Langit di ufuk timur mulai memutih ketika Xiao Tianji melangkah keluar dari gubuk reyotnya. Laut belum sepenuhnya terlihat โ kabut pagihari masih menggantung seperti selimut basah di atas permukaan air, membuat batas antara langit dan samudra kabur menjadi satu warna kelabu. Bau asin bercampur aroma ikan kering dan asap kayu bakar menusuk lubang hidungnya, aroma yang sudah ia kenal sejak pertama kali ia membuka mata di dunia ini enam belas tahun lalu.
Desa Muara terbentang di sepanjang teluk kecil yang terlindung oleh bukit-bukit rendah. Rumah-rumah panggung dari kayu dan bambu berjejer tak beraturan, beberapa di antaranya sudah tampak miring dimakan usia dan air laut. Jala-jala ikan tergantung di hampir setiap teras, menari-nari pelan ditiup angin pagi. Di kejauhan, sesosok merpati laut menyambar permukaan air, menangkap seekor ikan kecil yang kurang waspada.
Tianji menghela napas panjang. Udara pagi yang dingin memasuki paru-parunya, memberinya sedikit tenaga. Seperti biasa, ia bangun sebelum matahari benar-benar muncul, menikmati kesunyian yang hanya sesaat akan berubah menjadi hiruk-pikuk para nelayan bersiap melaut.
Tubuhnya kurus โ terlalu kurus untuk anak seusianya, kata orang-orang desa. Kulitnya legam terbakar matahari laut, membuat matanya yang gelap tampak lebih tajam dari yang seharusnya pada seorang anak muda. Wajahnya tidak jelek, tapi juga tidak bisa dibilang tampan. Biasa saja. Seperti wajah seorang nelayan biasa di desa biasa.
Namun matanya… matanya berbeda.
Di dalam bola mata gelap itu tersimpan kewaspadaan seorang yang sejak kecil belajar membaca ombak, angin, dan โ yang paling penting โ manusia.
"Tianji! Dasar bocah! Masih melamun!"
Suara nyaring itu memecah kesunyian pagi seperti genderang perang. Tianji tersenyum kecil tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu.
Liu Yue'er berjalan mendekat dengan langkah lebar, rambutnya diikat ekor kuda sederhana, sebuah gendang di punggung dan busur di tangan kirinya. Ia mengenakan pakaian compang-camping khas penduduk desa โ celana kain digulung hingga betis, baju lengan pendek yang memperlihatkan lengan montoknya yang terbakar matahari. Di usianya yang genap delapan belas tahun, Yue'er sudah dikenal sebagai perempuan paling galak di Desa Muara.
"Telingaku masih bisa mendengar dengan baik, Yue'er," kata Tianji tenang.
"Syukurlah! Kupikir kau sudah tuli sejak kemarin!" Yue'er berhenti di sampingnya, membuang napas kesal. "Kau tahu โ TAHU โ bahwa Bapak sudah menyuruhku memanggilmu sejak tadi? Setengah jam yang lalu, Tianji! Setengah jam! Laut tidak akan menunggumu, tapi lihat kau! Berdiri di sini seperti patung garam!"
"Paman Liu Dahan sedang marah?"
"Marah?" Yue'er mendengus. "Marah itu belum seberapa. Beliau sudah menyiapkan kapal paling bagus โ PALING BAGUS, kau dengar? โ untukmu, karena kau anak yatim dan beliau merasa kasihan. Tapi kau? Malah melamun di pinggir pantai!"
Tianji menatap Yue'er dengan tenang. Gadis itu memang selalu seperti ini โ bicaranya keras, meledak-ledak, tapi Tianji sudah cukup lama bersamanya untuk melihat apa yang tersembunyi di balik amarahnya: kekhawatiran.
"Mari kita pergi," kata Tianji singkat, mulai berjalan.
"Eh? Kau tidak akan membantah?" Yue'er berjalan cepat di sampingnya, sedikit terkejut. "Biasanya kau akan berkata 'Laut belum siap menerimaku' atau 'Ombak pagi ini terlalu malas' โ segala macam omongan aneh yang kau miliki!"
"Kau sudah merepotkan diri sendiri bangun pagi-pagi untuk menjemputku," jawab Tianji tanpa menoleh. "Paling tidak aku bisa membalas kebaikanmu dengan tidak membuatmu menunggu lebih lama lagi."
Yue'er terdiam sesaat. Lalu, tanpa diduga, ia mencubit lengan Tianji dengan keras.
