📖 Genre
Kisah Penyerap Lautan (吞海记)
📖 BAB 29: LORD HITAM

← BAB 28: ISTANA PANGERAN NING BAB 30: PILIHAN →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Pagi di Istana Pangeran Ning berwarna keemasan — sinar mentari menembus kabut tipis, membuat embun di dedaunan taman berkilau seperti mutiara. Tapi keindahan itu adalah topeng. Di dalam istana, udara terasa seperti di dalam kuburan.

Tianji duduk di ruang sidang utama — ruangan yang sama tempat Lord Hitam menghancurkan dinding semalam. Kini ia duduk di kursi kayu keras, menghadapi meja panjang yang dipenuhi peta dan dokumen. Lawannya duduk di seberang — Lord Hitam, jubah putih bersih, rambut tersanggul rapi, senyum tipis yang tidak pernah lepas.

"Aku suka ketepatan waktu," kata Lord Hitam, menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen tipis. "Kau datang tepat saat fajar. Tidak terlambat, tidak terburu-buru. Disiplin yang baik."

"Aku tidak datang untuk minum teh," jawab Tianji dingin.

"Sayang sekali. Teh ini dari pegunungan Fujian — harganya setara dengan satu kuda perang." Lord Hitam menyesap tehnya, matanya setengah terpejam menikmati aroma. "Tapi baiklah, kita bicara bisnis."

Ia mengeluarkan gulungan peta — peta besar yang menunjukkan wilayah selatan kerajaan, lengkap dengan sungai, gunung, dan garis pantai. Di atas peta itu, beberapa titik ditandai dengan tinta merah.

"Makam leluhur Penyerap Lautan," Lord Hitam menunjuk salah satu titik — di sebuah lembah di ujung barat peta. "Di sini. Lembah Naga Tidur."

Tianji menahan napas. Lembah Naga Tidur — tempat yang disebut Xuan Qingzi sebelum gurunya meninggal. Tempat yang menjadi tujuan mereka sebelum dikejar Mawar Hitam.

"Kau tahu tentang lembah itu," Lord Hitam menyipit. "Bagus. Itu mempercepat segalanya."

"Aku tahu namanya. Tapi aku tidak tahu di mana persisnya."

"Cukup. Aku yang akan memandu." Lord Hitam melipat peta. "Kita berangkat tiga hari lagi. Aku perlu menyelesaikan urusan dengan Pangeran Ning — secara diplomatis, tentu saja. Tidak perlu pertumpahan darah yang tidak perlu."

"Kau akan membebaskannya?"

"Bebas?" Lord Hitam terkekeh. "Tidak ada yang benar-benar bebas di dunia ini, Anak Muda. Tapi aku akan 'melupakan' tuduhan pemberontakan itu. Sebagai gantinya, Pangeran Ning akan 'sukarela' menyerahkan setengah dari wilayah kekuasaannya kepada Kaisar. Kompensasi yang adil."

"Kau merampoknya."

"Aku menyelamatkannya. Ada bedanya." Lord Hitam menatap Tianji dengan mata tajam. "Kalau aku tidak ambil setengah wilayahnya, Kaisar akan mengirim algojo lain — yang akan mengambil semuanya, termasuk kepalanya. Aku memberinya pilihan. Pilihan adalah kemewahan, Anak Muda. Jangan lupakan itu."

Tianji menggenggam tangannya di bawah meja, menahan amarah. Lord Hitam benar — dalam politik istana, pilihan hanyalah ilusi. Tapi setidaknya ilusi itu memberi waktu. Dan waktu adalah satu-satunya senjata yang Tianji miliki.

"Ada syarat lain," kata Lord Hitam tiba-tiba.

"Apa?"

"Teman-temanmu — Liu Yue'er dan Xiao Yu'er. Mereka ikut."

"Tentu saja."

"Tapi ada aturan." Lord Hitam mencondongkan tubuh ke depan, suaranya merendah. "Mereka tidak boleh ikut campur dalam urusanku dengan Kaisar. Mereka boleh menjagamu, memelukmu, menghiburmu — terserah. Tapi kalau mereka mencoba melawan, kalau mereka mencoba menyabotase misi ini… aku tidak akan ragu memotong tangan mereka."

Ancaman itu disampaikan dengan tersenyum — senyum yang lebih menakutkan dari seribu teriakan.

"Pesan diterima," kata Tianji datar.

"Bagus. Aku suka anak muda yang pengertian."

Lord Hitam berdiri, berjalan ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat prajurit-prajurit Pangeran Ning berlatih di halaman, suara teriakan dan benturan logam menggema di pagi hari.

"Tahukah kau, Xiao Tianji," katanya tiba-tiba, suaranya melamun, "mengapa aku memilih bergabung dengan Mawar Hitam?"

Tianji diam.

