Malam kedua di Losmen Seribu Angin dilewati Tianji dengan membaca fragmen Kitab Suci Lautan. Ia duduk di kamarnya, diterangi lilin yang nyaris padam, sementara Yue'er mondar-mandir di belakangnya dengan gelisah dan Xiao Yu'er duduk di ambang pintu, belatinya terhunus โ ia bersikap waspada sejak pengkhianatannya terungkap, seolah ingin menebus kesalahannya dengan menjadi penjaga.
"Aku tidak mengerti," kata Tianji, mengusap dahinya yang berkerut. Aksara-aksara di atas sutra itu bukan aksara biasa. Mereka bergerak โ benar-benar bergerak โ seperti ombak laut yang naik dan turun.
"Sudah kubilang, malam ini terlalu gelap untuk membaca!" Yue'er mendekat, mencondongkan tubuhnya. "Coba lihat… ini seperti cacing kepanasan. Mana bisa dibaca?"
"Ini aksara Lautan," kata Tianji perlahan. "Guruku pernah menyebutnya. Aksara kuno yang digunakan oleh para kultivator Zaman Pertengahan. Tidak bisa dibaca dengan mata biasa โ harus dengan… perasaan."
"Perasaan?" Yue'er memiringkan kepala. "Apa maksudmu? Aku bisa merasakan banyak hal. Lapar, haus, kesalโ"
"Bukan itu." Tianji memejamkan mata. Ia mengatur napasnya, menarik Qi ke dalam pusat energinya. Perlahan, ia membuka matanya dan menatap aksara-aksara itu lagi.
Dan kali ini โ ia bisa membacanya.
Aksara-aksara itu tidak lagi tampak seperti cacing. Mereka berenang โ seperti ikan-ikan kecil yang membentuk kata-kata. Kata-kata itu bukan bahasa manusia biasa; mereka adalah bahasa Qi, bahasa energi yang berbicara langsung ke meridiannya.
"Metode Samudra Terbuka," bisiknya. "Langkah pertama dari tiga langkah Meridian Penelan tingkat lanjut."
"Apa? Kau bisa membacanya sekarang?" Yue'er menjulurkan leher, tapi tetap hanya melihat aksara-aksara aneh yang bergoyang-goyang. "Aih, tidak adil! Mengapa hanya kau yang bisa?"
"Karena Meridian Penelan," jawab Tianji. "Guruku bilang, kitab ini hanya bisa dibaca oleh mereka yang telah membangkitkan Qi Lautan dalam tubuhnya."
Ia melanjutkan membacakan dengan suara lirih: "'Lautan tidak pernah diam. Ia pasang, ia surut, ia menghantam karang dengan amarah, lalu kembali tenang dengan anggun. Demikian pula Qi dalam tubuhmu โ ia harus bergerak seperti lautan, bukan seperti air di kolam yang tergenang.'"
"Terdengar puitis," komentar Yue'er sambil mengupas kacang. "Tapi apa maksudnya?"
"Maksudnyaโ" Tianji merenung. "Selama ini aku hanya menyerap Qi asing dan menyimpannya di meridian. Tapi itu seperti menampung air dalam ember โ semakin banyak, semakin berat. Metode Samudra Terbuka mengajarkan untuk… melepaskan Qi itu kembali, seperti ombak yang pasang lalu surut."
"Bukankah itu berbahaya? Membuang Qi yang sudah kau kumpulkan?"
"Bukan dibuang. Diedarkan." Tianji meletakkan tangannya di atas lutut. "Di dalam lautan, tidak ada air yang benar-benar hilang. Ia menguap, menjadi awan, turun sebagai hujan, kembali ke laut. Siklus. Qi dalam tubuh juga harus bersiklus โ bukan hanya ditumpuk."
"Lalu apa gunanya fragmen ini?" Xiao Yu'er tiba-tiba bertanya dari ambang pintu.
Tianji menatap sutra itu lagi. "Ada tiga teknik di dalam fragmen ini. Pertama โ Metode Samudra Terbuka, yang mengatur siklus Qi. Kedua โ Lagu Ombak, sebuah teknik gerakan yang mengikuti ritme pasang-surut Qi. Ketiga โ" Ia berhenti. "Mata Lautan. Teknik untuk melihat Qi orang lain."
"Melihat Qi?" Yue'er mengangkat alis. "Kau bisa melihat energi orang?"
"Konon, para pendekar Lautan Zaman Dulu bisa melihat warna Qi seseorang โ dan dari warna itu, mereka bisa mengetahui watak, kekuatan, bahkan kelemahan lawan."
