๐Ÿ“– Genre
Kisah Penyerap Lautan (ๅžๆตท่ฎฐ)
๐Ÿ“– BAB 96: ARUNA

← BAB 95: REFLEKSI BAB 97: CERITA SEBELUM TIDUR →
« Prev
Daftar Isi
Next »
Ukuran:

Langit di atas Desa Muara pagi itu biru jernih tanpa setitik awan pun. Ombak berkejar-kejaran di tepi pantai, meninggalkan buih putih yang segera lenyap diserap pasir. Tianji duduk di serambi rumah panggungnya, sebuah cangkir teh hangat di tangan, matanya terpaku pada seorang bocah perempuan berusia tiga tahun yang berlari-lari kecil di halaman.

"Aruna! Jangan terlalu dekat dengan sumur!" teriak Yue'er dari dapur.

Bocah ituโ€”Aruna, putri merekaโ€”berhenti di ambang pintu, menoleh dengan senyum nakal. Matanya, bulat dan hitam seperti induk mutiara, berkilat jenaka. Rambutnya diikat dua ekor kuda, dan setiap kali ia berlari, kedua ikatan itu melambai-lambai seperti sayap kupu-kupu.

"Ayah, lihat! Aku bisa melompat!" seru Aruna, lalu meloncat dari tangga serambi ke tanah. Ia mendarat dengan kedua kaki, tertawa riang.

Tianji tersenyum. Namun di balik senyum itu, ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar pergi. Ia mengamati putrinya dengan saksamaโ€”setiap gerakan, setiap langkah, setiap kali Aruna jatuh dan bangkit kembali.

"Jangan khawatir," suara Yue'er mengalun lembut di sampingnya. Wanita itu duduk di sebelah suaminya, meletakkan sepiring kue ketan di atas meja bambu. "Ia anak yang kuat."

"Aku tahu," kata Tianji pelan. "Itu yang membuatku khawatir."

Yue'er menatap suaminya. Tiga tahun telah berlalu sejak mereka meninggalkan Jianghu dan memulai hidup baru di desa nelayan kecil ini. Tianji kini berusia sembilan belas tahunโ€”muda, namun matanya menyimpan kedalaman seorang pertapa tua. Rambutnya yang hitam legam tumbuh panjang, diikat sederhana di belakang. Tubuhnya masih kekar, namun bahunya yang dulu tegang kini lebih rileks. Perang telah meninggalkan bekas, tapi ketenangan mulai menempati ruang di hatinya.

"Kau masih memikirkan Harta Lautan?" bisik Yue'er.

Tianji menggeleng. "Bukan. Aku memikirkan Aruna."

"Kenapa?"

Tianji diam sejenak. Angin laut membawa aroma garam dan ikan asin dari dapur. Dari kejauhan terdengar teriakan para nelayan yang baru pulang melaut, suara mereka bercampur dengan lengkingan camar.

"Lihat bagaimana ia berlari," kata Tianji akhirnya. "Ia jatuh, tapi jarang menangis. Ketika ia bangkit, matanya mencari sesuatuโ€”seperti ia merasakan denyut kehidupan di sekelilingnya."

Yue'er mengerutkan kening. "Kau pikir ia…"

"Aku tidak tahu." Tianji memutar cangkir teh di tangannya. "MP bukanlah sesuatu yang bisa diwariskan begitu saja. Namun dendam dan cintaโ€”mungkin itu yang terturun. Atau mungkin juga naluri."

"Kau takut ia akan mengikuti jejakmu?"

Tianji menatap Yue'er. "Aku takut ia akan mengalami apa yang aku alami. Kesepian. Kekuatan yang tak terkendali. Hati yang hampir hancur karena beban yang terlalu berat."

Yue'er meraih tangan suaminya. Jemari wanita itu hangat, penuh keyakinan. "Dia punya kau. Dan dia punya aku. Itu sudah lebih dari cukup."

*** Aruna adalah anak yang lincah dan penuh rasa ingin tahu. Sejak ia bisa berjalan, ia sudah menjelajahi setiap sudut Desa Muara. Ia tahu di mana pohon jambu yang buahnya paling manis, tahu di mana batu karang yang paling nyaman untuk duduk memandang laut, dan tahu persis bagaimana cara membuat para tetangga tersenyum dengan tingkah konyolnya.

Namun ada satu hal yang membuat Tianji waspada: Aruna memiliki kemampuan luar biasa dalam menangkap hal-hal kecil. Ia bisa merasakan ketika hujan akan turun sebelum mendung terlihat. Ia bisa menemukan kerang-kerang terindah di pantai hanya dengan berjalan tanpa melihat. Dan yang paling anehโ€”ia sering menyebutkan nama-nama ikan sebelum mereka muncul di permukaan air.

"Nek Lestari bilang aku anak aneh," celetuk Aruna suatu sore ketika ia dan Tianji duduk di dermaga.

"Hm? Kenapa Nek Lestari bilang begitu?"