"Bukan karena uang. Bukan karena kekuasaan. Tapi karena… kebosanan." Lord Hitam tertawa pelan. "Hidup di istana terlalu membosankan. Protokol, etiket, aturan — semuanya kaku dan mati. Tapi di Mawar Hitam, aku bisa melakukan apa saja. Membunuh, merampok, menghancurkan — tanpa aturan. Kebebasan sejati."

"Kebebasan?" Tianji mengulang kata itu dengan nada getir. "Kau bilang tidak ada yang bebas."

"Untuk orang biasa — tidak. Tapi untuk orang seperti aku? Aturan tidak berlaku."

"Kau sombong."

"Bukan sombong. Realistis." Lord Hitam berbalik, menatap Tianji. "Cepat atau lambat, kau akan mengerti. Bahwa kekuasaan bukan tentang pedang atau ilmu silat. Tapi tentang seberapa banyak kau berani melanggar aturan. Semakin banyak kau langgar, semakin kuat kau."

"Aku tidak ingin menjadi sepertimu."

"Belum. Kau belum ingin menjadi sepertiku. Tapi tunggu saja. Dunia ini kejam, Xiao Tianji. Dan kau — kau yang baik hati, yang setia pada gurumu, yang ingin melindungi teman-temanmu — kau akan hancur oleh kebaikanmu sendiri. Kecuali kau belajar menjadi sedikit lebih… seperti aku."

Pintu ruangan terbuka. Liu Dahan masuk, diikuti Yue'er dan Xiao Yu'er. Liu Dahan menatap Lord Hitam dengan kebencian yang tidak disembunyikan.

"Aku sudah dengar," kata Liu Dahan, suaranya berat. "Kau bawa anak-anak ini ke ibu kota."

"Tawaran yang tidak bisa ditolak."

"Tawaran sampah." Liu Dahan meludah ke lantai — sikap yang sangat tidak sopan di istana, tapi ia tidak peduli. "Aku kenal tipe orang sepertimu, Lord Hitam. Aku sudah lihat seratus orang sepertimu — mereka semua mati di ujung pedang algojo."

"Aku masih hidup."

"Untuk sekarang."

Lord Hitam tersenyum — senyum yang tidak mencapai matanya. "Liu Dahan. Mantan algojo. Mantan bajak laut. Mantan —"

"Cukup sudah permainan kata-katamu," potong Liu Dahan. "Aku hanya ingin bilang: kalau kau sakiti anakku, kalau kau sakiti salah satu dari mereka… aku akan cari kau. Ke ujung dunia. Ke dasar laut. Dan aku akan —"

"Kau akan apa? Bunuh aku?" Lord Hitam tertawa, tapi tawanya dingin. "Kau pikir kau bisa? Aku sudah membunuh tiga algojo lebih hebat darimu sebelum sarapan."

Liu Dahan diam, tapi matanya berbicara seribu kata.

"Sudah, Ayah," Yue'er memegang lengan ayahnya. "Aku bisa jaga diri sendiri."

"Aku tahu, Nak. Tapi —"

"Aku serius, Ayah. Kau dengar?" Yue'er menatap ayahnya dengan tegas. "Aku bukan anak kecil lagi. Dan aku tidak akan mati di tangan iblis macam dia."

Liu Dahan menatap putrinya lama. Lalu ia tertawa — tawa getir seorang ayah yang bangga sekaligus takut.

"Dasar anak keras kepala. Sama seperti ibumu."

Yue'er tersenyum. "Itu pujian terbaik yang pernah kau berikan."

Di sudut ruangan, Xiao Yu'er diam saja, matanya tidak pernah lepas dari Lord Hitam. Ada sesuatu dalam tatapan Lord Hitam yang membuatnya tidak nyaman — bukan ancaman, tapi sesuatu yang lebih halus. Seperti Lord Hitam tahu sesuatu tentang dirinya yang bahkan ia sendiri tidak tahu.

"Hari ini," kata Lord Hitam mengalihkan pembicaraan, "kita akan mengadakan sidang. Sidang resmi untuk membersihkan nama Pangeran Ning. Kau, Xiao Tianji — kau akan duduk di sampingku. Sebagai… saksi."

"Kalau aku menolak?"

"Kau tidak akan menolak. Karena Liu Dahan akan duduk di kursi saksi — dan aku ingin kau melihatnya selamat."

Tianji menghela napas. "Kau benar-benar iblis."

"Sudah kubilang. Aku tidak peduli."

Sidang itu berlangsung di aula utama Istana Pangeran Ning — sebuah ruangan megah dengan pilar-pilar setinggi sepuluh meter, langit-langit yang dilukis dengan naga-naga emas, dan lantai marmer hitam yang dipoles hingga mengkilap. Semua bangsawan lokal hadir — duke, count, jenderal — semuanya duduk di kursi-kursi ukiran, wajah-wajah tegang.

