Ada saat-saat di malam hari saat Tianji terbangun dari tidurnya dan merasa ada yang hilang. Bukan MP — ia sudah berdamai dengan kehilangan itu. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang mengendap di dasar hatinya seperti batu karang yang tertelan ombak.
Wajah Xiao Yu'er muncul dalam mimpinya malam itu. Gadis itu tersenyum, rambutnya tergerai ditiup angin, matanya penuh kasih. Ia mengulurkan tangan, tapi setiap kali Tianji hendak meraihnya, ia menghilang seperti kabut.
"Xiao Yu'er," bisik Tianji dalam tidurnya.
Ia terbangun dengan keringat dingin di dahinya. Di sampingnya, Yue'er tidur nyenyak di tikar bambu. Napasnya teratur, wajahnya damai.
Tianji duduk, menarik napas dalam-dalam. Sudah tiga bulan ia tinggal di Desa Muara, dan malam ini adalah malam pertama ia bermimpi tentang Xiao Yu'er. Selama ini ia pikir lukanya sudah sembuh, ternyata tidak. Luka lama masih ada, hanya terkubur dalam-dalam.
Keesokan paginya, Tianji bangun dengan perasaan berat. Ia tidak bisa makan dengan lahap seperti biasanya. Yue'er yang melihatnya langsung tahu ada yang tidak beres.
"Tianji, kau kenapa?" tanya Yue'er. "Wajahmu pucat."
"Tidak apa-apa. Aku hanya kurang tidur."
Yue'er menatapnya dengan pandangan curiga. "Kau bohong. Aku kenal kau. Ada sesuatu."
Tianji diam. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Yue'er, tapi juga tidak ingin membuatnya khawatir.
"Xiao Yu'er," katanya akhirnya. "Aku bermimpi tentangnya tadi malam."
Yue'er tidak terkejut. Ia meletakkan sendoknya dan duduk di seberang Tianji. "Kau ingin menengok makamnya?"
Tianji terkejut. "Kau tahu?"
"Aku tahu sejak lama. Nek Rukayah bilang padaku bahwa makam Xiao Yu'er ada di bukit sebelah utara desa."
Tianji diam cukup lama. "Aku belum pernah ke sana. Setelah dia meninggal, aku tidak pernah sempat memakamkannya dengan layak. Aku hanya meninggalkannya… di sebuah gua di tepi laut."
"Lalu Nek Rukayah dan penduduk desa yang memindahkannya ke sini. Mereka tahu kau pasti akan kembali suatu hari nanti."
Tianji merasakan dadanya sesak. Selama ini ia tidak pernah bertanya tentang makam Xiao Yu'er. Ia terlalu sibuk dengan dendam dan pertempuran. Terlalu sibuk menjadi Penyerap Lautan. Dan ketika akhirnya ia kembali sebagai manusia biasa, ia tidak punya keberanian untuk menanyakannya.
"Kau mau ke sana?" tanya Yue'er. "Aku akan menemanimu."
"Kau tidak apa-apa?"
"Tentu. Aku sudah tahu tentang Xiao Yu'er sejak awal. Tidak ada yang perlu disembunyikan."
Mereka berjalan ke utara desa, menyusuri jalan setapak yang menanjak. Di puncak bukit kecil, di bawah pohon beringin tua, ada sebuah makam sederhana. Batu nisannya terbuat dari batu sungai yang diukir dengan tangan. Bertuliskan:
"Xiao Yu'er — Kekasih yang Terlambat Diselamatkan"
Tianji berlutut di depan makam itu. Tangannya gemetar menyentuh batu nisan yang sudah mulai berlumut. Batu itu dingin, tapi hatinya terasa lebih dingin.
"Xiao Yu'er… aku pulang," bisiknya. "Maafkan aku, karena datang terlambat. Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkanmu."
Yue'er berdiri beberapa langkah di belakang, memberikan privasi. Ia memetik beberapa bunga liar di sekitar dan meletakkannya di samping makam.
"Ia cantik," kata Yue'er pelan.
Tianji menatap ukiran nama di batu nisan. "Ya, dia cantik. Dan dia baik. Terlalu baik untuk dunia ini."
"Ceritakan padaku tentang dia."
Tianji diam sejenak. Lalu, perlahan, air matanya mulai mengalir. Air mata yang sudah lama ia tahan, yang selama ini ia sembunyikan di balik kekuatan dan kemarahan.
