๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 8: KEPUTUSAN

← BAB 7: BEBAN SEBUAH KEKUATAN BAB 9: PERSIAPAN DAN PERPISAHAโ€ฆ →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tiga hari. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun bagi penghuni rumah panggung kayu di Desa Muara itu.

Hari pertama setelah pertarungan malam itu dihabiskan dengan membersihkan kekacauan. Mayat-mayat dibakar di pantaiโ€”Xuan Qingzi bersikeras agar tidak ada yang tahu bahwa Mawar Hitam telah datang dan kalah. "Jika Lord Hitam tahu Rahang Maut tewas, ia akan mengirim algojo yang lebih kuat. Lebih baik mereka mengira Rahang Maut masih hidup dan sedang dalam misi." Tianji, yang masih terbaring lemah, tidak bisa menolak logika gurunya.

Hari kedua, Tianji mulai bisa duduk. Qi gelap di dalam tubuhnya sudah agak mereda, meskipun masih sering muncul secara tiba-tibaโ€”biasanya saat ia marah, takut, atau merasa terancam. Yue'er hampir tidak pernah meninggalkan sisinya, membawakan makanan, obat, danโ€”yang paling pentingโ€”cerita.

"Kau tahu, Tianji, aku tidak percaya kau pernah tinggal di ibu kota," kata Yue'er pada suatu sore. Ia duduk di samping Tianji yang tengah berlatih pernapasan, kakinya diayun-ayunkan seperti anak kecil. "Kota besar seperti itu pasti sangat ramai, bukan?"

"Awalnya menyenangkan," jawab Tianji, matanya masih terpejam. "Tapi setelah beberapa waktu, kau akan bosan dengan kebisingannya."

"Bising? Di sini juga bising. Suara jangkrik di malam hari, suara ombak di siang hari…" Yue'er tertawa. "Tapi aku suka. Setiap suara seperti bernyanyi untukku."

"Itu karena kau belum pernah ke kota. Di ibu kota, suara yang kau dengar adalah suara orang berteriak, kuda meringkik, pedagang bertengkar, dan… suara pisau yang menggorok leher."

Yue'er terdiam. "Kau… pernah melihat itu?"

Tianji membuka matanya. "Aku tidak hanya melihat. Aku merasakannya. Aku lahir di tengah itu semua."

"Tentang orang tuamu… kau tidak pernah bercerita."

"Karena aku tidak tahu banyak tentang mereka. Aku yatim piatu sejak bayi. Seorang pengemis tua menemukanku di dekat pasar. Ia merawatku sampai aku berusia lima tahun, lalu ia mati karena wabah." Suara Tianji datar, seperti menceritakan kisah orang lain. "Setelah itu, hidupku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang aku mencuri. Kadang aku mengemis. Kadang aku bekerja sebagai kuli di dermaga."

"Kedengarannya berat," kata Yue'er pelan. "Tapi kau tidak pernah kehilangan senyummu."

"Aku bersembunyi di balik senyum," Tianji mengakui. "Sama seperti orang lain bersembunyi di balik topeng. Hanya saja, senyum lebih murah."

Yue'er menatapnya lama. "Kau orang yang aneh, Xiao Tianji."

"Terima kasih. Aku anggap itu pujian."

"Itu… ya, itu pujian."

Mereka tertawa bersama, dan untuk sesaat, beban di dada Tianji terasa lebih ringan.

Hari ketiga, Liu Dahan sudah cukup kuat untuk duduk dan berbicara.

Matahari pagi menyinari ruang tamu rumah panggung itu. Liu Dahan duduk di kursi kayu kesayangannya, tubuhnya masih dibalut perban. Di depannya, Tianji duduk bersila di lantai, sementara Yue'er sibuk menyiapkan teh di dapur.

"Kau sudah memutuskan?" tanya Liu Dahan tanpa basa-basi.

Tianji mengangguk. "Aku harus pergi, Paman. Aku sudah membawa terlalu banyak bahaya ke desa ini."

"Bukan itu yang aku tanyakan." Liu Dahan menatapnya tajam. "Aku bertanya, apakah kau sudah memutuskan untuk membawa Yue'er?"

Tianji terdiam. "Aku… tidak ingin membawanya. Tapi ia bersikeras."

"Yue'er memang bersikeras. Tapi kau juga harus memutuskan. Jika kau tidak mau, aku bisa memerintahkannya untuk tinggal."

