Bulan telah berganti dua kali sejak Tianji kembali ke Desa Muara. Dua bulan penuh kehidupan baru — kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana setiap hari dimulai dengan suara ombak dan diakhiri dengan tawa ringan Yue'er.
Kini, di pagi yang cerah, Tianji duduk di beranda menganyam jala yang sobek. Matanya terpejam setengah, tangannya bergerak lincah memasukkan tali nilon ke lubang-lubang jaring. Tangannya tidak lagi putih mulus seperti dulu — kini warnanya cokelat gelap, dengan kapalan di telapak dan jari-jari yang tebal.
"Nah, kau sudah terlihat seperti nelayan sungguhan," suara Yue'er terdengar dari dalam gubuk.
Tianji tidak menoleh. "Aku memang nelayan sungguhan."
"Ya, ya, nelayan paling tampan di Desa Muara." Yue'er keluar dengan membawa nampan berisi pisang goreng dan teh manis hangat. "Aku buatkan kau cemilan. Istirahat dulu."
Tianji meletakkan jala dan mengambil pisang goreng. Gigitan pertamanya langsung membuat matanya berbinar. "Enak sekali! Apa rahasianya?"
"Rahasianya adalah tepung beras campur sedikit tepung terigu, dan minyaknya harus benar-benar panas sebelum menggoreng." Yue'er duduk di sampingnya. "Kau harus tahu, di pasar malam, resep ini bisa laku keras. Dulu aku pernah berjualan pisang goreng di pinggir jalan, dalam sehari bisa habis seratus biji."
"Seratus biji?" Tianji terkejut. "Kau goreng sendiri?"
"Tentu saja sendiri. Siapa lagi? Aku tidak punya pembantu seperti anak bangsawan."
Tianji menggelengkan kepala. "Kau benar-benar gadis yang kuat, Yue'er."
"Masa?" Yue'er menyandarkan dagu di tangannya. "Aku tidak merasa kuat. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."
"Tapi kau tetap ceria."
Yue'er diam sejenak, lalu tersenyum kecil. "Ceria lebih baik daripada sedih, Tianji. Kalau aku bersedih terus, siapa yang akan menghiburku? Tidak ada. Jadi aku memilih untuk ceria. Itu lebih murah dan tidak perlu obat."
Tianji menatapnya. Bagi orang lain, mungkin Yue'er terlihat seperti gadis biasa yang periang dan ceroboh. Tapi Tianji tahu — di balik senyumnya, ada luka-luka yang belum sembuh. Di balik tawanya, ada kesedihan yang disembunyikan.
Ia meraih tangan Yue'er. "Kau tidak perlu bersedih sendiri. Aku di sini."
Yue'er terkejut, lalu pipinya merona. "A-aku tahu kau di sini. Tapi kau adalah seorang nelayan yang harus melaut setiap hari."
"Dan kau adalah gadis yang menungguku di dermaga setiap sore."
"Kau perhatikan?" Yue'er tersipu.
"Tentu. Aku selalu melihatmu."
Udara di antara mereka tiba-tiba terasa hangat. Yue'er menunduk, jari-jarinya memainkan ujung kain sarungnya. "Tianji… kau tahu, sejak aku kecil, aku tidak pernah punya siapa-siapa. Ayahku pergi saat aku masih kecil, ibuku sakit-sakitan sampai akhirnya meninggal. Kakakku… aku tidak tahu di mana dia sekarang. Dulu aku hanya punya diriku sendiri."
"Aku tahu."
"Tapi sekarang," Yue'er melanjutkan, suaranya bergetar sedikit, "sekarang aku punya kau. Kadang aku tidak percaya. Rasanya seperti mimpi."
Tianji menggenggam tangannya lebih erat. "Ini bukan mimpi, Yue'er. Aku nyata. Aku di sini."
"Kau tidak akan pergi, kan?"
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Yue'er tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Ia cepat-cepat mengusap mata. "Dasar, bawang bombay. Kenapa aku jadi menangis begini?"
"Menangis itu tidak apa-apa," kata Tianji.
"Tapi aku tidak mau kau melihatku menangis. Nanti kau pikir aku gadis cengeng."
"Aku tidak akan berpikir begitu."
"Kau sungguh?"
"Sungguh."
Yue'er tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Tianji. "Tianji, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kita hidup."
"Tidak, maksudku… hari ini."
Tianji mengerjap. "Hari ini?"
"Iya. Kau tidak melaut hari ini, kan?"
"Tidak. Hari ini aku istirahat."
"Bagus!" Yue'er berdiri tiba-tiba. "Aku akan mengajakmu jalan-jalan! Kau tidak boleh menolak!"
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ke pasar! Ke bukit! Ke mana saja!" Yue'er menarik tangan Tianji. "Ayo, ayo ganti baju! Kau tidak bisa pergi dengan baju anyaman kusut begitu!"