"Aku bertemu dengannya saat aku adalah seorang perompak di Laut Timur," Tianji memulai suaranya patah-patah. "Dia adalah putri seorang saudagar kaya yang kapalnya aku rampok. Tapi dia tidak takut padaku. Dia malah tersenyum dan berkata, 'Kau tidak sejahat yang kau kira.'"
Yue'er duduk di sampingnya.
"Sejak saat itu, aku tidak bisa melupakannya. Aku kembali lagi untuk menemuinya, berkali-kali. Dan dia… dia bercerita tentang MP — Mahkota Penyerap yang ada di dalam tubuhnya. Dia adalah pemilik MP sebelumnya. Saat dia tahu bahwa tubuhnya tidak akan kuat menahan kekuatan itu, dia memilih untuk memberikannya padaku."
"Dan kau menerimanya?"
"Ya. Dengan bodohnya, aku menerimanya. Aku pikir itu adalah hadiah. Aku tidak tahu bahwa itu adalah kutukan. Kekuatan itu membunuhnya, dan kekuatan itu hampir menghancurkanku."
Tianji menggenggam tanah di depan makam. "Seandainya aku lebih kuat saat itu, seandainya aku bisa menyelamatkannya… mungkin semuanya berbeda."
"Kau tidak bisa mengubah masa lalu," kata Yue'er lembut. "Tapi kau bisa menghormati masa lalu."
"Aku tidak tahu bagaimana caranya."
"Dengan terus hidup, Tianji. Dengan bahagia. Itulah cara terbaik untuk menghormati orang yang sudah pergi."
Tianji menatap Yue'er. Gadis itu tersenyum, meskipun matanya juga berkaca-kaca.
"Dia pasti tidak ingin kau terus bersedih, kan? Dia memberimu MP agar kau bisa hidup, bukan agar kau terus menderita."
"Kau benar."
"Tentu aku benar." Yue'er menyandarkan kepala di bahu Tianji. "Dia akan senang melihatmu sekarang. Seorang nelayan biasa yang bahagia. Bukan seorang penyerap kekuatan yang penuh dendam."
Tianji tersenyum getir. "Kau pikir dia akan bangga padaku?"
"Aku yakin dia akan bangga."
Mereka duduk di samping makam itu cukup lama. Tianji bercerita tentang Xiao Yu'er — tentang rambut panjangnya yang hitam berkilau, tentang suaranya yang lembut, tentang bagaimana ia selalu tersenyum meskipun tubuhnya sakit. Ia bercerita tentang saat-saat terakhir Xiao Yu'er, bagaimana ia memegang tangannya erat dan berbisik, "Jangan menyesal."
Setelah cerita tentang Xiao Yu'er selesai, Tianji terdiam lagi. Pikirannya melayang ke Xuan Qingzi — perempuan yang mengajarinya mengendalikan MP, yang memberinya cinta setelah Xiao Yu'er pergi, yang kemudian juga meninggalkannya.
"Aku juga ingin ke makam Xuan Qingzi," katanya tiba-tiba.
Yue'er menoleh. "Di mana makamnya?"
"Di dekat sini. Di hutan bamba di sebelah timur. Dia tidak mati, tapi aku tetap membuat prasasti untuk mengenangnya."
Mereka berjalan ke timur, melewati hutan bambu yang sunyi. Suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin terdengar seperti lagu sendu. Tianji berhenti di sebuah tanah lapang kecil, di mana berdiri sebuah prasasti batu yang sudah ditumbuhi lumut.
"Xuan Qingzi — Guru dan Kekasih yang Hilang"
Yue'er membaca tulisan itu. "Kau menulisnya sendiri?"
"Ya. Dengan pedangku, saat kekuatan MP masih ada. Tapi setelah itu aku tidak pernah kembali."
Tianji berlutut di depan prasasti itu. "Xuan Qingzi… aku juga kembali. Aku tidak tahu di mana kau sekarang. Tapi aku harap kau bahagia. Di mana pun kau berada."
"Mengapa kau tidak mencarinya?" tanya Yue'er.
Tianji menggeleng. "Dia pergi dengan kehendaknya sendiri. Dia bilang bahwa takdirnya sudah selesai bersamaku. Aku harus menghormati keputusannya."
"Tapi kau masih mencintainya?"
Pertanyaan itu menusuk. Tianji terdiam.