"Berguna sekali!" Yue'er berseru. "Kau bisa tahu siapa musuh dan siapa kawan hanya dengan melihat warna Qi mereka! Ah, kalau begitu kau bisa lihat apakah Lady Hong jujur atau tidak!"
Tianji menggeleng. "Butuh waktu untuk menguasainya. Fragmen ini hanya memberi teori dasar. Tanpa fragmen lain, aku hanya bisa menggunakan sebagian kecil dari kekuatan penuhnya."
Malam itu, Tianji berlatih tanpa henti. Ia duduk bersila, kedua tangannya membentuk lingkaran di depan dadanya, dan perlahan โ sangat perlahan โ ia merasakan Qi di dalam tubuhnya mulai bergerak dengan pola baru. Bukan lagi seperti sungai yang mengalir lurus, tapi seperti ombak yang naik turun.
Pasang… surut… pasang… surut.
Pada awalnya, ritmenya kacau. Qi asing yang ia serap dari Rahang Maut dulu memberontak, tidak mau mengikuti irama baru. Tapi Tianji bersabar. Ia membayangkan dirinya sebagai lautan โ luas, dalam, dan tidak tergesa-gesa.
Setelah berjam-jam, akhirnya โ satu siklus sempurna terjadi.
Qi-nya mengalir dari pusat energi ke bahu, lalu ke lengan, ke telapak tangan, dan kembali ke pusat melalui tulang belakang. Seperti ombak yang menghantam pantai dan mundur kembali ke laut.
Tianji membuka matanya. Tangannya โ ia bisa merasakan energi mengalir di ujung jari-jarinya, berdenyut dengan ritme yang stabil.
"Berhasil," bisiknya.
Dan pada saat itu jugaโ
DUAR!
Pintu kamar terbuka dengan keras. Seorang pelayan losmen terhuyung masuk, dadanya berlumuran darah.
"Mawarโ Mawar Hitamโ" teriaknya sebelum ambruk.
Yue'er sudah melompat berdiri, busur di tangan. Xiao Yu'er menghunus kedua belatinya.
Dari luar, terdengar suara puluhan langkah kaki di koridor. Suara logam bergesekan. Dan suara tertawa โ tawa yang dikenal Tianji.
"Hei, anak-anak, keluar lah! Biar kuhabiskan kalian semua!"
Rahang Maut.
"Apa?" Yue'er memucat. "Rahang Maut? Di sini? Bagaimana dia tahu kita ada diโ"
"Sudah kubilang," Xiao Yu'er menggertakkan gigi. "Mawar Hitam punya mata di mana-mana."
Tianji bangun, memasukkan fragmen sutra ke dalam jubahnya. Matanya dingin โ lebih dingin dari biasanya.
Sudah waktunya.
"Kita harus menemui Lady Hong," katanya.
Mereka berlari keluar kamar, melewati koridor yang sudah kacau. Tamu-tamu losmen berlarian, pelayan berteriak, dan dari lantai bawah terdengar suara meja dijungkirbalikkan. Tapi sebelum mereka mencapai tangga, Lady Hong sudah berdiri di ujung koridor โ dengan anggun, seolah ketenangan adalah pakaian yang ia kenakan setiap hari.
"Ikut aku," katanya singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan cepat ke arah paviliun belakang.
"Mawar Hitam mengepung losmen!" teriak Yue'er. "Dan Nyonya malah mengajak kita jalan-jalan ke taman?"
"Diam dan ikut," potong Lady Hong.
Mereka tiba di paviliun belakang. Di tengah paviliun, tepat di bawah meja batu tempat Lady Hong biasa duduk, ada sebuah lubang gelap yang sebelumnya tertutup oleh meja.
"Lorong bawah tanah," kata Lady Hong. "Sudah kubangun sejak sepuluh tahun lalu, untuk keadaan darurat seperti ini. Lorong ini menembus tembok kota dan keluar di hutan timur."
"Luar biasa!" Yue'er berseru. "Nyonya memang sangat pintar! Membangun lorong rahasia di bawah losmen sendiri โ seperti cerita-cerita silat yang Ayahku bacakan waktu kecil! Tapi Ayahku bilang, lorong bawah tanah biasanya penuh jebakan dan labirin. Nyonya, apakah lorong ini berbahaya?"
"Tidak akan kubilang," jawab Lady Hong datar, "karena kau akan banyak bicara dan salah melangkah."
"Aih! Nyonya keterlaluan!"
"Dia benar," Xiao Yu'er menyela dengan suara tegang. "Mereka sudah di halaman depan. Aku bisa mendengar suara serigala."
"Serigala?" Tianji menajamkan telinga.
Dan benar โ dari kejauhan, terdengar lolongan panjang. Bukan serigala biasa. Serigala yang terlatih untuk berburu manusia.
