๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 44: PERJALANAN TERAKHIR

← BAB 43: YUE’ER DICULIK BAB 45: BENTENG HITAM →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Fajar di hutan Seratus Li tidak pernah semerah ini. Langit timur terbakar oleh semburat merah jingga, seolah alam sendiri ikut bersedih atas kepergian Yue'er.

Tianji dan Xiao Yu'er bersiap di mulut gua. Perbekalan seadanya โ€” beberapa potong ikan kering, air minum, dan sebilah pedang patahan yang masih bisa digunakan.

"Apa kau yakin tidak ingin istirahat sehari lagi?" Xiao Yu'er bertanya. Wajahnya masih pucat karena lukanya.

"Tidak bisa. Setiap hari yang terbuang adalah hari di mana Yue'er menderita."

Xiao Yu'er mengerti. Ia tidak membantah lagi.

Mereka mulai berjalan ke utara. Pepohonan semakin rapat saat mereka memasuki bagian terdalam hutan. Cahaya matahari hampir tidak bisa menembus kanopi daun, menciptakan suasana muram yang membuat bulu kuduk merinding.

"Aku dengar ada desa kecil di utara hutan," kata Xiao Yu'er memecah keheningan. "Desa Nelayan Awan, namanya. Dari sana, kita bisa menyewa perahu ke utara."

"Berapa lama ke sana?"

"Tiga hari jalan cepat."

Tianji mengangguk. Pikirannya melayang. Sejak semalam, ia terus memikirkan Yue'er. Wajahnya, tawanya, caranya memarahi Tianji dengan setengah bercanda. Semua terasa begitu dekat, namun begitu jauh.

"Tianji," Xiao Yu'er memanggil. "Kau baik-baik saja?"

"Aku di sini," jawab Tianji singkat.

Xiao Yu'er tidak bertanya lagi. Ia mengerti bahwa Tianji sedang bergulat dengan perasaannya sendiri.

โ€”—โ‰ก—

Malam hari. Mereka berhenti di sebuah tempat terbuka kecil di tepi sungai. Xiao Yu'er membuat api unggun kecil, sementara Tianji duduk termenung di tepi air.

"Andai aku bisa langsung terbang ke sana," gumam Tianji. "Andai MP-ku cukup kuat untuk mengalahkan Lord Hitam sekarang juga."

"Kau akan sampai di sana," Xiao Yu'er duduk di sampingnya. "Tapi kau harus sabar."

"Aku lelah bersabar, Xiao Yu'er." Tianji menatap tangannya sendiri. "Sudah berapa banyak orang yang kukorbankan hanya karena aku lemah? Ayahku, guruku, dan sekarang Yue'er…"

"Itu bukan salahmu."

"Lalu siapa? Lord Hitam? Tentu dia yang memegang pedang. Tapi aku yang membiarkan mereka terkena."

"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri."

"Aku harus keras! Kalau tidak, aku akan terus membuat kesalahan yang sama!" Tianji berdiri. Tangannya mengepal. "Aku tidak ingin kehilangan orang lain. Aku tidak sanggup."

Xiao Yu'er terdiam. Ia menatap Tianji dengan perasaan yang rumit.

"Tianji," katanya pelan. "Apa kau… sayang pada Yue'er?"

Tianji tersentak. Pertanyaan itu menangkapnya di luar dugaan.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku… kau dan dia sudah bersama sejak lama. Melewati banyak hal. Melawan Mawar Hitam, mencari fragmen MP, dan sekarang… dikejar seluruh Jianghu." Xiao Yu'er tersenyum pahit. "Biasanya, ikatan seperti itu… lebih dari sekadar persahabatan."

Tianji tidak menjawab. Ia kembali duduk, memandangi air sungai yang mengalir tenang.

"Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu."

"Kau tidak perlu tahu sekarang. Tapi pikirkanlah. Untuk jaga-jaga."

"Jaga-jaga?"

"Seandainya… sesuatu terjadi. Kau tidak ingin meninggalkan perasaan yang tidak terungkap."

Tianji menatap Xiao Yu'er lama. Ada sesuatu dalam suara Xiao Yu'er yang membuat hatinya terasa sesak.

"Xiao Yu'er," katanya. "Kau… baik padaku. Sangat baik. Tapi aku tidak bisa membalas kebaikanmu."

Xiao Yu'er tersenyum โ€” senyum yang pahit. "Aku tahu."

"Kau tahu?"

"Aku juga punya perasaan, Tianji. Perasaan yang mungkin tidak seharusnya kumiliki." Ia menunduk. "Tapi aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya ingin kau tahu… bahwa aku di sini. Untukmu. Apapun yang terjadi."

Keheningan mengelilingi mereka. Suara jangkrik dan gemericik air sungai menjadi saksi bisu percakapan yang berat itu.

"Aku tidak layak," Tianji berbisik.

"Aku tidak peduli."

