๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 97: CERITA SEBELUM TIDUR

← BAB 96: ARUNA BAB 98: REUNI →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Malam telah turun di Desa Muara. Lampu-lampu minyak mulai dinyalakan satu per satu dari rumah ke rumah, menciptakan titik-titik kunang-kunang di kegelapan. Dari dapur, aroma ikan bakar dan sambal tercium menggoda. Suara cicak berbunyi ritmis, bercampur dengan debur ombak yang tenang.

Aruna duduk di pangkuan Tianji, kedua matanya masih melek meskipun waktu tidur sudah lewat. Ia memegang erat boneka kain pemberian ibunya, boneka yang wajahnya mulai pudar karena terlalu sering dipeluk.

"Ayah," katanya dengan suara merengek khas anak kecil yang ingin menunda tidur, "cerita lagi. Cerita tentang naga laut."

"Tadi malam sudah," jawab Tianji sambil mengusap rambut putrinya. "Naga lautnya sudah ketiduran."

"Ayah bohong! Naga laut tidak tidur."

"Oh ya? Siapa bilang?"

"Mbak Rina bilang. Katanya naga laut menjaga harta karun. Jadi naga laut harus selalu melek."

Tianji tertawa. "Mbak Rina itu pandai bercerita. Tapi pendengarnya harus pandai membedakan mana cerita dan mana kenyataan."

"Ayah, Ayah yang bercerita saja. Aku janji nanti langsung tidur."

Yue'er yang sedang menjahit di sudut ruangan hanya tersenyum. Ia sudah hafal betul drama setiap malam iniโ€”Aruna akan merengek minta cerita, Tianji akan memberinya cerita, dan cerita itu akan lebih panjang dari yang direncanakan. Namun Yue'er tak pernah keberatan. Baginya, pemandangan Tianji dan Aruna berdua adalah pemandangan paling indah di dunia.

"Ayo, Ayah," desak Aruna. "Cerita yang baru. Yang belum pernah diceritakan."

Tianji berpikir sejenak. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah laut yang gelap. Di kejauhan, lampu sebuah perahu nelayan berkedip-kedip seperti bintang jatuh yang tersesat.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Ayah akan bercerita tentang seorang pemuda. Seorang pemuda yang lahir di tepi laut."

"Seperti Ayah?"

"Seperti Ayah."

Aruna menyenderkan kepalanya di dada Tianji, matanya mulai sayu namun tetap fokus. Tianji menghela napas panjang, lalu mulai bercerita.

"Dahulu kala, di sebuah desa nelayan yang tidak berbeda dengan desa kita, hidup seorang pemuda. Sebut saja namanya… Tian. Ia yatim piatu sejak kecil. Ayahnya pergi melaut dan tak pernah kembali. Ibunya meninggal karena sakit tak terobati."

"Sedih," gumam Aruna.

"Ya. Tapi Tian tidak menyerah. Setiap hari ia bangun sebelum matahari terbit, pergi ke laut, dan memancing. Ia hidup sebatang kara, sendirian di gubuk reyot tepi pantai. Kadang-kadang ia hanya makan singkong rebus dan ikan kecil yang ia tangkap sendiri."

"Ayah pernah lapar?"

Tianji tersentak. Pertanyaan Aruna begitu lugas menusuk.

"Pernah," jawabnya pelan. "Kadang akuโ€”maksudku, Tianโ€”pernah kelaparan sampai kepalanya pusing dan tangannya gemetar."

"Tapi kenapa tidak minta tolong tetangga?"

"Karena kadang," Tianji mencari kata-kata yang tepat, "kadang kita merasa bahwa beban kita adalah beban kita sendiri. Kita takut merepotkan orang lain."

Aruna mengerutkan dahi. "Ayah, kalau Aruna lapar, Aruna bilang sama Ibu."

Tianji tersenyum. "Kau lebih pintar dari Tian."

"Tian bodoh sekali."

"Ya. Tian bodoh. Tapi suatu hari, takdir membawa Tian ke sebuah pulau. Pulau yang tidak ada di peta mana pun. Di pulau itu, ia bertemu dengan seorang lelaki tua berjubah putih yang tinggal di sebuah goa."

"Ah! Pasti itu pertapa sakti!" seru Aruna antusias.

Tianji tertawa. "Kau sudah nonton terlalu banyak sandiwara keliling."

"Jadi benar, kan?"

