Batu-batu berhamburan, debu memenuhi udara, dan cahaya lentera menyilaukan mata. Tianji berdiri kaku, tangannya sudah di gagang pedang, tubuhnya siap bergerak. Tapi Lord Hitam tidak menyerang.
Lord Hitam hanya berdiri di sana, tersenyum, tangannya dimasukkan ke dalam saku jubah putihnya seperti orang yang sedang menikmati pertunjukan.
"Liu Dahan," katanya tanpa menoleh. "Anak perempuanmu ternyata lebih cantik dari yang kubayangkan."
"Aku bukan barang yang bisa kau nilai!" Yue'er melangkah maju, matanya menyala. "Dan kau — kau iblis berjubah putih — aku tidak takut padamu!"
Lord Hitam terkekeh. "Berani. Aku suka. Tapi keberanian tanpa kekuatan hanya membuat mati lebih cepat."
"Yue'er!" Liu Dahan berlari, mendorong Lord Hitam, berlutut di depan putrinya. Tangannya — kasar dan penuh luka — menyentuh wajah Yue'er dengan lembut. "Kau… kau benar-benar kembali. Aku pikir kau —"
"Bilang 'mati' dan aku pukul kau," geram Yue'er, tapi matanya basah. "Dasar Ayah bodoh. Bertahun-tahun kau pergi, bertahun-tahun aku menunggu — dan begitu ketemu, kau ada di tengah masalah istana?"
Liu Dahan tertawa getir. "Maaf, Nak. Ayah memang selalu membawa masalah."
"Sudah cukup," potong Lord Hitam, suaranya dingin. "Reuni yang mengharukan. Tapi kita punya urusan yang lebih penting."
Ia melangkah ke arah Tianji — dan untuk pertama kalinya, matanya benar-benar fokus pada pemuda itu. Dari atas ke bawah, seperti pembeli yang menilai barang dagangan.
"Xiao Tianji. Enam belas tahun. Pewaris terakhir Teknik Penyerap Lautan. Murid terakhir Xuan Qingzi dari Gunung Qingcheng. Telah menguasai MP Lv2 dan memiliki Pedang Penyerap Lautan asli."
Tianji tidak bergerak. Tidak bicara. Ia hanya menatap Lord Hitam dengan mata yang datar — tapi di dalam dadanya, jantungnya berdegup seperti genderang.
"Aku tahu segalanya tentangmu, Anak Muda," Lord Hitam tersenyum. "Kau bertanya-tanya, 'kenapa dia tahu?' Sederhana saja: aku sudah mengikutimu sejak kau meninggalkan desa. Sejak kau di Gunung Qingcheng. Sejak kau membunuh Rahang Maut pertama —"
"Itu aku yang —"
"Diam," potong Xiao Yu'er, menarik lengan Xiao Yu'er yang lain. "Dia hanya mau lihat reaksimu."
Lord Hitam menatap Xiao Yu'er dengan rasa tertarik. "Dan kau — Xiao Yu'er. Pelarian Mawar Hitam. Pembunuh bayaran cilik yang mencuri resep racun Kembang Seribu Warna. Harga di kepalamu — dua ribu keping emas."
Xiao Yu'er diam. Tapi di balik topinya, tangannya gemetar.
"Tenang," Tianji akhirnya bicara, suaranya rendah tapi jelas. "Dia tidak akan membunuh kita di sini."
"Oh? Kenapa kau pikir begitu?"
"Karena kau bisa membunuh kami saat pertama kali bertemu di laut. Tapi kau tidak. Kau menunggu. Kau mengatur pertemuan ini." Mata Tianji menembus Lord Hitam. "Kau butuh sesuatu dariku."
Keheningan.
Kemudian Lord Hitam tertawa — tawa yang tulus, untuk pertama kalinya. "Cerdas. Sangat cerdas. Xuan Qingzi benar-benar memilih murid yang tepat."
Ia berbalik, berjalan kembali ke kursinya, duduk dengan anggun seperti kaisar yang menghadiri persembahan.
"Duduk. Kita bicara."
Tidak ada yang bergerak.
"Aku bilang — duduk."
Pangeran Ning — yang sejak tadi diam — menghela napas dan duduk di singgasananya. Liu Dahan membimbing Yue'er ke kursi samping. Xiao Yu'er dan Tianji tetap berdiri.
"Baik," Lord Hitam mengangguk. "Dengar, karena aku hanya akan menjelaskan sekali."
Ia mengeluarkan sebuah gulungan — dokumen resmi dengan stempel naga emas — dan membentangkannya.