"Aduh! Apa-apaanโ"
"Itu untuk membuatmu ingat kalau kau masih berutang budi padaku!" Yue'er tertawa, lalu berlari mendahului Tianji. "Ayolah! Bapak sedang memasak bubur ikan โ yang paling enak di seluruh Desa Muara!"
Tianji menggeleng, mengusap bekas cubitan di lengannya. Senyum tipis masih tersisa di bibirnya.
—
Dermaga Desa Muara adalah kumpulan papan-papan usang yang disambung dengan tali rotan, membentuk jembatan kecil yang menjorok ke laut. Di ujungnya, beberapa perahu kayu terikat, bergoyang-goyang mengikuti irama ombak. Di antara semua perahu itu, yang paling mencolok adalah sebuah kapal nelayan berukuran sedang, catnya sudah mengelupas tapi tali-temalinya tampak terawat baik.
Liu Dahan berdiri di geladak, tangannya cekatan mengatur jala. Pria itu berusia sekitar lima puluh delapan tahun, tubuhnya masih tegap dan kokoh meski rambutnya sudah mulai memutih di pelipis. Gerakannya โ saat melipat jala, saat menarik tali โ memiliki ketepatan yang tidak lazim untuk seorang nelayan biasa. Setiap tarikan tangannya penuh perhitungan, seolah ia terbiasa melakukan gerakan itu ribuan kali di masa lalu dalam situasi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar menangkap ikan.
"Bapak!" Yue'er melambai. "Bocah malas ini sudah kubawa!"
"Yue'er," Liu Dahan mendongak, suaranya berat tapi hangat. "Kau bicara seperti kau sudah melakukan pekerjaan besar."
"Memang besar! Tidurnya seperti batu, susah dibangunkan!"
"Kau membangunkannya dengan teriakanmu yang seperti halilintar?" Liu Dahan tersenyum. "Anak nelayan mana yang tidak bangun?"
Yue'er cemberut. "Bapak selalu membelanya."
"Karena Tianji adalah anak baik."
Tianji melompat ke geladak, gerakannya ringan. "Selamat pagi, Paman Liu."
"Selamat pagi, bocah." Liu Dahan menepuk bahu Tianji. Tangannya โ besar dan kuat โ berhenti sejenak di bahu kurus itu, dan sekejap ada kerutan halus di keningnya. Keprihatinan. "Kau makan dengan cukup?"
"Cukup."
"Bohong," Yue'er menyela. "Kemarin aku lihat ia hanya makan satu mangkuk bubur. Satu! Seharian penuh!"
"Bubur itu mengenyangkan," kata Tianji.
"Bubur air dan garam? Kau pikir aku bodoh?"
Liu Dahan menghela napas. "Yue'er, ambilkan jala dari gubuk penyimpanan. Yang merah."
"Tapi Bapakโ"
"Jangan membantah."
Yue'er mendengus, tapi tetap berjalan pergi dengan langkah berat. Ketika ia sudah agak jauh, Liu Dahan menatap Tianji dengan serius.
"Ada masalah, bocah?"
Tianji menggeleng. "Tidak, Paman."
"Kau pikir aku tidak mengenalmu? Aku sudah mengurusmu sejak kau masih sekecil kepiting โ menangis setiap malam karena mimpi buruk, bertanya tentang laut yang membawamu ke sini, tentang orang tuamu yang tidak pernah kau kenal." Liu Dahan mengelus janggut pendeknya. "Ada sesuatu di pikiranmu. Katakan."
Tianji menunduk. Ia terdiam cukup lama. Angin pagi membelai rambutnya yang acak-acakan.
"Tadi malam… aku bermimpi tentang laut," akhirnya ia berkata. "Tapi bukan laut yang tenang. Laut itu… gelap. Sangat gelap. Dan di dalamnya ada sesuatu yang memanggilku."
Liu Dahan mengerutkan kening. "Memanggil?"
"Seperti suara dari kedalaman. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya, tapi aku merasakannya." Tianji menekan dadanya. "Di sini. Seperti ada yang menarik hatiku ke bawah."
Untuk sesaat, wajah Liu Dahan berubah โ lelaki tua itu tampak tegang, alisnya berkerut dalam. Sesuatu yang mirip dengan ketakutan melintas di matanya. Tapi secepat itu menghilang, digantikan senyum tenang yang dipaksakan.
"Hanya mimpi, bocah. Lautan memang kadang masuk ke dalam tidur kita."
"Tapiโ"
"Sudah. Lupakan." Liu Dahan membalikkan badan. "Hari ini kita akan menangkap ikan di perairan timur. Konon gerombolan kakap merah sedang bermigrasi."