Lord Hitam duduk di kursi hakim — bukan di singgasana, karena ia bukan Pangeran, tapi posisinya sebagai utusan Kaisar memberinya otoritas tertinggi di ruangan itu. Tianji duduk di samping kanannya, seperti yang diminta. Di belakang mereka, Yue'er dan Xiao Yu'er berdiri, siap siaga.

"Pangeran Ning," Lord Hitam memulai, suaranya bergema di aula. "Kau dituduh berkonspirasi dengan panglima perang utara untuk memberontak melawan tahta. Apa kau punya pembelaan?"

Pangeran Ning berdiri, wajahnya pucat tapi matanya tajam. "Aku tidak pernah —"

"Tunggu." Lord Hitam mengangkat tangan. "Sebelum kau menjawab, aku ingin saksi memberi keterangan."

Ia menunjuk Liu Dahan yang berdiri di samping pilar. "Liu Dahan — mantan algojo istana, kini pengawal pribadi Pangeran Ning. Kau yang paling tahu aktivitas Pangeran dalam setahun terakhir. Katakan pada sidang ini: apa Pangeran Ning bersalah?"

Liu Dahan menatap Lord Hitam. Dadanya naik turun. Tianji bisa merasakan pergulatan dalam diri pria itu — antara kesetiaan pada Pangeran Ning dan tekanan Lord Hitam.

"Aku… tidak bisa menjawab," kata Liu Dahan akhirnya.

"Tidak bisa? Atau tidak mau?"

"Pangeran Ning adalah pria yang baik. Tapi…" Liu Dahan mengepalkan tangannya. "Tapi ada surat-surat. Surat-surat yang kukirim ke utara — atas perintahnya."

Ruangan itu mendadak gaduh. Tianji menatap Liu Dahan dengan tidak percaya. Itu tidak benar — ia bisa lihat dari wajah Liu Dahan bahwa itu bohong. Tapi kenapa?

Lord Hitam tersenyum tipis — senyum kemenangan.

"Terima kasih, Liu Dahan. Kesaksianmu —"

"CUKUP!"

Tianji bangkit, suaranya memecah keheningan. Semua mata menoleh padanya.

"Aku Xiao Tianji," katanya, suaranya lantang. "Aku bukan siapa-siapa di istana ini. Tapi aku tahu satu hal: kesaksian itu palsu."

"Anak muda —"

"Diam kau!" Tianji menunjuk Lord Hitam. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Liu Dahan, tapi aku tahu dia berbohong. Dia tidak akan pernah mengkhianati Pangeran Ning. Karena —"

"Karena apa?"

"Karena Pangeran Ning menyelamatkan hidupnya dua puluh tahun lalu. Karena Pangeran Ning yang membesarkan putrinya saat Liu Dahan melarikan diri. Kesetiaan seperti itu tidak bisa dibeli dengan ancaman."

Lord Hitam menatap Tianji dengan ekspresi yang sulit dibaca. Untuk pertama kalinya, senyumnya hilang.

"Kau tahu," katanya pelan, "aku suka orang yang punya pendirian. Tapi di istana, pendirian hanya membuat leher kau lebih mudah dipenggal."

"Aku tidak takut."

"Seharusnya kau takut."

Mereka beradu pandang — Tianji dan Lord Hitam — di tengah aula sidang yang hening. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan prajurit-prajurit istana pun terdiam, tangan mereka di gagang pedang, menunggu perintah.

"Awas," bisik Xiao Yu'er di belakang Tianji. "Dia akan —"

Tapi Lord Hitam hanya tersenyum — senyum yang berbeda. Bukan senyum dingin, bukan senyum mengejek, tapi senyum yang hampir… menghargai.

"Baik. Sidang ditunda. Aku perlu bicara empat mata dengan saksi muda kita."

Ia turun dari kursi hakim, berjalan melewati para bangsawan yang terperangah, dan berhenti di depan Tianji.

"Kau punya nyali. Aku suka itu. Tapi nyali saja tidak cukup." Ia membungkuk, berbisik di telinga Tianji. "Besok kita berangkat ke Lembah Naga Tidur. Pangeran Ning akan selamat — kau sudah menang untuk hari ini. Tapi ingat: di dunia ini, setiap kemenangan kecil adalah hutang yang harus dibayar. Dan aku akan menagihnya."

Lord Hitam melangkah pergi, jubah putihnya berkibar, meninggalkan Tianji berdiri di tengah aula — sendirian di antara seratus pasang mata yang menatapnya dengan campuran kagum, takut, dan iba.

Yue'er meraih tangan Tianji.

"Kau bodoh sekali," bisiknya.

"Aku tahu."

"Tapi kau bodoh yang hebat."

Tianji hampir tersenyum. Tapi di dalam hatinya, kata-kata Lord Hitam masih bergema: "Setiap kemenangan kecil adalah hutang yang harus dibayar."

Dan ia tahu — Lord Hitam bukan tipe orang yang melupakan hutang.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 28: ISTANA PANGERAN NING BAB 30: PILIHAN →