Aruna mengayun-ayunkan kakinya yang mungil di atas permukaan air. "Karena aku bisa bilang kalau ada hiu di dekat sini. Lihat!" Ia menunjuk ke kejauhan. "Di sana, di bawah ombak yang besar itu. Ada hiu."

Tianji memicingkan mata. Dari jauh, ia melihat sirip hitam meluncur di permukaan air. Ia menahan napas.

"Aruna," katanya hati-hati, "bagaimana kau tahu?"

Aruna mengangkat bahu. "Tidak tahu. Aku hanya… merasa. Seperti ada suara dari air."

Mendengar kata-kata itu, bulu kuduk Tianji berdiri. Ia menarik putrinya ke pangkuannya.

"Dengar, Aruna," katanya lembut namun serius. "Apa pun yang kau rasa, apa pun yang kau dengar dari laut… jangan kau ceritakan pada sembarang orang. Simpan sendiri, seperti rahasia berharga. Paham?"

Aruna mengerutkan dahi, tidak mengerti. "Kenapa, Ayah?"

"Karena tidak semua orang akan mengerti." Tianji menepuk kepala putrinya. "Dan kau masih kecil. Waktumu untuk mengerti hal-hal besar masih panjang."

Malam harinya, ketika Aruna sudah tidur, Tianji duduk di batu karang kesayangannya. Ombak berdebur lembut, bulan purnama menggantung bundar di langit. Yue'er datang membawa selendang, melingkarkannya di bahu suaminya.

"Kau gelisah," kata Yue'er, duduk di sampingnya.

"Aku melihatnya hari ini," Tianji berkata lirih. "Ia merasakan hiu sebelum ia melihatnya. Ia berkata ada suara dari air."

Yue'er diam.

"Aku pikir," Tianji melanjutkan, "mungkin ini adalah takdir yang tak bisa kuhindari. Aku mewarisi Harta Lautan dari guruku. Guruku tak punya anak. Tapi akuโ€”aku punya Aruna. Dan sepertinya… sepertinya lautan memanggilnya."

"Atau mungkin," Yue'er menyela, "ia hanya anak yang peka. Seperti anak-anak lain yang tumbuh di tepi pantai. Mereka yang terbiasa dengan irama ombak bisa merasakan banyak hal."

"Kau benar." Tianji tersenyum pahit. "Mungkin aku terlalu khawatir. Aku melihat hantu di mana-mana."

Yue'er menyandarkan kepalanya di pundak Tianji. "Yang kulihat bukanlah anak-pewaris-kekuatan. Yang kulihat hanyalah Arunaโ€”putri kita. Dan kau lihat bagaimana ia tertawa ketika mengejar kupu-kupu? Itulah yang penting. Kebahagiaan anak kita."

Tianji mengangguk, namun kegelisahan di hatinya belum sepenuhnya reda. Ia memeluk istrinya, mencium rambutnya yang wangi melati.

"Mungkin kau benar," bisiknya. "Tapi aku tetap akan mengawasinya. Dan jika suatu hari ia benar-benar memiliki bakat itu… aku akan mengajarinya. Bukan untuk menggunakan kekuatan, tapi untuk mengendalikannya. Agar ia tak mengalami apa yang aku alami."

*** Waktu berjalan. Aruna tumbuh menjadi anak yang cerdas dan riang. Di usia tiga tahun, ia sudah pandai berbicara dengan sopan kepada tetangga. Ia hafal nama-nama semua nelayan di desa dan tahu persis jadwal kapal pulang melaut.

"Pak Gede!" teriaknya suatu pagi ketika seorang nelayan tua berjalan melewati rumah mereka. "Ikan kembung hari ini banyak, ya?"

Pak Gede, lelaki berusia lima puluh tahun dengan kulit legam terbakar matahari, terkekeh. "Kau benar, Aruna. Dari mana kau tahu?"

Aruna mengerutkan hidung. "Bau," jawabnya polos. "Bau ikan kembung lebih segar hari ini. Biasanya kalau sedikit, baunya lebih… lebih sombong."

Tianji yang mendengar percakapan itu hanya bisa menggeleng-geleng. Ia tak tahu apakah harus bangga atau khawatir dengan ketajaman indra putrinya.

Hari-hari di Desa Muara berjalan tenang. Pagi-pagi, Tianji bangun sebelum matahari terbit untuk membantu para nelayan menarik jala. Ia tak lagi menggunakan kekuatan MP-nyaโ€”ia ingin hidup sebagai manusia biasa. Ototnya bekerja, keringat mengucur, dan pada saat matahari naik, ia sudah duduk di warung kopi Pak Slamet, bercengkerama dengan tetangga.

"Tianji, kau dulu di kota kerja apa?" tanya Pak Gede suatu hari.

"Aku… pemburu," jawab Tianji setengah bercanda.

"Ih, pemburu? Pemburu apa?"

"Pemburu masalah."

Semua tertawa. Yue'er, yang kebetulan lewat dengan membawa bakul anyaman, hanya melirik suaminya dengan senyum penuh arti.

"Pemburu cerita, lebih tepatnya," sahut Yue'er. "Ia pandai bercerita. Nanti malam, kalau kau tak punya kerjaan, mampir ke rumah. Tianji bisa bercerita tentang naga laut dan dewi bulan."