Tianji tidak mendesak lebih lanjut. Ia tahu saat seseorang tidak ingin bicara, tidak ada gunanya memaksa. Tapi hatinya tetap gelisah. Mimpi itu terlalu nyata. Dan reaksi Liu Dahan… terlalu cepat untuk menjadi sekadar ketidakpedulian.
—
Tak lama kemudian Yue'er kembali dengan jala merah tua di tangannya. Mereka bertiga melaut di bawah sinar matahari yang mulai naik perlahan, menyapu kabut pagi dan menggantinya dengan langit biru bersih yang memantul di permukaan air seperti ribuan keping kaca.
Suasana di atas kapak mulai santai. Liu Dahan menyanyi-nyanyi kecil lagu daerah, suara beratnya berpadu dengan debur ombak. Yue'er โ yang selalu tidak bisa diam โ sibuk menceritakan segala hal yang terjadi di desa selama beberapa hari terakhir.
"Kau tidak akan percaya apa yang dilakukan si Dulah kemarin," katanya sambil menggulung tali pancing. "Ia memancing di pinggir tebing, entah dapat apa โ tiba-tiba saja ia jatuh terpeleset! Langsung nyemplung ke laut dengan baju lengkap! Bodoh sekali! Seluruh desa tertawa, termasuk Ibu Surti yang biasanya tidak pernah menunjukkan gigi."
"Apakah ia selamat?" tanya Tianji.
"Tentu saja selamat! Itu si Dulah โ keberuntungannya seperti ikan lele di lumpur, tidak bisa mati!" Yue'er terkekeh. "Tapi kehilangan sepatunya. Katanya dimakan ikan besar."
"Atau mungkin dimakan kredibilitasnya," gumam Tianji.
Yue'er terbahak. "Kau ini โ pendiam tapi mulutmu tajam!"
"Hanya bicara fakta."
Mereka tertawa bersama. Tianji merasa sedikit tenang. Di atas laut, ditemani Yue'er dan Liu Dahan, sejenak ia bisa melupakan kegelisahan yang menggerogoti hatinya sejak malam tadi.
Tapi ketenangan itu tidak bertahan lama.
"Perahu!" teriak Liu Dahan tiba-tiba.
Tianji dan Yue'er menoleh. Dari arah utara, sebuah perahu kayu hitam meluncur cepat mendekati mereka. Di atasnya ada tiga orang. Sosok di depan paling mencolok โ seorang pria bertubuh tambun dengan cambang tebal yang memanjang hingga ke rahang, wajahnya merah padam seperti habis diminum arak sepanjang malam.
"Si Cambang," desis Yue'er. Tangannya langsung meraih busur.
"Jangan bertindak gegabah," perintah Liu Dahan. Suaranya berubah โ dari ramah menjadi dingin dan waspada. Nadanya mengingatkan Tianji pada seseorang yang pernah menjadi prajurit, bukan nelayan.
Perahu hitam itu berhenti beberapa meter dari mereka. Si Cambang berdiri dengan tangan di pinggang, senyuman sinis menghiasi bibirnya.
"Liu Dahan," sapanya. "Nasib baik bertemu di sini. Aku sedang dalam perjalanan ke desamu."
"Ada urusan apa?" Liu Dahan tetap tenang, tapi tangannya bergerak perlahan ke arah dayung.
"Urusan? Hah! Jangan pura-pura bodoh, Pak Tua." Si Cambang melompat ke geladak perahu mereka dengan lincah, membuat perahu kecil itu oleng. "Kau masih ingat perjanjian dengan organisasi kami?"
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
"Jangan main-main denganku." Si Cambang menyeringai, memperlihatkan gigi yang menguning. "Setiap bulan, kalian akan memberikan dua puluh persen hasil tangkapan sebagai upeti. Tapi dua bulan terakhir… apa yang kau berikan? Ikan teri? Udang kecil? Apakah kau pikir Mawar Hitam adalah organisasi amal?"
Tianji merasakan darahnya mendidih. Dua puluh persen. Selama ini ia tahu bahwa desanya 'dilindungi' oleh sebuah organisasi bayangan, tapi ia tidak pernah tahu detailnya. Dan sekarang orang ini dengan sombongnya menuntut hasil jerih payah mereka.
"Kami tidak punya banyak hasil akhir-akhir ini," kata Liu Dahan, suaranya tetap tenang. "Coba kau lihat sendiri โ laut tidak bersahabat. Banyak kapal yang pulang dengan tangan kosong."
