๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 43: YUE’ER DICULIK

← BAB 42: DIBURU BAB 44: PERJALANAN TERAKHIR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Pertarungan itu berlangsung singkat dan dahsyat.

Telapak tangan hitam Tianji bertabrakan dengan telapak tangan Lord Hitam. Gelombang qi meledak, memecahkan air terjun menjadi jutaan tetes yang berhamburan ke segala arah. Gua itu berguncang, batu-batu kecil berjatuhan dari langit-langit.

Tianji terpental ke belakang, kakinya menyeret tanah, mencengkeram tepi tebing gua. Darah mengalir dari sudut mulutnya. MP-nya berdenyut liar, seperti ular yang dilempari batu.

Lord Hitam hanya bergeser setengah langkah.

"Heh, kau lumayan," Lord Hitam berkata, suaranya penuh ejekan. "Untuk anak seusiamu, kau berhasil menahan satu seranganku. Tapi itu tidak cukup."

"Kita lihat saja!" Teriak Tianji, bersiap menyerang lagi.

Namun Lord Hitam hanya mengangkat tangannya. Dari lengan bajunya, puluhan bayangan hitam melesat โ€” bayangan berbentuk manusia, dengan mata merah menyala.

"Bayangan Malam," Xiao Yu'er mendesis. "Ilmu hitam tingkat tinggi! Hati-hati, Tianji!"

Tianji mengelak, menangkis, dan menyerang. Telapak hitamnya mampu menghancurkan satu bayangan dengan satu pukulan. Tapi bayangan itu terus muncul. Semakin banyak. Semakin cepat.

"Aku tidak punya waktu untuk ini," Lord Hitam bergumam. Lalu ia melirik Yue'er yang berdiri di sudut gua.

Mata merah di balik topeng itu bersinar.

"Yue'er, lari!" teriak Tianji.

Tapi sudah terlambat.

Lord Hitam bergerak โ€” cepat, bagaikan kilat. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada di depan Yue'er.

"Aโ€”" Yue'er sempat mengeluarkan suara, sebelum tengkuknya dipukul. Ia pingsan seketika.

"YUE'ER!" Tianji menjerit.

"Tianji!" Xiao Yu'er sudah menghunus pedang dan menusuk ke arah Lord Hitam.

Tapi Lord Hitam hanya menjentikkan jari. Pedang Xiao Yu'er patah menjadi tiga bagian. Xiao Yu'er terpental, dadanya robek oleh serpihan pedangnya sendiri.

"Jangan bunuh dia," kata Tianji, suaranya bergetar. "Apa pun yang kau mau… aku akan lakukan. Tapi jangan bunuh Yue'er."

"Oh?" Lord Hitam mengangkat Yue'er dengan satu tangan. "Apa kau serius?"

"Lepaskan dia."

"Kau pikir kau punya posisi untuk memerintahku?" Lord Hitam tertawa. "Dengar, bocah. Aku tidak butuh apa-apa darimu sekarang. Tapi aku ingin kau menderita. Aku ingin kau merasakan kehilangan."

"KAU MONSTER!"

MP Tianji meledak. Seluruh tubuhnya terbungkus qi hitam pekat. Matanya berubah menjadi merah. Urat-urat di lehernya menonjol hitam.

"Ah, bagus," Lord Hitam bergumam. "Kau marah. Bagus sekali. Tunjukkan padaku seberapa kuat MP-mu saat kau marah."

Tianji melesat. Semua bayangan di depannya hancur dalam satu serangan. Ia terbang ke arah Lord Hitam dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Tapi Lord Hitam sudah siap. Ia melemparkan Yue'er ke atas โ€” dan saat Tianji mencoba menangkapnya, Lord Hitam menendang.

Tendangan itu menghantam ulu hati Tianji. Ia terpental, tubuhnya membentur dinding gua. Batu-batu runtuh menimpanya.

"Ilmu yang didorong amarah adalah ilmu yang bodoh," Lord Hitam berkata, menangkap Yue'er lagi. "Kau pikir itu akan membuatmu lebih kuat? Tidak. Itu hanya membuatmu ceroboh."

Tianji mencoba bangkit, tapi tubuhnya tidak mau bergerak. Darah membanjiri matanya, membuat dunia terlihat merah.

"Lord… Hitam…"

"Kita bertemu lagi, Tianji. Tapi lain kali… datanglah sendiri. Maka mungkin aku akan melepaskan gadis ini."

"TUNGGU!"

Tapi Lord Hitam sudah hilang. Bersama Yue'er.

Hanya tawa bergema yang tersisa, memantul di dinding gua.

—===—

Tianji terbaring di reruntuhan batu. Tubuhnya penuh luka. MP-nya masih berdenyut, tapi sudah melambat, seperti ombak yang surut setelah badai.