"Serigala Malam," bisik Xiao Yu'er, wajahnya pucat. "Binatang peliharaan Mawar Hitam. Hidung mereka bisa mencium bau mangsa dari tiga li."
"Masuk." Lady Hong mendorong Tianji ke dalam lubang. "Kau, gadis cerewet, kau berikutnya. Lalu kau, Xiao Yu'er. Aku akan menutup pintu masuk."
Tianji melompat ke dalam lorong. Gelap. Udara lembab dan dingin. Ia bisa mendengar air menetes di suatu tempat.
"Pegang ini." Lady Hong melemparkan sesuatu yang bercahaya redup โ sebuah batu giok yang memancarkan cahaya pucat. "Batu bercahaya. Cukup untuk menerangi jalan setapak."
"Nyonya tidak ikut?" Tianji menoleh ke atas.
"Aku akan menghadapi tamu-tamuku." Lady Hong tersenyum โ dan untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat seperti senyuman harimau. "Sudah lama aku tidak menjaring nyamuk-nyamuk Mawar Hitam. Biarlah aku yang mengingatkan mereka bahwa Losmen Seribu Angin bukan tempat bermain."
"Tapiโ"
"Jangan khawatir." Lady Hong mengangkat tangannya, dan dari ujung jari-jarinya keluar benang-benang sutra putih yang hampir tidak terlihat โ sangat tipis, tapi Tianji bisa merasakan Qi yang mengalir di dalamnya. "Laba-Laba Sutra tidak pernah kalah di jaringnya sendiri."
Pintu lubang ditutup. Gelap.
Tianji mendesah, lalu berbalik. Yue'er dan Xiao Yu'er berdiri di belakangnya, wajah mereka diterangi cahaya hijau dari batu giok.
"Ayo," katanya.
Mereka berjalan menyusuri lorong bawah tanah yang panjang. Di dinding-dinding, terukir aksara-aksara kuno yang sama seperti di fragmen โ aksara Lautan. Lady Hong pasti telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di sini.
Setelah berjalan sekitar setengah jam, lorong mulai menanjak. Udara segar masuk dari celah-celah dinding. Akhirnya, mereka mencapai ujung โ pintu kayu yang sudah lapuk.
Tianji mendorongnya. Cahaya bulan menyambut mereka.
Mereka berada di hutan bambu di luar kota timur. Kabut tipis menyelimuti pepohonan. Di kejauhan, Kota Lintas Angin tampak seperti kumpulan lampu kecil yang berkelap-kelip.
"Kita selamat," bisik Yue'er lega.
Tapi Tianji tidak bernapas lega. Fragmen itu masih hangat di jubahnya. Kata-kata Lady Hong masih bergema di kepalanya.
"Pulau Terbang," gumamnya. "Itu kata-kata terakhir dalam fragmen. 'Cari fragmen kedua di Pulau Terbang.'"
"Pulau Terbang?" Yue'er mengerutkan kening. "Aku pernah mendengar cerita tentang pulau misterius yang terapung di langit โ katanya muncul hanya sekali dalam seratus tahun. Tapi itu hanya dongeng, kan? Mana ada pulau terbang?"
"Aku tidak tahu," kata Tianji jujur. "Tapi jika fragmen ini mengatakan demikianโ"
"Maka kita harus ke sana." Xiao Yu'er menyelesaikan kalimatnya. Belati di tangannya berkilau dalam cahaya bulan.
Tianji mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia bertanya-tanya: Pulau Terbang? Dimana? Dan bagaimana cara menuju ke sana?
Di langit, awan bergerak menutupi bulan. Hutan bambu berdesir, dan dari kejauhan, lolongan serigala terdengar lagi โ masih mencari.
Perjalanan belum berakhir. Bahkan, baru saja dimulai.
Dan Tianji tidak tahu โ belum tahu โ bahwa Rahang Maut tidak datang sendiri. Di balik lorong bawah tanah, di atas atap Losmen Seribu Angin, bayangan-bayangan hitam berkumpul seperti awan gelap yang siap melepaskan badai.
"Pulau Terbang," bisik Lady Hong sendirian, setelah mengalahkan dua puluh Mawar Hitam tanpa setitik darah pun mengenai gaunnya. Ia menatap timur, ke arah laut yang tersembunyi di balik pegunungan. "Kau mencari pulau itu, Xiao Tianji?"
Ia tertawa kecil.
"Aku harap kau siap โ karena pulau itu menyimpan lebih dari sekadar fragmen kedua. Pulau itu menyimpan kebenaran yang bisa menghancurkanmu."
Angin malam bertiup, dan lolongan serigala terdengar semakin dekat.