📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 95: REFLEKSI

← BAB 94: KEDATANGAN TAK TERDUGA BAB 96: ARUNA →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Tiga hari telah berlalu sejak Tianji meninggalkan Desa Muara.

Yue'er duduk di beranda rumah, matanya menerawang ke arah laut. Perutnya yang besar membuatnya sulit bergerak, tapi ia tetap bersikeras duduk di luar setiap sore, menunggu suaminya pulang.

"Yue'er, kau harus istirahat di dalam," kata Mak Surti, tetangga yang baik hati, yang sering membantu Yue'er sejak Tianji pergi.

"Aku baik-baik saja, Mak. Aku hanya menunggu."

"Tianji pasti pulang. Dia suami yang baik. Dia tidak akan meninggalkanmu."

"Aku tahu. Tapi aku tetap khawatir."

Di dalam laut, jauh dari Desa Muara, sebuah pertempuran sengit sedang terjadi. Naga laut itu — makhluk raksasa dengan panjang lebih dari sepuluh depa — mengamuk di perairan Ujungwatu. Sisiknya hitam pekat seperti batu karang yang terbakar, matanya merah menyala seperti bara api. Setiap kali ekornya menyambar, ombak setinggi pohon kelapa tercipta.

Tianji berdiri di atas perahu kecil, menghadapi makhluk itu sendirian. Prabu dan nelayan-nelayan lain sudah ia suruh menjauh — ini adalah pertarungan yang tidak bisa mereka ikuti.

"Naga tua," Tianji berseru, suaranya menggetarkan udara. "Aku tidak ingin membunuhmu. Tapi kau telah merenggut nyawa orang-orang tak bersalah. Jika kau masih memiliki sedikit pun akal sehat, pergilah dari perairan ini!"

Naga laut itu mendesis, memperlihatkan taringnya yang sebesar lengan manusia. Ia tidak mengerti kata-kata Tianji — atau mungkin ia mengerti, tapi tidak peduli. Ia menerjang.

Tianji melompat. Tubuhnya melayang di udara, lalu mendarat di atas kepala naga itu. Ia mengerahkan kekuatan Penyerap Lautan — bukan untuk menyerap, melainkan untuk mengendalikan. Ia ingin mengusir naga itu, bukan membunuhnya.

"Pergi!" teriaknya, telapak tangannya mengeluarkan gelombang energi yang menghantam kepala naga.

Naga itu menggeliat kesakitan. Ia menyelam ke dalam air, mencoba melepaskan Tianji dari punggungnya. Tapi Tianji bertahan, tangannya mencengkeram erat sisik naga itu.

"Kau kau kalah! Menyerahlah!"

Naga laut itu mengamuk. Ia menyemburkan racun hitam dari mulutnya, menggelapkan air di sekeliling mereka. Tianji menahan napas, matanya perih terkena racun. Tapi ia tidak melepaskan cengkeramannya.

"Penyerap Lautan, dengarkan aku," Tianji berkata, suaranya berubah menjadi bisikan yang dalam. Ia menggunakan kekuatan Penyerap Lautan untuk merasakan hati naga itu. Di dalam kegelapan dan kemarahan, ia merasakan sesuatu yang lain — rasa sakit, ketakutan, kebingungan.

Makhluk ini tidak jahat. Makhluk ini hanya tersesat. Mungkin terpisah dari induknya. Mungkin terluka.

"Kau takut," bisik Tianji. "Kau takut sendirian. Aku mengerti. Aku juga pernah takut. Tapi membunuh bukanlah jawabannya."

Naga itu berhenti mengamuk. Tubuhnya bergetar. Tianji bisa merasakan air mata makhluk itu — air mata asin yang bercampur dengan air laut.

"Pergilah," kata Tianji lembut. "Kembalilah ke kedalaman. Ke tempat asalmu. Jangan ganggu manusia lagi."

Perlahan, naga laut itu berenang menjauh. Tubuh raksasanya menyelam ke dalam air, semakin dalam, semakin dalam, hingga tidak terlihat lagi. Gelombang yang ditimbulkan ekornya terasa seperti riak kecil saja.

