Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam sepuluh tahun, seorang bayi bisa tumbuh menjadi anak yang berlari-lari di pantai. Seorang pemuda bisa menjadi lelaki dewasa. Sebuah desa bisa berubah menjadi kota kecil. Dan dalam sepuluh tahun, banyak hal bisa berubahโatau tidak berubah sama sekali.
Desa Muara telah tumbuh. Rumah-rumah panggung kini berjejer rapi di sepanjang pantai, dengan jalan setapak yang diaspal batu kali. Sebuah dermaga baru dibangun dua tahun lalu, cukup besar untuk menampung perahu-perahu nelayan yang semakin banyak. Di pusat desa, ada sebuah balai pertemuan yang juga berfungsi sebagai sekolahโTianji sendiri yang menginisiasi pembangunannya.
"Pak Kepala Desa!" seru seorang pemuda berlari mendekat. "Ada masalah di dermaga. Kapal dagang dari utara mau merapat tapi berselisih dengan perahu nelayan."
Tianji, yang kini berusia dua puluh sembilan tahun, menghela napas. Rambutnya yang panjang diikat rapi di belakang, janggut tipis menghiasi dagunya. Matanya masih samaโtajam, dalam, seperti bisa melihat hingga ke dasar lautan. Namun ada kerutan halus di sudut matanya, tanda bahwa ia sering tersenyum akhir-akhir ini.
"Masalah apa?" tanyanya.
"Masalah prioritas. Kapal dagang itu besar, katanya bawa barang dagangan untuk pesta panen. Tapi Pak Gede dan rombongannya sudah lebih dulu bersiap melaut."
Tianji berjalan menuju dermaga, diikuti beberapa orang desa. Sepanjang jalan, ia menyapa setiap orang yang ditemuinya.
"Pagi, Bu Surti. Tanaman cabainya bagus, ya?"
"Pagi, Mas Tianji. Iya, Alhamdulillah."
"Pak Karta, jangan lupa pertemuan ronda malam nanti."
"Siap, Pak Kepala Desa."
Sesampainya di dermaga, Tianji menemukan suasana yang tegang. Seorang kapitan kapal berbadan besar dengan pakaian mewah berdebat keras dengan Pak Gede yang sudah renta.
"Aku butuh dermaga ini sekarang!" bentak kapitan itu. "Barang daganganku harus dibongkar sebelum tengah hari!"
"Kami juga butuh melaut!" balas Pak Gede. "Ikan tidak bisa nunggu!"
"Ada apa di sini?" Tianji melangkah maju, suaranya tenang namun membuat kedua pihak yang bertengkar langsung terdiam.
"Kau siapa?" tanya kapitan itu.
"Ini Kepala Desa kami!" sahut seorang pemuda.
Kapitan itu memandang Tianji dengan sinis. Tubuh Tianji tidak menunjukkan tanda-tanda seorang pendekarโia berpakaian seperti nelayan biasa, dengan celana digulung dan kain batik dililitkan di pinggang. Tidak ada pedang, tidak ada jubah silat.
"Kepala Desa, ya?" kapitan itu menyeringai. "Kau masih muda sekali. Apa kau tahu bagaimana cara mengurus dermaga?"
Tianji tersenyum ramah. "Mungkin tidak sebanyak yang Tuan ketahui. Tapi di desa ini, kami punya aturan. Perahu nelayan lokal punya prioritas di pagi hari. Kapal dagang bisa merapat setelah tengah hari."
"Aturan yang bodoh!"
"Ini aturan yang melindungi warga kami," Tianji menjawab tanpa kehilangan senyum. "Kalau Tuan tidak suka, Tuan bisa merapat di dermaga kota tetangga yang berjarak dua jam perjalanan dari sini."
Kapitan itu memerah. "Kau beraniโ!"
"Kapitan," Tianji memotong, suaranya tiba-tiba dingin. "Saya sarankan Tuan menarik napas panjang dan menenangkan diri. Desa ini adalah desa yang damai. Kami tidak ingin ada keributan."
Ada sesuatu dalam cara Tianji berbicaraโsesuatu yang tidak terlihat tapi terasaโyang membuat kapitan itu mundur selangkah. Ia merasa seperti berdiri di tepi jurang, meskipun yang di hadapannya hanyalah seorang nelayan muda.
