๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 9: PERSIAPAN DAN PERPISAHAN

← BAB 8: KEPUTUSAN BAB 10: PERKENALAN BERBAHAYA →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Fajar menyingsing di Desa Muara. Kabut tipis masih menyelimuti permukaan laut, memberikan pemandangan yang tenang dan damai. Nelayan-nelayan mulai melaut, anak-anak bermain di pinggir pantai, dan kehidupan desa berjalan seperti biasaโ€”seolah tidak ada yang berubah.

Namun bagi Liu Yue'er, pagi ini terasa berbeda. Udara terasa lebih berat. Warna langit terasa lebih pucat. Dan di halaman rumah panggung kayu yang telah menjadi rumahnya selama delapan belas tahun, ia berdiri dengan sebuah tas kecil di tangannya.

"Aku sudah siap, Tianji," katanya, berusaha terdengar ceria. "Apa kau sudah siap?"

Tianji berdiri di sampingnya, juga membawa tas. Tapi penampilannya berbeda dari biasanya. Xuan Qingzi telah memberinya jubah baruโ€”berwarna abu-abu gelap, sederhana tapi kokoh, cocok untuk perjalanan jauh. Di pinggangnya terselip pedang pendek pemberian sang guruโ€”bukan senjata yang hebat, tapi cukup untuk pertahanan dasar.

"Siap secara fisik," jawab Tianji. "Tapi secara mental… aku tidak yakin."

"Berarti kau sudah siap," kata Yue'er. "Karena tidak ada yang benar-benar siap untuk apa pun dalam hidup. Kita hanya berpura-pura siap sampai akhirnya kita benar-benar siap."

Tianji menatapnya. "Kau tiba-tiba menjadi filsuf."

"Aku punya momen-momen bijak," Yue'er tersenyum lebar. "Jangan biasakan, karena momen itu jarang terjadi."

Xuan Qingzi keluar dari rumah, diikuti Liu Dahan yang masih berjalan agak pincang. Wajah Liu Dahan kelihatan lebih tua dari biasanya, seolah semalam ia telah menua sepuluh tahun.

"Tianji, kemarilah," panggil Xuan Qingzi. "Saatnya pembersihan meridian terakhir."

Tianji mengangguk. Ia duduk bersila di halaman, memejamkan mata. Xuan Qingzi duduk di belakangnya, telapak tangannya yang keriput ditempelkan di punggung Tianji.

"Qi gelap yang kau serap dari Rahang Maut sudah terlalu menyatu dengan meridianmu. Aku tidak bisa mengeluarkannya sepenuhnyaโ€”itu akan membunuhmu. Tapi aku bisa menekannya, membuatnya tertidur lebih lama."

"Lakukan, Guru."

Xuan Qingzi menghela napas. Lalu ia mulai mengalirkan Qi murninya ke dalam tubuh Tianji.

Tianji merasakan gelombang kehangatan menjalar dari punggungnya, menyebar ke seluruh tubuh. Qi Xuan Qingzi terasa bagaikan sinar matahari di musim semiโ€”hangat, menenangkan, penuh kehidupan. Ia menyusup ke setiap sudut meridian Tianji, mencari Qi gelap yang bersembunyi.

Di kedalaman tubuhnya, sesuatu merespons.

Qi gelap itu menggeliat, menggeram. Ia tidak suka dengan cahaya yang dibawa oleh Qi Xuan Qingzi. Keduanya bertarungโ€”terang melawan gelap, murni melawan kotor. Tianji merasakan sakit yang luar biasa, seolah seluruh urat sarafnya direntangkan hingga batas maksimal.

"Bertahanlah," bisik Xuan Qingzi. "Jangan melawan. Biarkan Qi-ku bekerja."

Tianji menggertakkan gigi, menahan rasa sakit yang membakar. Ia bisa merasakan Qi gelap itu dipukul mundur, dipaksa masuk ke sudut-sudut terdalam meridiannya. Seperti binatang buas yang dipaksa masuk ke kandang.

Proses itu berlangsung selama satu jam penuh. Keringat membasahi seluruh tubuh Tianji. Uap putih mengepul dari kepalanya. Tapi akhirnya, Xuan Qingzi melepaskan tangannya dan menghela napas panjang.

"Selesai."

Tianji membuka matanya. Ia merasa… lebih ringan. Beban yang selama tiga hari menekan dadanya sepertinya telah berkurang setengahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, udaranya tidak terasa beracun.

"Aku… baik-baik saja," gumamnya, setengah tidak percaya.

"Untuk saat ini," kata Xuan Qingzi. Tapi ada peringatan di balik kata-katanya. "Qi gelap itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertidur. Jika kau terlalu sering menggunakan Meridian Penelan, ia akan bangun. Dan lain kali, ia akan lebih kuat."

"Aku mengerti, Guru."

"Kau pikir kau mengerti. Tapi ketika kau dihadapkan pada situasi di mana satu-satunya jalan adalah menggunakan ilmu itu, kau akan menggunakannya. Dan setiap kali kau menggunakannya, kau memperpendek umurmu."