Tianji tercebur ke air. Ia berenang ke permukaan, terengah-engah. Prabu dan nelayan lain segera mendayung ke arahnya, menariknya ke atas perahu.

"Tuan — maksudku, Tianji — kau berhasil!" seru Prabu, matanya berbinar. "Naga itu pergi!"

"Aku tidak membunuhnya," kata Tianji, batuk-batuk. "Aku hanya… mengajaknya bicara."

Prabu bingung. "Bicara? Dengan naga?"

"Semua makhluk punya hati, Prabu. Bahkan naga laut sekalipun."

Mereka kembali ke Ujungwatu dengan selamat. Penduduk desa menyambut Tianji seperti pahlawan. Mereka menyediakan makanan, pakaian kering, dan tempat istirahat. Tapi Tianji menolak semua itu.

"Aku harus kembali ke desaku," katanya. "Istriku sedang hamil. Aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama."

Prabu mengerti. Ia menyediakan perahu cepat untuk mengantar Tianji kembali ke Desa Muara.

Perjalanan pulang terasa lebih lama daripada perjalanan pergi. Tianji duduk di haluan perahu, matanya menatap cakrawala. Pikirannya melayang ke Yue'er, ke anaknya yang belum lahir, ke kehidupan sederhana yang telah ia bangun.

Dua hari kemudian, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, perahu Tianji akhirnya mencapai muara Desa Muara.

Yue'er sedang duduk di dermaga. Begitu melihat perahu Tianji, ia berdiri — terlalu cepat — hampir jatuh.

"Yue'er!" Tianji melompat dari perahu bahkan sebelum perahu itu merapat. Ia berlari, air laut membasahi tubuhnya, dan memeluk istrinya.

"Kau kembali," bisik Yue'er, menangis.

"Aku kembali."

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja. Naga itu sudah pergi."

"Syukurlah."

Mereka berpelukan di dermaga, di bawah langit jingga senja. Anak-anak desa berteriak kegirangan melihat Tianji pulang. Pak Tua Karsa tertawa keras.

"Tianji! Tianji! Dasar bocah! Kau benar-benar mengalahkan naga laut!"

"Aku tidak mengalahkannya, Mbah. Aku hanya mengajaknya bicara."

Pak Tua Karsa tertegun. "Bicara?"

"Iya. Ternyata naga itu hanya tersesat. Ia takut. Ia butuh arahan, bukan pertumpahan darah."

Pak Tua Karsa menggeleng-gelengkan kepala. "Dasar kau, Tianji. Selalu punya cara yang tidak terduga."

Malam itu, Desa Muara mengadakan perayaan kecil. Mereka memasak hasil tangkapan terbaik, menyalakan api unggun di pantai, dan bersukaria. Tianji adalah pahlawan mereka. Tapi Tianji hanya tersenyum dan menggeleng — ia tidak merasa seperti pahlawan. Ia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

"Kau harus istirahat," kata Yue'er ketika keramaian mulai bubar. "Kau pasti lelah setelah perjalanan."

"Aku tidak bisa tidur," kata Tianji. "Ada yang ingin kulakukan."

"Apa itu?"

"Aku ingin pergi ke batu karang."

Yue'er mengerti. Batu karang itu — tempat Tianji sering duduk sendirian, tempat ia mengawasi laut, tempat ia merenungkan hidupnya.

"Aku akan menemanimu?"

"Tidak. Biarkan aku pergi sendiri. Aku akan kembali."

Yue'er mengangguk. Ia mencium kening suaminya. "Pergilah. Aku akan menunggumu di rumah."

Tianji berjalan menyusuri pantai. Kaki telanjangnya merasakan pasir yang hangat, lalu kerikil, lalu batu-batu karang yang tajam. Ia melompat dari satu batu ke batu lain, tubuhnya bergerak dengan gesit dan anggun — gerakan yang lahir dari bertahun-tahun hidup di tepi laut.