"Bohong!" Si Cambang meludah ke laut. "Aku punya informasi. Kakap merah sedang bermigrasi. Dan kau memiliki kapal paling bagus di desa ini. Beri kami setengah dari hasil tangkapan hari ini โ sebagai denda atas keterlambatan kalian."
"SETAโ" Yue'er hampir meledak, tapi Tianji cepat menahan lengannya.
"Setengah?" Tianji angkat bicara. Suaranya tenang. Terlalu tenang. "Kakak melaut dari subuh hingga petang, membiarkan kulit terbakar dan punggung pegal, hanya untuk memberikan setengahnya kepada kalian yang hanya duduk manis dan menunggu?"
Si Cambang menoleh. Matanya yang kecil menyipit menatap Tianji. "Siapa kau? Bocah kurus kering yang belum pantas bercelana?"
"Aku Xiao Tianji."
"Xiao Tianji?" Si Cambang tertawa terbahak-bahak. "Dengar, bocah โ kau tahu apa yang terjadi pada orang yang berani bicara seperti itu pada Mawar Hitam? Lidahnya akan dipotong dan dikirim ke rumahnya dalam peti."
Tianji tidak bergeming. "Coba lakukan."
Suasana berubah tegang dalam sekejap. Yue'er sudah menarik busurnya, setengah menarik tali. Liu Dahan melangkah maju, melindungi Tianji.
"Jangan macam-macam," kata Liu Dahan. Suaranya tidak lagi tenang โ ada nada mengancam di dalamnya, nada seorang yang terbiasa memerintah. "Kau datang ke daerah kami, menuntut hasil jerih payah kami. Jika organisasimu punya perjanjian dengan Desa Muara, kita bicarakan baik-baik. Tapi jangan coba-coba menyentuh anak ini."
Si Cambang menyipit. "Sepertinya kau lupa siapa yang berkuasa di daerah ini, Pak Tua. Kami adalah Mawar Hitam."
"Dan aku tidak peduli."
Si Cambang tertawa โ tawa yang aneh, tinggi dan melengking. "Bagus. Bagus sekali. Jadi kau memilih jalan yang sulit."
Ia melangkah maju. Liu Dahan bersiap โ tapi sebelum ia bisa bergerak, si Cambang sudah mendorong Tianji dengan kasar.
Bocah itu jatuh tersungkur ke geladak. Sikunya menghantam papan kayu, terasa perih. Tapi rasa sakit fisik itu tidak seberapa โ dibandingkan dengan apa yang terjadi selanjutnya.
Saat si Cambang menarik tangannya kembali โ dorongan tadi membuat kontak antara tangannya yang gemuk dan bahu Tianji cukup lama โ Tianji merasakan sesuatu.
Seperti aliran listrik yang menjalar dari titik kontak itu ke seluruh tubuhnya. Panas. Mendidih. Rasanya seperti lautan api mengalir di dalam urat-uratnya, membanjiri setiap sudut tubuhnya dengan kekuatan yang tidak dikenal.
Ia mendengar suara. Bukan dari telinga, tapi dari dalam kepalanya. Suara gemuruh, seperti ombak raksasa yang menghantam karang.
Dan ia melihat โ untuk sepersekian detik โ sesuatu yang aneh: sosok si Cambang yang bergetar, seperti gambar yang terpantul di air yang diaduk. Sesuatu yang tak kasat mata mengalir dari tubuh pria itu ke dalam dirinya sendiri.
"Tianji!" teriak Yue'er.
Tianji terjaga. Ia terhuyung berdiri. Tubuhnya terasa aneh โ ringan dan berat di saat bersamaan. Jari-jarinya gemetar. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Dan si Cambang โ si Cambang tampak pucat, matanya membelalak. "Aโapaโapa yang kau lakukan padaku?"
"Akuโ" Tianji menatap tangannya sendiri. "Aku tidakโ"
"KAU!" Si Cambang mundur, tersandung tali, hampir jatuh. "Kau menggunakan ilmu sesat! Siapa gurumu?!"
"Aku tidakโ"
"Rasakan ini!"
Si Cambang mengayunkan tinjunya โ tapi tinju itu lambat, goyah, tidak bertenaga. Tianji dengan mudah menangkisnya, bahkan tanpa sadar. Tangannya bergerak sendiri, lebih cepat dari biasanya, lebih kuat dari biasanya.
Tinju si Cambang mengenai telapak tangan Tianji โ dan sekali lagi, kejutan listrik menjalar.
Kali ini, si Cambang terpental ke belakang. Tubuhnya membentur tiang perahu, terbatuk-batuk. Dua anak buahnya segera berlari membantunya.
