Hutan itu bernama Hutan Seratus Li โ dinamakan demikian karena lebarnya mencapai seratus li dari ujung ke ujung. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, menutupi langit dengan kanopi daun yang rapat. Cahaya matahari hanya bisa menembus dalam garis-garis tipis, menciptakan bayangan yang menari-nari di tanah berlumut.
Tianji, Yue'er, dan Xiao Yu'er telah berjalan selama tiga hari tiga malam. Mereka tidak berani menyalakan api unggun โ asap akan menarik perhatian para pemburu. Mereka tidur bergantian, satu orang berjaga sementara dua lainnya memejamkan mata.
"Aku capek," Yue'er mengeluh, duduk di atas batu besar. "Kakiku seperti terbuat dari besi. Kalau ada yang bilang petualangan itu menyenangkan, aku akan tampar wajahnya."
"Kau boleh istirahat," kata Tianji. "Aku akan mencari air."
"Jangan pergi jauh-jauh," Xiao Yu'er memperingatkan. "Mereka mungkin sudah masuk ke hutan ini."
"Aku tahu."
Tianji melangkah ke semak-semak. Meridian Penelan-nya aktif, mendeteksi aliran qi di sekitarnya. Ia merasakan kehidupan โ burung, rusa, tupai, ular. Semua bernapas, semua mengalirkan qi.
Sejak mencapai Level 2, MP-nya menjadi lebih peka. Ia bisa merasakan qi orang lain dari jarak puluhan langkah. Warna qi โ merah untuk amarah, biru untuk ketenangan, hitam untuk kebencian. Semua terlihat di matanya.
Tapi ada satu warna yang paling ia takuti: hitam pekat. Warna qi Lord Hitam.
Tianji tiba di sungai kecil dan berlutut untuk mengisi kantung air. Airnya jernih, dingin. Ia mencuci muka, merasakan kesegaran yang singkat.
Saat ia menegakkan badan, ia merasakan sesuatu.
Kehadiran.
Banyak.
Jauh. Tapi mendekat.
Cepat.
Tianji berbalik dan berlari kembali ke tempat Yue'er dan Xiao Yu'er.
"Mereka datang!" teriaknya. "Bangun! Kita harus pergi!"
"Lagi?" Yue'er mengerang. "Kita baru istirahat lima belas menit!"
"Tidak ada waktu!"
Tianji meraih tangan Yue'er dan menariknya berdiri. Xiao Yu'er sudah siap dengan pedangnya.
"Berapa banyak?" tanya Xiao Yu'er.
"Puluhan. Mungkin lebih. Dan mereka bergerak cepat."
"Mereka pasti punya pelacak," Xiao Yu'er mengertakkan gigi. "Seseorang yang ahli dalam mencari jejak."
"Atau seseorang yang menggunakan ilmu sihir," tambah Yue'er getir.
Mereka berlari. Tianji memimpin, menggunakan indra MP-nya untuk mencari jalan yang aman. Tapi setiap kali mereka mengubah arah, para pemburu seolah tahu dan mengikuti.
"Kita tidak bisa kabur selamanya!" Yue'er terengah-engah.
"Aku tahu!" Tianji berhenti. Ia menutup mata, merasakan qi di sekelilingnya. "Ada sebuah gua di timur laut. Kita bisa bersembunyi di sana. Tapi kita harus bergerak cepat."
"Sudah kubilang, kakikuโ"
"Aku akan menggendongmu."
"A-Apa?" Yue'er terkejut. "Kau pikir akuโ"
Tapi Tianji sudah membungkuk dan mengangkat Yue'er ke punggungnya. Gadis itu hanya bisa ternganga.
"Pegangan erat-erat," kata Tianji. "Xiao Yu'er, ikuti aku!"
Dan ia berlari. Dengan Yue'er di punggungnya, ia melesat di antara pepohonan seperti anak panah. Meridian Penelan-nya memompa qi ke seluruh tubuhnya, memberinya kekuatan dan kecepatan yang luar biasa.