"Ini adalah perintah rahasia dari Kaisar. Bukan untuk menjatuhkan Pangeran Ning — itu hanya cerita penutup. Tujuan sebenarnya dari kedatanganku ke sini adalah…"
Ia berhenti, matanya menatap Tianji.
"…menemukan makam leluhur Teknik Penyerap Lautan."
Udara di ruangan itu terasa berubah. Liu Dahan pucat. Pangeran Ning menatap Tianji dengan tidak percaya. Bahkan Xiao Yu'er — yang biasanya tenang — membuka mulut sedikit.
"Apa?" suara Tianji serak.
"Aku tidak akan bicara basa-basi," kata Lord Hitam, suaranya tiba-tiba serius tanpa senyum. "Kaisar kita — Tuanku — sedang sakit. Penyakit aneh yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun. Tapi ada legenda — legenda dari zaman leluhur — tentang Teknik Penyerap Lautan yang bisa menyembuhkan penyakit apa pun."
"Itu hanya legenda."
"Mungkin. Tapi Kaisar percaya. Dan saat Kaisar percaya, kita semua harus percaya — atau mati."
Lord Hitam berdiri, berjalan mendekati Tianji.
"Aku dikirim untuk mencarimu. Bukan untuk membunuhmu — kalau itu tugasku, kau sudah mati di Pulau Terbang. Tapi untuk membawamu ke ibu kota. Untuk membuka rahasia Teknik Penyerap Lautan."
"Dan Pangeran Ning?" tanya Yue'er tajam. "Semua tuduhan pemberontakan?"
"Sayangnya," Lord Hitam tersenyum tipis, "Pangeran Ning memang berniat memberontak. Itu tidak palsu. Tapi Kaisar belum tahu — dan aku bisa 'menghilangkan' bukti-bukti itu. Dengan satu syarat."
Ia menatap Tianji.
"Kau ikut denganku ke ibu kota. Sukarela. Dan kau membantuku mencari obat untuk Kaisar."
Tianji terdiam.
Di kepalanya, seribu pikiran berputar. Lord Hitam — musuh paling berbahaya — menawarkan tawaran. Tapi tawaran itu seperti jaring laba-laba: indah di luar, mematikan di dalam.
"Dan setelah itu?" tanya Tianji. "Setelah aku membantumu? Apa kau akan membiarkan kami pergi?"
Lord Hitam tertawa lagi — tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. "Setelah itu? Aku tidak tahu. Mungkin aku bunuh kalian semua. Mungkin aku biarkan kalian pergi. Mungkin aku jadikan kau muridku."
"Kau gila."
"Mungkin. Tapi orang gila yang jujur lebih baik daripada orang waras yang munafik, bukan?"
Pangeran Ning tiba-tiba berdiri, wajahnya merah padam. "CUKUP! Lord Hitam, kau datang ke istanaku, kau mengancam keluargaku, kau menodai namaku — dan sekarang kau berani menawar seperti ini?"
"Duduk, Paman. Jangan buat aku kehilangan kesabaran."
"Kau pikir aku takut? Aku anggota keluarga kerajaan! Aku —"
"DUDUK."
Suara Lord Hitam tidak keras. Tapi ada sesuatu dalam nada itu — sesuatu yang membuat ruangan terasa lebih dingin, dan Pangeran Ning jatuh duduk kembali, wajahnya pucat pasi.
Liu Dahan menatap Tianji. "Anak Muda," katanya perlahan. "Jangan dengar omongannya. Lord Hitam tidak bisa dipercaya. Apapun tawarannya — itu jebakan."
"Ayah benar," sambung Yue'er. "Kita bisa kabur. Malam ini juga. Aku kenal semua lorong —"
"Dan pergi ke mana?" Tianji bertanya pelan. "Lord Hitam tahu di mana kita berada. Mawar Hitam mengincar kita. Dan kau, Yue'er — ayahmu ada di sini. Kau mau meninggalkannya lagi?"
Yue'er menggigit bibirnya. Air mata menggenang, tapi tidak jatuh.
"Bocah itu benar," kata Lord Hitam, kembali duduk, mengambil tehnya. "Kalian tidak punya pilihan. Atau setidaknya — kalian punya ilusi pilihan. Yang satu: kalian ikut aku, Pangeran Ning selamat, Liu Dahan selamat, dan kalian punya kesempatan untuk melawanku nanti. Yang dua: kalian melawan sekarang, semua mati — Pangeran Ning dieksekusi, Liu Dahan digantung, anak-anak muda diburu seperti binatang."
