📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 10: PERKENALAN BERBAHAYA

← BAB 9: PERSIAPAN DAN PERPISAHA… BAB 11: KOTA PERTAMA →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Dua hari telah berlalu sejak Tianji dan Yue'er meninggalkan Desa Muara. Perjalanan mereka relatif lancar, meskipun perasaan diawasi terus menghantui Tianji. Ia tidak pernah berhasil menangkap bayangan itu, tapi ia tahu—ia tidak sedang berparanoia. Seseorang benar-benar mengikuti mereka.

"Kapan kita akan sampai di kota?" tanya Yue'er, mengusap keringat di dahinya. Matahari di atas kepala terasa menyengat, dan jalur setapak di hutan ini terasa tidak ada habisnya.

"Menurut peta, kalau kita terus berjalan ke arah selatan, dua hari lagi kita akan sampai di Kota Lintas Angin," jawab Tianji, matanya tidak lepas dari pepohonan di sekitar mereka. "Tapi pertama, kita harus melewati daerah perbatasan. Di sana ada kedai—kita bisa beristirahat sebentar."

"Kedai!" Yue'er matanya berbinar. "Aku belum pernah ke kedai! Apa mereka menjual makanan enak? Apa ada cerita-cerita seru? Apakah ada pendekar yang bertengkar?"

"Kau terlalu bersemangat," Tianji tersenyum geli. "Kedai hanyalah tempat untuk makan dan tidur. Bukan tempat hiburan."

"Tapi tetap saja! Ini pertama kalinya aku ke kedai!" Yue'er hampir melompat-lompat kegirangan. "Aku ingin mencoba semua menu yang ada!"

"Aku hanya punya uang untuk satu porsi."

"Berarti kita bagi dua!"

Mereka terus berjalan, dan setengah jam kemudian, sebuah bangunan rendah mulai terlihat di kejauhan. Kedai itu terletak di persimpangan jalan, beratap jerami, dengan sebuah papan kayu bertuliskan "Kedai Seberang" dalam aksara yang sudah pudar. Beberapa kuda diikat di tiang di depan, dan asap mengepul dari cerobong dapur.

"Ini dia," kata Tianji. "Tapi ingat—jangan bicara terlalu banyak. Kita tidak tahu siapa yang ada di dalam."

"Aku tahu, aku tahu. 'Waspada, jangan percaya siapa pun, dunia ini kejam,'" Yue'er menirukan suara ayahnya. "Ayahku sudah mengingatkanku ribuan kali."

"Bagus."

Mereka masuk ke dalam kedai. Suasana di dalam redup, diterangi oleh beberapa lampu minyak yang tergantung di langit-langit. Bau masakan—bawang goreng, daging panggang, dan rempah-rempah—memenuhi hidung mereka. Beberapa meja diisi oleh pengunjung: dua pedagang yang sedang makan, seorang pendekar tua yang minum sendirian, dan…

Di meja paling pojok, duduk seorang pemuda.

Tianji menangkapnya dalam sekejap. Penampilan pemuda itu—mungkin seusia Tianji, sekitar enam belas atau tujuh belas tahun—cukup mencolok. Rambutnya acak-acakan, jubahnya robek di beberapa tempat, dan wajahnya penuh coretan debu dan keringat. Tapi yang paling menarik perhatian adalah matanya. Di balik kelelahan, ada kecerdasan yang tajam. Dan ketakutan.

Pemuda itu mendongak saat Tianji dan Yue'er masuk. Mata mereka bertemu sesaat, lalu pemuda itu menunduk, pura-pura sibuk dengan mangkuknya.

"Ayo duduk," bisik Tianji, menunjuk meja di dekat jendela—posisi yang memungkinkan mereka melihat keluar dan ke dalam secara bersamaan.

Mereka memesan dua porsi mi rebus dan segelas teh hangat. Yue'er, meskipun sudah diingatkan, tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasmenya. Ia mengamati setiap sudut kedai dengan mata berbinar.

"Tianji, lihat! Ada lukisan naga di dinding! Dan lihat pedang yang digantung di atas bar! Itu pasti pedang kuno, bukan?" bisiknya.

"Yue'er, kau terlalu bersemangat," Tianji mengingatkan. "Kita tidak ingin menarik perhatian."

Tapi sudah terlambat.

Pemuda dari meja pojok tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah mereka. Langkahnya agak goyah, dan saat ia sampai di meja Tianji, ia tersenyum—senyum yang terlalu lebar untuk situasi yang tidak jelas.

