๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 12: PENGKHIANATAN

← BAB 11: KOTA PERTAMA BAB 13: LADY HONG →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Malam di Losmen Seribu Angin tidak pernah benar-benar sunyi. Dari lantai bawah terdengar suara gelas berdenting, nyanyian samar seorang penyanyi, dan derap langkah para tamu yang hilir mudik. Lampu minyak di koridor menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu.

Tianji duduk di kamarnya di lantai tiga, bersila di atas dipan bambu. Kedua telapak tangannya menghadap ke atas, dan ia merasakan aliran Qi yang lambat namun stabil dalam meridiannya. Sejak meninggalkan Gunung Qingcheng, latihannya terhambat โ€” ia tidak punya waktu untuk duduk diam dan bermeditasi. Tapi malam ini, setelah pertemuan dengan Lady Hong, ia merasakan dorongan aneh untuk berlatih.

Qi asing yang dulu menyesaki meridiannya โ€” sisa dari pertarungan dengan Rahang Maut โ€” perlahan mulai mencair. Meridian Penelan bekerja seperti sungai yang membersihkan lumpur. Tapi ada sesuatu… sesuatu yang aneh. Di dinding bawah sadarnya, seolah ada bayangan gelap yang menatapnya dari kedalaman.

"Kau tidak pernah sendirian dalam tubuhmu sendiri," gurunya pernah berkata. "Meridian Penelan membuatmu menjadi lautan โ€” dan lautan selalu memiliki kedalaman yang tidak terlihat."

Tok. Tok. Tok.

Tianji membuka mata. "Masuk."

Pintu terbuka, dan Xiao Yu'er melangkah masuk, membawa nampan kayu berisi dua cangkir teh. Wajahnya tetap tanpa ekspresi seperti biasa.

"Aku bawakan teh," kata Xiao Yu'er pendek. "Pikir kau mungkin haus setelah seharian perjalanan."

Tianji mengangguk. "Terima kasih."

Xiao Yu'er meletakkan nampan di meja rendah di samping dipan. Ia menuang teh ke dalam cangkir โ€” uap harum naik, aroma melati bercampur dengan sedikit rasa pahit yang samar.

"Coba," kata Xiao Yu'er, mendorong satu cangkir ke arah Tianji. "Teh ini khusus. Dari daun teh gunung yang tumbuh di atas batu kapur. Aku… menyimpannya sejak aku masih di rumah."

Ada jeda aneh ketika Xiao Yu'er menyebut kata "rumah". Tianji menangkapnya, tapi tidak berkomentar. Ia mengambil cangkir dan mendekatkannya ke bibir.

Dan tepat pada saat ituโ€”

"JANGAN MINUM!"

Pintu kamar terbuka lebar. Yue'er berdiri di ambang pintu, muka merah padam. Di tangan kanannya ia memegang busur pendek, dan di tangan kiri โ€” sesosok tikus mati yang hampir hancur.

"Yue'er?" Tianji meletakkan cangkirnya. "Apa yangโ€”"

"Teh itu beracun!" teriak Yue'er, melompat masuk dan merebut cangkir dari tangan Tianji. Ia menuangkan sedikit teh ke mulut tikus mati itu. Dalam hitungan detik, bangkai tikus itu mulai berasap โ€” dagingnya meleleh seperti lilin terkena api.

Tianji menatap pemandangan itu dengan mata membelalak. "Xiao Yu'er…"

Xiao Yu'er berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi. Tapi tidak ada rasa takut di matanya. Hanya pasrah.

"Jangan tanya kenapa," katanya lirih. "Lakukan saja apa yang harus kau lakukan. Bunuh aku."

"Apa?" Yue'er menghunus anak panah dari tabung di punggungnya. "Kau pikir kami sebodoh itu? Kami akan bertanya dulu sebelum membunuhmu! Xiao Yu'er! Anak keparat! Kami menyelamatkanmu dari Mawar Hitam! Kami menganggapmu kawan! Dan kauโ€”" Suaranya pecah. "Kau mau meracuni Tianji?"

Xiao Yu'er tidak menjawab. Ia hanya menunduk, tangannya gemetar di samping tubuh.

Tianji diam untuk waktu yang lama. Udara di kamar terasa berat. Lampu minyak berkedip-kedip, seolah ikut merasakan ketegangan yang mencekik.

"Ada dua kemungkinan," kata Tianji akhirnya, suaranya tenang โ€” terlalu tenang. "Pertama, kau memang pengkhianat sejak awal, dan pertemuan kita di hutan itu adalah jebakan. Keduaโ€”" Ia berhenti. "Kau dipaksa melakukan ini. Dan kau melakukannya dengan setengah hati."