"Baik… baik," gerutu kapitan itu. "Aku tunggu sampai tengah hari. Tapi ini belum selesai!"
"Tentu," Tianji mengangguk. "Terima kasih atas pengertian Tuan."
Kapitan itu pergi dengan wajah kesal. Pak Gede menghampiri Tianji. "Maaf merepotkan, Pak Kepala."
"Tidak apa-apa, Pak Gede. Itu tugas saya."
"Kau selalu bisa menenangkan keadaan."
Tianji tersenyum. "Saya hanya bicara. Toh, warga kita punya prioritas."
*** Di rumah panggung mereka, Yue'er kini berusia dua puluh delapan tahun. Waktu telah mengukirnya menjadi wanita yang lebih matang, namun kecantikannya tetap bersinar. Rambutnya yang panjang mulai diselang beberapa helai ubanโtanda bahwa ia telah melalui banyak hal. Namun matanya masih bersinar dengan semangat yang sama seperti sepuluh tahun lalu.
"Ibu! Aku pulang!" seru Aruna dari luar.
Aruna kini berusia tiga belas tahun. Ia bukan lagi bocah kecil yang berlari-lari mengejar kupu-kupu. Tubuhnya mulai tumbuh tinggi, ramping, dengan gerakan yang lincah dan anggun. Rambut hitamnya yang panjang dikepang satu, menjuntai di punggung. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara Tianji dan Yue'erโmata Tianji yang dalam, senyum Yue'er yang hangat.
"Bagaimana latihanmu?" tanya Yue'er.
"Menyenangkan!" Aruna meletakkan sebatang kayu yang berfungsi sebagai pedang latihan. "Ayah mengajarkan jurus baru. Katanya itu jurus dasar dari aliran utara."
"Kau suka?"
"Sangat! Tapi Ayah bilang aku masih harus menguasai kuda-kuda dulu sebelum belajar jurus lainnya."
Yue'er tersenyum. Tianji akhirnya mengajarkan silat pada Aruna. Ketika Aruna berusia delapan tahun, Tianji memutuskan bahwa sudah waktunya. Bukan karena ia ingin putrinya menjadi pendekar, tapi karena ia ingin putrinya bisa melindungi diri sendiri.
Yang menarik, Aruna tidak pernah menunjukkan tanda-tanda memiliki MPโtidak seperti Tianji yang sudah bisa merasakan Harta Lautan sejak usia muda. Aruna hanyalah gadis biasa dengan bakat silat biasa. Tianji tidak tahu apakah itu melegakan atau mengecewakan.
Tapi yang jelas, ia senang.
"Aruna, cuci tangan dulu. Ibu masak sayur asem kesukaanmu."
"Iya, Ibu!"
Sementara Aruna bersih-bersih, Tianji pulang. Ia duduk di kursi goyang di teras, mengelap keringat di dahinya.
"Lagi? Ada masalah di dermaga?" tanya Yue'er, membawakan segelas air kelapa.
"Kapal dagang yang sombong. Sudah selesai."
"Untung ada kau."
"Untung warganya mau mendengarkan."
Mereka tersenyum. Keheningan yang nyaman mengelilingi merekaโkeheningan yang hanya bisa dicapai setelah sepuluh tahun hidup bersama.
"Ayah, Ibu, aku jadi!" Aruna keluar dengan pakaian bersih. Rambutnya masih basah. "Aku mau ke rumah Mbak Rina. Katanya ada kerang mutiara yang ditemukan di pantai selatan."
"Jangan terlalu lama," pesan Tianji. "Makan malam jam enam."
"Janji!"
Aruna berlari keluar, meninggalkan Tianji dan Yue'er berdua.
"Dia semakin besar," kata Yue'er.
"Semakin sulit diatur, maksudmu."
"Ibu mana yang tidak kenal anaknya?"
Tianji tertawa. "Dia mirip ibunya. Keras kepala, pandai bicara, dan selalu menang dalam debat."
"Kau salah satu dari kami?"
"Kau yang menang karena kau tahu aku tidak bisa marah padamu."
Yue'er tersenyum puas. "Itulah seninya menjadi istri."