"Tianji… kau…" Yue'er bergumam di belakang telinganya. "Rupanya kau lebih kuat dari yang kukira."
"Diam saja dan pegang erat-erat!"
Mereka tiba di mulut gua. Sebuah celah sempit di balik air terjun kecil. Tianji masuk, diikuti Xiao Yu'er. Di dalam, gua itu gelap dan lembab, tapi cukup luas untuk mereka bertiga.
"Kita aman… untuk sementara," kata Tianji, menurunkan Yue'er.
Gadis itu berdiri dengan kaki gemetar. "Aku tidak akan lupa ini. Kau menggendongku seperti karung beras."
"Lebih baik jadi karung beras daripada jadi mayat."
"Heh, keras kau."
Xiao Yu'er duduk di sudut gua, mengatur napas. "Mereka pasti akan mencari di sekitar sini. Kita harus diam."
Mereka menunggu dalam keheningan. Dari celah gua, mereka bisa mendengar suara para pemburu โ suara langkah kaki, teriakan, bentakan.
"Apa kau yakin mereka lewat sini?" suara seseorang bertanya.
"Jejak mereka berakhir di sungai," jawab yang lain. "Mungkin mereka menyusuri air."
"Atau mungkin lari ke selatan. Kita bagi dua. Satu kelompok ke selatan, satu kelompok ke barat."
Suara langkah kaki menjauh. Tianji menghela napas lega.
"Mereka pergi," bisik Yue'er.
"Untuk sementara," Xiao Yu'er bergumam. "Tapi mereka tidak akan berhenti. Lord Hitam pasti sudah menjanjikan hadiah besar."
"Berapa menurutmu?" Yue'er bertanya tiba-tiba.
"Apa?"
"Hadiahnya. Berapa nilai kepalaku?" ia menyeringai.
"Aneh kau," Xiao Yu'er menggeleng. "Dalam situasi begini masih bisa bercanda."
"Kalau tidak tertawa, aku akan menangis. Dan aku benci menangis."
Tianji tidak ikut tertawa. Pikirannya melayang pada MP di tubuhnya. Sejak masuk hutan, MP-nya terasa… berbeda. Lebih aktif. Lebih gelisah. Seperti ular yang siap menerkam.
"Aku harus mengendalikan MP-ku," gumamnya pada diri sendiri.
"Apa?" Yue'er menoleh.
"MP-ku. Ia mulai tidak stabil. Aku merasa… marah. Sangat marah. Dan setiap kali marah, MP-ku berdenyut lebih kencang."
"Kau takut kehilangan kendali?"
Tianji mengangguk. "Aku hampir membunuh seseorang kemarin."
Yue'er dan Xiao Yu'er tertegun.
"Apa?"
"Seorang pemburu. Ia sendirian, mendekati tempat kita tidur. Aku terbangun dan… MP-ku aktif dengan sendirinya. Tanganku bergerak. Lengan itu sudah hitam pekat, siap menusuk jantungnya."
"Lalu?" Yue'er bertanya pelan.
"Aku berhenti. Tepat satu inci dari dadanya. Ia pingsan ketakutan." Tianji mengepalkan tangan. "Tapi aku hampir melakukannya. Aku hampir membunuh orang."
Yue'er duduk di sampingnya, meraih tangannya. "Tapi kau tidak jadi. Itu yang penting."
"Itu karena kau. Aku mendengar suaramu dalam pikiranku. 'Jangan,' katamu. Dan aku berhenti."
Yue'er tertegun. Lalu ia tersenyum lembut โ senyum yang jarang terlihat. "Kau tahu? Mungkin itulah gunanya aku di sini. Untuk menghentikanmu dari menjadi monster."
"Kau tidak percaya aku bisa menjadi monster?"