"Tapiโ€”"

"Tianji." Xiao Yu'er meletakkan tangannya di bahu Tianji. "Kau tidak harus memilih sekarang. Kau tidak harus memikirkan perasaanku. Fokus pada Yue'er. Fokus pada pertempuranmu. Dan setelah semua ini selesai… barulah kau putuskan apa yang kau rasakan."

"Apa yang kurasakan," ulang Tianji. "Bagaimana aku tahu?"

Xiao Yu'er tersenyum. "Kau akan tahu. Saat kau membayangkan hidup tanpa seseorang… dan hatimu terasa hampa. Itulah jawabannya."

Tianji terdiam. Ia membayangkan hidup tanpa Yue'er. Tanpa suaranya yang cerewet. Tanpa jewerannya yang menyakitkan. Tanpa senyumnya yang cerah.

Dadanya terasa perih.

"Jadi… itu jawabannya," gumamnya.

"Apa?"

"Aku tidak bisa hidup tanpa Yue'er."

Xiao Yu'er menunduk. Untuk sesaat, matanya berkaca-kaca. Tapi ia cepat menahan diri dan tersenyum.

"Syukurlah kau sudah tahu."

"Xiao Yu'er… maafkan aku."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan." Xiao Yu'er menepuk bahunya. "Cinta tidak selalu berbalas. Dan aku… aku ikhlas."

Mereka duduk diam, berdua di tepi sungai. Api unggun di belakang mereka mulai padam, menyisakan bara yang berkilauan seperti bintang jatuh.

"Tapi aku tetap akan bersamamu," kata Xiao Yu'er. "Sampai Yue'er kembali. Sampai kau selamat. Sampai semua ini selesai."

"Kenapa?"

"Karena itu tugasku sekarang." Ia tersenyum. "Melindungi orang yang kucintai โ€” walau ia tidak mencintaiku kembali."

Air mata Tianji jatuh. Ia tidak bisa menahannya.

"Terima kasih, Xiao Yu'er."

"Jangan menangis. Nanti aku ikut menangis." Xiao Yu'er mengusap matanya. "Sudah, tidurlah. Besok kita harus berjalan lagi."

Tianji mengangguk, merebahkan diri di rumput. Matanya menatap bintang-bintang di sela-sela celah dedaunan.

"Yue'er," bisiknya. "Tunggu aku."

โ€”—โ‰ก—

Dua hari kemudian, mereka tiba di Desa Nelayan Awan.

Desa itu kecil โ€” hanya tiga puluh rumah dari kayu dan bambu, tersusun rapi di tepi danau yang tenang. Perahu-perahu nelayan bersandar di dermaga, bergoyang pelan mengikuti irama air.

Tianji dan Xiao Yu'er berbaur dengan penduduk desa. Mereka membeli perahu kecil dengan uang terakhir yang mereka miliki.

"Dari sini ke utara," kata pemilik perahu, seorang kakek tua dengan janggut putih, "kau akan sampai di muara Sungai Naga Hitam. Dari sana, tinggal setengah hari ke Pegunungan Naga Tidur."

"Pegunungan Naga Tidur," ulang Tianji. "Di sanakah Benteng Hitam berada?"

Kakek itu terkejut. "Kau tahu Benteng Hitam?"

"Aku mencarinya."

"Ada apa gerangan? Orang biasa tidak pergi ke sana. Tempat itu… angker."

"Aku punya urusan dengan Lord Hitam."

Kakek itu menatap Tianji dengan pandangan aneh. "Kau masih muda. Apa gunanya kau mencari maut?"

"Aku tidak mencari maut. Aku mencari seseorang yang dicuri dariku."

Kakek itu menghela napas panjang. "Cinta. Hanya cinta yang bisa membuat seseorang seberani ini."

"Apa?"

"Sudah puluhan tahun aku di sini. Banyak yang datang ke Desa Nelayan Awan untuk menyewa perahu ke utara. Tapi hanya sedikit yang kembali. Mereka yang kembali biasanya sudah… patah. Hancur. Karena Lord Hitam tidak pernah memberi ampunan." Kakek itu menatap Tianji. "Tapi kau… kau berbeda. Ada api di matamu. Mungkin kau bisa melakukannya."

"Aku akan melakukannya."

"Baik. Perahu ini untukmu. Tidak usah bayar."

"Tapiโ€”"

"Anggap sebagai hadiah dari seorang kakek tua yang percaya pada cinta sejati." Kakek itu tersenyum ompong. "Selamat berjuang, Anak Muda."

โ€”—โ‰ก—

Di atas perahu, Tianji dan Xiao Yu'er berlayar ke utara. Angin bertiup kencang, menggembungkan layar perahu. Air danau berkilauan di bawah sinar matahari.

Dalam perjalanan, mereka jarang bicara. Tianji sibuk dengan pikirannya sendiri. Xiao Yu'er sibuk mengamati langit, mencari tanda-tanda cuaca buruk.

