📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 94: KEDATANGAN TAK TERDUGA

← BAB 93: GURU BARU BAB 95: REFLEKSI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Hari itu dimulai seperti biasa. Tianji bangun sebelum subuh, mandi di sumur belakang, lalu membantu Yue'er yang mulai kesulitan bergerak karena perutnya yang semakin besar.

"Sudah delapan bulan," kata Yue'er, mengelus perutnya. "Tidak terasa ya?"

"Iya. Waktu berlalu begitu cepat," jawab Tianji sambil menyiapkan sarapan. "Sebentar lagi kita akan punya anak."

"Kau sudah siap menjadi ayah?"

"Tidak," Tianji menjawab jujur. "Tapi aku akan belajar. Seperti aku belajar menjadi suami."

Yue'er tertawa. "Setidaknya kau jujur."

Mereka sarapan bersama — nasi hangat, ikan goreng, dan sambal yang pedas menggigit. Sesederhana apa pun makanannya, kebersamaan ini selalu menjadi saat yang paling Tianji nantikan.

Setelah sarapan, Tianji bersiap melaut. Laut pagi itu tenang, tanpa angin kencang. Perahu kecilnya meluncur mulus di atas permukaan air yang seperti kaca.

Namun, di tengah laut, Tianji merasakan sesuatu yang aneh. Sebuah getaran. Bukan getaran fisik, melainkan getaran energi — sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh seseorang yang telah menguasai ilmu Penyerap Lautan.

Ia berhenti mendayung. Matanya menyipit, mencoba melihat ke kejauhan. Di cakrawala, ia melihat titik hitam kecil — sebuah perahu, mungkin. Tapi perahu itu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Terlalu cepat untuk perahu layar biasa.

Tianji mengerutkan dahinya. Ia tidak suka dengan firasat ini.

"Kembali saja," gumamnya. "Mungkin hanya perasaan."

Ia memutar perahunya dan kembali ke Desa Muara. Sepanjang perjalanan, ia terus merasakan getaran itu — semakin kuat, semakin dekat.

Ketika ia sampai di dermaga, ia melihat kerumunan orang. Wajah-wajah itu asing — bukan penduduk Desa Muara. Di tengah kerumunan, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, berpakaian rapi, membawa pedang di pinggangnya.

Tianji melompat ke dermaga. Pak Tua Karsa segera menghampirinya.

"Tianji! Ada yang mencarimu!"

"Siapa?"

"Aku tidak tahu. Seorang pemuda. Katanya dari Istana Ning."

Hati Tianji mencelos. Istana Ning lagi. Bukankah semuanya sudah selesai? Bukankah ia sudah menolak semua penghargaan?

"Biarkan aku bicara dengannya," kata Tianji, berjalan menuju kerumunan.

Orang-orang desa membuka jalan ketika melihat Tianji datang. Pemuda itu menoleh — wajahnya tampan, matanya tajam, posturnya tegap. Ia langsung memberi hormat ketika melihat Tianji.

"Kau Tianji? Sang Penyerap Lautan?" tanya pemuda itu.

"Aku Tianji," jawab Tianji hati-hati. "Tapi aku bukan Penyerap Lautan. Aku hanya nelayan."

Pemuda itu tersenyum. "Tuan merendah. Nama Tuan sudah terkenal di seluruh pesisir. Kisah Tuan mengalahkan siluman laut dan menyelamatkan Pangeran Ning sudah menyebar ke mana-mana."

"Kisah yang dibesar-besarkan," kata Tianji dingin. "Ada perlu apa kau mencariku?"

Pemuda itu berlutut, membuat semua orang terkejut. "Namaku Prabu, putra dari Mantan Kepala Desa Ujungwatu. Aku datang untuk memohon bantuan Tuan. Sebuah malapetaka mengancam desaku. Seekor naga laut — makhluk buas yang sangat besar — telah meneror nelayan-nelayan di Ujungwatu. Tiga perahu telah hancur. Dua orang nelayan tewas."

Tianji terdiam. Naga laut. Ia pernah mendengar cerita tentang makhluk itu — ular laut raksasa dengan sisik seperti batu, nafas beracun, kekuatan yang luar biasa. Tapi selama ini ia menganggapnya hanya dongeng.

"Kau datang ke orang yang salah," kata Tianji. "Aku bukan pendekar. Aku tidak bisa membantumu."

"Tapi Tuan —"

"Aku bilang, aku bukan pendekar. Yang ada hanya nelayan."

Wajah Prabu berubah. Dari hormat menjadi putus asa. "Tuan, desaku butuh pertolongan. Aku sudah berjalan tiga hari tiga malam untuk menemui Tuan. Aku sudah mendengar bahwa Tuan adalah satu-satunya yang bisa mengalahkan makhluk itu."

"Kau salah dengar."

"Tuan —"

"Kembalilah ke desamu, Prabu. Carilah bantuan dari istana atau dari pendekar-pendekar lain. Di sini, yang ada hanya nelayan."

Tianji berbalik dan berjalan meninggalkan Prabu. Ia masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Yue'er duduk di dalam, wajahnya pucat. Ia sudah mendengar percakapan itu.

