. Tugasmu bukan membendung atau mengalihkan sungai-sungai itu. Tugasmu adalah membuatnya menyatu."

Tianji mengangguk, lalu duduk bersila di atas batu. Ia memejamkan mata. Napasnya mulai teratur.

"Rasakan," bisik Li Qingfeng. "Rasakan aliran Qi dalam tubuhmu. Jangan melawan. Jangan memaksa. Biarkan ia mengalir."

Tianji mengikuti instruksi itu. Ia merasakan Qi dalam tubuhnya — campuran kacau dari berbagai sumber. Ada Qi keras dari Pendekar Maut, Qi dingin dari Mawar Hitam, Qi hangat dari Xuan Qingzi. Semua bercampur aduk, tidak karuan.

Ia tidak mencoba mengendalikannya. Ia hanya merasakan.

Perlahan, sangat perlahan, ia mulai membedakan satu Qi dari yang lain. Yang pertama — Qi aslinya — berwarna emas, hangat, seperti sinar matahari. Yang kedua — Qi serapan — berwarna abu-abu, dingin, seperti kabut.

"Satukan," bisik Li Qingfeng.

Tianji mendorong Qi emasnya ke arah Qi abu-abu. Tapi begitu keduanya bersentuhan, Qi abu-abu itu berhamburan, seperti kabut yang ditiup angin.

"Jangan memaksa," kata Li Qingfeng lagi. "Bayangkan Qi abu-abu adalah tamu. Kau tidak bisa memaksa tamu untuk tinggal. Tapi kau bisa membuatnya merasa nyaman."

Tianji mengerti. Ia tidak lagi mencoba "mendorong" Qi abu-abu ke Qi emasnya. Sebaliknya, ia membiarkan Qi emasnya "menyelimuti" Qi abu-abu itu. Perlahan. Lembut. Seperti induk yang menyelimuti anaknya dengan selimut.

Qi abu-abu itu mulai tenang. Tidak lagi berhamburan. Ia mulai menyatu dengan Qi emas — tidak sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat aliran energi dalam tubuh Tianji menjadi lebih lancar.

"Bagus," bisik Li Qingfeng. "Sekarang coba buka titik LA."

Tianji mengumpulkan Qi yang telah menyatu itu, lalu mendorongnya ke titik LA di dadanya. Kali ini, tidak ada dinding. Tidak ada hambatan.

Titik LA terbuka.

Dunia Tianji berputar.

Tiba-tiba ia bisa merasakan segala sesuatu di sekitarnya — angin yang bertiup, dedaunan yang bergoyang, serangga yang merayap di tanah. Lebih dari itu, ia bisa merasakan Qi. Qi Yue'er yang ceria dan hangat. Qi Xiao Yu'er yang dingin dan tertutup. Qi Li Qingfeng yang dalam dan tenang — meski keropos di beberapa bagian karena usia.

Ia bisa MERASAP mereka. Bukan dengan kulitnya, tapi dengan Qi-nya sendiri. Seperti jutaan benang tak terlihat yang menghubungkannya dengan semua makhluk hidup di sekitarnya.

"Aku berhasil," bisik Tianji, air mata mengalir di pipinya. "Aku berhasil."

"Belum selesai," kata Li Qingfeng. "Membuka titik LA adalah langkah pertama. Sekarang kau harus belajar menutupnya."

"Menutup?"

"Kau tidak bisa menyerap terus-menerus. Jika kau membiarkan titik LA terbuka, kau akan menyerap Qi dari semua orang di sekitarmu — termasuk teman-temanmu. Kau harus bisa mengendalikannya. Buka saat diperlukan. Tutup saat tidak."

Tianji mengangguk. Ia mencoba "menutup" titik LA — membalikkan aliran Qi yang telah ia buka. Tapi titik itu seperti pintu yang macet. Setelah terbuka, ia tidak mau menutup.

"Aku tidak bisa," kata Tianji panik. "Titik ini… ia tidak mau menutup!"

"Kau terlalu memaksakan diri," kata Li Qingfeng. "Tenang. Jangan panik. Rasakan denyut titik LA. Ikuti denyutnya."

Tianji mencoba tenang. Ia merasakan denyut titik LA — berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Setiap kali jantungnya berdetak, titik LA membuka sedikit. Setiap kali jantungnya mengembang, titik LA menutup sedikit.

Ikuti ritmenya.