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi benar, lelaki tua itu memanggil Tian. Dan Tian, karena tidak punya apa-apa lagi yang bisa hilang, mengikutinya."

Dengan suara perlahan, Tianji mulai bercerita tentang pertemuannya dengan Guru Lautโ€”meskipun dalam ceritanya, ia menyebutnya sebagai "Kakek Bijak dari Pulau Kabut." Ia bercerita tentang latihan-latihan berat, tentang meditasi selama berhari-hari di tepi tebing, tentang ilmu-ilmu rahasia yang hanya diajarkan kepada satu murid seumur hidup.

"Kakek Bijak itu mengajarkan Tian cara mendengar," kata Tianji. "Bukan hanya mendengar dengan telinga, tapi mendengar dengan hati. Ia bilang, laut punya suara. Batu punya suara. Angin punya suara. Dan jika kau bisa mendengar semua suara itu, kau bisa mengerti dunia."

Aruna manggut-manggut serius. "Aku juga bisa mendengar suara laut, Ayah. Tapi pasti tidak sesakti Tian."

"Setiap orang punya bakat masing-masing," jawab Tianji diplomatis. "Tian mungkin bisa mendengar suara laut, tapi ia tidak bisa menangkap ikan sebanyak paman-paman nelayan di desa kita. Ia juga tidak bisa memasak seenak Ibu."

"Ah, Ayah memang payah masak."

Semua tertawa, termasuk Yue'er yang ikut menyimak cerita sambil menjahit.

"Lanjut, Ayah," pinta Aruna. "Apa yang terjadi dengan Tian setelah belajar dari Kakek Bijak?"

Tianji diam sejenak. Wajahnya menerawang jauh. Di dalam ingatannya, ia melihat kembali pertempuran-pertempuran yang tak pernah ia inginkan, darah yang tak pernah ia minta, dan pengkhianatan yang hampir menghancurkannya.

"Ia keluar dari pulau itu dengan kekuatan yang luar biasa," kata Tianji perlahan. "Ia bisa memanggil ombak. Ia bisa melompat lebih tinggi dari pohon kelapa. Ia bisa merasakan kehadiran musuh dari jarak bermil-mil."

"Wah, hebat!"

"Tapi kekuatan itu," Tianji menekankan, "membawa banyak masalah. Karena Tian mulai mencari musuh. Ia ingin balas dendam atas kematian orang tuanya. Ia marah pada dunia yang kejam padanya."

"Balas dendam itu tidak baik, kata Bu Guru," Aruna berkata polos.

"Bu Gurumu benar. Tapi Tian belum tahu itu. Ia masih muda, bodoh, dan penuh amarah. Jadi ia berkelana, mencari orang-orang yang pernah menyakiti keluarganya. Satu per satu ia kalahkan. Satu per satu ia tumbangkan."

"Apa Tian jadi jahat?"

"Tidak." Tianji menggeleng. "Tidak sepenuhnya. Ia hanya tersesat. Ia pikir kekuatan akan membuatnya bahagia. Ia pikir kemenangan akan mengobati lukanya."

"Terus?"

"Lama-lama Tian sadar bahwa semakin banyak musuh yang ia kalahkan, semakin kesepian ia. Semakin banyak darah yang ia tumpahkan, semakin hampa hatinya. Ia punya kekuatan untuk menghancurkan gunung, tapi tidak bisa menghilangkan rasa sakit di dadanya."

Aruna diam. Matanya menerawang, mencoba memahami kata-kata ayahnya yang terlalu dewasa untuk usianya.

"Lalu Tian bertemu seseorang," Tianji melanjutkan. "Seorang wanita yang tidak takut padanya. Seorang wanita yang… melihatnya bukan sebagai pendekar atau monster, tapi sebagai manusia biasa."

"Siapa namanya?"

"Ayu."

"Oh." Aruna menoleh ke arah ibunya. "Seperti nama Ibu?"

"Mirip," Tianji tersenyum. "Ayu mengajarkan Tian bahwa kekuatan bukanlah segalanya. Ayu bilang, 'Kau bisa menyerap seluruh lautan, tapi jika hatimu kosong, kau tetap akan haus.'"

"Ayu galak juga, ya?"

"Galak sekali. Tapi galaknya baik."