"Tianji…"

"Jangan mulai," potong Tianji. "Aku tidak akan pergi."

"Aku tidak menyuruhmu pergi. Tapi…"

"Tapi apa?"

"Kau terlihat gelisah."

Tianji menghela napas panjang. Ia duduk di lantai, kepalanya tertunduk. "Aku tidak ingin kembali ke kehidupan itu, Yue'er. Kehidupan sebagai pendekar. Kehidupan yang penuh pertumpahan darah."

"Aku mengerti."

"Tapi di sisi lain… jika benar ada naga laut di Ujungwatu, orang-orang itu akan mati. Nelayan-nelayan yang tidak bersalah."

"Aku tahu."

Tianji menatap istrinya. "Kau pikir aku harus pergi?"

"Aku pikir kau harus melakukan apa yang hatimu katakan," jawab Yue'er lembut. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi ingat — kau memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain. Kekuatan itu bukan untuk kau simpan sendiri."

"Tapi kau… kau hamil. Aku harus di sini."

"Aku baik-baik saja. Ibu-ibu di desa akan menjagaku."

Tianji terdiam. Hatinya berperang. Sebagai suami, ia ingin tinggal di samping istrinya. Sebagai manusia, ia merasa bertanggung jawab untuk membantu orang lain.

"Kumohon, Tianji," kata Prabu dari luar pintu. "Desaku akan hancur jika tidak ada yang membantu."

Tianji memejamkan mata. Ia ingat saat ia masih muda — saat ia menjadi yatim piatu, saat ia hampir tenggelam, saat laut menjadi satu-satunya rumahnya. Ia ingat bagaimana rasanya tidak punya siapa-siapa.

Dan ia ingat kata-kata Yue'er: kekuatan sejati adalah melepas. Tapi apakah melepas berarti lari dari tanggung jawab?

"Yue'er," katanya akhirnya.

"Ya?"

"Aku harus pergi."

Yue'er tersenyum, meskipun air mata mengalir di pipinya. "Aku tahu kau akan berkata begitu."

"Aku akan cepat. Aku janji."

"Jangan berjanji. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi di sana."

"Aku akan kembali. Untukmu dan untuk anak kita."

Yue'er memeluk suaminya erat-erat. Tianji membalas pelukannya, merasakan perut istrinya yang besar menekan dadanya. Di dalam perut itu, kehidupan baru terus tumbuh — kehidupan yang akan segera ia sambut.

"Aku akan pergi besok pagi," kata Tianji. "Malam ini, biarkan aku bersamamu."

Prabu di luar tersenyum lega ketika Tianji membuka pintu dan mengatakan bahwa ia akan membantu.

Malam itu, Tianji tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda, memandangi lautan yang gelap di kejauhan. Pikirannya kacau.

"Tianji."

Yue'er keluar, membawa selimut. Ia menyelimuti bahu suaminya.

"Kau harus istirahat," katanya. "Besok kau akan menempuh perjalanan panjang."

"Aku tidak bisa tidur," Tianji mengakui.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Banyak hal. Tentang naga laut itu. Tentang Ujungwatu. Tentang diriku sendiri."

"Dan?"

"Dulu, ketika aku pertama kali mendapatkan kekuatan Penyerap Lautan, aku pikir aku sudah mengerti segalanya. Aku pikir aku sudah siap menghadapi apa pun. Tapi sekarang… aku merasa seperti anak kecil lagi."

"Itu tidak buruk, Tianji. Merasa kecil di hadapan samudera adalah awal dari kebijaksanaan."

"Kau selalu tahu kata-kata yang tepat untuk dikatakan."

"Itu karena aku istrimu. Tugas istri adalah menenangkan suami yang gelisah."

Mereka tertawa bersama. Tianji meraih tangan Yue'er dan menciumnya lembut.

"Terima kasih," bisiknya.

"Untuk apa?"

"Untuk tetap bersamaku. Untuk tidak pernah meninggalkanku."

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Tianji. Sampai kapan pun."

Mereka duduk bersama di beranda, menyaksikan bulan yang mulai meninggi. Laut berkilauan di bawah sinar bulan, seperti permadani perak yang tak bertepi. Malam di Desa Muara begitu tenang, begitu damai.

Namun di dalam hati Tianji, badai mulai berkecamuk. Besok, ia akan meninggalkan kedamaian ini. Besok, ia akan kembali pada kehidupan yang telah ia tinggalkan. Besok, ia akan menjadi Penyerap Lautan lagi.

Sekali lagi, laut memanggilnya.

"Yue'er," katanya pelan.

"Ya?"

"Kalau aku tidak kembali…"

"Jangan bicara seperti itu," potong Yue'er cepat. "Kau akan kembali. Aku percaya padamu."

"Tapi kalau —"

"Tianji, dengarkan aku." Yue'er memegang wajah suaminya dengan kedua tangannya. "Kau adalah suamiku. Ayah dari anakku. Kau adalah lelaki terkuat yang pernah kukenal. Bukan karena kekuatan Penyerap Lautanmu, tapi karena hatimu. Kau akan kembali. Aku tahu itu."