Perlahan, ia mulai "menarik" energi dari titik LA bersamaan dengan saat jantungnya mengembang. Satu detak. Dua detak. Tiga detak.

Titik LA mulai menutup. Perlahan. Seperti pintu raksasa yang bergerak dengan sendirinya.

Akhirnya — tertutup.

Tianji membuka mata. Napasnya terengah-engah, tapi di wajahnya terpancar senyum lebar. "Aku bisa… aku bisa membuka dan menutupnya…"

"Selamat," kata Li Qingfeng, suaranya datar tapi matanya berbinar. "Kau baru saja mencapai MP level dua — kendali penuh. Kau bisa membuka dan menutup penyerapan sesuka hati. Tapi ingat… ini baru setengah dari perjalanan."

"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"

"Latihan. Ribuan kali latihan. Sampai gerakan ini menjadi refleks. Sampai kau bisa membuka dan menutup titik LA dalam sekejap mata, bahkan saat bertarung."

Tianji mengangguk penuh tekad. "Aku akan berlatih."

"Ada satu hal lagi," kata Li Qingfeng. Nadanya tiba-tiba menjadi serius. "MP level dua berarti kau bisa menyerap lebih banyak, lebih cepat. Tapi ingat — setiap Qi yang kau serap akan tertinggal di tubuhmu. Jika kau menyerap terlalu banyak, tubuhmu akan kewalahan. Qi asing akan meracuni Qi aslimu."

"Apa yang terjadi jika itu terjadi?"

"Kau akan mati," kata Li Qingfeng datar. "Atau lebih buruk — kau akan menjadi gila, kehilangan kendali, dan menyerap semua Qi di sekitarmu tanpa henti. Seperti lubang hitam yang tidak pernah puas."

Tianji merasakan dingin menjalar di tulang punggungnya. "Aku akan berhati-hati."

"Jangan hanya berhati-hati," kata Li Qingfeng, berdiri dengan susah payah. "Kau harus menemukan fragmen ketiga. Fragmen itu berisi metode pemurnian — cara menghilangkan efek Qi asing. Tanpa metode itu, MP level dua adalah jalan menuju kehancuran."

"Fragmen ketiga ada di Lembah Naga Tidur," kata Tianji, mengingat percakapan mereka sebelumnya.

"Ya. Lembah Naga Tidur adalah tempat berbahaya — penuh jebakan, ular berbisa, dan tanaman beracun. Tapi di sana, di gua paling dalam, tersimpan fragmen ketiga. Xuan Qingzi yang menempatkannya di sana, sebelum ia…"

Li Qingfeng tidak melanjutkan. Tapi Tianji mengerti.

Sebelum Xuan Qingzi mati.

"Aku akan pergi ke sana," kata Tianji tegas. "Setelah kami siap."

"Kau tidak perlu pergi sendirian," kata Li Qingfeng. "Tapi ingat — semakin banyak orang yang tahu tentang fragmen-fragmen ini, semakin besar bahayanya. Mawar Hitam tidak akan berhenti mengejar. Mereka sudah menunggu."

Tianji mengepalkan tangannya. "Aku tidak takut pada Mawar Hitam."

"Kau harus takut," kata Li Qingfeng. "Ketakutan membuatmu tetap hidup."

Ia berbalik, berjalan menuju gua dengan langkah gontai. Tapi sebelum masuk, ia berhenti.

"Latihan besok, anak muda. Lebih keras. Lebih cepat. Kau harus siap sebelum bulan purnama berikutnya."

"Kenapa bulan purnama?"

"Mawar Hitam memiliki ritual bulan purnama. Mereka percaya bahwa pada malam bulan purnama, kekuatan mereka mencapai puncak. Jika mereka mengejarmu, mereka akan datang saat bulan purnama."

Tianji menghitung hari. Tiga minggu lagi bulan purnama.

Tiga minggu untuk bersiap.

Ia memandangi telapak tangannya sendiri. Di dalamnya, ia bisa merasakan Qi yang berputar — lebih terkendali dari sebelumnya, lebih teratur. MP level dua. Akhirnya.

Tapi di kedalaman hatinya, ia tahu — ini baru awal. Dan jalan di depan akan lebih sulit dari apa pun yang pernah ia bayangkan.

[/AKHIR BAB 22]

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 21 — GURU KEDUA BAB 23 — KEHIDUPAN DI PULAU →