Pagi itu berbeda. Ada keanehan di udaraโsesuatu yang membuat Tianji terjaga lebih awal dari biasanya. Ia duduk di tepi dipan, mencoba merasakan denyut di sekelilingnya. Laut tenang. Angin normal. Tidak ada tanda bahaya.
Namun firasatnya berkata lain.
"Ibu," panggilnya pelan. "Aku akan ke dermaga."
Yue'er, yang sedang menyisir rambut panjangnya, menoleh. "Ada apa?"
"Tidak tahu. Rasanya seperti… ada yang datang."
Yue'er tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah cukup mengenal suaminya untuk tahu bahwa firasat Tianji jarang salah. Ia hanya mengangguk dan berkata, "Aku siapkan sarapan."
Tianji melangkah ke dermaga. Kabut pagih masih tipis, menggantung rendah di atas permukaan air. Para nelayan sudah sibuk dengan perahu mereka, mempersiapkan jala dan umpan.
"Tianji! Pagi!" sapa Pak Gede dari atas perahunya.
"Pagi, Pak Gede."
"Mau ikut melaut?"
"Tidak hari ini, Pak. Ada urusan."
Pak Gede mengangkat bahu dan melanjutkan pekerjaannya. Tianji berdiri di ujung dermaga, matanya menatap cakrawala. Di kejauhan, ia melihat titik hitam di tengah kabut.
Kapal.
Ia memicingkan mata. Bukan kapal nelayanโbentuknya terlalu ramping, terlalu cepat. Kapal itu meluncur dengan anggun, meninggalkan jejak buih putih di belakangnya.
Perlahan, kapal itu mendekat. Tianji bisa melihat sosok di haluanโseorang wanita berpakaian biru, rambutnya tergerai ditiup angin laut. Di sampingnya, seorang lelaki jangkung dengan bahu lebar, mengenakan jubah hitam sederhana.
Tianji tersenyum. "Akhirnya," bisiknya.
Kapal itu merapat di dermaga kecil desa. Beberapa nelayan menatap heranโmereka tidak pernah melihat kapal sebagus itu di desa mereka. Namun Tianji sudah melangkah maju, menyambut tamu yang turun.
Lady Hong melompat ke dermaga dengan lincah, meskipun usianya kini sudah kepala empat. Wajahnya masih cantik, dengan sedikit kerutan di sudut mata yang menunjukkan bahwa ia banyak tersenyum dalam hidupnya. Rambutnya yang panjang disanggul sederhana, dihiasi tusuk konde giok yang mahal.
"Tianji," sapanya, suaranya bergetar. "Akhirnya kami menemukanmu."
"Lady Hong," Tianji membalas dengan hormat. "Sudah lama."
"Sudah terlalu lama."
Di belakang Lady Hong, Liu Dahan turun dari kapal. Lelaki itu tampak lebih berisi dari sebelumnya, namun langkahnya masih ringan, tanda bahwa ia tidak pernah meninggalkan latihan silatnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat Tianji.
"Guru Muda Tianji!" seru Liu Dahan, langsung memeluk Tianji dengan erat. "Kau membuat kami mencari ke seluruh pelosok negeri!"
"Maaf," Tianji tersenyum canggung. "Aku memang sengaja bersembunyi."
"Kami tahu," Lady Hong berkata. "Tapi kami tidak peduli. Kami ingin bertemu denganmu."
Dari atas perahu, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun melompat turun, menghampiri Lady Hong. "Ibu, ini desa apa?"
"Ini Desa Muara, Xiao Li. Tempat tinggal paman yang Ibu ceritakan."
Xiao Li menatap Tianji dengan mata bundar penasaran. "Paman yang bisa mengendalikan laut?"
Tianji terkekeh. "Kau pasti anak Lady Hong."
"Anak bungsuku," Lady Hong mengelus kepala putranya. "Yang sulung sudah belajar di perguruan Gunung Es."
"Waktu berjalan cepat," Tianji bergumam.