"Apa maksudmu?" Yue'er menatap Tianji. "Mana ada pengkhianat yang bekerja setengah hati?"

Tianji menunjuk cangkir itu. "Jika ia benar-benar ingin membunuhku, ia bisa menuangkan racun yang tidak berbau. Tapi ia memilih racun yang aromanya samar โ€” cukup untuk dikenali oleh seseorang yang terlatih. Ia juga menuangkan teh di hadapanku, bukan sebelumnya. Ia memberiku kesempatan untuk bertanya."

"Akuโ€”" Xiao Yu'er mengangkat kepalanya, dan untuk pertama kalinya, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Aku hanya alat. Sejak awal, Mawar Hitam mengirimku untuk mendekatimu."

"Aku tahu."

Semua orang diam. Bahkan Yue'er terpaku.

"Aku tahu," ulang Tianji. "Sejak pertama kali kita bertemu di hutan, aku curiga. Kisahmu terlalu rapi. Keluargamu dibunuh Mawar Hitam โ€” kau satu-satunya yang selamat โ€” kau melarikan diri โ€” kau bertemu kami tepat saat kami diserang. Terlalu banyak kebetulan."

"Lalu… kenapa kau biarkan aku ikut?" Bisik Xiao Yu'er.

"Karenaโ€”" Tianji menatap Xiao Yu'er lurus. "Karena aku melihat matamu. Orang yang benar-benar jahat tidak memiliki mata seperti itu. Matamu penuh dengan kesedihan, Xiao Yu'er. Bukan kepura-puraan."

Xiao Yu'er ambruk. Lututnya menyentuh lantai, dan bahunya mulai bergetar. Air mata โ€” yang mungkin tidak pernah ia keluarkan selama bertahun-tahun โ€” mulai mengalir di pipinya.

"Maaf," bisiknya. "Maaf, Tianji. Aku… mereka menculik adikku. Adik perempuanku, Xiao Lian. Ia baru berusia sembilan tahun. Mereka bilang, jika aku tidak membunuhmu, mereka akan memotong jari-jarinya satu per satu dan mengirimkannya padaku."

Yue'er menarik napas tajam. Busurnya turun perlahan.

"Adikmu?" gumamnya. "Kau… kau punya adik?"

"Ya." Xiao Yu'er menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku selalu berkata keluarganya terbunuh semua, karena itulah perintah mereka. Tapi Xiao Lian โ€” ia masih hidup. Mereka menyanderanya. Aku harus memilih โ€” kau atau dia. Dan aku…" Suaranya pecah. "Aku lemah. Aku tidak bisa membiarkan Xiao Lian mati."

Tianji turun dari dipan. Ia berjalan mendekati Xiao Yu'er, lalu โ€” berlutut di hadapannya.

"Kau bukan pengkhianat," kata Tianji pelan. "Kau korban."

"Apa?" Xiao Yu'er mengangkat wajahnya yang basah. "Tianji, akuโ€” aku baru saja mencoba membunuhmu!"

"Tapi kau gagal. Dan kau menangis. Dan kau meminta maaf." Tianji meletakkan tangannya di bahu Xiao Yu'er. "Seorang pengkhianat sejati tidak akan meneteskan air mata untuk korbannya. Kau melakukannya karena terpaksa. Dan kau tidak pantas dibenci karena itu."

"Aih!" Yue'er melemparkan busurnya ke lantai. "Ini terlalu dramatis! Aku hampir menembakmu, kau tahu? Kalau aku tidak melihat Tikus mati itu lebih dulu, mungkin sekarang kau sudah menjadi bangkai manusia!" Ia menghela napas panjang. "Tapi… Tianji benar. Kau tidak sepenuhnya salah. Mawar Hitam โ€” sialan mereka. Siapa yang tega menyandera anak sembilan tahun?"

"Aku akan membantu," kata Tianji. "Kita akan selamatkan adikmu."

"Apa?" Xiao Yu'er terbelalak. "Tapiโ€”"

"Aku tidak punya keluarga sejak kecil. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai." Suara Tianji bergetar sedikit. "Kau masih punya kesempatan untuk menyelamatkannya. Jangan sia-siakan."

Xiao Yu'er menangis. Bukan isak tangis yang tertahan, melainkan tangis panjang yang keluar dari lubuk hati terdalam โ€” seperti banjir yang jebol setelah bertahun-tahun ditahan. Ia merangkul Tianji, dan bahunya terguncang-guncang.