*** Hari-hari berjalan dengan ritme yang tenang. Tianji bangun pagi, mengurus administrasi desa, kadang membantu di dermaga. Sore harinya, ia melatih Arunaโbukan dengan keras, tapi dengan sabar. Ia mengajarkan jurus-jurus dasar bela diri: Pukulan Angin Timur, Tendangan Gelombang Pecah, Tangkisan Karang Karam. Semua jurus yang tidak menggunakan MP, hanya kekuatan fisik dan teknik.
"Kuda-kuda, Aruna. Rendah."
"Tapi capai, Ayah."
"Kalau capai, bayangkan kau sedang berdiri di tengah ombak. Ombak tidak pernah capai."
"Ayah selalu punya perumpamaan."
"Karena Ayah sudah tua."
"Ah, Ayah belum tua. Ayah baru dua puluh sembilan."
"Tapi perasaan Ayah sudah delapan puluh empat."
Aruna berhenti, menatap ayahnya heran. "Ayah suka bicara aneh."
Tianji tertawa. "Ayah hanya bercanda. Ayo, ulangi jurus tadi."
Di luar latihan, Tianji juga sering duduk di batu karang kesayangannya. Batu karang itu kini sudah menjadi tempat yang terkenal di desaโ"Batu Tianji", panggil warga. Kadang-kadang Tianji duduk di sana sendiri, memandang laut, matanya kosong.
"Melamun lagi?" Yue'er muncul, membawakan segelas air.
"Bukan melamun. Hanya… mengingat."
"Apa yang kau ingat?"
"Semuanya. Guru. Perjalanan. Pertempuran." Tianji menghela napas. "Kadang aku masih merasa seperti pemuda tujuh belas tahun yang duduk di goa bawah laut, takut dan bingung."
"Tapi kau bukan pemuda itu lagi."
"Aku tahu. Tapi bayangannya masih ada."
Yue'er duduk di sampingnya. "Kau menyesal?"
"Menyesal? Tidak." Tianji meraih tangan istrinya. "Aku tidak menyesali apa pun yang membawaku ke sini. Bersamamu. Bersama Aruna."
"Lalu kenapa kau sering melamun di sini?"
"Mungkin karena laut ini yang membuatku seperti dulu. Setiap kali aku melihat laut, aku ingat janjiku pada Guru. Bahwa aku akan menjadi penjaga lautan. Tapi aku meninggalkan tugas itu."
"Kau tidak meninggalkannya. Kau hanya… mengubah caramu menjaganya."
Tianji menatap Yue'er. "Apa maksudmu?"
"Dulu kau melindungi laut dengan kekuatan. Sekarang kau melindungi desa yang hidup dari laut. Kau mengajari nelayan cara menangkap ikan tanpa merusak terumbu karang. Kau membuat aturan tentang kapal dagang. Kau menanam bakau di sepanjang pantai."
"Itu hanyaโ"
"Itu adalah caramu menjaga lautan sekarang. Tanpa kekuatan, tapi dengan hati."
Tianji diam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu dari sudut pandang itu.
"Kau mungkin tidak menyerap lautan lagi," Yue'er melanjutkan. "Tapi kau menjaga lautan dengan cara yang lebih baik. Kau mengajarkan orang lain untuk mencintai laut, bukan menaklukkannya."
"Jadi aku sudah memenuhi sumpahku?"
"Kau sudah lebih dari itu."
Tianji tersenyum. Ia memeluk Yue'er, mencium rambutnya yang wangi melati. "Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik."
"Itu tugasku sebagai istri."
Mereka berdua duduk di batu karang, memandang laut yang mulai jingga. Matahari tenggelam di ufuk barat, menciptakan lukisan warna-warni di cakrawala.
"Laut yang sama," Tianji bergumam.
"Hm?"
"Aku sering berpikir tentang lautan yang sama ini. Laut ini sudah ada sebelum aku lahir. Laut ini menyaksikan guruku mati. Laut ini menyaksikan kelahiranku, perjalananku, dan sekarang…"
"Dan sekarang?"
"Dan sekarang laut ini menyaksikan seorang lelaki biasa menikmati matahari terbenam bersama keluarganya."
"Kedengarannya indah."
"Kedengarannya sempurna."