"Maaf mengganggu," kata pemuda itu, suaranya sedikit bergetar. "Aku tersesat. Aku sedang dalam perjalanan ke Kota Lintas Angin, tapi jalannya… entah kenapa aku salah belok. Kalian kelihatannya orang baik. Apa kalian tahu arah ke kota?"

Tianji menatap pemuda itu dengan curiga. "Kau tersesat?"

"Ya, sangat tersesat." Pemuda itu tertawa, mencoba terdengar santai. Tapi tawanya terdengar dipaksakan. "Aku sudah berjalan tiga hari di hutan ini. Hampir mati kelaparan. Syukurlah aku menemukan kedai ini."

"Kau tidak punya peta?" tanya Yue'er, yang tanpa sadar sudah mulai terlibat.

"Peta? Aku… eh… kehilangannya. Di sungai. Jatuh." Pemuda itu menggaruk kepalanya. "Ceritanya panjang."

Tianji mengamati pemuda itu dengan saksama. Pakaiannya yang robek, wajahnya yang lelah, dan cara bicaranya yang gelisah—semua itu konsisten dengan seseorang yang sedang dalam masalah. Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat naluri Tianji waspada.

"Kau bisa duduk," kata Tianji akhirnya. "Tapi kami tidak punya banyak informasi. Kami juga baru dalam perjalanan."

"Terima kasih! Terima kasih banyak!" Pemuda itu duduk di sisi meja yang kosong, napasnya lega. "Aku Xiao Yu'er. Senang bertemu dengan kalian."

"Aku Tianji. Dan ini Yue'er."

"Yue'er? Nama yang indah," kata Xiao Yu'er, tersenyum pada Yue'er. Tapi senyumnya langsung memudar saat Yue'er menatapnya dengan curiga.

"Kau memuji namaku? Kita baru bertemu semenit, dan kau sudah berani memuji namaku?" Yue'er menyipitkan matanya. "Kedengarannya seperti taktik rayuan murahan."

"A-Aku tidak bermaksud—"

"Sudah kuduga. Pria-pria di dunia persilatan semuanya sama. Melihat gadis cantik, langsung mencoba merayu."

"Aku sungguh tidak—"

"Lalu kenapa kau mendekati meja kami? Ada banyak meja kosong. Kenapa harus meja kami?"

"Aku hanya ingin bertanya arah—"

"Dan kau bilang kau tersesat? Pakaianmu robek, wajahmu kotor, dan kau tidak punya peta. Kedengarannya seperti kamu sedang melarikan diri dari sesuatu. Atau seseorang."

Xiao Yu'er diam. Senyumnya lenyap total. Ia menunduk, jari-jarinya gemetar di atas meja.

"Aku… tidak bisa bilang," bisiknya.

"Apa?" Yue'er mengerutkan kening.

"Aku tidak bisa memberitahu kalian. Kalau aku bilang, kalian juga akan ikut dalam bahaya."

Tianji, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Kau melarikan diri dari Mawar Hitam, bukan?"

Xiao Yu'er tersentak. Matanya membelalak, penuh ketakutan. "K-kau… bagaimana kau tahu?"

"Karena kami juga diburu oleh mereka," jawab Tianji tenang. "Dan karena kau memiliki tanda di lenganmu."

Xiao Yu'er menatap lengannya. Di balik jubahnya yang robek, terlihat samar-samar tato mawar hitam kecil di pergelangan tangannya—tanda yang sama yang dimiliki semua anggota Mawar Hitam.

"Aku… aku bukan anggota mereka!" Xiao Yu'er buru-buru menutupi tatonya. "Ini… ini tanda budak! Mereka menandai semua tahanan yang mereka culik!"

"Tahanan?" Yue'er, yang tadinya bermusuhan, mulai melunak. "Kau ditahan Mawar Hitam?"

Xiao Yu'er mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Mereka membunuh keluargaku. Ayahku, ibuku, adik perempuanku yang baru berusia sepuluh tahun… semua dibantai di depan mataku."

Suasana di meja menjadi berat.

"Aku berhasil kabur saat mereka lengah," lanjut Xiao Yu'er, suaranya pecah. "Aku sudah berlari selama seminggu. Mereka mengejarku. Dan aku tahu… aku tahu mereka tidak akan berhenti sampai aku mati."

Yue'er menatap Tianji. Ekspresi wajahnya berubah—dari curiga menjadi iba. Tianji sendiri masih waspada, tapi ia bisa merasakan kepedihan dalam cerita Xiao Yu'er. Itu bukan akting. Tidak mungkin.

"Keluargamu dibunuh Mawar Hitam?" tanya Tianji. "Kenapa? Apa yang mereka inginkan darimu?"