Akhirnya, ia tiba. Batu karang itu masih sama seperti dulu — besar, hitam, menjorok ke laut. Tempat yang sama di mana babak pertama kisahnya dimulai.

Tianji duduk di atas batu karang itu. Laut terbentang di hadapannya, tak bertepi, berkilauan di bawah sinar bulan purnama. Ombak berdesir lembut, angin bertiup sepoi-sepoi.

Ia ingat saat pertama kali ia duduk di sini. Waktu itu ia masih kecil, baru kehilangan ayah dan ibunya. Dunia terasa gelap dan menakutkan. Ia duduk di batu ini dan bertanya pada laut: "Apa gunanya hidup? Mengapa aku harus terus berjuang?"

Dan laut tidak menjawab.

Tapi sekarang, setelah melalui begitu banyak hal — setelah menemukan kitab Penyerap Lautan, setelah menjadi pendekar, setelah bertemu Yue'er, setelah menolak penghargaan pangeran, setelah memilih menjadi nelayan — Tianji akhirnya mengerti.

"Laut masih sama," bisiknya. "Ombak masih sama. Angin masih sama. Tapi aku sudah berbeda."

Ia memandangi telapak tangannya. Garis-garis di telapak tangannya tidak berubah, tapi isinya — jiwa di dalam tubuh ini — telah berubah total.

"Dulu aku pikir, menjadi kuat adalah jawabannya," Tianji berbicara pada laut, pada bulan, pada bintang-bintang. "Aku pikir dengan kekuatan Penyerap Lautan, aku bisa mengubah dunia. Aku bisa mengalahkan musuh-musuhku. Aku bisa melindungi semua orang yang kucintai."

"Tapi itu salah."

"Kekuatan sejati bukanlah menyerap energi, bukan menguasai lautan, bukan mengalahkan ribuan musuh. Kekuatan sejati adalah… kebahagiaan."

"Kebahagiaan untuk menerima diriku apa adanya. Kebahagiaan untuk hidup sederhana. Kebahagiaan untuk mencintai dan dicintai. Kebahagiaan untuk menjadi manusia biasa yang melakukan hal-hal luar biasa dengan cara yang sederhana."

Air mata mengalir di pipi Tianji. Ia tidak menahannya. Biarlah mengalir. Tidak ada yang melihatnya di sini, di tengah malam, hanya ia dan laut.

"Ayah, Ibu," bisiknya menatap langit. "Aku sudah menemukan jawabannya. Pertanyaan yang selama ini menghantuiku — apa tujuan hidup? — akhirnya terjawab. Tujuan hidup bukanlah menjadi yang terkuat. Bukan menjadi yang terkaya. Bukan menjadi yang paling terkenal."

"Tujuan hidup adalah menjadi bahagia. Dengan cara kita sendiri."

Tianji membaringkan tubuhnya di atas batu karang. Matanya menatap langit malam yang bertabur bintang. Jutaan bintang berkelip, masing-masing dengan kisahnya sendiri, dan Tianji merasa begitu kecil — namun begitu bermakna.

"Kekuatan Penyerap Lautan," lanjutnya, "adalah anugerah yang bisa menjadi kutukan. Tapi aku memilih untuk menjadikannya berkah. Bukan dengan menggunakannya untuk menaklukkan, tetapi dengan menggunakannya untuk memahami. Memahami laut. Memahami makhluk-makhluk di dalamnya. Memahami diriku sendiri."

Tiba-tiba, Tianji merasakan sesuatu di dalam dirinya. Sebuah kehangatan. Sebuah cahaya. Kekuatan Penyerap Lautan yang selama ini mengalir di nadinya — tiba-tiba terasa berbeda. Lebih ringan. Lebih murni.

Seolah-olah kekuatan itu sendiri mengakui: Tianji telah menemukan jalan yang benar.

"Terima kasih," bisik Tianji pada laut. "Kau telah mengajariku segalanya. Melalui ombak, aku belajar kesabaran. Melalui badai, aku belajar ketahanan. Melalui kedalaman, aku belajar kerendahan hati. Dan melalui ketenanganmu, aku belajar kebahagiaan."