*** Yue'er sudah menunggu di depan rumah ketika mereka tiba. Ia tersenyum ramah, meskipun ada sedikit kegugupan di matanya. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan kawan-kawan lama Tianji dari dunia persilatan.
"Selamat datang," sapa Yue'er. "Silakan masuk. Rumah kami sederhana, tapi cukup untuk tamu-tamu terhormat."
Lady Hong menatap Yue'er dengan saksama. Lalu ia tersenyum. "Jadi kau wanita yang berhasil menjinakkan Harta Lautan."
"Aku tidak menjinakkan siapa pun," jawab Yue'er tenang. "Aku hanya mencintainya."
"Maka kau lebih kuat dari seluruh pendekar Jianghu," Lady Hong membalas dengan tulus.
Mereka masuk ke dalam rumah. Aruna, yang baru bangun tidur, menggosok-gosok matanya dan menatap tamu-tamu asing itu dengan rasa ingin tahu.
"Ayah, siapa mereka?"
"Ini kakak-kakak Ayah dari masa lalu," jawab Tianji. "Bibi Hong dan Paman Liu."
"Bibi Hong?" Aruna menghampiri Lady Hong. "Bibi cantik sekali."
Lady Hong tertawa. "Anakmu ini pintar bicara. Siapa namanya?"
"Aruna."
"Aruna… nama yang indah. Seperti fajar."
Aruna tersipu. Ia segera akrab dengan Lady Hong, duduk di pangkuan wanita itu sambil bercerita tentang kerang yang ia kumpulkan kemarin.
Liu Dahan berkeliling rumah, mengamati setiap sudut. "Tempat yang tenang," komentarnya.
"Setenang yang kuinginkan," jawab Tianji.
"Kau tidak bosan?"
"Bosan?" Tianji mengulangi kata itu. "Setiap hari, aku bangun dengan suara ombak, menghabiskan waktu bersama putriku, dan tidur dengan damai. Bagaimana mungkin aku bosan?"
Liu Dahan menghela napas. "Aku iri padamu, Guru Muda."
"Jangan panggil Guru Muda lagi," Tianji memotong. "Aku bukan guru siapa pun. Aku hanya Tianji, nelayan Desa Muara."
Mereka duduk di ruang tengah. Yue'er menyajikan teh dan kue ketan. Aruna duduk di lantai, bermain dengan boneka kainnya sambil sesekali mencuri pandang ke arah Xiao Li, anak Lady Hong.
"Jadi," Tianji memulai, "apa yang membawa kalian ke sini? Pasti bukan sekadar kunjungan persahabatan."
Lady Hong dan Liu Dahan bertukar pandang. Ada keheningan singkat.
"Jianghu merindukanmu," kata Lady Hong akhirnya.
Tianji tersenyum pahit. "Jianghu tidak pernah merindukan siapa pun. Jianghu adalah tentang yang hidup dan yang mati. Yang kuat dan yang lemah."
"Kau salah," Liu Dahan menyela. "Setelah kau pergi, dunia persilatan terasa… hampa. Banyak cerita yang beredar tentangmu. Beberapa mengatakan kau tewas dalam pertempuran besar. Yang lain bilang kau mengasingkan diri di puncak gunung. Ada juga yang bilang kau berubah jadi naga dan tinggal di dasar laut."
Tianji tertawa. "Yang terakhir itu agak berlebihan."
"Tapi kau tetap meninggalkan jejak," kata Lady Hong. "Kisah Penyerap Lautan diceritakan di setiap kedai, di setiap perguruan. Banyak murid muda yang bercita-cita menjadi sepertimu."
"Semoga mereka tidak."
"Mengapa?"
"Karena menjadi sepertiku berarti kehilangan banyak hal." Tianji menatap Aruna yang sedang asyik bermain. "Aku kehilangan guruku. Aku kehilangan teman-temanku. Aku nyaris kehilangan diriku sendiri."
Lady Hong diam. Ia tahu apa yang Tianji maksud. Ia sendiri telah melihat kegelapan yang hampir menelan pemuda itu.