"Percayakah Paman, jika aku bisa memilih, aku lebih suka ia tinggal di sini, aman?" Tianji menghela napas. "Tapi aku juga tidak bisa memaksanya. Dan sejujurnya… aku agak takut melakukan perjalanan sendirian dengan Qi gelap yang mengamuk di dalam tubuhku."

"Jadi kaubutuhkan dia?"

"Aku butuh seseorang yang bisa membuatku tetap waras."

Liu Dahan tersenyum. Itu adalah senyum yang langkaโ€”seorang ayah yang merelakan anaknya pergi. "Kau tahu, Tianji, aku sudah melihat banyak orang dalam hidupku. Pengawal Pangeran Ning, prajurit kekaisaran, pedagang kaya, pembunuh bayaran… tapi aku jarang melihat orang sepertimu."

"Orang seperti apa, Paman?"

"Orang yang tahu bahwa ia membawa bahaya, tapi tetap memilih untuk melindungi, bukan melarikan diri. Banyak orang yang memiliki kekuatan besar memilih untuk menjadi pengecut. Tapi kau… kau memilih untuk setidaknya mencoba."

"Aku tidak tahu apakah itu pujian atau kutukan."

"Keduanya," kata Liu Dahan. "Dalam dunia persilatan, kekuatan tanpa kebijaksanaan adalah bencana. Tapi kebijaksanaan tanpa kekuatan juga sia-sia. Kau memiliki potensi untuk keduanya. Jangan sia-siakan."

Yue'er keluar dari dapur dengan nampan berisi tiga cangkir teh. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di samping Tianji. "Kalian sudah selesai bicara serius? Aku tidak suka suasana tegang seperti ini."

"Yue'er," panggil Liu Dahan. "Duduklah."

Wajah Yue'er berubah serius. Ia duduk tegak, merasakan bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu yang penting.

"Kau bilang kau ingin ikut Tianji," Liu Dahan memulai. "Dan setelah tiga hari merenung, aku memutuskan untuk mengizinkannya."

"Ayah…" Yue'er tersenyum, tapi senyumnya memudar saat Liu Dahan mengangkat tangan.

"Tapi dengarkan dulu." Liu Dahan merogoh jubahnya, mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus kain sutra merah. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan sebuah jimat giok berwarna hijau zamrud. Di atasnya terukir naga berekor limaโ€”simbol yang hanya dikenali oleh segelintir orang.

"Ini," kata Liu Dahan, "adalah jimat Pangeran Ning."

"Pangeran Ning?" Tianji mengerutkan kening. "Pangeran yang memimpin pemberontakan sepuluh tahun lalu?"

"Tepat." Liu Dahan menghela napas. "Aku tahu kau sudah mendengar desas-desus, Tianji. Bahwa aku adalah mantan pengawal Pangeran Ning. Tapi apa yang tidak kau ketahui adalah seberapa dekat aku dengan pangeran itu."

Yue'er menatap ayahnya dengan mata terbelalak. "Ayah, kau tidak pernah berceritaโ€”"

"Karena beberapa cerita terlalu menyakitkan untuk diceritakan," potong Liu Dahan. "Tapi sekarang, demi masa depan kalian, aku harus bercerita."

Ia meminum tehnya, lalu memulai kisahnya.

"Dua puluh tahun lalu, aku adalah seorang pengawal pribadi Pangeran Ningโ€”saudara Kaisar. Pangeran Ning adalah orang yang bijaksana, adil, dan sangat dicintai rakyat. Terlalu dicintai." Liu Dahan tersenyum pahit. "Di istana, popularitas bisa menjadi kutukan. Dan popularitas Pangeran Ning membuat Kaisarโ€”kakaknya sendiriโ€”cemburu."

"Apa yang terjadi?" tanya Yue'er.

"Fitnah. Konspirasi. Kaisar menuduh Pangeran Ning merencanakan pemberontakan. Tidak peduli bahwa tuduhan itu palsu, tidak peduli bahwa bukti-bukti direkayasa. Pangeran Ning ditangkap, diadili, dan… dihukum mati."

Tianji mengepalkan tangannya. "Kaisar membunuh saudaranya sendiri?"