"Ayahku…" Xiao Yu'er menelan ludah. "Ayahku adalah seorang pandai besi. Ia menempa pedang untuk seorang pejabat tinggi. Tapi suatu hari, ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat, dan pejabat itu… pejabat itu memanggil Mawar Hitam untuk membersihkan jejak."

"Pejabat tinggi? Siapa?"

"Aku tidak tahu namanya. Tapi aku tahu ia memiliki hubungan dengan Lord Hitam. Ayahku sempat memberiku sebuah buku catatan sebelum ia mati—berisi informasi tentang transaksi gelap mereka. Aku tidak tahu apa isinya, karena aku tidak sempat membacanya. Aku hanya bisa kabur."

Tianji dan Yue'er saling pandang. Ini lebih serius dari yang mereka duga. Xiao Yu'er bukan hanya buronan biasa—ia memiliki bukti yang bisa menjatuhkan seseorang yang sangat berkuasa.

"Kau harus datang bersama kami," kata Tianji tiba-tiba.

"Apa?" Xiao Yu'er dan Yue'er berseru bersamaan.

"Kau gila?" Yue'er memukul meja. "Kita baru bertemu orang ini! Kita tidak tahu apa-apa tentang dia! Bagaimana kalau ini jebakan?!"

"Aku tahu risikonya," Tianji menjawab. "Tapi lihat matanya, Yue'er. Ia ketakutan. Dan jika Mawar Hitam mengejarnya, ia tidak akan selamat sendirian."

"Tapi—"

"Aku juga ketakutan saat pertama kali kau menemukanku di pantai," Tianji memotong. "Dan kau tetap menolongku. Kenapa sekarang kau ragu?"

Yue'er terdiam. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. Ia menunduk, lalu menghela napas panjang. "Kau benar… Tapi kalau dia ternyata pengkhianat, aku yang akan memanahmu."

"Kau tidak akan memanahku."

"Kau yakin?"

"Kau terlalu sayang padaku."

"BERANI KAU!" Yue'er memukul lengan Tianji, tapi wajahnya memerah.

Xiao Yu'er menatap mereka berdua dengan ekspresi bingung. "Kalian… selalu seperti ini?"

"Kadang lebih parah," jawab Tianji.

"Lebih parah," konfirmasi Yue'er.

Xiao Yu'er tersenyum—untuk pertama kalinya, senyum yang tulus. "Terima kasih. Kalian tidak tahu betapa berartinya ini bagiku."

"Kau bisa berterima kasih nanti," kata Tianji. "Sekarang, kita harus bergerak. Kedai ini terlalu terbuka. Jika Mawar Hitam mengejarmu…"

"Mereka akan datang," Xiao Yu'er berkata, suaranya berubah serius. "Aku yakin mereka sudah tahu aku ada di sini."

"Kalau begitu, kita pergi sekarang."

Mereka segera menyelesaikan makanan mereka, membayar, dan meninggalkan kedai. Tianji memimpin jalan, matanya waspada mengamati sekeliling. Yue'er berjalan di sampingnya, busurnya sudah siap. Xiao Yu'er mengikuti dari belakang, langkahnya cepat dan gelisah.

"Ada desa kosong sekitar satu jam dari sini," kata Xiao Yu'er. "Aku melewatinya kemarin. Tidak ada orang, bangunan-bangunan sudah rusak. Tempat yang bagus untuk beristirahat dan… bersembunyi."

"Kau yakin?"

"Aku yakin. Aku sudah memeriksanya."

Mereka berjalan cepat, hampir berlari. Hutan di sekitar mereka semakin lebat, dan sinar matahari mulai meredup. Bayangan-bayangan pohon menari-nari di tanah, menciptakan ilusi gerakan di sudut mata.

Setelah sekitar satu jam, mereka sampai di desa kosong itu.

Xiao Yu'er tidak salah. Desa itu benar-benar kosong. Rumah-rumah kayu telah runtuh, atap-atap jerami berlubang, dan rumput liar tumbuh di mana-mana. Hanya ada satu bangunan yang masih berdiri kokoh—sebuah balai desa di tengah lapangan.

"Kita bisa beristirahat di dalam," kata Xiao Yu'er, menunjuk balai desa.

Tianji mengangguk. Mereka masuk ke dalam. Balai desa itu kosong, hanya ada beberapa meja dan kursi yang berserakan. Debu tebal menutupi lantai. Cahaya masuk melalui celah-celah dinding kayu, menciptakan garis-garis terang dan gelap.

"Kau benar benar-benar yakin tempat ini aman?" tanya Yue'er, matanya mengamati sekeliling dengan curiga.

"Aku yakin," jawab Xiao Yu'er. Tapi nada suaranya… ada sesuatu yang aneh.