Yue'er, yang mendengar percakapan itu, berjalan menghampiri. "Guru Xuan Qingzi, apakah tidak ada cara lain? Mungkin ada ramuan atau kitab kuno yang bisa menyembuhkannya?"

Xuan Qingzi menatap Yue'er. "Ada satu orang yang mungkin tahu lebih banyak tentang Meridian Penelan daripada siapa pun di dunia ini."

"Siapa?" Tianji dan Yue'er bertanya bersamaan.

"Lady Hong," kata Xuan Qingzi. "Atau nama lengkapnya, Hong Yuyan. Konon, ia adalah keturunan dari pencipta ilmu Meridian Penelan. Jika ada orang yang bisa mengajarkan Tianji cara mengendalikan ilmu ini tanpa kehilangan kewarasan, dialah orangnya."

"Di mana kami bisa menemukannya?" tanya Tianji.

Xuan Qingzi mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang sudah menguning dari dalam jubahnya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah peta yang digambar dengan tinta hitam. Garis-garisnya sudah mulai pudar, tapi masih bisa dibaca.

"Kota Lintas Angin," kata Xuan Qingzi, menunjuk sebuah titik di peta. "Kota niaga terbesar di wilayah selatan. Jaraknya sekitar dua minggu perjalanan dari sini jika kalian berjalan kaki. Lady Hong memiliki sebuah toko obat di sanaโ€”Toko Obat Naga Biru."

"Kota besar," Yue'er berkata, matanya berbinar. "Aku belum pernah melihat kota besar."

"Jangan terlalu bersemangat," Xuan Qingzi memperingatkan. "Kota Lintas Angin adalah tempat yang berbahaya. Banyak orang kuat di sanaโ€”pejuang bayaran, pembunuh, mata-mata. Dan Mawar Hitam memiliki jaringan yang luas di kota-kota besar. Kalian harus waspada."

"Kami akan berhati-hati," janji Tianji.

"Dan satu hal lagi." Xuan Qingzi menatap Tianji dengan serius. "Di Kota Lintas Angin, ada kompetisi silat tahunan yang disebut Pesta Seratus Senjata. Banyak pendekar dari seluruh penjuru datang untuk bertanding. Jika kau ingin menguji kemampuankuโ€”atau mencari informasi tentang Lady Hongโ€”itu adalah tempat yang baik untuk memulai."

"Aku akan mengingatnya."

Xuan Qingzi mengangguk, lalu menyerahkan peta itu ke tangan Tianji. "Jaga baik-baik peta ini. Dan jaga gadis ini."

"Aku akan menjaganya, Guru."

"Bagus." Xuan Qingzi berbalik. "Aku sudah cukup lama di desa ini. Ada urusan yang harus kuselesaikan di utara. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi dalam waktu dekat."

"Guru…" Tianji berlutut, memberi hormat. "Terima kasih atas semua bimbingan Guru."

"Sudahlah, bangun. Aku tidak suka upacara-upacaran." Tapi di balik kekasarannya, ada kehangatan di mata Xuan Qingzi. "Jika kau masih hidup setelah setahun, cari aku di Gunung Es Biru. Mungkin aku bisa mengajarimu lebih banyak."

"Terima kasih, Guru."

Xuan Qingzi tidak menjawab. Ia melesat pergiโ€”tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang mustahil untuk usianya, menghilang di antara pepohonan dalam sekejap.

Tianji menatap kepergian gurunya dengan perasaan campur aduk. Ia baru mengenal Xuan Qingzi selama beberapa minggu, tapi pria tua itu telah memberinya lebih banyak daripada siapa pun dalam hidupnya.

"Ia pergi," kata Yue'er pelan.

"Ia akan kembali," Tianji menjawab, meskipun ia tidak yakin.

Liu Dahan, yang sejak tadi diam di beranda, akhirnya berjalan mendekat. Wajahnya tenang, tapi di matanya ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan.

"Sudah waktunya," katanya.

Yue'er menatap ayahnya. Tiba-tiba, semua keberanian yang ia kumpulkan lenyap. Ia berlari ke arah ayahnya dan memeluknya erat.

"Ayah… aku akan merindukanmu."

"Ayah juga." Liu Dahan memeluk putrinya, tangannya yang besar dan kasar mengelus punggung Yue'er dengan lembut. "Kau sudah dewasa, Yue'er. Ayah tidak bisa lagi melindungimu. Tapi ingatโ€”apapun yang terjadi, Ayah akan selalu ada untukmu. Jika kau dalam bahaya, kirimkan sinyal. Ayah akan datang."

"Aku janji, Ayah."

"Dan kau, Xiao Tianji." Liu Dahan menatap Tianji dengan tatapan yang membuat Tianji merasa seperti sedang diadili. "Aku percayakan anakku padamu. Jika sesuatu terjadi padanya…"

"Aku akan mati sebelum membiarkannya terluka," Tianji menyelesaikan kalimat Liu Dahan. "Itu janjiku."