"Demi tahta, segala cara halal." Liu Dahan melanjutkan, "Sebelum kematiannya, Pangeran Ning memberiku jimat ini. Katanya, jika suatu hari nanti aku atau keturunanku dalam bahaya, bawalah jimat ini ke pendekar-pendekar yang masih setia padanya. Jimat ini adalah tanda kepercayaan terakhirnya."

"Dan kau menyimpannya selama dua puluh tahun?" tanya Yue'er.

"Aku menyimpannya dan berharap tidak pernah membutuhkannya." Liu Dahan meraih tangan putrinya. "Tapi sekarang, kalian akan pergi ke dunia luar. Dunia yang jauh lebih kejam daripada desa kecil ini. Dan jika kalian dalam bahaya, jimat ini bisa menjadi penyelamat. Atau… menjadi kutukan."

"Kutukan?" Tianji menyipitkan matanya.

"Karena jika orang yang salah melihat jimat ini, mereka akan mengira kalian adalah sisa-sisa pengikut Pangeran Ning. Dan Pangeran Ning masih dianggap pengkhianat oleh Kekaisaran. Jadi… gunakan dengan sangat hati-hati."

Liu Dahan menyerahkan jimat itu ke tangan Yue'er. Gadis itu menerimanya dengan tangan gemetar, seolah sedang memegang sesuatu yang suci sekaligus berbahaya.

"Ayah… aku tidak tahu harus berkata apa."

"Kau tidak perlu berkata apa-apa." Liu Dahan tersenyum. "Cukup jaga dirimu baik-baik. Dan jaga Tianji."

"Aku akan menjaganya, Ayah. Aku janji."

"Bagus." Liu Dahan menatap Tianji. "Dan kau, Xiao Tianji. Aku percayakan anakku padamu. Jika kau berani menyakitinya… meskipun kau memiliki Meridian Penelan, aku tetap akan mengejarmu sampai ke ujung dunia."

Tianji tersenyum. "Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk mengejarku, Paman. Karena aku akan menjaganya lebih dari nyawaku sendiri."

"Kata-kata yang bagus. Tapi ingat, perbuatan lebih penting dari kata-kata."

"Baik, Ayah, cukup seriusnya!" seru Yue'er tiba-tiba, mencairkan suasana. "Kita seperti sedang merencanakan perang, bukan perjalanan biasa! Tianji, kau harus janji satu hal padaku."

"Apa?"

"Setiap kali aku merasa bosan atau kesepian, kau harus menemaniku mengobrol. Dan jangan pernah diam seribu bahasa sepertimu biasanya. Aku benci orang yang pendiam!"

"Aku akan mencoba," jawab Tianji, tersenyum masam.

"Bukan mencoba. KAU HARUS!"

"Aku harus."

"Bagus." Yue'er mengangguk puas. "Ayah, kapan mereka akan berangkat?"

"Besok pagi. Pendekar Xuan Qingzi akan membersihkan sisa Qi gelap di tubuh Tianji hari ini, dan besok kalian bisa pergi."

Yue'er menunduk. Untuk sesaat, kegembiraan di wajahnya lenyap, digantikan oleh kesedihan yang ia coba sembunyikan. "Besok… ya… besok."

"Yue'er," kata Liu Dahan, meraih tangan putrinya. "Ayah tahu ini berat. Tapi dunia di luar sana sangat luas. Jangan biarkan ketakutan menghentikanmu. Dan ingatโ€”"

"Dunia ini kejam, jangan lupa dari mana kau berasal," Yue'er menyelesaikan kalimat ayahnya, air mata menggenang di matanya. "Kau selalu bilang begitu. Sejak aku kecil."

"Karena itu adalah pelajaran paling penting yang bisa aku berikan padamu." Liu Dahan berdiri, meskipun dengan susah payah. Ia memeluk putrinya. "Ayah bangga padamu, Yue'er. Apapun yang terjadi, ayah akan selalu bangga."

"Ayah…" Yue'er memeluk ayahnya erat-erat. Air matanya jatuh, membasahi bahu Liu Dahan. Meskipun ia berusaha terlihat kuat di depan Tianji, di depan ayahnya, ia hanyalah seorang anak perempuan yang akan meninggalkan rumah untuk pertama kalinya.

"Kau akan baik-baik saja," bisik Liu Dahan. "Ayah percaya."

Tianji menunduk, memberikan mereka privasi. Ia merasa seperti orang asing yang menonton momen sakral antara ayah dan anak. Namun di dalam hatinya, ada kehangatan yang anehโ€”seperti ia juga merasakan sedikit kasih sayang yang diberikan Liu Dahan pada Yue'er.

