Matahari musim gugur menggantung rendah di ufuk barat ketika tiga bayangan muncul di puncak bukit terakhir sebelum Kota Lintas Angin. Debu merah melekat di jubah mereka, dan angin bertiup kencang โ sebagaimana nama kota itu, angin tak pernah berhenti di sini.
Xiao Tianji berhenti, matanya menyipit menatap tembok kota yang menjulang di kejauhan. Ia belum pernah melihat kota sebesar ini. Desa Muara hanya memiliki tiga puluh rumah kayu dan satu sumur tua. Di sini, menara-menara menjulang, tembok batu setinggi sepuluh meter melingkupi ribuan bangunan, dan di atas gerbang utama, ukiran naga batu sepanjang lima meter seolah siap terbang.
"Waahh!" Yue'er berlari ke depan, kedua tangannya direntangkan. Rambutnya yang diikat ekor kuda berkibar-kibar ditiup angin. "Tianji! Tianji! Lihat itu! Ada patung naga di atas gerbang! Besar sekali! Aku belum pernahโ oh, tentu kau juga belum pernah. Kita sama-sama dari desa kecil. Tapi kau pasti tidak akan berteriak kegirangan seperti ini, kan? Kau selalu diam saja, seperti patung batu. Xiao Yu'er juga diam. Kalian berdua sama!"
"Aku bukan patung batu," kata Tianji pelan.
"Itu yang dikatakan patung batu!" Yue'er tertawa, lalu berputar-putar di jalanan berdebu. "Ayahku dulu pernah bilang, orang yang pendiam itu paling berbahaya. Mereka menyimpan seribu rahasia di dalam kepala. Tapi kau, Tianji, kau bahkan tidak menyimpan rahasia. Kau hanya… kosong. Ah, maksudku tidak dalam arti buruk! Kau seperti kertas putih. Ayahku juga bilang, kertas putih paling mudah menulis. Tapi juga paling mudah disobek. Aduh, maksudkuโ"
"Aku mengerti," potong Tianji dengan sedikit senyum. Ia sudah terbiasa dengan celoteh Yue'er yang tak pernah berhenti sejak mereka meninggalkan Desa Muara.
Xiao Yu'er berjalan di belakang mereka, jubah hitamnya berkibar. Wajahnya pucat, dan matanya terus bergerak โ mengamati kanan-kiri, seolah selalu mencari bayangan musuh. Di ikat pinggangnya tergantung dua belati pendek dan beberapa kantong kecil berisi racun yang ia ramu sendiri selama perjalanan.
"Kota Lintas Angin," gumam Xiao Yu'er, suaranya hampir hilang diterpa angin. "Kau yakin orang yang kau cari ada di sini?"
"Guruku berkata demikian," jawab Tianji. "Seorang wanita bernama Lady Hong. Pemilik Losmen Seribu Angin."
"Losmen Seribu Angin?" Yue'er melompat kegirangan. "Aku sudah dengar tentang tempat itu! Konon losmen itu memiliki seribu kamar, seribu jendela, dan seribu rahasia. Orang bilang pemiliknya bisa melihat seribu li โ pandangannya menembus gunung dan sungai. Ah, tapi mana mungkin, kan? Itu pasti hanya cerita orang mabuk. Ayahku dulu pernah berceritaโ"
"Kita akan tahu sebentar lagi," potong Tianji lembut.
Mereka memasuki kota melalui gerbang batu besar. Prajurit penjaga gerbang hanya melirik sekilas โ kota ini terlalu sibuk untuk peduli pada tiga anak muda dengan pakaian kusut. Pedagang berteriak di kiri-kanan, gerobak ditarik kuda melintas di jalan berbatu, asap dupa dan minyak goreng bercampur menjadi aroma khas kota besar.
Losmen Seribu Angin berada di ujung jalan utama. Bangunannya menjulang lima lantai, dengan payung-payung kertas merah tergantung di setiap jendela. Di pintu masuk, dua lentera bundar bertuliskan aksara emas: "ANGIN" dan "SERIBU". Dari dalam terdengar suara kecapi dan nyanyian samar.
"Losmen ini… lebih besar dari seluruh desaku," bisik Tianji.
"Ayo masuk!" Yue'er sudah melesat ke depan, menyingkap tirai manik-manik di pintu masuk.
Di dalam, losmen itu ramai. Puluhan meja terisi tamu โ pedagang, pendekar pedang, biksu, dan beberapa wanita berselendang sutra. Udara dipenuhi asap tembakau dan aroma teh melati. Seorang pelayan berlari-lari kecil membawa nampan berisi poci-poci arak.
"Kami mencariโ" Tianji baru saja mulai bicara ketika seorang wanita muncul dari balik tirai belakang.