Liu Dahan mengangguk. "Bagus. Aku percaya padamu."

Yue'er melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. "Ayah, jangan khawatir. Aku akan menulis surat setiap minggu. Dan aku akan pulang saat… saat semuanya selesai."

"Kapan pun kau pulang, rumah ini akan selalu menunggumu."

Yue'er tersenyum, meskipun air matanya terus mengalir. "Aku sayang Ayah."

"Ayah juga sayang padamu."

Mereka berpelukan sekali lagi, lalu Yue'er berbalik dan berjalan ke arah Tianji. Ia mengambil tasnya dan menatap jalan setapak yang membentang di depan merekaโ€”jalan yang akan membawa mereka keluar dari Desa Muara.

"Kau siap?" tanya Tianji.

"Aku tidak akan pernah siap," jawab Yue'er. "Tapi aku akan tetap berjalan."

Mereka mulai berjalan.

Desa Muara perlahan ditinggalkan di belakang mereka. Rumah-rumah kayu, pantai berpasir putih, ombak yang bergulungโ€”semua itu menjadi semakin kecil di kejauhan. Yue'er menoleh sesekali, melihat desanya untuk terakhir kalinya.

"Aku akan kembali," bisiknya pada dirinya sendiri. "Suatu hari nanti."

Mereka berjalan melewati sawah, kebun kelapa, dan hutan mangrove. Jalannya tidak terlalu sulitโ€”Xuan Qingzi telah memberi mereka petunjuk jalan yang jelas. Yang sulit adalah meninggalkan segalanya yang pernah mereka kenal.

"Kau baik-baik saja?" tanya Tianji setelah mereka berjalan cukup jauh.

"Aku baik-baik saja," jawab Yue'er. Tapi suaranya bergetar. "Hanya… aneh. Aku tidak pernah meninggalkan desa sebelumnya."

"Akan terbiasa," kata Tianji. "Dunia di luar sana sangat luas. Aku sendiri belum pernah menjelajahi setengahnya."

"Ceritakan tentang tempat-tempat yang pernah kau kunjungi."

Dan Tianji bercerita. Ia bercerita tentang ibu kota yang ramai, tentang pegunungan utara yang tertutup salju, tentang pelabuhan selatan yang penuh dengan kapal asing. Ia bercerita tentang orang-orang yang ia temuiโ€”baik dan jahatโ€”dan tentang pelajaran yang ia dapatkan dari mereka.

Yue'er mendengarkan dengan antusias. Kadang ia tertawa, kadang ia bertanya, kadang ia diam merenung. Percakapan mereka mengisi waktu, membuat perjalanan terasa lebih ringan.

Tapi saat matahari mulai condong ke barat, Tianji tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" tanya Yue'er.

Tianji tidak menjawab. Ia menoleh ke belakang, menatap jalan yang telah mereka lalui. Matanya menyipit, mencoba menangkap sesuatu di kejauhan.

"Aku merasa…" ia berhenti, mencari kata yang tepat. "…diawasi."

"Kau serius?" Yue'er ikut menoleh, tapi tidak melihat apa pun. Hanya jalan setapak yang sepi dan pepohonan yang bergoyang ditiup angin.

"Aku tidak bercanda," kata Tianji, suaranya rendah. "Sejak kita meninggalkan desa, aku merasakan tatapan. Seseorang mengikuti kita."

Yue'er meraih busurnya. "Mawar Hitam?"

"Mungkin. Atau mungkin yang lain."

Tianji memejamkan matanya, mencoba merasakan kehadiran di sekeliling mereka. Qi-nyaโ€”yang baru saja ditenangkan oleh Xuan Qingziโ€”berdenyut pelan. Ia tidak merasakan Qi yang bermusuhan, tapi ada sesuatu. Sesuatu yang samar. Seperti bayangan yang tidak bisa dipegang.

"Ayo cepat," kata Tianji akhirnya. "Kita harus mencari tempat berlindung sebelum malam tiba."

Mereka mempercepat langkah. Hutan di sekitar mereka semakin lebat, dan matahari semakin tenggelam. Kabut tipis mulai muncul, memberikan suasana mistis yang agak mencekam.

"Tianji," bisik Yue'er, "aku mulai ketakutan."

"Jangan takut. Aku di sini."

"Kau tidak bisa melindungiku dari sesuatu yang tidak kau lihat."

Tianji tidak menjawab. Karena ia tahu Yue'er benar.

Di balik pepohonan, di kejauhan, sesosok bayangan hitam bergerak tanpa suara. Ia tidak mendekat, tidak menjauhโ€”hanya mengikuti, seperti hantu yang tidak pernah meninggalkan mangsanya.

Dan di kegelapan, sesuatu berbisik:

"Akhirnya… kau keluar juga, Xiao Tianji."

Bersambung…

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 8: KEPUTUSAN BAB 10: PERKENALAN BERBAHAYA →