๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 13: LADY HONG

← BAB 12: PENGKHIANATAN BAB 14: FRAGMEN KITAB →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Pagi hari di Losmen Seribu Angin membawa kesunyian yang aneh. Kabut tipis menyelimuti halaman bambu di belakang losmen, membuat segalanya tampak seperti lukisan tinta hitam di atas kertas basah. Suara burung pipit terdengar dari kejauhan, bercampur dengan gemericik air mancur di kolam ikan koi.

Seorang pelayan datang ke kamar Tianji saat matahari baru mulai meninggi. "Nyonya Hong memanggil Tuan. Di Paviliun Belakang. Sendirian."

Tianji mengangguk. Ia menatap Xiao Yu'er yang duduk di pojok kamar, matanya sembab โ€” bukti semalaman ia menangis. Yue'er sedang asyik memakan kue beras yang dipesan dari dapur.

"Aku akan pergi," kata Tianji. "Kalian tunggu di sini."

"Aku ikut!" Yue'er melompat, remahan kue berjatuhan dari mulutnya. "Wanita itu mencurigakan. Aku tidak mau kau bertemu dengannya sendirian. Bagaimana kalau dia juga mau meracunimu? Kita baru saja mengalami drama racun tadi malam, aku belum siap untuk drama racun kedua!"

"Lady Hong bukan musuh kita," jawab Tianji tenang. "Setidaknya, belum."

"Itulah masalahnya! 'Belum'! Bisa berubah kapan saja!" Yue'er sudah meraih busurnya. "Aku ikut, titik."

"Nyonya hanya memanggil Tuan Tianji," kata pelayan itu dengan senyum sopan namun tegas. "Beliau berkata, jika Tuan Yue'er ikut, beliau tidak akan bicara sepatah kata pun."

"Apa?" Yue'er memukul meja. "Diaโ€” dia memprediksi aku akan ikut? Wanita itu benar-benar bisa melihat masa depan! Atau jangan-jangan… dia juga ada di sini, menguping pembicaraan kita?!" Ia menoleh ke kiri dan kanan, memeriksa setiap sudut langit-langit.

"Sabar," kata Tianji, hampir tersenyum. "Aku akan kembali."

Ia berjalan melewati koridor panjang yang basah oleh embun pagi. Paviliun belakang tampak seperti pulau kecil di tengah kabut โ€” atap genteng hijaunya basah, dan tiang-tiang kayunya diukir dengan motif laba-laba dan jaring sutra.

Lady Hong sudah duduk di sana, bersila di atas bantal sutra merah. Di depannya ada meja rendah dari kayu cendana, di atasnya tergeletak sebuah kotak giok berwarna hijau gelap. Seperti kemarin, ia mengenakan gaun sutra ungu dengan sulaman laba-laba di kerahnya. Tapi hari ini, rambutnya dihiasi tusuk konde berbentuk naga โ€” bukan laba-laba.

"Xiao Tianji," sapanya, suaranya lembut seperti kabut pagi. "Duduklah."

Tianji duduk di atas bantal di seberangnya. Diam-diam ia merasakan tekanan Qi di sekeliling Lady Hong โ€” samar, sulit diukur, seperti mencoba meraba air dengan tangan kosong. Wanita ini bukan pendekar biasa. Tenaganya dalam dan terkendali, seperti lautan yang tenang di permukaan tapi menyimpan badai di kedalaman.

"Aku tidak akan membuang waktu dengan basa-basi," kata Lady Hong. Ia membuka kotak giok di depannya. Di dalamnya, tergeletak selembar sutra tua berwarna kuning gading โ€” lebih tepatnya, setengah lembar sutra yang sobek di salah satu sisinya. Di atas sutra itu tertulis aksara-aksara kuno yang berkilauan samar-samar.

"Ini fragmen pertama Kitab Suci Lautan," lanjutnya. "Tepatnya, salah satu dari lima fragmen yang tersebar di seluruh penjuru daratan. Konon, jika kelima fragmen disatukan, kitab itu akan mengungkap lokasi harta karun terbesar yang pernah hilang: tempat asal-usul Meridian Penelan itu sendiri."

Tianji menahan napas. Matanya menatap sutra itu โ€” bukan karena kilau aksaranya, tapi karena ia merasakan sesuatu yang aneh. Ketika ia menatap sutra itu, Qi di dalam tubuhnya bergetar. Meridiannya bereaksi seperti besi yang mendekati magnet.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Lady Hong, matanya menatap Tianji dengan tajam.