Ini adalah keluarga.

Sesuatu yang tidak pernah ia miliki.

Setelah beberapa saat, Yue'er melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya. "Aku akan memasak makan malam yang enak malam ini. Perpisahan yang layak."

"Aku akan membantumu," kata Tianji, berdiri.

"Kau? Membantu? Kau bahkan tidak tahu cara memotong bawang!" Yue'er tertawa.

"Aku bisa belajar."

"Bagus. Tapi kalau kau merusak dapurnya, kau harus membersihkannya."

"Setuju."

Mereka berjalan ke dapur bersama, meninggalkan Liu Dahan yang duduk sendirian. Pria tua itu menatap kepergian mereka, dan di sudut matanya, setetes air mata jatuh tanpa ia sadari.

"Istriku," bisiknya pada dirinya sendiri, "anak kita sudah tumbuh besar. Ia akan pergi menjelajah dunia, seperti yang kau inginkan. Aku harap kau melihatnya dari surga."

Angin sepoi-sepoi bertiup melalui celah jendela, seolah menjawab doanya.

Malam harinya, Yue'er memasak hidangan yang luar biasa. Bukan hanya buburโ€”ada ikan bakar, sayur tumis, sup hangat, dan nasi putih. Tianji mencoba membantu dan hampir membakar dapur dua kali, tapi akhirnya mereka berhasil.

Mereka makan bersama di meja bundarโ€”Tianji, Yue'er, Liu Dahan, dan Xuan Qingzi yang bergabung di tengah acara. Suasana hangat, penuh tawa dan cerita. Untuk sesaat, Tianji merasa bahwa dunia ini tidak seburuk yang ia kira.

Tapi ia tahu, kebahagiaan ini hanya sementara.

Besok, ia dan Yue'er akan melangkah ke dunia yang penuh dengan Mawar Hitam, Qi gelap, dan misteri yang belum terpecahkan. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka hadapi.

Tapi satu hal yang pastiโ€”mereka akan menghadapinya bersama.

"Tianji," panggil Yue'er saat mereka berdua duduk di beranda setelah makan malam. Bintang-bintang bersinar terang di langit, dan suara ombak terdengar sayup-sayup.

"Hm?"

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Untuk tidak melarangku ikut." Yue'er tersenyum. "Banyak pria yang akan berkata 'ini terlalu berbahaya' atau 'urusan laki-laki, jangan ikut campur'. Tapi kau tidak begitu."

"Karena aku tahu aku tidak bisa menghentikanmu," Tianji bercanda. "Kau lebih keras kepala dari batu karang."

Yue'er memukul lengannya. "Dasar! Aku serius!"

"Aku juga serius." Tianji menatapnya. "Aku butuh seseorang yang bisa mengingatkanku bahwa aku masih manusia. Dan kau… kau selalu bisa melakukannya."

Yue'er tersipu. "Kau membuatku tersipu-sipu, kau tahu?"

"Aku hanya jujur."

"Jujur yang memalukan."

Mereka tertawa, dan malam itu, di bawah bintang-bintang, dua jiwa muda berjanji untuk saling menjaga.

Di dalam rumah, Xuan Qingzi dan Liu Dahan mengamati dari balik jendela.

"Mereka masih muda," gumam Xuan Qingzi.

"Tapi mereka kuat," tambah Liu Dahan. "Lebih kuat dari yang mereka sadari."

"Mereka akan membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan."

"Kita tidak bisa selalu melindungi mereka."

Xuan Qingzi menghela napas. "Tidak. Tapi kita bisa memberi mereka bekal yang cukup untuk bertahan."

"Kau akan mengajar Tianji?"

"Aku akan mencoba. Tapi Meridian Penelan bukanlah ilmu yang bisa dikuasai dalam semalam. Mungkin tidak dalam setahun. Atau sepuluh tahun."

"Berapa lama waktu yang ia miliki?"

Xuan Qingzi tidak menjawab. Karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Di luar, angin malam berhembus semakin kencang, seolah membawa pesan dari sesuatu yang gelap di kejauhan.

Perjalanan mereka baru akan dimulai.

Bersambung…

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 7: BEBAN SEBUAH KEKUATAN BAB 9: PERSIAPAN DAN PERPISAHAโ€ฆ →