Wanita itu berusia sekitar tiga puluh dua tahun. Rambutnya disanggul tinggi dengan tusuk konde perak berbentuk laba-laba. Wajahnya cantik dengan cara yang tajam โ hidung mancung, bibir tipis yang melengkung dalam senyum misterius, dan mata yang seperti danau di malam hari: gelap, tenang, dan tidak bisa diukur kedalamannya. Ia mengenakan gaun sutra ungu yang menjuntai rapi, dengan sulaman benang emas berbentuk jaring laba-laba di kerahnya.
"Anak-anak," katanya, suaranya lembut namun mengandung otoritas. "Kalian pasti Xiao Tianji."
Tianji tertegun. "Nyonya… tahu namaku?"
Lady Hong โ karena tidak mungkin ia orang lain โ tersenyum. Senyum itu tidak mencapai matanya. "Di Kota Lintas Angin, angin membawa banyak kabar. Dan aku, aku mendengarkan angin."
"Aih, cantik sekali!" Yue'er tiba-tiba berseru. "Nyonya, aku Liu Yue'er! Senang berkenalan! Aku tidak pernah melihat wanita secantik Nyonya di desaku. Ah, maksudku, memang ada beberapa gadis cantik di Desa Muara, tapi mereka semua bersahaja, tidak seperti Nyonya yang… waah, seperti bidadari turun dari kayangan! Nyonya, benarkah Nyonya pemilik losmen ini? Benarkah Nyonya bisa melihat seribu li? Benarkah Nyonyaโ"
"Yue'er," Tianji meraih lengan Yue'er. "Jangan keterlaluan."
Lady Hong tertawa kecil. "Gadis ini menarik. Banyak bicara, ceria, seperti burung pipit di pagi hari. Kudengar kau anak Liu Dahan?"
Yue'er menganga. "Nyonya tahu ayahku? Bagaimana bisa? Ayahku bukan siapa-siapa! Hanya petani biasa! Atau… jangan-jangan… ayahku dulu benar-benar seorang pendekar? Ia sering bercerita tentang masa lalunya, tapi kupikir ia hanya mengarang. Ah, Nyonya pasti benar-benar sakti! Benarkah Nyonya bisaโ"
"Duduklah," potong Lady Hong, masih dengan senyum yang sama. "Kita akan bicara di paviliun belakang."
Ia memimpin mereka melewati lorong panjang yang gelap, lalu halaman dalam yang dipenuhi tanaman bambu. Di tengah halaman, sebuah paviliun kecil berdiri di atas kolam ikan koi. Air mancur batu mengalir lembut, menciptakan suara yang menenangkan.
"Ini tempat favoritku," kata Lady Hong sambil duduk di bantal sutra. "Di sini, angin berbisik dengan jujur."
Seorang pelayan membawakan teh. Aroma melati dan jahe memenuhi udara. Tianji duduk dengan hati-hati, sementara Yue'er sudah memegang cangkir teh dan menyesapnya dengan suara ceria.
"Ini enak! Nyonya, teh ini terbuat dariโ"
"Yue'er." Tianji meletakkan tangannya di meja, menghentikan Yue'er. "Biarkan Nyonya bicara."
Lady Hong tersenyum. "Kau sopan, Xiao Tianji. Seperti gurumu."
"Nyonya tahu guruku?"
"Aku tahu banyak hal." Lady Hong menyandarkan punggungnya, matanya menatap Tianji dengan tajam. "Xuan Qingzi, pendekar Tao dari Gunung Qingcheng. Diasingkan ke selatan karena membela seorang korban Mawar Hitam. Sekarang tinggal di Desa Muara, mengajari seorang anak yatim piatu ilmu Meridian Penelan."
Tianji hampir tersedak udaranya sendiri. "Nyonya… bagaimana bisaโ"
"Seperti kubilang, angin membawa kabar." Lady Hong menyesap tehnya. "Tapi yang lebih penting, Xiao Tianji, aku tahu apa yang kau cari. Kitab Suci Lautan. Fragmen pertama."
Yue'er yang tadinya sibuk menikmati teh tiba-tiba diam. Xiao Yu'er, yang sejak tadi duduk di pojok tanpa bicara, mengangkat kepalanya dengan waspada.
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kau tahu," kata Tianji perlahan. "Tapi apa yang kau inginkan dariku?"
"Langsung ke inti. Bagus." Lady Hong meletakkan cangkir tehnya. "Aku memiliki fragmen pertama Kitab Suci Lautan. Tapi aku tidak akan memberikannya begitu saja. Ada tiga syarat yang harus kau penuhi."
"Apa syaratnya?"