"Aku tidak tahu. Mungkin aku mencintai kenangan tentangnya. Tentang apa yang dia ajarkan padaku. Tentang apa yang dia berikan padaku. Tapi cinta itu tidak sama seperti…"
"Seperti apa?"
Tianji menatap Yue'er. "Tidak sama seperti cintaku padamu."
Yue'er terpaku. Wajahnya memerah. "T-Tianji?… Apa kau… maksudmu…"
"Aku mencintaimu, Yue'er."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa direncanakan. Tapi begitu keluar, Tianji merasa dadanya ringan. Seperti beban yang selama ini ia pikul tiba-tiba terangkat.
"Aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Mungkin saat di pasar gelap, saat kau mencuri dompetku. Mungkin saat di perjalanan, saat kau selalu ceria meskipun keadaan sulit. Mungkin saat di Lautan Kabut, saat kau memegang tanganku dan berkata bahwa kau akan tetap di sisiku apa pun yang terjadi. Tapi aku yakin: aku mencintaimu."
Yue'er tidak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca, dan air matanya mulai mengalir.
"Dasar Tianji… kau… kau membuatku menangis di depan makam dua orang, kau tahu?"
"Aku minta maaf."
"Jangan minta maaf!" Yue'er memukul lengan Tianji pelan. "Ini saat yang paling tidak romantis untuk mengaku, tapi aku… aku juga mencintaimu, bodoh!"
Tianji tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyumnya benar-benar tulus, tanpa beban, tanpa bayangan masa lalu.
"Kita bodoh berdua," katanya.
Yue'er tertawa sambil menangis. "Iya. Kita bodoh berdua."
Mereka duduk di samping prasasti Xuan Qingzi, saling menggenggam tangan. Matahari sore menembus celah-celah bambu, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di tanah.
"Tianji," panggil Yue'er.
"Hm?"
"Sekarang setelah kau mengaku, apa yang akan kita lakukan?"
"Kita akan hidup. Bersama. Seperti biasa. Hanya saja sekarang dengan perasaan yang sudah jelas."
"Boleh aku cium?"
Tianji terkejut. "A-apa?"
"Bercanda!" Yue'er tertawa terbahak-bahak. "Wajahmu merah sekali!"
"Kau… kau jahil sekali!"
"Namaku Yue'er, bukan Malaikat."
Mereka berdua tertawa, bergema di seluruh hutan bambu. Tawa yang membersihkan luka lama, yang menyembuhkan hati yang patah.
Sebelum pulang, Tianji kembali ke makam Xiao Yu'er untuk terakhir kalinya. Ia berlutut dan berkata, "Xiao Yu'er, aku sudah menemukan kebahagiaanku. Aku harap kau juga bahagia di alam sana. Terima kasih telah memberiku kesempatan kedua. Terima kasih telah percaya padaku."
Ia meletakkan bunga liar di atas makam itu, lalu berdiri.
"Aku tidak akan melupakanmu. Tapi aku harus terus hidup."
Yue'er meraih tangannya. "Sudah siap?"
"Sudah."
Mereka berjalan pulang saat matahari terbenam. Langit berwarna jingga keemasan, laut berkilauan seperti ditaburi permata. Tianji merasakan dadanya ringan — lukanya tidak lagi perih. Masih ada bekas, tapi tidak lagi sakit.
Di perjalanan pulang, Yue'er terus bercerita — tentang rencana mereka ke depan, tentang rumah yang ingin ia bangun, tentang anak-anak yang ingin ia besarkan. Tianji hanya tersenyum dan mengangguk, karena ia tahu bahwa masa depannya kini ada di tangan gadis ini.
Bukan sebagai Penyerap Lautan.
Bukan sebagai pemilik MP.
Tapi sebagai Tianji — seorang pemuda biasa yang jatuh cinta pada gadis biasa, dan berjanji untuk hidup bersamanya sampai akhir hayat.
Malam harinya, saat ia rebahan di tikar, Tianji merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Xiao Yu'er dan Xuan Qingzi — kedua perempuan itu telah menjadi bagian dari perjalanannya, namun kini ia harus melanjutkan perjalanan tanpa mereka.
"Terima kasih," bisiknya kepada bayangan malam. "Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku."
Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur tanpa diganggu mimpi buruk. Dalam tidurnya, ia melihat Xiao Yu'er tersenyum dan melambai, lalu berubah menjadi Yue'er yang berlari menuju ke arahnya.
Dan ia tersenyum dalam tidurnya.