"Aku gagal," bisiknya. "Aku gagal melindunginya."

"Tianji…" Xiao Yu'er merangkak mendekat. Dadanya berdarah, tapi lukanya tidak terlalu dalam. "Kau harus bertahan."

"Untuk apa?" Tianji menatap langit-langit gua. "Yue'er sudah dibawa pergi. Dia akan… dia akan…"

"Jangan bicara seperti itu!" Xiao Yu'er menepuk pipinya. "Yue'er masih hidup. Lord Hitam tidak akan membunuhnya โ€” setidaknya belum. Dia ingin menyiksamu lebih dulu."

"Itu… lebih buruk."

"Mungkin. Tapi kita masih punya waktu. Kita bisa mengejarnya."

"Melawan Lord Hitam?" Tianji tertawa getir. "Kau lihat sendiri. Aku tidak bisa menyentuhnya."

"Itu karena kau tidak tenang. MP-mu liar. Kau tidak mengendalikan MP โ€” MP yang mengendalikanmu."

Tianji terdiam. Xiao Yu'er benar.

"Aku harus tenang," gumamnya. "Aku harus… menjernihkan pikiran."

Ia duduk, bersila. Matanya terpejam. Napasnya perlahan teratur.

MP di tubuhnya masih berdenyut. Tapi kali ini, Tianji tidak melawannya. Ia menerimanya. Merasakannya. Seperti ombak yang menerima lautan.

"Aku di sini," bisiknya pada MP. "Kau adalah bagian dariku. Bukan musuhku."

MP itu berdenyut โ€” lebih lembut. Seperti menjawab.

"Aku tahu kau marah. Aku juga. Tapi kita harus tenang. Demi Yue'er. Demi semuanya."

Meridian Penelan di tubuhnya mulai meresap. Qi hitam yang tadinya mengamuk perlahan berubah menjadi energi yang terkendali โ€” masih hitam, tapi tidak lagi mengancam.

Xiao Yu'er ternganga. "Kau… kau berhasil mengendalikannya?"

"Untuk sementara," Tianji membuka mata. Matanya masih merah, tapi lebih tenang. "Tapi aku tidak tahu berapa lama ini akan bertahan."

"Itu awal yang bagus."

"Terima kasih, Xiao Yu'er." Tianji menatapnya. "Kau menyelamatkanku."

"Aku hanya melakukan apa yang Yue'er lakukan untukmu. Mengingatkanmu bahwa kau bukan monster." Ia tersenyum. "Sekarang… apa rencanamu?"

Tianji berdiri, tubuhnya terhuyung tapi teguh.

"Aku akan ke Benteng Hitam. Dan aku akan mengambil Yue'er kembali."

"Sendirian?"

"Kalau perlu."

Xiao Yu'er menarik napas dalam. "Baik. Tapi kita akan pergi besok pagi. Tubuhmu butuh istirahat."

"Tapiโ€”"

"Tidak ada tapi. Kau tidak akan berguna kalau mati kelelahan di tengah jalan." Xiao Yu'er menarik lengannya. "Istirahat. Aku akan berjaga."

Tianji ingin membantah, tapi tubuhnya benar-benar lelah. Ia merebahkan diri di dinding gua.

"Xiao Yu'er…"

"Hm?"

"Aku tidak akan pernah melupakan ini. Apa yang kau lakukan untukku."

"Heh, dasar sentimental." Xiao Yu'er memunggunginya, menyembunyikan pipinya yang memerah. "Biasakan saja. Karena aku tidak akan meninggalkanmu."

—===—

Malam itu panjang. Tianji bermimpi buruk โ€” Yue'er diikat di tiang, Lord Hitam berdiri di sampingnya dengan pedang di tangan.

"Pilih, Tianji. MP-mu, atau nyawanya."

Tapi dalam mimpi itu, Tianji tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa menonton saat pedang Lord Hitam turun.

"TIDAK!" Ia terbangun, tubuh basah oleh keringat dingin.

Di sekelilingnya, gua masih gelap. Xiao Yu'er duduk di mulut gua, menghadang angin malam.

"Kau dengar," Tianji berkata. Bukan pertanyaan.

"Aku tidak butuh MP untuk mengerti kau teriak," Xiao Yu'er menjawab. "Mimpi buruk?"

"Yue'er… sekarat dalam mimpiku."

"Itu tidak nyata. Yue'er masih hidup. Aku yakin."

"Bagaimana kau bisa begitu yakin?"

Xiao Yu'er berbalik, menatap Tianji dengan mata serius. "Karena Lord Hitam adalah pria yang suka bermain. Ia tidak akan membunuh hadiahnya sebelum permainan dimulai. Kau adalah permainan itu, Tianji. Selama kau masih hidup dan menderita, Yue'er aman."

Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Tapi yang dirasakan Tianji justru sebaliknya.