"Orang ini menggunakan sihir!" teriak si Cambang, suaranya parau. "Cepat! Kita pergi!"
Mereka melompat kembali ke perahu hitam mereka dan melarikan diri secepat angin, meninggalkan aroma panik dan ketakutan di belakang mereka.
Tianji berdiri terpaku. Tubuhnya gemetar. Tangannya โ kedua telapak tangannya โ terasa panas, seperti terbakar dari dalam.
"Tianji!" Yue'er menghampirinya, matanya membelalak cemas. "Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa melakukan itu? Kau belajar ilmu silat dari mana? Aku tidak pernah tahuโ"
"Yue'er," potong Liu Dahan. "Diam sebentar."
Wajah Liu Dahan sangat serius. Sebagai seorang yang pernah bergaul dengan dunia persilatan, ia tahu apa yang baru saja dilihatnya. Dan itu membuatnya takut.
"Tianji." Liu Dahan meraih bahu bocah itu. "Dengar. Kau harus tenang. Tarik napas. Rasakan tubuhmu."
"Akuโ" Tianji terbatuk. Darah mengalir dari hidungnya. "Aku… ada sesuatu di dalam diriku… seperti… seperti ada lautanโ"
"Lepaskan," kata Liu Dahan cepat. "Kosongkan pikiranmu. Jangan menahannya."
Tianji mencoba. Tapi semakin ia mencoba menahan aliran itu, semakin panas rasanya. Tubuhnya berguncang. Penglihatannya mulai kabur.
"Tidak bisa… terlalu panas… seperti tenggelam…"
"Bocah!"
Tianji jatuh berlutut. Geladak kapal terasa asing di bawah lututnya. Suara laut, suara Yue'er, suara Liu Dahan โ semuanya bercampur menjadi satu gemuruh yang tidak berarti.
Dan di antara semua kekacauan itu, ia mendengar suara lain. Bukan suara manusia. Tapi suara seorang tua yang dalam, tenang, seolah datang dari puncak gunung yang jauh.
"Diam, bocah. Jangan melawan. Biarkan mengalir."
Tianji membuka matanya. Di hadapannya berdiri seorang lelaki tua berjubah abu-abu. Janggutnya putih seperti kapas, turun hingga ke dadanya. Matanya โ tajam seperti elang, berbinar seperti bintang โ menatap Tianji dengan campuran rasa ingin tahu dan kekhawatiran. Di tangannya, ia menjepit sebilah golok โ golok yang baru sedetik lalu ada di pinggang si Cambang โ hanya dengan dua jari.
Jari telunjuk dan jari tengah.
Bukit Emas.
Golok itu tidak bergerak, seolah terjebak di antara dua jari ringkih yang memiliki kekuatan luar biasa.
Xuan Qingzi โ karena hanya satu orang di Zhejiang yang memiliki kemampuan seperti itu โ menggeleng perlahan.
"Bocah dari Desa Muara," gumamnya, suaranya seperti angin yang berbisik di antara dedaunan bambu. "Kau memiliki Meridian Penelan. Aku tidak pernah menyangka…"
Dan sebelum Tianji sempat berkata apa-apa, dunia di sekelilingnya berubah menjadi gelap. Tubuhnya jatuh ke pelukan kelelahan, ke dalam lautan mimpi yang lebih dalam dari Samudra Pasifik sendiri.
Yue'er berteriak histeris. Liu Dahan menangkap tubuh Tianji sebelum terbentur geladak.
Xuan Qingzi menjatuhkan golok itu ke laut โ benda itu tenggelam tanpa suara โ lalu berlutut di samping Tianji. Tangannya yang keriput menyentuh dahi bocah itu, dan ia menghela napas panjang.
"Sudah tiga puluh tahun sejak terakhir kali aku melihat Meridian Penelan," bisiknya. "Dan pemiliknya adalah perempuan paling berbahaya yang pernah kukenal."
"Apa maksud Tuan?" tanya Liu Dahan.
Xuan Qingzi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat Tianji dengan kedua tangannya โ mudah, seolah bocah itu tidak lebih berat dari sehelai bulu โ lalu melangkah ke arah pantai dengan berjalan di atas permukaan air.
"Bawa bocah ini ke gubukku di Gunung Qingcheng," katanya tanpa menoleh. "Aku akan menjelaskan segalanya."
Dan ia pergi, meninggalkan Liu Dahan dan Yue'er yang terpaku, meninggalkan Desa Muara yang tidak akan pernah sama lagi.
— AKHIR BAB 1 —