Tianji tersenyum. "Kau membuatku merasa seperti pahlawan."

"Kau memang pahlawanku. Pahlawan kecilku."

Mereka berpelukan lagi, erat, seolah tidak ingin melepaskan. Malam semakin larut. Angin membawa aroma garam dan ikan. Dari kejauhan, terdengar suara burung hantu — pertanda malam semakin dalam.

"Yue'er, apa kau pernah menyesal menikah denganku?" tanya Tianji tiba-tiba.

Pertanyaan itu mengejutkan Yue'er. "Apa? Kenapa kau tanya begitu?"

"Aku hanya… kadang aku berpikir. Kau bisa menikah dengan bangsawan, dengan orang kaya, dengan orang yang bisa memberikanmu kehidupan yang lebih baik. Tapi kau memilihku — nelayan miskin yang tinggal di gubuk bambu."

Yue'er terdiam sejenak. Lalu ia tertawa — tawa yang jernih, tawa yang tulus.

"Tianji, kau bodoh."

"Hah?"

"Kau pikir aku peduli dengan kekayaan? Kau pikir aku peduli dengan gelar bangsawan? Aku sudah hidup di istana, Tianji. Aku sudah merasakan kemewahan. Dan tahukah kau? Semua itu hampa. Semua itu tidak berarti apa-apa tanpa cinta."

"Tapi —"

"Tapi apa? Cinta tidak bisa dibeli dengan emas. Kebahagiaan tidak bisa diukur dari besar kecilnya rumah. Aku memilihmu bukan karena kekuatanmu atau keberanianmu. Aku memilihmu karena — ketika aku bersamamu — aku merasa utuh."

Kata-kata Yue'er menusuk jantung Tianji. Ia tidak bisa berkata-kata.

"Jadi, jangan pernah bertanya apakah aku menyesal," lanjut Yue'er. "Karena jawabannya adalah: tidak. Tidak pernah. Dan tidak akan pernah."

Tianji menarik istrinya ke dalam pelukan. "Maafkan aku."

"Tidak perlu minta maaf. Kau hanya perlu percaya — pada dirimu sendiri, dan pada cintaku."

Mereka terdiam dalam pelukan. Cukup lama hingga suara nafas mereka menyatu dengan desiran ombak.

Keesokan paginya, Tianji bangun sebelum subuh. Ia bersiap dengan pakaian yang paling sederhana — celana nelayan, kemeja longgar, dan sebilah golok kecil di pinggang. Tidak ada baju besi. Tidak ada senjata khusus. Hanya dirinya dan kekuatan Penyerap Lautan yang mengalir di nadinya.

Prabu sudah menunggu di dermaga. Wajahnya berseri-seri melihat Tianji datang.

"Tuan, terima kasih —"

"Panggil aku Tianji," potong Tianji. "Bukan Tuan."

"Baik… Tianji. Kapalku siap di ujung muara. Kita bisa berlayar sekarang."

"Sebentar."

Tianji berbalik. Yue'er berdiri di depan rumah, memegang perutnya yang besar. Wajahnya tenang, meskipun matanya sedikit sembab — tanda bahwa ia menangis tadi malam.

Tianji berlari kembali ke rumah. Ia mencium kening istrinya, lalu menempelkan wajahnya ke perut Yue'er.

"Anakku," bisiknya. "Ayah pergi sebentar. Ayah akan kembali. Jagalah ibumu."

Dari dalam perut, terasa sebuah tendangan kecil — seolah bayi di dalamnya mengerti apa yang dikatakan ayahnya.

"Lihat," Yue'er tersenyum, menangis. "Dia sudah mengenal ayahnya."

Tianji tersenyum, air mata mengalir di pipinya. "Aku akan kembali. Aku janji."

"Pergilah," kata Yue'er. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku akan menunggumu."

Tianji melepaskan pelukannya. Ia berjalan mundur, masih menatap istrinya, seolah ingin mengingat setiap detail wajah Yue'er.

"Aku cinta padamu," katanya.

"Aku juga cinta padamu."

Tianji berbalik dan berlari menuju dermaga. Ia melompat ke perahu Prabu, dan perahu itu mulai bergerak meninggalkan Desa Muara.

Dari kejauhan, Tianji masih bisa melihat Yue'er berdiri di depan rumah, melambai-lambaikan tangannya. Gubuk bambu itu, pohon kelapa di sampingnya, dan istri yang dicintainya — semua semakin kecil, semakin jauh.

"Kita akan segera kembali," kata Tianji, setengah pada dirinya sendiri, setengah pada Prabu.

"Semoga," jawab Prabu. "Tapi sebelum itu, kita harus menghadapi naga laut."

Tianji mengangguk. Tangannya meremas golok di pinggangnya. Kekuatan Penyerap Lautan mengalir di dalam tubuhnya, siap untuk digunakan.

Sang Penyerap Lautan telah kembali.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 93: GURU BARU BAB 95: REFLEKSI →