Tianji merasakannya. Ia berhenti, menoleh ke arah Xiao Yu'er. Matanya menyipit.

"Xiao Yu'er… kau bilang kau baru pertama kali ke sini?"

"A-aku iya. Kenapa?"

"Tapi kau bilang kau memeriksanya kemarin. Dan kau yakin tempat ini aman."

Xiao Yu'er terdiam.

"Kau berbohong," kata Tianji, suaranya dingin. "Kau sudah pernah ke sini sebelumnya. Bukan kemarin. Tapi sebelumnya. Berulang kali."

Xiao Yu'er mundur selangkah. Tangannya gemetar. "Tianji, aku bisa menjelaskan—"

Tapi sebelum ia bisa melanjutkan, suara peluit tajam terdengar dari luar.

Dan dalam sekejap, balai desa itu dikepung.

Pintu-pintu didobrak. Jendela-jendela pecah. Puluhan sosok berjubah hitam melompat masuk, pedang terhunus, mata dingin menatap mereka. Dua puluh orang. Mungkin lebih.

Dan dari tengah kerumunan itu, seorang pria berjalan maju.

Ia tidak seperti anggota Mawar Hitam lainnya. Ia tidak mengenakan jubah hitam sederhana—melainkan jubah perak yang berkilauan, dengan topeng perak yang menutupi separuh wajahnya. Rambutnya panjang, hitam legam, berkibar tertiup angin yang tiba-tiba berhembus masuk melalui pintu yang hancur.

Topeng Perak.

"Akhirnya kau tertangkap juga," kata Topeng Perak, suaranya halus tapi penuh ancaman. "Xiao Yu'er… kau pikir kau bisa lari dari Mawar Hitam?"

Xiao Yu'er mundur, wajahnya pucat pasi. "Tianji… Yue'er… maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyeret kalian ke dalam ini."

"Kau sengaja membawa kami ke sini?" Yue'er berkata, suaranya penuh kemarahan dan rasa dikhianati.

"Aku tidak punya pilihan! Mereka akan menemukanku di mana pun aku pergi!" Xiao Yu'er berteriak. Tapi ada penyesalan di matanya. "Aku hanya ingin… aku hanya ingin ditemani saat aku mati."

"Kami tidak akan mati," kata Tianji, suaranya dingin namun mantap.

Topeng Perak tertawa—suara yang dingin, seperti kaca pecah. "Bocah kurang ajar. Kau pikir kau bisa melawan dua puluh anggota Mawar Hitam? Dengan pedang pendek dan busur mainan?"

"Aku tidak perlu melawan dua puluh orang sendirian." Tianji menatap Xiao Yu'er. "Kita bertarung bersama."

Xiao Yu'er terkejut. "Kau… masih mau bertarung bersamaku? Setelah aku menjebak kalian?"

"Kau bilang kau tidak punya pilihan," kata Tianji. "Aku mengerti. Tapi sekarang, kau punya pilihan. Kau bisa bertarung bersama kami, atau kau bisa mati sendirian. Pilih."

Xiao Yu'er menatap Tianji. Untuk sesaat, matanya berkaca-kaca. Lalu ia tersenyum—senyum yang sama seperti saat pertama mereka bertemu di kedai, tapi kali ini, lebih tulus.

"Aku memilih bertarung bersamamu."

"Bagus." Tianji menatap Yue'er. "Yue'er, kau siap?"

"Aku sudah siap sejak lahir!" Yue'er menarik busurnya, anak panah terpasang. "Tapi kalau kita mati di sini, aku tidak akan pernah memaafkan kalian berdua!"

"Sama-sama."

Topeng Perak menggeleng-gelengkan kepala. "Menyedihkan. Bocah-bocah bodoh yang bermimpi menjadi pahlawan. Baiklah, kalau kalian ingin mati bersama, aku akan mengabulkannya."

Ia mengangkat tangannya. "SERBU!"

Dua puluh anggota Mawar Hitam bergerak serempak, pedang mereka berkilat dalam gelap.

Dan pertarungan pun dimulai.

Tianji melesat pertama, pedang pendeknya menyambut tebasan pertama. Ia tidak punya pilihan—ia harus bertahan cukup lama untuk menemukan celah. Di belakangnya, Yue'er melepaskan anak panah, satu per satu, tepat sasaran. Seorang anggota Mawar Hitam roboh, anak panah menancap di bahunya.

Xiao Yu'er bertarung dengan pisau kecil yang ia sembunyikan di balik jubahnya. Gerakannya cepat, tapi tidak terlatih. Ia jelas bukan pendekar—hanya seorang anak yang belajar bertahan hidup.