*** Di rumah, Aruna sedang asyik membaca buku. Bukan buku cerita, melainkan buku tentang navigasi dan peta lautโsalah satu peninggalan Tianji.
"Ayah, ini pulau apa?" Aruna menunjuk peta.
Tianji mendekat. "Itu… Pulau Tengkorak."
"Nama yang menyeramkan."
"Karena dulu bajak laut berlabuh di sana."
"Kau pernah ke sana?"
Tianji ragu. "Pernah. Tapi itu cerita untuk lain waktu."
"Kenapa tidak sekarang?"
"Karena Ibu bilang kau harus tidur jam delapan."
"Bohong! Sekarang baru jam setengah tujuh!"
"Ah, begitu cepat waktu berlalu."
"Ayah!"
Tianji terkekeh. "Baik, baik. Suatu hari nanti, kalau kau sudah cukup umur, Ayah akan cerita semuanya."
"Janji?"
"Janji."
Aruna mengulurkan jari kelingkingnya. Tianji mengaitkannya dengan kelingkingnya sendiri.
"Janji," ulangnya serius.
*** Malam itu, setelah Aruna tidur, Tianji duduk sendirian di teras. Bulan bersinar terang, hampir purnama. Laut tenang, hanya sesekali berdebur pelan.
Ia membuka telapak tangannya. Tidak ada lagi energi biru yang mengalir di nadinya. Ia sudah tidak merasakan denyut Dashui Shenfa selama bertahun-tahun. Kekuatan itu masih adaโia yakin akan hal ituโtapi ia tidak pernah memanggilnya lagi.
Apakah ia bisa memanggilnya jika dibutuhkan? Mungkin. Tapi ia berharap tidak perlu.
"Lautan," bisiknya ke arah cakrawala gelap, "aku sudah tua sekarang. Tidak secara fisik, tapi secara batin. Aku sudah lelah berperang. Aku sudah lelah menjadi pahlawan. Aku hanya ingin menjadi ayah. Menjadi suami. Menjadi manusia biasa."
Laut tidak menjawab. Tapi angin malam berbisik lembut, seolah mengerti.
"Terima kasih," Tianji melanjutkan. "Terima kasih karena sudah memberiku kekuatan. Tapi lebih dari itu, terima kasih karena sudah mengembalikanku pada kehidupan."
Ia menutup matanya. Dalam pikirannya, ia melihat wajah gurunyaโguru tua yang tewas di tangannya sendiri. Wajah Xiao Feng. Wajah Niu. Wajah-wajah yang pernah ia temui di perjalanan.
"Guru," bisiknya, "maafkan aku karena tidak bisa meneruskan ilmu warisanmu. Tapi aku punya putri. Mungkin… mungkin suatu hari nanti…"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Angin berembus lebih kencang, membawa aroma laut, dan Tianji tersenyum.
Di dalam kamar, Aruna bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah laut, di atas ombak yang tenang. Seorang lelaki tua berjubah putih berdiri di depannya.
"Kau Aruna?" tanya lelaki tua itu.
"Iya. Kakek siapa?"
Lelaki itu tersenyum. "Aku adalah sesuatu yang pernah dekat dengan ayahmu. Atau mungkin aku adalah ayahmu di masa lalu. Aku tidak tahu."
"Aneh," kata Aruna.
"Memang. Tapi suatu hari nanti, kau akan mengerti."
"Kapan?"
"Saat lautan memanggilmu."
Lelaki tua itu lenyap, meninggalkan Aruna sendirian di tengah laut yang tak berbatas. Dan ombak berbisik: "Aruna… Aruna…"
Ia terbangun dengan keringat dingin. Di sampingnya, lampu minyak masih menyala redup. Ia mendengar suara ayahnya di teras, bergumam sendiri pada malam.
Aruna tersenyum. Ia tidak takut. Mimpinya aneh, tapi tidak menakutkan. Ada kehangatan di dalamnyaโkehangatan yang ia rasakan setiap kali ayahnya bercerita tentang laut.
Ia memejamkan mata lagi. Laut dalam mimpinya masih menunggu.
Dan Arunaโmeskipun ia tidak tahuโsedang bersiap untuk perjalanan yang akan datang.