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," isaknya di antara tangis. "Mawar Hitam mengambil segalanya. Ayah, ibu, rumah… sekarang hanya Xiao Lian yang tersisa. Dan aku hampir menghancurkan satu-satunya kesempatanku untuk memiliki teman lagi."

"Hei." Yue'er ikut berlutut, tangannya menepuk punggung Xiao Yu'er. "Jangan bicara begitu. Sekarang kau punya kami. Meskipun kau baru saja mencoba meracuni Tianjiโ€”" Ia menyenggol Xiao Yu'er dengan senggolan kecil. "Kami adalah temanmu. Tapi kau harus berjanji, tidak ada lagi racun dalam teh! Kalau perlu, aku yang akan menyeduh teh mulai sekarang!"

Tawa kecil keluar dari bibir Xiao Yu'er โ€” tawa bercampur tangis yang pahit tapi manis.

"Aku janji," bisiknya.

Yue'er menghela napas panjang dan meletakkan busurnya. "Baiklah. Kalau sudah begini, aku juga tidak bisa marah lama-lama. Tapi kau harus cerita semuanya โ€” tentang adikmu, tentang Mawar Hitam, tentang semua yang kau ketahui. Tidak ada lagi rahasia di antara kita. Setuju?"

Xiao Yu'er mengangguk, air mata masih mengalir. "Setuju."

"Aih, baguslah." Yue'er duduk di lantai bersila. "Kalau begitu, mulai cerita. Tapi jangan sedih-sedih terus. Aku tidak tahan melihat laki-laki menangis. Ayahku dulu bilang, laki-laki sejati tidak menangis โ€” tapi kupikir itu omong kosong. Laki-laki juga punya perasaan. Ayah sendiri menangis waktu ibuku meninggal. Ia menangis di dapur, diam-diam, karena ia pikir aku tidak melihat. Tapi aku melihat. Dan sejak itu aku tahu โ€” air mata bukan tanda kelemahan."

"Yue'er," Tianji memotong dengan lembut. "Kau sedang berfilsafat."

"Aku bisa berfilsafat kalau mau! Ayahku juga sering berfilsafat sambil minum arak. Katanya, arak membuat orang bijak. Tapi waktu itu ia hanya mabuk dan jatuh ke selokan, jadiโ€”"

"Yue'er."

"Baik, baik. Aku diam. Lagi-lagi."

Tawa kecil pecah di kamar itu โ€” dari Tianji, dari Xiao Yu'er โ€” dan bahkan Yue'er sendiri ikut tertawa.

Malam itu berlalu dengan perlahan. Di kamar losmen yang redup, tiga anak muda duduk melingkar โ€” Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er โ€” berbicara tentang rencana untuk menyelamatkan Xiao Lian dari cengkeraman Mawar Hitam.

Di luar, angin bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Daun-daun bambu berdesir seperti bisikan peringatan. Dan di atap losmen, sesosok bayangan mengawasi mereka dari kegelapan โ€” bayangan yang telah mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.

Namun di dalam kamar, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, Xiao Yu'er tersenyum. Senyum yang tulus.

"Aku tidak akan mengkhianati kalian lagi," janjinya. "Aku bersumpah demi arwah orang tuaku."

Dan Tianji hanya mengangguk, karena ia tahu โ€” di dunia persilatan yang penuh tipu daya, sebuah sumpah kadang adalah satu-satunya jaminan yang bisa dipegang.

Yue'er tiba-tiba berseru, "Ah! Tehnya tumpah semua! Padahal aromanya enak sekali. Tianji, kau beruntung aku datang tepat waktu! Kalau tidak, mungkin kau sudah terbaring kaku sekarang! Lalu siapa yang akan menyelamatkan adik Xiao Yu'er? Lalu siapa yang akan menikahi Lady Hong? Ah, maksudkuโ€”"

"Yue'er."

"Ya, ya, aku diam. Tapi serius, Tianji, kau harus lebih waspada. Dunia ini penuh bahaya. Ayahku dulu bilangโ€”"

"Yue'er."

"Baik, baik, aku diam!"

Dan mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, tawa itu terdengar tulus.

Tapi di sudut kamar, bayangan lampu minyak menari-nari, dan di suatu tempat di luar kota, di dalam markas rahasia Mawar Hitam, seseorang sedang menulis surat dengan tinta merah:

"Operasi satu gagal. Xiao Yu'er telah berkhianat. Dirikan posisi untuk eksekusi."

Malam masih panjang.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 11: KOTA PERTAMA BAB 13: LADY HONG →