"Kami tidak akan bertahan lama!" teriak Yue'er, melepaskan anak panah lagi. "Mereka terlalu banyak!"

"Maka kita harus membuat mereka lebih sedikit," jawab Tianji, matanya mencari-cari target berikutnya. Tapi ia tahu—ia tahu satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh sebanyak ini adalah dengan menggunakan Meridian Penelan.

Qi gelap di dalam tubuhnya mulai menggeliat. Ia bisa merasakannya—bangun dari tidurnya, tertarik oleh panasnya pertarungan.

"Jangan," bisik suara di dalam kepalanya. "Jangan gunakan itu."

Tapi Tianji tidak punya pilihan lain.

Ia melesat ke arah anggota Mawar Hitam terdekat, meraih pergelangan tangannya, dan—

"MERIDIAN PENELAN!"

Qi lawan mengalir ke dalam tubuhnya. Kuat. Hangat. Memabukkan. Tianji merasakan gelombang kekuatan yang luar biasa. Dan bersamaan dengan itu, Qi gelap di dalam dadanya bangun, menggeram, lapar.

Matanya berubah hitam.

"Tidak…" bisik Yue'er, melihat perubahan di wajah Tianji.

Tapi sudah terlambat. Tianji sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia melesat ke sana kemari, menyerap Qi satu per satu anggota Mawar Hitam. Tubuh mereka roboh, lemas, tak berdaya.

Topeng Perak menatap dengan penuh minat. "Ilmu itu… jadi benar-benar ada."

"TIANJI, BERHENTI!" teriak Yue'er.

Tapi Tianji tidak mendengar. Ia terus bergerak, terus menyerap, sampai sepuluh anggota Mawar Hitam roboh di kakinya. Tubuhnya bergetar, urat hitam menonjol di leher dan wajahnya.

"Tianji!" Xiao Yu'er juga berteriak. "Kau akan mati!"

Satu anggota lagi roboh.

Dan satu lagi.

Tapi saat Tianji hendak menyerang anggota kesepuluh, sesuatu terjadi. Tubuhnya berhenti bergerak. Lututnya lemas. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Qi gelap yang ia serap terlalu banyak—jauh melebihi batas yang Xuan Qingzi peringatkan.

"Sakit…" desisnya, tangannya mencengkeram tanah. "Sakit sekali…"

"Sekarang giliranku." Topeng Perak melangkah maju, pedang peraknya terhunus. "Kau cukup menghibur, bocah. Tapi hiburan sudah selesai."

Ia mengangkat pedangnya, siap menebas leher Tianji.

Tapi tiba-tiba, sesosok bayangan melesat di antara mereka.

"JAMAH DIA, KAU MATI!"

Yue'er berdiri di depan Tianji, busurnya diarahkan tepat ke wajah Topeng Perak. Tapi anak panahnya sudah habis. Ia hanya mengancam dengan busur kosong.

"Gadis tolol," Topeng Perak tertawa. "Busur tanpa anak panah hanyalah sepotong kayu."

"Aku tahu." Yue'er tersenyum—senyum yang menakutkan untuk seorang gadis desa. "Tapi kau tidak tahu bahwa aku bisa menggunakan busur ini sebagai pentungan."

Ia memukul Topeng Perak dengan busurnya. Pria itu terkejut—ia tidak menyangka Yue'er akan seberani itu. Pukulannya mengenai bahu Topeng Perak, cukup keras untuk membuatnya mundur selangkah.

"LARI!" teriak Yue'er, menarik Tianji berdiri. "Xiao Yu'er, bantu aku!"

Xiao Yu'er berlari ke sisi mereka, membantu Yue'er menopang Tianji yang setengah pingsan. Mereka berlari keluar dari balai desa, meninggalkan Topeng Perak yang masih terkejut.

"Aku akan mengejar kalian!" teriak Topeng Perak. "Tidak ada tempat di dunia ini yang bisa kalian sembunyikan dari Mawar Hitam!"

Mereka terus berlari, masuk ke dalam hutan, menghilang di antara pepohonan yang lebat.

Dan di balik mereka, Topeng Perak berdiri di ambang balai desa, topeng peraknya berkilat dalam cahaya senja.

"Menarik," gumamnya. "Xiao Tianji… Xiao Yu'er… dan seorang gadis desa yang berani. Mungkin Lord Hitam akan tertarik dengan laporan ini."

Ia tersenyum di balik topengnya.

"Sampai jumpa lagi, bocah-bocah."

Bersambung…

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 9: PERSIAPAN DAN PERPISAHA… BAB 11: KOTA PERTAMA →