Tianji tersenyum pasrah. "Baik, baik, aku ganti baju."
Mereka berjalan menyusuri pesisir, meninggalkan Desa Muara menuju daerah perbukitan di sebelah timur. Jalannya berbatu-batu dan menanjak, tapi Yue'er melompat-lompat seperti kambing gunung sama sekali tidak kelelahan.
"Ayo, Tianji! Cepat!" teriaknya dari depan.
Tianji yang sudah terbiasa dengan perahu dan laut, kesulitan mendaki bukit. Napasnya tersengal-sengal, keringat bercucuran di dahinya. "Tunggu… sebentar…"
"Kau lemah sekali!" Yue'er tertawa. "Dulu kau bisa terbang, sekarang jalan di bukit saja sudah susah."
"Tubuhku… belum terbiasa," Tianji terengah-engah.
"Yah, itu karena kau terlalu lama duduk di perahu." Yue'er kembali ke bawah dan menarik tangan Tianji. "Ayo, aku bantu."
Dengan Yue'er menuntunnya, Tianji berhasil mencapai puncak bukit. Di sana, pemandangan yang menakjubkan terbentang di depan mereka — Desa Muara dari ketinggian, dengan gubuk-gubuk kecil yang berjejer seperti mainan, laut biru yang membentang tak berujung, dan perahu-perahu nelayan yang tampak seperti titik-titik kecil di permukaan air.
"Cantik, kan?" Yue'er membentangkan kedua tangannya.
Tianji menatap pemandangan itu. "Cantik."
"Tahukah kau, dulu saat aku masih kecil, aku sering datang ke sini sendirian. Aku duduk di sini berjam-jam, menatap laut, berkhayal tentang masa depan."
"Masa depan seperti apa?"
Yue'er duduk di atas batu besar. "Aku berkhayal bahwa suatu hari aku akan menjadi kaya raya, punya rumah besar, dan hidup bahagia. Tapi… itu dulu. Sekarang impianku berubah."
"Menjadi apa?"
Yue'er menatap Tianji. "Sekarang aku hanya ingin hidup tenang di desa kecil ini, bersama orang-orang yang kusayangi. Aku tidak butuh harta berlimpah. Aku tidak butuh kekuasaan. Aku hanya ingin… bahagia."
Tianji duduk di sampingnya. "Kita akan bahagia. Aku janji."
"Kau suka berjanji, ya?" Yue'er tersenyum. "Tapi aku suka janjimu."
Mereka duduk di puncak bukit itu cukup lama, menikmati angin, pemandangan, dan kehadiran satu sama lain. Sesekali mereka berbicara tentang hal-hal kecil — tentang ikan apa yang paling enak, tentang cuaca besok, tentang Nek Rukayah yang mulai pikun, tentang Pak Karto yang ceritanya selalu itu-itu saja.
"Eh, Tianji," Yue'er tiba-tiba memotong pembicaraan.
"Apa?"
"Apa kau… kau pernah punya perasaan suka pada seseorang?"
Pertanyaan itu melayang di udara. Tianji terdiam. Pikirannya langsung melayang ke Xiao Yu'er — gadis yang dulu memberinya MP, yang mati di pelukannya. Lalu ke Xuan Qingzi — perempuan misterius yang mengajarinya banyak hal, yang juga meninggalkan luka di hatinya.
"Aku…" Tianji berpikir keras. "Ada. Tapi itu masa lalu."
"Ceritakan padaku."
Tianji menghela napas. "Dia bernama Xiao Yu'er. Dia… dia adalah orang yang memberiku MP pertama. Tanpanya, aku tidak akan menjadi Penyerap Lautan. Tapi dia mati di depanku. Di tanganku."
Yue'er diam, tidak memotong.
"Aku tidak bisa menyelamatkannya. Aku terlalu lemah saat itu. Dan setelah dia mati, aku bertemu dengan Xuan Qingzi. Dia juga… dia juga meninggalkanku. Tidak mati, tapi pergi. Meninggalkan luka yang berbeda."
"Kau masih mencintai mereka?" tanya Yue'er pelan.
Tianji menatap laut. "Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya tidak ingin kehilangan lagi."
Yue'er meraih tangannya. "Kau tidak akan kehilangan aku."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, jangan pikirkan mereka lagi. Pikirkan aku. Sekarang. Di sini."
Tianji menoleh. Wajah Yue'er bersinar di bawah sinar matahari, matanya berkilau, dan senyumnya — senyum itu bisa mencairkan gunung es di lautan paling dingin sekalipun.
"Baik," kata Tianji. "Aku hanya akan memikirkanmu."
Mereka pulang menjelang sore. Tianji membawakan buah-buahan liar yang mereka temukan di sepanjang jalan — jambu biji, jambu air, dan beberapa buah kecil yang tidak ia kenali namanya.