"Wah, menarik!" Pak Gede dan beberapa nelayan lain langsung antusias.

Tianji hanya tersenyum kecut.

*** Suatu malam, ketika Aruna sedang bermain dengan boneka kain di ruang tengah, tiba-tiba ia berhenti. Matanya membelalak. Ia menoleh ke arah jendela yang menghadap laut.

"Ayah," bisiknya.

"Ada apa, Aruna?"

"Laut… kelihatannya aneh."

Tianji beranjak dari kursinya, melangkah ke jendela. Laut di malam hari tenang. Bulan purnama menciptakan pita perak di permukaan air. Tidak ada yang aneh.

"Aneh bagaimana?" tanya Tianji.

"Seperti… seperti ada sesuatu yang menangis. Suara yang dalam sekali. Di bawah ombak."

Tianji mengepalkan tangannya. Ia sendiri merasakannyaโ€”denyut halus dari kedalaman laut, seperti jantung raksasa yang berdetak pelan. Ini adalah sensasi yang ia kenal betul, sensasi yang dulu selalu mendahului badai besar.

"Aruna," katanya tegas, "panggil Ibu. Bilang pada Ibu untuk menyiapkan lampu darurat."

"Ada apa, Ayah?"

"Badai akan datang."

Aruna menurut. Dan benar, dua jam kemudian, hujan deras turun. Angin bertiup kencang, ombak mengamuk. Namun berkat peringatan Tianji, para nelayan sudah mengamankan perahu mereka. Desa Muara selamat dari amukan alam.

Setelah badai reda, Tianji duduk di teras. Aruna merangkak ke pangkuannya.

"Ayah," tanya Aruna dengan suara mengantuk, "apa Ayah tahu kenapa aku bisa merasakan suara dari laut?"

Tianji menunduk, menatap putrinya. Di bawah sinar lilin, wajah Aruna yang mungil tampak damai, polos, dan penuh kepercayaan.

"Karena laut itu milikmu," jawab Tianji lirih. "Ayah akan bercerita suatu hari nanti. Tapi tidak sekarang. Sekarang, tidurlah."

"Tapi Ayahโ€”"

"Tidur."

Aruna mengomel sebentar, tapi kelelahan mengalahkan rasa ingin tahunya. Ia tertidur di pelukan Tianji.

Yue'er keluar dari kamar, menyelimuti putri mereka dengan kain tipis. Ia memandang Tianji dengan penuh tanya.

"Harta Lautan," bisik Tianji. "Ia mewarisinya."

Yue'er menghela napas panjang. "Apa yang akan kau lakukan?"

"Apa yang bisa kulakukan?" Tianji tersenyum getir. "Aku akan mengajarinya tentang laut. Tentang kekuatan. Tentang tanggung jawab. Tapi tidak sekarang. Biarkan ia menjadi anak-anak dulu. Biarkan ia tertawa dan bermain dan jatuh cinta pada kehidupan."

Ia memandangi laut yang kembali tenang setelah badai. Gelombang kecil bergulung pelan, seolah tak pernah terjadi kekacauan.

"Lautan mengajarkan banyak hal," Tianji melanjutkan. "Salah satunya adalah bahwa segala sesuatu punya waktunya. Air pasang dan surut. Badai dan tenang. Kelahiran dan kematian. Sekarang waktunya Aruna untuk menjadi anak-anak. Esok… esok adalah cerita lain."

Tianji menggendong putrinya masuk ke dalam rumah. Ia membaringkan Aruna di dipan bambu, mencium keningnya, dan berbisik, "Tidur nyenyak, putriku. Laut akan menjagamu malam ini."

Di luar, angin malam berbisik lembut, membawa aroma laut dan janji hari esok yang tenang. Di kejauhan, sebuah bintang jatuh melintasi langit, meninggalkan jejak perak yang segera lenyap dalam gelap.

Dan Tianji, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, merasa damai. Bukan karena ia yakin masa depan akan mudah. Bukan karena ia tahu apa yang akan terjadi pada Aruna. Tapi karena ia tahuโ€”pasti tahuโ€”bahwa apa pun yang terjadi, ia akan ada di sana. Sebagai ayah. Sebagai pelindung. Sebagai orang yang pernah merasakan pahit manisnya memiliki kekuatan yang tak diminta siapa pun.

"Lautan," bisiknya memandang cakrawala gelap, "kau telah memberiku banyak hal. Namun hadiah terbesarku bukanlah kekuatanmu. Hadiah terbesarku adalah merekaโ€”Yue'er dan Aruna. Dan untuk mereka, aku akan melawanmu jika perlu."

Angin malam menjawabnya dengan desir lembut. Laut tetap tenang. Dan bintang-bintang terus bersinar, menyaksikan seorang lelaki muda yang telah menjadi ayah, yang telah menemukan kedamaian di tempat yang tak pernah ia duga.

« Prev
Daftar Isi
Next »
← BAB 95: REFLEKSI BAB 97: CERITA SEBELUM TIDUR →