Ia duduk lagi, punggungnya tegak. Angin malam menerpa wajahnya, rambutnya yang panjang berkibar. Di teluk kecil di bawah batu karang, air laut bercahaya — mungkin karena plankton bercahaya, mungkin karena sesuatu yang lain.

"Laut," katanya, "aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan tetap di sini, menjadi nelayan, menjadi guru, menjadi suami, menjadi ayah. Aku akan hidup sederhana, di desa kecil ini, bersama orang-orang yang kucintai. Dan jika suatu hari nanti, laut membutuhkanku lagi, aku akan datang. Bukan sebagai Penyerap Lautan, tapi sebagai Tianji — manusia biasa yang mencintai laut."

Tianji berdiri. Ia memandang ke arah desa. Di kejauhan, ia melihat lampu kecil menyala di gubuknya — Yue'er menunggunya.

"Istriku," tersenyum. "Anakku."

Ia melompat turun dari batu karang. Langkahnya ringan, hatinya ringan. Beban yang selama ini ia pikul — beban masa lalu, beban kekuatan, beban tanggung jawab — semuanya telah lepas. Ia merasa seperti terbang.

Ketika ia tiba di depan gubuknya, Yue'er sedang duduk di beranda, memegang perutnya, tersenyum.

"Kau lama," katanya.

"Aku berbicara dengan laut," Tianji tersenyum. "Kami berdamai."

"Apa maksudmu?"

"Aku sudah menerima diriku sendiri, Yue'er. Aku sudah menerima masa laluku. Aku sudah menerima kekuatanku. Dan aku sudah memilih masa depanku."

Yue'er tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kau terlihat berbeda."

"Aku berbeda." Tianji duduk di samping istrinya. "Aku sudah menemukan jawabannya."

"Apa jawabannya?"

Tianji meraih tangan Yue'er dan menempelkannya di dadanya. "Kekuatan sejati bukanlah Penyerap Lautan. Bukan kemampuan untuk mengendalikan ombak atau mengalahkan naga. Kekuatan sejati adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang datang dari dalam. Kebahagiaan yang tidak tergantung pada apa yang kita miliki, tapi pada siapa kita."

"Dan siapa kau, Tianji?"

"Aku adalah suamimu. Ayah dari anakmu. Nelayan. Guru. Manusia biasa yang bersyukur atas hidup yang telah diberikan padanya."

Yue'er tersenyum. Ia memeluk suaminya. "Itulah Tianji yang kucintai."

Di dalam rumah, lampu minyak kecil terus menyala, menciptakan bayangan hangat di dinding bambu. Di luar, laut terus berdesir dengan damai, ombak terus bergulung dengan lembut, seolah dunia ikut merayakan kedamaian yang telah ditemukan Tianji.

Malam itu, Tianji tidur dengan tenang untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Ia bermimpi tentang laut — laut yang tenang, laut yang jernih, laut yang penuh dengan ikan-ikan berwarna-warni. Di dalam mimpinya, ayah dan ibunya berdiri di pantai, tersenyum padanya, lalu melambai dan berjalan ke arah matahari terbit.

Tianji terbangun dengan senyuman di wajahnya. Fajar baru menyingsing. Ia mendengar suara ayam jantan berkokok dan burung-burung berkicau. Di sampingnya, Yue'er masih tertidur, nafasnya teratur, wajahnya damai.

"Selamat pagi, dunia," bisik Tianji.

Ia bangkit, meregangkan tubuh. Perutnya keroncongan — lapar setelah semalam tidak makan. Ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Tapi ketika ia sampai di dapur, ia mendengar suara dari kamar.

"Tianji!" suara Yue'er, setengah panik, setengah gembira.

Tianji berbalik dan berlari. "Ada apa? Yue'er, ada apa?"

"Aku… aku pikir air ketubanku pecah."