"Pertamaโ" Lady Hong mengangkat satu jari. "Kau harus tinggal di losmenku selama tiga hari. Dalam tiga hari itu, kau akan belajar bahwa dunia persilatan tidak semulia yang kau bayangkan. Keduaโ" Jari kedua. "Kau harus membantu seorang temanku. Ia dijebak oleh Mawar Hitam di kota timur. Ketigaโ" Jari ketiga. "Kau harus menepati janji padaku suatu hari nanti, saat aku memintanya. Apapun itu."
Yue'er mendengus. "Syarat ketiga tidak jelas! Apapun itu? Bagaimana kalau Nyonya minta Tianji bunuh diri?"
"Itu risiko yang harus kau ambil," jawab Lady Hong datar.
"Aku setuju," kata Tianji.
"Tianji!" Yue'er memukul meja. "Kau tidak bisa seenaknya setuju! Bagaimana kalauโ"
"Aku setuju," ulang Tianji, menatap Lady Hong lurus. "Karena aku tidak punya pilihan lain. Dan karenaโ" Ia berhenti sejenak. "Karena Nyonya tahu terlalu banyak tentang diriku. Jika Nyonya ingin mencelakakanku, tidak perlu repot-repot membuat syarat."
Lady Hong tersenyum lagi. Kali ini, senyumnya mencapai ujung matanya. "Kau cerdas, Xiao Tianji. Aku suka itu. Tapi ingat โ kecerdasan bisa menjadi pedang bermata dua. Terlalu percaya, kau akan mati. Terlalu curiga, kau akan mati sendirian."
Dan tanpa menunggu jawaban, ia berdiri dan berjalan meninggalkan paviliun. Langkahnya ringan seperti kapas, tidak meninggalkan jejak di tanah berdebu.
Yue'er menatap punggung Lady Hong yang menjauh. "Wanita itu… dia aneh. Cantik, misterius, dan… menakutkan. Aku tidak tahu harus percaya atau takut padanya."
"Keduanya," bisik Xiao Yu'er, untuk pertama kalinya bicara lebih dari satu suku kata sejak mereka memasuki losmen. "Dia berbahaya. Aku bisa mencium bau… racun di pakaiannya."
"Apa?" Yue'er memekik. "Racun? Kau yakin? Nyonya secantik itu membawa racun?"
"Aroma aconite dan arsenik," kata Xiao Yu'er dingin. "Samar, tapi ku kenali. Dia bukan wanita biasa."
Tianji diam. Matanya menatap riak air di kolam. Seekor ikan koi merah melompat, menciptakan lingkaran yang melebar perlahan โ lalu menghilang.
"Kita berada di sarang laba-laba," gumamnya. "Dan kita โ seperti lalat yang baru saja terbang masuk, tidak tahu bahwa jaring sudah menanti di setiap sudut."
"Aku lebih suka menjadi tawon daripada lalat," sahut Yue'er dengan gagah. "Tawon bisa menyengat balik! Ayahku dulu pernah bercerita tentang seorang pendekar yang dijuluki Tawon Emas โ ia masuk ke sarang laba-laba dan malah membunuh semua laba-laba dengan sengatnya! Tapi kupikir ia hanya mengarang cerita. Ayah suka mengarang cerita. Ia bilang itu untuk menghiburku, tapiโ"
"Yue'er."
"Baik, baik. Aku diam. Tapi serius, kita harus hati-hati. Wanita ituโ aku tidak tahu harus percaya atau takut padanya."
"Keduanya," jawab Tianji pelan. "Kita percaya padanya karena ia tahu terlalu banyak. Tapi kita takut padanya karena ia tahu terlalu banyak. Di dunia persilatan, pengetahuan adalah senjata โ dan Lady Hong mempersenjatai dirinya dengan sangat baik."
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanannya baru dimulai โ dan bahaya sesungguhnya belum terlihat.
Angin malam bertiup, menerbangkan daun-daun bambu. Di kejauhan, terdengar suara lonceng kuil berbunyi tujuh kali. Tanda malam telah tiba di Kota Lintas Angin.
Namun di balik dinding losmen, di dalam kamar gelap tanpa cahaya, Lady Hong duduk sendirian di depan altar kecil. Lilin merah menyala redup. Ia membuka sebuah kotak kayu cendana dan mengeluarkan selembar sutra tua โ potongan peta yang compang-camping di tepinya.
"Xiao Tianji…" bisiknya, menyentuh nama yang terukir di bawah lilin. "Kau tidak tahu betapa pentingnya dirimu."
Lalu ia meniup lilin, dan kamar itu tenggelam dalam kegelapan total.
Di kejauhan, dua bayangan hitam melompat dari atap ke atap, mendekati Losmen Seribu Angin. Sesuatu akan terjadi malam ini.