"Aku… aku tidak tahu," jawab Tianji jujur. "Ada sesuatu di dalam sutra itu. Sesuatu yang… memanggilku."

"Bagus." Lady Hong tersenyum. "Itu berarti Meridian Penelanmu telah aktif di tingkat yang lebih dalam dari yang kau sadari. Fragmen ini โ€” berbeda dengan kitab biasa. Ia ditulis oleh seorang kultivator Lautan Zaman Dulu menggunakan tetesan Qi murninya sendiri. Hanya mereka yang memiliki afinitas dengan Lautan yang bisa merasakannya."

"Nyonya… siapa sebenarnya Nyonya?" Tianji tidak bisa menahan pertanyaan itu lagi. "Nyonya tahu tentang Meridian Penelan, tentang guruku, tentang Kitab Suci Lautan… bahkan tentang asal-usul ilmu ini. Tidak mungkin Nyonya hanya pemilik losmen biasa."

Lady Hong tertawa. Tawanya seperti lonceng perak โ€” merdu, tapi juga dingin. "Pemilik Losmen Seribu Angin… memang hanya itu aku. Tapi sebelum itu, aku adalah murid kedua dari Pendekar Lautan Selatan. Guru yang sama dengan Xuan Qingzi."

Tianji terhenyak. "Maksud Nyonyaโ€”"

"Ya." Lady Hong meletakkan tangannya di atas meja. "Aku adalah saudari seperguruan gurumu. Tapi aku meninggalkan jalan persilatan lima belas tahun yang lalu, saat Xuan Qingzi diasingkan. Aku memilih untuk hidup tenang โ€” atau setidaknya, setenang yang bisa dinikmati oleh seorang Laba-Laba Sutra."

"Laba-Laba Sutra…" Tianji mengulangi nama julukan itu.

"Itulah julukanku di dunia persilatan. Aku mendapatkan namaku bukan karena aku suka menjebak orang dalam jaringโ€”" senyum Lady Hong melebar. "Tapi karena ilmu sulamku bisa membunuh. Kau lihat sulaman laba-laba di kerahku? Itu bukan hiasan. Dalam setengah tarikan napas, sulaman itu bisa menjadi senjata yang memutuskan arteri leher siapa pun yang berdiri terlalu dekat."

Tianji tanpa sadar menegakkan punggungnya.

"Tapi kau tidak perlu takut," Lady Hong melanjutkan. "Kau adalah murid saudaraku. Itu artinya kau juga keponakan ilmuku. Aku tidak akan menyakitimu โ€” kecuali kau melanggar tiga syarat yang kusebutkan kemarin."

Tianji mengingat kembali: tiga hari tinggal di losmen, membantu teman Lady Hong, dan satu janji yang belum ditentukan.

"Syarat kedua โ€” tentang membantu teman Nyonya," kata Tianji. "Apa yang harus kulakukan?"

"Di kota timur, ada seorang pedagang tua bernama Li Tua. Ia adalah pemasok sutra terbaikku. Seminggu yang lalu, Mawar Hitam menculik satu-satunya putrinya. Mereka meminta tebusan โ€” peta rute sutra yang hanya diketahui Li Tua. Ia menolak, jadi mereka mengancam akan membunuh putrinya." Lady Hong menyandarkan punggungnya. "Aku ingin kau pergi ke sana, menyusup ke markas Mawar Hitam, dan menyelamatkan putri Li Tua."

"Aku? Seorang diri?"

"Kau tidak sendiri. Ada Yue'er dan Xiao Yu'er. Lagipulaโ€”" Lady Hong tersenyum misterius. "Kau punya Meridian Penelan. Dan kau punya fragmen ini." Ia mendorong kotak giok ke arah Tianji. "Pelajari. Dalam tiga hari, kau harus sudah menguasai setidaknya satu teknik dari kitab ini. Jika tidak, kau tidak akan selamat dari pertarungan melawan Mawar Hitam."

Tianji menerima kotak giok itu dengan tangan gemetar. Fragmen itu terasa hangat di tangannya โ€” hangat seperti air laut di musim panas.

"Sebelum kau pergi," kata Lady Hong, "ada satu hal lagi yang harus kau ketahui."

Ia berhenti sejenak. Kabut pagi semakin menebal, seolah alam sendiri ikut menahan napas menunggu kata-katanya.