Di perjalanan pulang, Yue'er terus bercerita tentang masa kecilnya — bagaimana ia pernah tertangkap saat mencuri kue, bagaimana ia pernah jatuh ke sungai dan hampir tenggelam, bagaimana ia pernah bersembunyi di dalam gerobak sayur selama semalam karena dikejar preman pasar.
"Dan kau tahu yang paling lucu?" kata Yue'er sambil terkekeh. "Waktu itu aku sembunyi di gerobak sayur, tapi ternyata gerobak itu dibawa ke rumah seorang mandor. Mandor itu melihatku dan bukannya marah, dia malah memberiku makan. Dia bilang, 'Kalau kau lapar, bilang saja. Tidak usah mencuri.' Sejak itu, aku tidak pernah mencuri lagi."
"Orang baik," komentar Tianji.
"Ya. Dia satu-satunya orang yang berbaik hati padaku saat itu. Aku tidak pernah lupa kebaikannya." Yue'er tersenyum. "Dan di mana pun dia sekarang, aku berdoa semoga dia bahagia."
Di rumah, Nek Rukayah sudah menunggu dengan makan malam. Tianji meletakkan buah-buahan di meja dan Nek Rukayah tersenyum senang.
"Nak, kau bawa buah liar dari bukit? Aduh, ini mengingatkanku pada masa muda dulu. Dulu suamiku sering bawakan aku buah-buahan seperti ini."
"Nek, ceritakan tentang kakek," pinta Yue'er sambil menyendok nasi.
"Ah, suamiku?" Nek Rukayah tersenyum nostalgia. "Dia seorang nelayan yang gagah. Saat muda, dia adalah nelayan terbaik di desa ini. Tidak ada yang bisa menandingi tangkapannya. Tapi dia juga seorang suami yang romantis — kadang-kadang. Pada hari ulang tahun pernikahan kami, dia memetik bunga-bunga liar di lereng bukit dan menghias perahunya."
"Wah, romantis sekali!" seru Yue'er.
"Iya, dia memang begitu. Tapi sayang, Tuhan lebih menyayanginya. Dia pergi saat badai besar menghantam desa ini, dua puluh tahun yang lalu."
Suasana menjadi sedikit sendu. Nek Rukayah melanjutkan, "Tapi hidup terus berjalan. Aku tidak bisa terus bersedih. Aku harus kuat."
Tianji menatap Nek Rukayah — seorang nenek tua yang kehilangan suami, tinggal sendirian di gubuk, namun tetap tegar. Ia ingat kata-kata Yue'er di bukit tadi: "Ceria lebih baik daripada sedih."
Malam itu, setelah Nek Rukayah tidur, Tianji dan Yue'er duduk di beranda seperti biasa. Bulan bersinar cerah, memantulkan cahaya perak di permukaan laut yang tenang.
"Tianji," panggil Yue'er.
"Hm?"
"Besok kau melaut lagi?"
"Iya. Kata Pak Karto, di utara ada sekawanan ikan besar. Katanya bisa dapat banyak."
"Hati-hati, ya."
"Tentu."
Jeda cukup lama. Lalu Yue'er berkata, "Tianji, aku… aku ingin bilang sesuatu."
Tianji menoleh. Wajah Yue'er serius, tidak seperti biasanya. "Apa?"
Yue'er mengambil napas dalam-dalam. "Waktu itu, saat kita di Lautan Kabut, saat kau memutuskan untuk melepaskan MP-mu… aku hampir berteriak. Aku hampir berkata, 'Jangan!' Tapi aku tidak melakukannya. Karena aku tahu itu keputusanmu. Dan aku percaya pada keputusanmu."
"Aku tahu."
"Tapi sekarang… aku senang kau melakukannya. Aku senang kau melepaskan semua kekuatan itu. Karena jika kau tidak melakukannya, kita tidak akan pernah duduk di sini seperti ini. Kita tidak akan pernah menjadi… menjadi kita."
Tianji merasakan dadanya bergetar. "Yue'er…"
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi aku ingin kau tahu, bahwa aku di sini. Aku akan selalu di sini. Apa pun yang terjadi."
Tianji meraih tangan Yue'er dan menggenggamnya erat. "Aku juga. Aku juga akan selalu di sini."
Mereka duduk dalam diam, saling menggenggam tangan, ditemani suara ombak yang berirama dan angin malam yang sejuk. Di langit, bintang-bintang berkedip seperti ikut tersenyum melihat dua insan yang saling menemukan di tengah kesederhanaan hidup.
Dan untuk pertama kalinya, Tianji merasa bahwa ia telah menemukan apa yang selama ini dicarinya — bukan kekuatan, bukan kekuasaan, bukan Mahkota Penyerap yang bisa mengubah dunia.
Tapi seseorang yang bisa membuat dunia terasa lengkap hanya dengan berada di sisinya.