"Tapi Jianghu tetap berputar," lanjut Tianji. "Ada pahlawan-pahlawan baru yang lahir setiap hari. Mereka akan membuat cerita mereka sendiri. Ceritaku sudah selesai."
"Cerita para pendekar tidak pernah selesai," Lady Hong membantah. "Mereka hanya beristirahat."
"Kalau begitu, biarkan ceritaku beristirahat dalam damai."
*** Makan siang disiapkan bersama. Yue'er memasak gulai ikan khas Desa Muara, sementara Lady Hong, yang ternyata juga pandai memasak, membuat tumis kangkung dan sambal terasi. Liu Dahan, meskipun kikuk, membantu mengiris bawang di dapur.
"Ayolah, Paman Liu, jangan lambat-lambat," goda Aruna. "Nanti Ibu marah."
Liu Dahan terkekeh. "Kau ini anak umur tiga tahun, sudah berani menyuruh-nyuruh pendekar tingkat tinggi?"
"Pendekar tingkat tinggi yang takut sama bawang?" Aruna membalas.
Semua tertawa. Rumah panggung itu dipenuhi suara gelak tawaโsesuatu yang sudah lama tidak terjadi.
Saat makan, mereka bercerita tentang masa lalu. Lady Hong bercerita tentang aliansi yang terbentuk setelah perang melawan Iblis Laut, tentang perguruan-perguruan yang saling bermusuhan yang tiba-tiba berdamai setelah menyaksikan kekuatan Tianji.
"Kau menyatukan mereka," kata Lady Hong. "Bukan dengan kekuatan, tapi dengan rasa takut. Mereka takut jika tidak bersatu, kau akan menghancurkan mereka satu per satu."
"Aku tidak akan melakukan itu."
"Aku tahu. Tapi mereka tidak tahu."
Liu Dahan menambahkan, "Sekarang mereka hidup berdampingan dengan damai. Ironis. Seorang yang dijuluki 'Penyerap Lautan' berhasil menciptakan perdamaian hanya dengan eksistensinya."
"Aku tidak menciptakan apa pun," Tianji menggeleng. "Mereka yang memilih untuk berdamai. Aku hanya katalis."
"Katalis atau bukan, kau berjasa."
Tianji diam. Ia menatap Aruna yang sedang asyik menyantap ikan goreng. Ia tidak ingin putrinya tahu tentang masa lalunya yang kelam. Tidak sekarang. Mungkin tidak pernah.
"Ada satu hal lagi," Lady Hong berkata, suaranya menurun. "Gerakan bawah tanah para pengikut Iblis Laut belum sepenuhnya punah."
Tianji mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Mereka masih ada. Tapi mereka lemah, tidak terorganisir. Dan yang pentingโmereka tahu kau masih hidup. Mereka takut padamu."
"Biarkan mereka takut. Itu bukan urusanku lagi."
"Tapiโ"
"Lady Hong." Tianji meletakkan sumpitnya. "Aku menghargai kunjungan kalian. Sungguh. Tapi aku sudah meninggalkan dunia itu. Aku tidak akan kembali."
Lady Hong menghela napas. "Aku hanya khawatir suatu hari mereka akan menemukan desa ini."
"Biarkan mereka datang." Tianji tersenyum tenang. "Aku akan menyambut mereka. Bukan dengan Dashui Shenfa, tapi dengan secangkir teh dan pertanyaan mengapa mereka masih menyimpan dendam."
"Kau terlalu baik untuk dunia ini," Liu Dahan berkata sambil menggeleng.
"Atau dunia yang terlalu kejam untukku."
*** Sore harinya, Aruna dan Xiao Li bermain di pantai. Mereka berlari mengejar ombak, mengumpulkan kerang, dan membangun istana pasir yang segera dihancurkan ombak.
"Lihat! Aku dapet kerang besar!" seru Aruna.
"Aku juga!" jawab Xiao Li.
Tianji, Lady Hong, dan Liu Dahan duduk di atas batu karang, memandangi kedua anak itu bermain. Yue'er sedang memetik daun kemangi di kebun belakang.