"Tentu saja tidak." Yue'er menjawab tanpa ragu. "Kau mungkin pembawa Meridian Penelan. Tapi di hatimu, kau masih Tianji โ bocah keras kepala yang menolongku saat aku sekarat. Itu tidak akan berubah."
—===—
Malam turun. Di dalam gua, mereka duduk melingkar. Xiao Yu'er berhasil menangkap dua ekor ikan dari sungai. Mereka memanggangnya dengan api kecil yang dijaga agar asapnya tidak naik terlalu tinggi.
"Aku punya rencana," kata Xiao Yu'er tiba-tiba.
"Apa?" Tianji menatapnya.
"Kita harus memecah kelompok."
"Apa?!" Yue'er hampir menjatuhkan ikannya. "Kau gila? Berpisah di saat seperti ini?"
"Dengarkan dulu," Xiao Yu'er melanjutkan. "Para pemburu itu mengejar Tianji. Aku dan kau tidak terlalu penting bagi mereka. Jika Tianji pergi sendiri, ia akan bisa bergerak lebih cepat. Sementara kitaโ"
"Tidak," potong Tianji tegas. "Tidak akan."
"Tianjiโ"
"Aku bilang tidak. Kita bersama. Sampai akhir."
"Tapiโ"
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau rencanakan." Tianji menatap Xiao Yu'er dengan mata berapi. "Aku sudah kehilangan ayahku. Aku kehilangan guruku. Aku tidak akan kehilangan kalian berdua. Tidak. Sekali. Lagi."
Xiao Yu'er terdiam. Lalu ia menghela napas. "Kau keras kepala."
"Apa kau baru tahu?" Yue'er menyenggolnya. "Dari dulu dia begitu."
"Baiklah. Tapi setidaknya kita harus punya rencana," kata Xiao Yu'er.
"Aku punya rencana," kata Tianji. "Kita akan pergi ke Benteng Lord Hitam."
"Apa?!" Yue'er dan Xiao Yu'er berseru bersamaan.
"Kau gila? Itu sarang harimau!" Yue'er hampir menjerit.
"Aku tahu. Tapi di sanalah semua ini berakhir. Aku tidak bisa terus lari. Ayahku, Guru Li, Guru Xuan โ mereka semua mati karena Lord Hitam. Aku harus menghadapinya."
"Dia terlalu kuat untukmu!" Xiao Yu'er membanting ikannya. "MP-mu baru Level 2! Sementara Lord Hitam sudah berkultivasi selama puluhan tahun! Kau akan mati!"
"Lalu apa yang kau sarankan? Lari selamanya? Hingga aku tua dan keriput, masih dikejar orang-orang yang percaya aku iblis?" Tianji menghela napas. "Lebih baik mati berhadapan dengan musuh daripada mati karena kehausan di hutan."
"Aku setuju dengan Xiao Yu'er," kata Yue'er. "Ini terlalu gila. Bahkan untukmu."
"Aku tidak minta kalian ikut," kata Tianji. "Aku akan pergi sendiri."
"Jangan mulai lagi!" Yue'er menjambak rambutnya sendiri frustrasi. "Dasar bocah keras kepala! Baik! Terserah! Aku ikut! Tapi kalau kau mati, aku akan menghidupkanmu kembali dan memukulmu lagi!"
"Aku juga ikut," Xiao Yu'er menghela napas. "Kalian berdua tidak bisa bertahan tanpaku."
Tianji tersenyum. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Nanti kau akan menyesal."
—===—
Tengah malam. Tianji tidak bisa tidur. Ia duduk di mulut gua, memandangi air terjun yang berkilauan di bawah sinar bulan.
MP-nya berdenyut lagi. Lebih kuat. Lebih cepat.
"Apa yang terjadi padaku?" bisiknya pada kegelapan.
Ia menekan pusat dadanya, tempat MP bermarkas. Di bawah kulitnya, ia bisa merasakan pusaran qi yang berputar โ seperti pusaran air di lautan, siap menelan apa pun yang mendekat.