"Jadi… aku harus hidup. Untuk membuatnya terus bermain."

"Seperti itulah cara berpikir Lord Hitam."

"Aku benci itu."

"Kita semua benci. Tapi itulah kenyataannya." Xiao Yu'er mendekat. "Besok, kita akan mulai perjalanan. Benteng Hitam ada di utara, di Pegunungan Naga Tidur. Perjalanan tujuh hari jika kita cepat."

"Tujuh hari…" Tianji menggenggam tangan. "Tujuh hari terlalu lama."

"Kau punya cara yang lebih cepat?"

Tianji terdiam. Lalu ia teringat sesuatu. "Gua terowongan. Kata Guru Li, ada jalur bawah tanah yang menghubungkan berbagai tempat di Jianghu. Tapi aku tidak tahu persis di mana pintu masuknya."

"Itu desas-desus. Tidak ada yang pernah membuktikannya."

"Tapi layak dicoba."

Xiao Yu'er menghela napas. "Baik. Besok kita cari. Tapi sekarang tidur. Kau perlu tenaga."

"Bagaimana denganmu? Lukamu masihโ€”"

"Lukaku tidak apa-apa. Yang penting kau istirahat. Besok kita akan menghadapi banyak hal."

Tianji mengangguk, meski ia tahu ia tidak akan bisa tidur. Pikirannya hanya pada Yue'er โ€” pada senyumnya, pada tawanya, pada cara ia menjewer telinganya saat ia keras kepala.

"Aku akan datang, Yue'er," bisiknya. "Tunggu aku."

—===—

Di benteng megah yang menjulang di puncak gunung hitam โ€” Benteng Hitam, sarang Lord Hitam โ€” Yue'er terbangun.

Lehernya sakit. Kepalanya pusing. Ia diikat di kursi batu, dengan rantai besi yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya.

"Akhirnya kau sadar."

Suara itu datang dari bayangan. Lord Hitam melangkah ke dalam cahaya lilin. Wajahnya masih tertutup topeng, tapi matanya โ€” merah menyala โ€” menatap Yue'er dengan rasa ingin tahu.

"Di mana Tianji?" Yue'er bertanya. Suaranya serak, tapi ia berusaha terdengar tegar.

"Masih di gua. Hidup. Untuk saat ini."

"Kau… kau tidak akan bisa mengalahkannya."

"Oh?" Lord Hitam tertawa. "Apa kau yakin?"

"Dia… lebih kuat dari yang kau kira. Dan dia punya teman."

"Xiao Yu'er? Gadis culun itu?" Lord Hitam menyeringai. "Mereka tidak ada apa-apanya."

Yue'er tersenyum โ€” senyum mengejek. "Kau pikir kau tahu segalanya. Tapi kau tidak tahu apa itu kekuatan sejati."

"Lalu apa itu?"

Yue'er menatap matanya. Tanpa rasa takut. "Kekuatan sejati bukan pada seberapa banyak orang yang bisa kau bunuh. Tapi pada seberapa banyak orang yang bersedia mati untukmu."

Lord Hitam terdiam. Lalu ia tertawa keras.

"Kau gadis yang menarik. Tidak heran Tianji menyayangimu."

"Jangan pikir kau bisa menggunakan aku untuk melukainya."

"Lihat, kau bahkan tidak mengerti." Lord Hitam mendekat, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Yue'er. "Dia akan melakukan apa pun demi menyelamatkanmu. Itu kelemahannya. Dan aku akan memanfaatkannya."

"Dia akan membencimuโ€”"

"Dia sudah membenciku." Lord Hitam tertawa lagi. "Satu kebencian lebih atau kurang tidak akan mengubah apa pun."

"Aku tidak tahu kau punya selera humor."

"Heh, kau pikir aku hanya mesin pembunuh?" Lord Hitam membalikkan badan. "Nikmati sisa waktumu di sini, Yue'er. Karena saat Tianji datang… aku akan membunuhnya di depan matamu."

Yue'er menggertakkan gigi. "Dia akan mengalahkanmu."

"Kita lihat saja."

Lord Hitam melangkah keluar. Pintu sel ditutup dengan derit yang panjang.

Yue'er sendirian. Namun di dalam hatinya, ia tidak takut. Karena ia tahu โ€” ia yakin โ€” bahwa Tianji akan datang.

Dia selalu datang.

"Tianji," bisiknya di dalam kegelapan. "Aku percaya padamu. Aku akan menunggumu di sini. Tapi… cepatlah. Karena aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan."

Air matanya jatuh, membasahi pipi yang kotor.

Tapi di sudut mulutnya, senyum masih terukir.

Senyum untuk Tianji.

Senyum yang berkata: "Aku tidak akan menyerah. Dan kau juga jangan."

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 42: DIBURU BAB 44: PERJALANAN TERAKHIR →