"Orang tuamu โ€” Xiao Tianji โ€” mereka bukan orang biasa."

Tianji membeku. "Nyonya… mengenal orang tuaku?"

"Aku tidak mengenal mereka secara pribadi. Tapi aku tahu siapa mereka." Lady Hong menatap Tianji dengan mata yang tiba-tiba terlihat tua โ€” penuh dengan kenangan yang berat. "Ayahmu adalah Xiao Haishan, pelindung ketiga Istana Lautan Selatan. Ia adalah pendekar yang dianggap paling mungkin untuk menyatukan kembali fragmen Kitab Suci Lautan."

"Dan ibuku?"

"Gurumu, Xuan Qingzi, tidak pernah memberitahumu?"

Tianji menggeleng.

Lady Hong menghela napas. "Ibumu adalah Putri Ning โ€” adik dari Pangeran Ning sendiri."

Dunia seakan berhenti berputar.

"Ayahmu โ€” Liu Dahan โ€”" Tianji tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

"Liu Dahan bukan ayah kandungmu. Ia adalah pengawal Pangeran Ning, yang ditugaskan untuk merawatmu setelah orang tuamu โ€”" Lady Hong berhenti. "Setelah mereka terbunuh oleh Mawar Hitam, lima belas tahun yang lalu."

Udara terasa berat. Tianji merasakan dadanya sesak, seolah ada batu besar yang tiba-tiba diletakkan di atasnya.

"Aku bukan… anak petani?"

"Kau adalah Xiao Tianji. Putra Xiao Haishan dan Putri Ning. Pewaris sah dari garis keturunan yang telah dilupakan oleh sejarah." Lady Hong berdiri, gaun sutranya mengalir seperti air. "Itulah sebabnya Mawar Hitam mengincarmu. Bukan karena ilmu Meridian Penelan โ€” tapi karena darah yang mengalir di tubuhmu."

Tianji diam. Tangannya menggenggam kotak giok itu erat-erat, sampai buku jarinya memutih.

"Pelajari fragmen itu," kata Lady Hong lembut. "Kau membutuhkannya. Dan ketika kau siap โ€” ketika kau sudah cukup kuat โ€” aku akan memberitahumu lebih banyak."

Ia berbalik dan berjalan meninggalkan paviliun, langkahnya tanpa suara di atas batu basah.

Tianji duduk sendirian di tengah kabut yang semakin pekat. Ia membuka kotak giok dan menatap aksara-aksara kuno di atas sutra itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kehilangan โ€” dan pada saat yang sama, menemukan sesuatu yang selama ini hilang.

"Aku bukan anak petani," bisiknya. "Aku adalah… Xiao Tianji. Putra… prajurit Lautan."

Tapi siapa prajurit Lautan itu? Apa artinya menjadi putra Xiao Haishan? Tiba-tiba, nama yang selama ini hanya menjadi identitas kosong terasa penuh dengan beban. Ayahnya bukan sekadar petani yang mati karena penyakit. Ayahnya adalah pelindung Istana Lautan Selatan. Ibunya adalah putri seorang pangeran.

Darah bangsawan. Darah yang dicari-cari oleh Mawar Hitam.

"Kalau begitu…" Tianji menggenggam kotak giok itu erat-erat. "Aku tidak lari. Aku tidak akan bersembunyi. Jika mereka mengincar darahku โ€” biar mereka datang. Aku akan memastikan mereka menyesal."

Di balik kabut, ia bisa mendengar suara Yue'er yang sedang bertengkar dengan pelayan losmen, menuntut untuk diizinkan bergabung. Suara itu terdengar absurd di tengah pencerahan besar yang baru saja ia terima โ€” namun justru itulah yang membuat Tianji tersenyum.

Mungkin, di tengah kekacauan identitas dan masa lalu yang tiba-tiba berubah, suara cerewet Yue'er adalah satu-satunya hal yang masih terasa nyata.

Ia bangun, menyimpan kotak giok di dalam jubahnya, dan berjalan kembali ke losmen. Di luar kabut, dunia menunggu โ€” dengan Mawar Hitam, Rahang Maut, dan rahasia-rahasia yang belum terungkap.

Dan di suatu tempat di kejauhan, di dalam penjara bawah tanah yang gelap, seorang gadis kecil bernama Xiao Lian menatap celah dinding, berdoa agar kakaknya datang menjemput.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 12: PENGKHIANATAN BAB 14: FRAGMEN KITAB →