"Kau tumbuh," suara Xuan Qingzi bergema di ingatannya. "Meridian Penelan tumbuh bersamamu. Saat kau kuat, ia kuat. Saat kau marah, ia marah. Saat kau takut… ia takut."
"Aku tidak takut," Tianji menggenggam tangan. "Aku hanya… tidak ingin menyakiti orang yang kucintai."
"Aku takut kau akan menjadi seperti Lord Hitam," Xiao Yu'er muncul di sampingnya.
Tianji tersentak. "Kau bangun."
"Tidak bisa tidur." Xiao Yu'er duduk di sampingnya. "Aku juga takut."
"Kau? Takut?"
"Semua orang takut, Tianji. Termasuk aku. Tapi yang membedakan kita adalah apa yang kita lakukan dengan rasa takut itu."
Tianji menatapnya. Xiao Yu'er, dengan rambut acak-acakan dan mata lelah, tiba-tiba terlihat sangat rentan.
"Xiao Yu'er," kata Tianji. "Kenapa kau benar-benar mau ikut denganku? Kita bahkan tidak punya hubungan darah."
Xiao Yu'er tersenyum pahit. "Kau ingat saat pertama kita bertemu? Di pasar? Aku hampir kau bunuh."
"Aku hampir."
"Tapi kau tidak jadi. Dan sejak saat itu, kau tidak pernah menganggapku buruk. Bahkan setelah aku mengaku sebagai pembunuh. Bahkan saat aku bilang aku tidak punya tujuan hidup." Ia menatap Tianji. "Kau memberiku tujuan. Dan itu… itu lebih berarti dari apa pun."
Suasana hening. Hanya suara air terjun yang mengisi malam.
"Aku tidak layak," Tianji berkata. "Aku pembawa kutukan."
"Kutukan hanya ada di kepala orang yang percaya," Xiao Yu'er menjawab. "Kau bukan kutukan. Kau adalah… jawaban."
"Jawaban untuk apa?"
"Itu yang harus kita cari tahu."
—===—
Saat fajar, suara gemuruh memecah keheningan gua.
Mereka semua terjaga. Tanah bergetar. Air terjun di depan goa berguncang.
"Apa itu?" Yue'er panik.
Tianji merasakan qi. Raksasa. Kuat. Hitam pekat.
"Dia… dia datang."
Sosok itu muncul dari balik air terjun. Tinggi, besar, dengan jubah hitam yang berkibar meski tak ada angin. Wajahnya tersembunyi di balik topeng โ topeng iblis bertanduk, dengan dua mata yang bersinar merah.
Lord Hitam.
"Tianji," suaranya bergema, bagaikan guntur di siang bolong. "Akhirnya kita bertemu lagi."
Tianji berdiri, MP-nya sudah aktif. Tangannya bersinar hitam pekat.
"Kau datang sendiri?" tanyanya.
"Aku tidak butuh siapa pun untuk menghadapi bocah ingusan sepertimu."
"Heh, sombong," Yue'er mendesis. "Marilah, kita lihat siapa yang akan tumbang!"
"Yue'er, mundur," Tianji memerintah. "Ini urusanku."
"Tidakโ"
"Mundur!"
Yue'er tertegun. Untuk pertama kalinya, Tianji membentaknya dengan keras. Ia mundur selangkah, diikuti Xiao Yu'er.
Lord Hitam tertawa. "Bagus. Bocah pemberani. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanya akan membuatmu mati lebih cepat."
"Ingat kata-katamu sendiri," Tianji berkata. "Kau akan menyesal meremehkanku."
Dan ia melesat, telapak tangan hitamnya meluncur ke arah Lord Hitam.
Babak baru dimulai. Tapi pertarungan ini baru awal. Perburuan masih panjang. Dan di ujung jalan, hanya satu yang akan berdiri.