Tapi saat malam tiba, dan bintang-bintang mulai muncul, Xiao Yu'er duduk di depan perahu, menyanyikan lagu lama dengan suara pelan.

"Xiao Yu'er," panggil Tianji. "Kau ingat saat kita pertama bertemu?"

"Di pasar kota. Aku hampir kau bunuh."

"Heh. Kau mengingatnya."

"Bagaimana bisa aku lupa?" Xiao Yu'er tertawa. "Saat itu aku kira kau perampok. Ternyata kau hanya bocah kelaparan yang mencari makanan."

"Aku memang bocah kelaparan." Tianji tersenyum. "Tapi kau membelikanku bakpao."

"Itu investasi terbaik yang pernah kulakukan." Xiao Yu'er menatap bintang. "Karena bakpao itu membuat kita bersahabat. Dan persahabatan itu… membawaku ke sini. Ke tempat yang tidak pernah kubayangkan."

"Aku menyesal telah membawamu ke tempat berbahaya."

"Jangan menyesal." Xiao Yu'er menatapnya. "Karena jika aku tidak bersamamu, aku tidak akan pernah merasakan ini. Keberanian. Cinta. Harapan. Semua yang membuat hidup layak dijalani."

Tianji tidak menjawab. Ia hanya menatap Xiao Yu'er dengan perasaan yang rumit.

"Aku akan melindungimu," katanya akhirnya. "Apapun yang terjadi. Aku bersumpah demi MP yang ada di tubuhku."

"Kau terlalu baik, Tianji."

"Aku serius."

"Aku tahu." Xiao Yu'er tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. "Tapi kali ini, biarkan aku yang melindungimu. Setidaknya sekali saja."

โ€”—โ‰กโ€”

Pagi hari ketiga, mereka tiba di muara Sungai Naga Hitam.

Di kejauhan, Pegunungan Naga Tidur menjulang โ€” deretan gunung hitam yang puncaknya tertutup awan. Di puncak tertinggi, sebuah benteng hitam terlihat samar-samar, seperti bayangan di antara kabut.

Benteng Hitam.

Tianji mengepalkan tangan. Di dalam tubuhnya, MP berdenyut lebih kencang. Seolah merasakan kedekatan dengan musuh bebuyutannya.

"Kita hampir sampai," bisik Xiao Yu'er.

"Aku tahu." Tianji melangkah ke daratan. "Mulai sekarang, kita harus berjalan kaki. Benteng itu ada di puncak gunung."

"Apa kau siap?"

Tianji menatap benteng di kejauhan. Di dalamnya, Yue'er menunggunya.

"Aku siap."

Mereka mulai mendaki. Jalannya terjal, berliku, dipenuhi batu-batu tajam dan semak berduri. Tapi Tianji tidak peduli. Satu langkah demi satu langkah, ia terus maju.

Di tengah perjalanan, Xiao Yu'er berhenti untuk mengatur napas. "Gunung ini… lebih curam dari yang kukira."

"Kita bisa istirahat," tawar Tianji.

"Tidak. Kita harus terus maju. Yue'er sudah menunggu terlalu lama." Xiao Yu'er memaksakan senyum. "Aku hanya perlu… beberapa detik."

Tianji menunggu. Ia memandangi Xiao Yu'er yang membungkuk, tangannya menopang lutut. Gadis ini telah berkorban begitu banyak untuknya.

"Xiao Yu'er," katanya. "Setelah semua ini selesai… apa yang akan kau lakukan?"

Xiao Yu'er menegakkan badan, berpikir. "Aku tidak tahu. Mungkin aku akan kembali ke desa. Atau bepergian. Atau…" Ia tersenyum. "Atau mungkin aku akan membuka toko bakpao. Untuk mengenang pertemuan kita."

"Aku akan membelinya. Setiap hari."

"Heh, janji ya."

"Janji."

Mereka melanjutkan perjalanan. Di puncak, di dalam Benteng Hitam, Yue'er duduk di selnya yang gelap. Ia menatap langit-langit batu, bibirnya bergerak tanpa suara โ€” berdoa, berharap, menunggu.

"Tianji," bisiknya. "Aku tahu kau akan datang. Tapi… kuharap kau tidak datang. Karena di sini… mungkin tempat kematianmu."

Air matanya jatuh lagi.

Tapi di sudut mulutnya, senyum masih terukir.

Senyum untuk Tianji.

Senyum yang berkata: "Aku percaya padamu. Selalu."

Dan di kaki gunung, Tianji terus mendaki. Langkahnya mantap. Matanya menyala.

Tak peduli apa pun yang menantinya di atas sana, ia akan terus maju.

Demi Yue'er.

Demi cinta yang baru ia sadari.

Demi semua yang pernah hilang dan ingin ia tebus.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 43: YUE’ER DICULIK BAB 45: BENTENG HITAM →