"Anakmu mirip kau," kata Lady Hong. "Matanya, caranya tersenyum."
"Dan kekeraskepalaannya," Tianji menambahkan. "Ia bisa merengek selama berjam-jam untuk sesuatu yang ia inginkan."
"Itu dari ibunya."
"Jangan bilang begitu pada Yue'er."
Mereka tertawa.
"Kau tahu," Lady Hong melanjutkan, "kami tidak datang hanya untuk mengunjungimu."
"Aku tahu."
"Kami datang untuk melihat dengan mata kepala sendiri apakah kau benar-benar bahagia. Karena dalam setiap surat yang kau kirimโmeskipun hanya setahun sekaliโada ketenangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya."
"Aku bahagia," Tianji menjawab tanpa ragu. "Kali pertama dalam hidupku, aku benar-benar bahagia."
"Bagus." Lady Hong menepuk bahu Tianji. "Itu saja yang ingin kudengar."
Liu Dahan ikut bicara. "Kalau suatu hari kau bosan atau butuh bantuan, kau tahu di mana kami berada."
"Aku tahu." Tianji menatap kedua sahabatnya. "Terima kasih sudah datang."
"Jangan sungkan-sungkan," kata Liu Dahan. "Kami ini dulu satu perahu. Satu jalan. Satu perjuangan."
Mereka berjabat tangan. Tangan Tianji kasar karena kerja keras, berbeda dengan tangan Liu Dahan yang masih halus seperti pendekar pada umumnya. Namun dalam jabatan itu, ada kehangatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Satu hal," Lady Hong berkata sebelum mereka berpisah. "Aku ingin kau tahu: apa pun yang terjadi, kau selalu punya tempat di antara kami. Jianghu mungkin kejam, tapi persahabatan yang sejati tidak pernah mati."
Tianji menunduk. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih."
Malam harinya, Lady Hong dan Liu Dahan pamit. Kapal mereka berlayar menjauh, meninggalkan Desa Muara yang tenang. Aruna melambaikan tangan dari dermaga sampai kapal itu hilang dari pandangan.
"Ayah, Bibi Hong dan Paman Liu baik," kata Aruna.
"Mereka memang baik."
"Kenapa mereka pergi?"
"Mereka punya jalan masing-masing. Seperti kita punya jalan kita."
Aruna meraih tangan ayahnya. "Apakah Aruna akan punya jalan sendiri juga?"
Tianji menunduk, menatap putrinya. "Setiap orang punya jalan sendiri. Suatu hari nanti, kau akan menemukan jalanmu."
"Tapi Aruna tidak mau jalan sendiri. Aruna mau sama Ayah dan Ibu."
Tianji tertawa, menggendong putrinya. "Ayah juga tidak mau jalan sendiri. Makanya Ayah di sini, bareng Aruna dan Ibu."
Mereka berjalan pulang di bawah langit sore yang jingga. Di belakang mereka, jejak kaki di pasir perlahan terhapus ombak. Namun jejak persahabatan yang diperbarui hari ituโitu tidak akan pernah terhapus oleh waktu.
Di atas kapal, Lady Hong memandang ke arah desa yang semakin mengecil. "Ia berubah," katanya lirih.
"Berubah bagaimana?" tanya Liu Dahan.
"Dulu Tianji adalah samudra yang mengamuk. Sekarang ia seperti telaga yang tenang. Dalam, misterius, tapi damai."
"Itu karena istrinya."
"Dan karena putrinya." Lady Hong tersenyum. "Aku iri padanya. Ia menemukan apa yang kebanyakan dari kita cari seumur hidup."
"Apa itu?"
"Kedamaian."
Kapal berlayar ke arah matahari terbenam. Lautan terbentang luas, dan di kejauhan, burung camar berputar-putar. Dunia persilatan terus berputar tanpa Tianji. Dan Tianji terus hidup tanpa dunia persilatan.
Masing-masing memilih jalan mereka.
Dan masing-masingโsemogaโbahagia dengan pilihan itu.