Tianji kemudian bercerita tentang perjalanan Tian dan Ayu, tentang petualangan mereka melawan musuh-musuh besar, tentang pengorbanan dan persahabatan. Tentu saja, ia mengubah nama-nama dan beberapa detailโ€”ia tidak akan menceritakan kekejaman sesungguhnya dari dunia persilatan kepada anak berusia tiga tahun.

"Pada akhirnya," Tianji menyimpulkan, "Tian dan Ayu memutuskan untuk berhenti. Mereka pergi ke sebuah desa kecil di tepi pantai, tempat yang tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun. Mereka membangun rumah, menanam sayur, dan suatu hari, mereka dikaruniai seorang putri yang lucu dan nakal."

"Seperti aku?" Aruna menunjuk dirinya sendiri.

"Persis seperti kau."

Aruna tersenyum lebar. Tianji mencium keningnya.

"Ayah," tiba-tiba Aruna bertanya dengan serius, "apa Ayah seorang pendekar?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Yue'er berhenti menjahit, matanya terpaku pada suaminya.

Tianji menatap putrinya. Di mata hitam Aruna, ia melihat keingintahuan yang murni, tanpa agenda, tanpa penilaian. Hanya rasa ingin tahu seorang anak pada orang tuanya.

Ia berpikir sejenak tentang jawabannya. Wajah-wajah yang pernah ia lihatโ€”yang ia selamatkan dan yang ia bunuh. Kehidupan yang ia ambil dan kehidupan yang ia beri. Ia bisa mengaku, bisa berbohong, atau bisa menghindar.

"Ayah hanya seorang nelayan," jawab Tianji akhirnya. "Seorang nelayan yang pernah… bermimpi."

"Mimpi apa?"

"Mimpi tentang menjadi seseorang yang penting. Tentang mengubah dunia. Tentang membalaskan dendam."

"Ayah tidak jadi?"

"Tidak." Tianji menggeleng. "Karena Ayah sadar bahwa hal terpenting di dunia ini bukanlah menjadi pahlawan atau pendekar. Hal terpenting adalah pulang ke rumah dan melihat orang-orang yang kita cintai tersenyum."

Aruna memeluk Tianji erat-erat. "Ayah tetap pendekar untuk Aruna."

Tianji terharu. Ia membalas pelukan putrinya, menekan dadanya yang tiba-tiba sesak.

"Ya," bisiknya. "Ayah pendekar untuk Aruna. Hanya untuk Aruna."

"DAN Ibu!" Aruna menambahkan.

"Ya, dan untuk Ibu."

Yue'er menghapus air matanya diam-diam. Ia tidak tahu bahwa Tianji bisa menjadi selembut ini. Lelaki yang dulu ia kenal sebagai penguasa lautan, pejuang tanpa ampun, kini duduk di lantai bambu dengan boneka kain di satu tangan dan putrinya di tangan lain.

"Ayah," Aruna berkata lagi, suaranya mulai mengantuk, "ceritakan lagi besok."

"Tentu."

"Aku suka cerita Tian."

"Tian pasti senang mendengarnya."

"Apa Tian nyata?"

Tianji tersenyum. "Nyata atau tidak, yang penting pelajarannya. Tian belajar bahwa kekuatan besar tidak selalu membuat seseorang hebat. Yang membuat seseorang hebat adalah bagaimana ia menggunakan kekuatan ituโ€”atau memilih untuk tidak menggunakannya."

"Tapi kan Tian pakai kekuatannya untuk melindungi Ayu?"

"Itu benar. Tapi pada akhirnya, Tian meninggalkan semua kekuatannya. Ia memilih menjadi nelayan biasa. Karena kekuatan yang sesungguhnya bukanlah yang ada di otot atau di tenaga dalam, melainkan yang ada di hati."

Aruna mengangguk, walaupun setengahnya sudah tidak mengerti. Namun ia menyimpan kata-kata ayahnya di suatu tempat di dalam ingatannya yang masih muda.

"Tidurlah," bisik Tianji. "Besok Ayah ajak kau ke pantai. Kita cari kerang."

"Iya, Ayah."

Tianji membaringkan Aruna di dipan. Yue'er datang, menyelimuti putri mereka dengan kain katun tipis. Mereka berdua berdiri di samping dipan, memandangi wajah Aruna yang damai dalam tidurnya.

"Cerita yang bagus," bisik Yue'er.

"Kau pikir ia percaya?"

"Percaya atau tidak, yang penting ia tidur."