Ia menyesap tehnya.
"Aku tunggu jawabanmu, Xiao Tianji. Tapi jangan terlalu lama — kesabaranku tidak seputih jubahku."
Malam itu, Tianji duduk sendirian di taman Istana Pangeran Ning — sebuah taman yang indah dengan kolam ikan koi dan pohon sakura yang mulai mekar. Lord Hitam memberi mereka waktu hingga fajar.
Yue'er datang, duduk di sampingnya. Tidak bicara.
Xiao Yu'er berdiri di belakang, bayangannya panjang di bawah sinar bulan.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," Tianji akhirnya bicara, suaranya serak. "Di laut, aku tahu apa yang harus kulakukan — lawan atau lari. Tapi di istana… semuanya seperti jaring laba-laba. Setiap langkah salah berarti maut."
"Kau takut?" tanya Yue'er, bukan mengejek, tapi sungguh-sungguh.
"Ya."
"Bagus. Orang yang tidak takut adalah orang yang sudah mati."
Yue'er mengambil tangan Tianji. Tangannya hangat, kuat — anehnya, itu membuat Tianji merasa sedikit lebih tenang.
"Ayahku pernah bilang," kata Yue'er perlahan, "ada dua jenis orang di dunia ini. Yang pertama — mereka yang memilih jalan yang mudah. Yang kedua — mereka yang memilih jalan yang benar. Jalan yang mudah seringnya berakhir di jurang. Jalan yang benar… mungkin berdur, mungkin berdarah — tapi setidaknya kau bisa tidur nyenyak di malam hari."
"Jadi menurutmu aku harus tolak tawarannya?"
"Aku tidak bilang itu. Aku bilang: pilih jalan yang benar — untukmu, bukan untuk Lord Hitam, bukan untuk Kaisar, bukan untuk siapapun."
Tianji menatap Yue'er. Di bawah sinar bulan, gadis itu terlihat berbeda — tidak lagi gadis ceria yang bicara tanpa henti, tapi seseorang yang sudah melihat terlalu banyak dalam usianya yang delapan belas tahun.
"Kadang," Tianji bergumam, "aku lupa kalau kau lebih tua dariku."
"Lebih tua, lebih bijak, lebih cantik — apa lagi yang kau lupakan?"
Yue'er tersenyum — senyum khasnya, nakal dan cerah, yang membuat Tianji hampir lupa bahwa mereka di ambang kematian.
"Baik," Tianji berdiri, jantungnya berdegup lebih ringan. "Aku sudah putuskan."
"Keputusan apa?"
"Aku akan terima tawarannya."
"APA?!"
"Dengar dulu." Tianji menatap Yue'er dan Xiao Yu'er dengan serius. "Aku akan ikut Lord Hitam ke ibu kota. Tapi bukan untuk menyerah. Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya dia inginkan. Aku akan mencari kelemahannya. Dan saat waktunya tiba — aku akan menghancurkannya."
"Kau gila," Xiao Yu'er menggeleng. "Dia akan membunuhmu sebelum kau sempat melakukannya."
"Mungkin. Tapi ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yue'er dan Pangeran Ning. Dan ini juga satu-satunya cara untuk mendekati Lord Hitam — untuk mengetahui rahasianya."
"Kalau kau mati?"
"Maka… setidaknya aku mati dengan mataku terbuka."
Yue'er memukul lengan Tianji — keras. "Jangan bicara omong kosong! Kau tidak akan mati! Aku tidak akan biarkan kau mati!"
"Kau ikut?"
"Tentu saja aku ikut! Kau pikir aku akan tinggal di istana sementara kau pergi dengan iblis berjubah putih itu?"
Tianji tersenyum — senyum langka yang jarang terlihat. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Nanti kalau kita semua mati, baru kau minta maaf — dan aku akan memaafkanmu hanya kalau di alam baka ada mie ayam enak."
Xiao Yu'er menghela napas panjang. "Kalian berdua… benar-benar gila. Tapi kurasa aku ikut. Karena kalau kalian mati, siapa yang akan membalaskan dendam Mawar Hitam buatku?"
Mereka tertawa — tawa kecil di malam yang suram.
Tapi di jendela lantai atas, Lord Hitam menatap mereka dengan senyum tipis. Di tangannya, secarik surat — dari ibu kota. Istrinya sedang sakit parah, kata surat itu. Tapi Lord Hitam tidak membaca surat itu. Matanya hanya tertuju pada tiga anak muda di taman.
"Bermainlah, tikus-tikus kecil," bisiknya. "Karena permainan ini baru saja dimulai."