Wajah Tianji berubah. "Apa? Sekarang?"

"Iya. Sekarang."

"Tapi… tapi belum waktunya. Bukankah masih sebulan lagi?"

"Bayi tidak pernah datang tepat waktu, Tianji. Cepat panggil Mak Surti! Panggil bidan!"

Tianji berlari keluar rumah seperti anak panah. Ia berlari ke rumah Mak Surti, lalu ke rumah bidan desa, lalu ke rumah-rumah tetangga untuk meminta bantuan. Dalam waktu singkat, seluruh desa tahu: istri Tianji akan melahirkan.

Yue'er merintih di tempat tidur, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Mak Surti dan bidan sibuk di sekelilingnya. Tianji duduk di luar, tidak bisa berbuat apa-apa, hatinya berdebar-debar seperti akan meledak.

"Ya Allah," bisiknya, tangannya gemetar. "Lindungilah istriku. Lindungilah anakku."

Berjam-jam berlalu. Tianji mondar-mandir di luar kamar, tidak bisa diam. Ia mendengar erangan Yue'er, teriakan kesakitan, lalu suara bidan yang memberi semangat.

"Dorong! Dorong lagi!"

Dan akhirnya — setelah siang berganti sore, setelah langit berubah dari biru menjadi jingga — sebuah tangisan terdengar. Tangisan bayi. Keras. Nyaring. Hidup.

Pintu kamar terbuka. Mak Surti keluar dengan wajah berseri-seri.

"Selamat, Tianji! Anakmu lahir. Laki-laki. Sehat dan sempurna."

Tianji tidak bisa berkata-kata. Lututnya lemas, hampir jatuh. Ia merangkul Mak Surti, menangis.

"Terima kasih, Mak. Terima kasih."

"Jangan berterima kasih padaku. Masuklah. Lihat anak dan istrimu."

Tianji melangkah masuk ke kamar. Udara di dalam masih hangat, berbau apek, namun baginya itu adalah aroma terindah di dunia. Yue'er terbaring di tempat tidur, wajahnya pucat namun tersenyum. Di dadanya, terbungkus kain putih, terbaring seorang bayi mungil — merah, meringis, namun begitu sempurna.

"Tianji," bisik Yue'er. "Lihat. Ini anak kita."

Tianji berjongkok di samping tempat tidur. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh pipi bayi itu dengan lembut. Bayi itu membuka matanya — sepasang mata hitam yang jernih, yang menatap Tianji dengan rasa ingin tahu.

"Halo," bisik Tianji, suaranya serak. "Aku ayahmu."

Bayi itu menggerakkan tangannya yang mungil, meraih jari Tianji. Tianji merasakan sambaran listrik di seluruh tubuhnya — bukan listrik fisik, melainkan sambaran cinta yang begitu kuat, begitu dalam, begitu murni.

"Apa yang akan kau beri nama?" tanya Yue'er.

Tianji memandangi anaknya, lalu memandang ke luar jendela. Laut terlihat di kejauhan, berkilauan di bawah sinar senja. Angin membawa bau garam dan ikan.

"Aruna," kata Tianji akhirnya. "Aruna, yang berarti fajar — awal yang baru."

Yue'er tersenyum. "Aruna. Nama yang indah."

"Anak kita akan tumbuh di sini, Yue'er. Di tepi laut. Di desa ini. Ia akan menjadi nelayan atau guru atau apa pun yang ia inginkan. Yang penting, ia bahagia."

"Seperti ayahnya."

"Iya. Seperti ayahnya."

Tianji mencium kening Yue'er, lalu mencium kening Aruna. Di luar, laut berdesir lembut, seolah memberikan restu pada kehidupan baru yang telah lahir. Ombak terus bergulung, angin terus bertiup, dan Sang Penyerap Lautan — kini seorang ayah — tersenyum.

Kekuatan sejati adalah kebahagiaan. Dan Tianji telah menemukannya.

TAMAT BATCH 19

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 94: KEDATANGAN TAK TERDUGA BAB 96: ARUNA →