Tianji tersenyum. Mereka berdua berjalan ke luar, duduk di teras. Bulan sabit menggantung di atas laut, menciptakan bayangan perak di permukaan air.

"Aku tidak bilang seluruh kebenaran," kata Tianji tiba-tiba.

"Aku tahu."

"Tapi aku tidak bisa mengarang kebohongan yang sempurna juga."

"Aku tahu," Yue'er mengulangi. "Aku dengar nama Ayu."

Tianji menoleh. "Aku tidak bermaksudโ€”"

"Aku tidak cemburu," Yue'er memotong, tersenyum. "Aku hanya… terharu. Bahwa wanita dalam ceritamu itu akhirnya menikah dengan Tian. Bahwa mereka punya anak. Bahwa Tian memilih untuk berhenti dan hidup damai."

"Kau tidak keberatan aku menggunakan nama yang mirip dengan namamu?"

"Menurutku itu romantis."

Mereka berdua tertawa pelan, tidak ingin membangunkan Aruna.

"Tapi aku bingung," Yue'er melanjutkan. "Kau ajari Aruna tentang laut, tentang perasaan terhadap alam. Tapi kau tidak ajari ia satu jurus pun."

"Belum waktunya."

"Kapan waktunya?"

Tianji diam. Ia memandangi punggung tangannyaโ€”tangan yang pernah mengeluarkan energi Dashui Shenfa, tangan yang pernah menghancurkan seluruh armada bajak laut. Kini tangan yang sama menangkap ikan dan membelah kayu bakar.

"Aku berharap tidak pernah," jawabnya jujur. "Aku berharap ia tidak perlu belajar silat. Aku berharap ia bisa hidup sebagai gadis biasa, menikah dengan nelayan biasa, dan meninggal sebagai nenek biasa."

"Tapi jika ia mewarisi Harta Lautan?"

"Maka aku akan mengajarinya. Tapi aku akan memastikan ia tidak membuat kesalahan yang sama sepertiku."

Yue'er memegang tangan Tianji. "Kau terlalu keras pada dirimu sendiri. Kesalahan masa lalumu bukanlah dosa yang tak terampuni."

"Aku pernah membunuh orang, Yue'er. Banyak orang."

"Dan aku pernah menjadi budak dari seorang lelaki kejam. Kita semua punya masa lalu."

Tianji menelan ludah. "Kadang aku bertanya-tanya, apa layak aku bahagia setelah semua yang kulakukan."

Yue'er memeluknya dari samping. "Kau tidak perlu layak. Kau hanya perlu hidup. Dan hidup yang kau jalani sekarangโ€”sebagai ayah bagi Aruna, sebagai suamikuโ€”itulah penebusanmu."

Mereka berdua diam, menikmati keheningan malam. Angin berbisik, membawa aroma garam dan ikan asin.

"Suatu hari," Tianji akhirnya berkata, "Aruna akan bertanya lagi. Lebih dalam. Dan aku harus menjawab dengan jujur."

"Bersiaplah untuk hari itu."

"Aku siap. Tapi tidak sekarang."

Di dalam rumah, Aruna bergerak gelisah dalam tidurnya. Ia bermimpi tentang laut yang luas, tentang seorang pemuda yang berdiri di atas ombak, tentang seekor naga raksasa yang berenang di kedalaman. Dalam mimpinya, ia mendengar suara ayahnya dari kejauhan, memanggil namanya dengan lembut.

"Aruna… Aruna…"

Ia tersenyum dalam tidurnya. Laut dalam mimpinya tenang, dan di tengah lautan itu, ia melihat bayangan ayahnyaโ€”seorang pendekar yang memilih untuk menjadi nelayan, seorang pahlawan yang memilih untuk menjadi ayah.

Dan ketika ia terbangun keesokan paginya, hal pertama yang ia lihat adalah senyum ayahnya yang sudah siap dengan jaring di tangan.

"Mau ikut ke pantai?" tanya Tianji.

"Mau!" seru Aruna, langsung melompat dari dipan.

Saat mereka berjalan bergandengan tangan menuju pantai, Aruna menatap ayahnya dengan penuh kekaguman. Di matanya, Tianji tetaplah pendekarโ€”bukan pendekar pedang atau pendekar tenaga dalam, tapi pendekar yang melindungi dunianya, yang membuatnya merasa aman setiap hari.

Dan bagi Tianji, itu sudah lebih dari cukup.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 96: ARUNA BAB 98: REUNI →